cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di kampung tempat tinggalku sekarang. aku memiliki seorang teman yang lebih muda dariku 3 tahun, ia hidup bersama kedua orangtuanya serta memiliki seorang kakak perempuan yang lumayan cantik.
cerita ini sedikit berbau mistis dan sangat sulit dipahami oleh masyarakat luas jaman sekarang. semuanya berawal pada senja hari waktu itu...
Sebuah jeritan yang memekakkan telinga memenuhi langit senja dikampung ku, yang membuat bulu roman berdiri ngeri. jeritan tersebut terdengar dari rumah temanku, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahku.
semua orang keluar dari rumah masing-masing karena penasaran dengan jeritan apakah itu. waktu itu sudah sangat senja, beberapa menit lagi seharusnya adzan akan berkumandang dengan lantang di kampung ku. tapi karena jeritan mengerikan hari itu, adzan Maghrib sedikit terlambat dari biasanya.
semua orang beramai-ramai mendatangi jeritan tersebut berasal, tak terkecuali aku. saat sampai di sana, aku dan seluruh yang melihat kejadian hari itu merasa jijik dan ketakutan setelah melihat kejadian yang terjadi tiba-tiba itu.
di sana aku melihat ibu dari temanku sedang menggigit, bukan menggigit lebih tepatnya memakan ayam dan bebek hidup-hidup. mulutnya berlumuran dengan darah dari kedua hewan yang telah mati di bawah kakinya. mata ibu dari temanku berwarna putih buluk seluruhnya, beliau menyeringai dengan sangat mengerikan menatap keramaian.
beliau meracau dengan kalimat yang tidak kami pahami dan mengerti, setelah selesai meracau beliau tertawa dengan mengerikan. Tawa beliau menyerupai jeritan yang mengerikan barusan, hingga membuat semua orang bergidik ngeri tak terkecuali aku yang hanya bisa mematung melihat beliau menggigit leher ayam dan bebek satu-persatu.
semua orang diminta bubar dari rumah temanku yang sedang menangis di pelukan sang kakak waktu itu. kedua kakak beradik itu diminta untuk sementara menginap di rumah paman dan bibinya, yang tidak jauh dari rumah mereka. teman-teman ku yang lain pergi menemani temanku y.g ibunya kerasukan itu, sedangkan aku memilih untuk pulang ke rumah setelah memberinya motivasi sedikit.
keberadaan ku tidak terlalu penting di sana, karena aku tau jika dia memiliki teman lain maka aku akan di abaikan, walaupun teman yang lainnya tidak seperti itu.
Dan sialnya hari itu, semua orang yang ada di rumahku sendiri sibuk dengan kejadian barusan, hingga hanya ada aku sendiri yang berada di rumah. malam telah menyapa kampung, tapi keluargaku belum juga pulang dari tempat kejadian. jeritan-jeritan itu masih mengudara di langit kampung, dengan mengerikan hingga kadang-kadang membuatku bergidik ketakutan.
saat itu aku mengurung diriku di kamar setelah pulang dari tempat temanku. karena malas aku tidak menyalakan satu pun lampu di dalam rumah, hingga malam itu kejadian tak terduga terjadi di dalam rumahku.
keadaan begitu gelap dan mencekam sampai-sampai aku mendengar deru napas dan detak jantungku sendiri. tapi ada yang aneh dengan deru napas yang kudengar, entah kenapa deru napas itu terdengar seperti suara endusan binatang buas. saat sedang tegang-tegangnya, secara tiba-tiba lagi sesuatu terjatuh dari atas lemari pakaianku yang tepat berada di belakang tubuhku saat ini. tubuhku menjadi kaku karena ketakutan dan semakin bertambah kaku saat terdengar suara langkah kaki di luar kamar.
entah kenapa aku begitu yakin jika itu bukan langkah kaki ibuku atau siapapun, melainkan langkah kaki makhluk gaib. karena tidak mungkin jika bukan makhluk gaib yang ada di luar, lampu di ruang tengah akan menyala, karena bagaimanapun tidak ada yang bisa berjalan dalam kegelapan seperti sekarang, dan sejak langkah kaki itu terdengar aku tidak mendengar suara pintu yang dibuka. saat itu aku benar-benar ketakutan bukan karena sesuatu yang berada di luar kamar ataupun suara jeritan ibu temanku, melainkan karena kakiku yang tiba-tiba terasa kesemutan.
mataku tertutup begitu rapat dan bahkan kadang aku menahan napas karena takut. ini bukan tipu-tipu tapi kejadian nyata yang ku alami, saat sendirian di dalam rumah dengan kondisi gelap yang begitu mencekam di sertai kejadian menggemparkan dari sebelah rumah. aku merasakan jika ada sesuatu yang memegang kakiku, tapi aku berpikiran positif jika yang memegang kakiku adalah boneka Teddy yang kumiliki.
benar saja saat aku mencoba menyentuh apa yang memegang kakiku, sebuah bulu lembut khas Teddy milikku yang ku dapati. setelah beberapa saat, aku kembali tegang dan menahan napas, karena aku tersadar jika boneka Teddy milikku telah lama berpindah ke kamar adikku.
aku tersenyum ketakutan dan berusaha membuka mulut untuk berteriak saat sebuah endusan kasar menyentuh tanganku. suara jeritan sebelah rumah semakin menambah seram suasana, hanya satu yang ku harapkan, yaitu makhluk yang sedang bersamaku saat ini bukanlah genduruwo.
aku semakin tegang saat makhluk itu mengendus ku dengan kasar serta menyundul-nyundul pantatku. bukannya berani tapi dengan ketakutan aku melayangkan kakiku, berharap makhluk itu bisa di tendang. tapi yang ku tendang hanyalah angin kosong, dan itulah Yeng membuatku semakin tegang dan ketakutan. Dengan langkah seribu aku lompat segera menuju pintu keluar karena takut makhluk itu masih berada di kamarku.
tapi entah kenapa pintu kamarku tidak bisa di buka, jeritan sebelah rumah membuatku kaget dan ketakutan setengah mati, hingga membuatku mengompol. aku menangis tersedu-sedu di depan pintu serta berteriak meminta tolong saat kudengar ada suara di depan rumah. pikiranku sedikit tenang saat suara itu adalah suara kakak dan ayahku, aku menyadari kenapa aku bisa sebodoh ini, hanya dengan sedikit meraba saklar lampu kegelapan ini akan sirna.
saat lampu kamar telah menyala aku semakin tegang saat kulihat di samping kakiku boneka Teddy yang ada di kamar adikku tergeletak di sana. aku berteriak sejadi-jadinya dan membuat kakak serta ayahku kaget dan segera menyeruak ke dalam kamarku dengan mendobrak pintu hingga membuat tubuhku terdorong dan tersungkur mengenai air kencingku sendiri.
hari itu adalah pengalaman yang paling mengerikan dan membuatku takut akan sesuatu yang gelap dan berbulu lembut. aku tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapapun, sebab jika aku menceritakan tentang itu hanya akan di tertawakan orang-orang. tapi aku menceritakan kejadian ini disini, karena aku tau jika kalian yang membaca hanya akan menganggap bahwa kejadian yang ku alami saat itu hanya sebagai cerita fiksi. so, terserah kalian ingin berpendapat bagaimana... tolong jika ada yang pernah mengalami kejadian serupa ceritakan padaku, agar aku tidak merasa diriku gila dan bodoh sendirian.
☺️🙂😉