Seorang hansip dengan seragam hijaunya berlari cepat di tengah malam buta, cincin dengan batu akik yang besar ia pergunakan untuk mengetuk pintu agar suaranya nyaring hingga orang rumah terbangun.
" Pak RT, pak Rt " panggilnya dengan resah.
Seorang bapa membuka pintu dan keluar dengan wajah yang masih mengantuk.
" Ada apa sih pak hansip, malam-malam begini bertamu " ujarnya menahan diri untuk menguap.
" Den Teguh pak RT, den teguh sudah di temukan " jawabnya tanpa bertele-tele.
" Yang benar kamu? dimana dia sekarang? " tanya pak RT yang langsung segar.
" Ada di kebun dekat sungai pak "
" Ya sudah mari kita pergi " ujarnya segera menutup pintu dan pergi di pimpin hansip.
Belum mereka sampai di tempat dimana Teguh berada sekumpulan bapa- bapa menyambut kedatangan pak RT.
" Dimana nak Teguh? " tanya pak RT pada salah seorang warga.
" Di depan pak " jawabnya.
Segera pak RT berlari dan menemukan Teguh nampak berlari menuju arah sungai yang tengah di hadang oleh beberapa warga, namun anehnya semua warga begitu kewalahan menahan Teguh padahal badan Teguh begitu kurusnya, sesekali Teguh berteriak ke arah sungai.
" Iya, tunggu aku. Sebentar aku akan ke sana "
Anehnya tak ada siapa pun yang memanggilnya untuk datang ke arah sungai, justru semua orang menyuruhnya pulang, menariknya menjauhi sungai namun seolah tak mendengar suara apapun Teguh tetap berteriak hal semacam itu.
" Pak RT, pak ustad sudah tiba " ujar hansip memberitahu.
Pak RT segera menemui pak ustad dan bicara.
" Pak ustad tolong segera di bantu nak Teguh "
" Baik, saya mengerti. Semuanya tolong bantu dengan membaca surah Al-fatihah " jawab pak ustad.
Dengan segera pak ustad menuju Teguh yang sedang di tahan oleh beberapa warga, dengan bacaan ayat-ayat Teguh di tutupkan matanya dan seketika ia pun pingsan.
* * *
Setelah sekian lama merantau akhirnya Bimo pulang kampung demi menjenguk neneknya, kini ia datang hanya seorang diri tanpa orangtua. Bingkisan buah-buahan ia persembahkan sebagai buah tangan, tentu di terima sangat oleh neneknya.
" Bagaimana kabar ibu dan ayah mu di sana? " tanya nenek.
" Baik nek "
" kalau begitu kenapa pula kau hanya datang seorang diri? "
Sejenak Bimo terdiam, tak tahu harus melangkah jawab apa. Tapi tanpa bicara pun neneknya sudah tahu.
" Berantem gara-gara apa lagi kamu? "
" Biasalah nek, ibu tak dapat mengerti baik keinginanku tak seperti nenek "
" Hmmm, kalian sama-sama berwatak keras. Ibumu itu dulu pun sudah sering nenek pinta tinggal di kampung saja tapi ia bersikeras menolak, teringin dia berumah di kota. katanya di kota lebih bersih tempatnya " ujar nenek mengenang dengan sedih.
" Sudahlah nek, yang penting kan ada Bimo yang selalu tengokin nenek "
" Hmmm iya, bagaimana dengan pekerjaan mu? "
" Itulah nek, Bimo ingin buka usaha tapi ibu tidak mengijinkan "
" Kenapa pula dia tidak sependapat? "
" Katanya butuh modal banyak, butuh tempat dan lain-lain "
" Ya sudah pergilah istirahat kan badanmu, kau pasti lelah habis perjalanan jauh "
" Ah, tidak perlu nek. Bimo kan masih muda, masih segar tak butuh istirahat "
" Lantas, apa pula yang akan kau lakukan? "
" Alat mancing kakek masih ada? aku mau tenangkan diri di sungai saja sambil mancing kalau dapat ikan malam nanti bisa kita masak "
" Ada, di belakang rumah tapi ingat Bimo, sebelum magrib kau harus sudah pulang "
" memang kenapa nek? " tanya Bimo merasa curiga karena raut wajah neneknya yang berubah.
" Tak apa, memang kau tak rindu pada nenek hingga mau bermalam di sungai "
" Owh ya jelas lah aku rindu, baiklah sebelum magrib aku akan pulang " jawab Bimo.
Dengan segera ia pergi mengambil alat pancing dan pergi menuju sungai, siang itu cukup terik beruntung ia mendapat tempat yang teduh di bawah pohon kapuk.
Di pasangnya alat pancingan sehingga ia bisa tiduran di atas batu yang besar, lama ia termenung meratapi nasib hidupnya yang tak karuan sampai tertidur pulas.
Belaian halus di pipinya membangun Bimo, seketika ia bangkit dengan kaget dan sadar bahwa ia tertidur hingga larut malam. Sepanjang sungai begitu gelap hanya sinar rembulan lah satu-satunya cahaya.
" hihihiihihihihi akang..... " sayup terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
seketika bulu kuduk nya berdiri, dengan rasa takut Bimo membereskan alat pancingannya dan pulang dengan tergesa-gesa. Sampai di rumah nenek sudah sangat khawatir menunggu kepulangannya. Tentu ia katakan tak sengaja tertidur karena itu ia pulang telat.
" Nek, pintu depan di kunci saja, Bimo mau keluar ikut ronda sudah lama tidak bertemu kawan di kampung " ujar Bimo setelah mereka makan malam.
" Baiklah " jawab nenek.
Setelah memberi salam ia pun pergi ke pos ronda dan menemