"Farez! Bersihkan dengan benar!"
Cih. Gadis itu, Rena si seksi kebersihan, benar-benar menyebalkan. Tidakah kau lihat aku sedang apa?
"Hm,” balasku dengan malas. Dan siswi berkucir satu itu mendelik mendengar jawabanku yang seperti itu. Aku hanya menatapnya sekilas dan melanjutkan pekerjaanku. Sampai sesuatu melintasi jendela didepanku. Bukan. Kata melintasi mungkin tak cocok, karena sesuatu tersebut tidak bergerak horizontal, melainkan vertikal. Jatuh dari atas ke bawah. Apa itu?
Karena penasaran akupun membuka jendela geser itu. Menggesernya cepat untuk melihat apa yang terjatuh. Baru saja aku akan menjulurkan kepalaku untuk melihat ke bawah, sesuatu kembali terjatuh. Tidak. Itu bukan sesuatu, tapi....
Seseorang.
Gadis itu terjatuh dengan kepala dibawah. Rambutnya yang panjang terkena tekanan saat dia terjatuh, membuat wajahnya sedikit tertutup oleh rambut. Anehnya aku bisa melihatnya dengan jelas, walau hanya sekilas.
Matanya yang berair dan gerakan mulutnya saat melintas tepat didepan wajahku tadi. Suara hantaman benda keras itu terdengar ditelingaku.
Untuk beberapa saat aku hanya diam, terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.
"Apa itu tadi?" Rena mendekatiku, mendorong tubuhku pelan dan menjulurkan kepalanya dijendela.
"Aaaa...!" Rena berteriak histeris. Dia jatuh terduduk, tubuhnya gemetar hebat setelah melihat apa yang ada dibawah sana.
"Apa? Ada apa?!"
"Apa itu tadi?"
"Rena, ada apa?!"
Sekelilingku mendadak menjadi hening. Aku masih terpaku menatap kearah jendela itu. Kepalaku terasa pusing, perutku juga mual. Jantungku terpompa lebih cepat. Mendadak semuanya gelap, akupun merasa diriku mulai limbung.
***
Bel pulang sudah berbunyi inilah saat yang kutunggu. Dengan senyum sumringah aku mulai membereskan tas ranselku. Menggendongnya, bangkit berdiri dan hendak berjalan pulang.
"Woi! Farez, kamu piket hari ini!"
Ah? Aku lupa! Dengan menghela nafas, aku kembali menyimpan tasku diatas meja, berjalan gontai kebelakang kelas untuk mengambil sapu.
Tanganku mulai membersihkan barisan paling ujung dekat jendela. Langit terlihat begitu jelas dari kelasku. Mungkin karena kelas ini berada dilantai dua. Sapuanku terlihat asal, toh kelas ini juga sudah bersih.
"Farez! Bersihkan dengan benar!"
Tunggu! apa ini?!
Saat aku tengah berpikir tentang sesuatu yang bahkan tidakku mengerti. Tiba-tiba ada yang melintasi jendela didepanku. Jatuh dari atas ke bawah. Apa itu? Dan kenapa ini terasa familiar?
Karena sedikit heran dan juga penasaran, akupun membuka jendela geser itu. Menggesernya cepat untuk melihat apa yang terjatuh. Baru saja aku akan menjulurkan kepalaku untuk melihat ke bawah. Sesuatu kembali terjatuh. Tidak. Itu bukan sesuatu, tapi....
Seseorang.
Dan suara hantaman benda keras itu terdengar ditelingaku. Kembali terngiang-ngiang dipikiranku tentang gadis yang baru saja terjatuh. Siswi itu terjatuh dengan kepala dibawah, wajahnya sedikit tertutup oleh rambut. Tapi tercetak jelas dikepalaku, matanya yang berair dan gerakan mulutnya saat melintas tepat didepan wajahku tadi. Ini aneh. Aku terdiam, bingung sekaligus terkejut dengan apa yang terjadi.
"Apa itu tadi?" Rena mendekatiku, mendorong tubuhku pelan dan menjulurkan kepalanya dijendela.
"Aaaa...!" Rena berteriak histeris. Dia jatuh terduduk, tubuhnya gemetar hebat setelah melihat apa yang ada dibawah sana.
"Apa? Ada apa?!"
"Apa itu tadi?"
"Rena, ada apa?!"
Sekelilingku mendadak menjadi hening. Aku masih terdiam menatap kearah jendela itu. Kepalaku terasa pusing, perutku juga mual, jantungku berdetak cepat. Mendadak semuanya gelap, akupun merasa diriku mulai limbung.
***
Bel pulang sudah berbunyi. Tapi aku masih termenung ditempat dudukku. Sampai seseorang memanggilku, "Woi! Farez, kamu piket hari ini!"
Ini terulang lagi!
Pikiranku berkeliaran tentang kejadian yang kualami, sebenarnya apa yang terjadi?
Saat pikiranku masih melayang. Ari, orang yang juga piket, memberiku sapu. Lalu kembali aku mendengarnya, "Farez! Bersihkan dengan benar!"
Teriakan itu menyadarkanku pada segala hal. Hal seperti ini sudah pernah terjadi, ini de javu. Dan aku teringat pada sesuatu yang terjadi setelah teriakan itu. Buru-buru aku menatap jendela dan membukanya dengan kasar. Benar saja, sesuatu seperti tas terjatuh tepat saat aku menggeser jendelanya. Dan beberapa detik setelahnya gadis itu terjatuh. Seperti sebelumnya, matanya yang berair dan gerakan mulutnya saat melintas tepat didepan wajahku kembali terekam jelas. Ini seperti me-replay sebuah film. Tapi tetap saja, aku terpaku saat melihat kejadian ini. Apa ini akan kembali terulang? Ataukah ini yang terakhir?
"Apa itu tadi?" Rena mendekatiku, mendorong tubuhku pelan dan menjulurkan kepalanya dijendela. Lagi.
"Aaaa...!" Akupun kembali mendengar Rena berteriak histeris. Dia jatuh terduduk, tubuhnya gemetar hebat setelah melihat apa yang ada dibawah sana.
"Apa? Ada apa?!"
"Apa itu tadi?"
"Rena, ada apa?"
Dan sama seperti sebelumnya, tiba-tiba sekelilingku mendadak menjadi hening. Rasa pusing dan mual kembali menyerangku. Jantungku berdegup begitu kencang kali ini. Dan semuanya terasa gelap, akupun merasa diriku mulai limbung, lagi.
***
Bel pulang mulai berdentang lagi. Kali ini aku pikir lebih baik aku segera pulang, tidak menghiraukan hal apapun. Buru-buru aku keluar kelas, tapi tepat ketika aku mencapai ambang pintu seseorang memanggilku sama seperti sebelumnya, "Woi! Farez, kamu piket hari ini!"
"Aku ada perlu, jadi besok saja piketnya!" balasku lalu berlari pergi meninggalkan kelas,
"Woi! Farez!" sekilas aku mendengar panggilan Rena diambang pintu kelas.
Buru-buru aku menuruni tangga, sampai aku hampir terjatuh. Saat aku sudah keluar dari gedung kelas 11, saat itu juga aku mendengar suara teriakan,
“Aaaa...!”
Akupun menoleh kesamping kiri dan menemukan apa yang tidak ingin kulihat, saat itu juga aku kembali merasa pusing, mual, disertai jantung yang berdetak cepat. Akupun merasa tubuhku jatuh.
***
Kejadian itu terus terjadi padaku, aku selalu mencoba untuk berlari pulang dan tak menghiraukan gadis yang bahkan tidak kukenal itu. Sampai aku berpikir mungkin pengulangan ini akan berhenti jika aku mencegah gadis itu bunuh diri.
Karena saat pertama kali pengulangan terjadi, aku sangat ingat kata yang diucapkan si gadis saat melayang jatuh. Yaitu,
Tolong.
Entah sudah berapa kali pengulangan ini terjadi. Kali ini aku berubah pikiran dan berniat menolongnya.
Bel pulang kembali berdentang, menandakan waktu telah kembali diputar. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari keluar kelas dan menaiki tangga. Jantungku terpacu lebih cepat. Aku pikir karena waktuku tak banyak. Sambil terus berlari, aku memperkirakan dari lantai mana gadis itu akan jatuh, dan saat dilantai empat akupun melihatnya. Disana, tepat dipinggiran atap gedung, seorang gadis sudah siap untuk terjun. Didetik saat aku meneriakinya, dia terjatuh. Tak lama setelahnya, teriakan Rena bergema. Dan yang selanjutnya terjadi adalah aku yang tak sadarkan diri.
***
Berkali-kali aku mencoba menghentikannya, mencoba berlari lebih cepat agar waktunya cukup. Tapi tetap saja, aku tidak bisa mencegahnya. Waktunya terlalu sedikit, bagaimana caraku menolongnya? Ada satu cara yang terpikirkan olehku. Baiklah, akan kucoba!
Bel berbunyi, dengan segara aku membuka jendela geser itu dan berteriak sangat kencang menatap kearah atap gedung.
“Jangan melompat! Kau akan menyesal bodoh!”
Gadis yang baru saja akan membuang tasnya kebawah itu terkejut melihatku, mata kami bertemu.
"Tunggu disana!" teriakku,
"Woi! Farez kenapa teriak begitu? Ada siapa diatas? Heh! Mau kemana kau?!"
Ari meneriakiku saat aku berlari keluar kelas dengan buru-buru.
Saat sampai diatas, kali ini gadis itu masih berdiri dipinggir atap, tas yang sebelumnya hendak dia jatuhkan, masih berada digenggamannya. Gadis itu menatapku.
"Jangan bertindak bodoh dengan bunuh diri seperti itu, kau akan menyesal jika benar-benar mati."
"S-siapa... kau?" Tanpa menjawab pertanyaannya, aku mendekati gadis itu. Dia menatapku diam dengan penuh kecurigaan. Aku menarik tangannya pelan untuk menjauhi maut.
"Lepaskan aku!" Gadis itu meronta tapi aku tetap menarik tanganya.
"Diam dan dengarkan aku! Kau tahu? Karena kau aku selalu mengalami hal ini berulang kali, itu seperti me-replay film berulang-ulang. Aku lelah karena ini, berkali-kali aku merasa pusing, mual, dan jantungku berdetak cepat. Itu karena kau! Seharusnya jika kau ingin bunuh diri lakukan saja dan jangan menyesal sampai meminta bantuan untuk diselamatkan! Seadainya saja kau tidak jatuh disini, hal itu pasti tidak akan membuatku terlibat dalam hal ini. Lagipula kenapa kau bunuh diri? Masih banyak orang ingin hidup didunia ini, bahkan saat menyadari kematian mendekat, kau pun ingin hidup dengan meminta tolong, Tapi kenapa kau menyia-nyiakannya sekarang? Tidakkah kau berpikir itu hal paling bodoh untuk dilakukan?"
Gadis itu tampak terpaku didepanku, kembali aku melihat matanya berair tapi dalam situasi yang berbeda. Tangisnya semakin menjadi, gadis itu terduduk didepanku, terus menangis. Aku hanya diam menatapnya, lalu berjongkok menyamakan posisiku didepannya. Sambil menepuk pundaknya pelan aku berkata,
"Bersyukurlah, kau masih hidup sekarang."
"Terima kasih." perkataan 'Tolong' kini telah berubah dan membuat pengulangan waktu terhenti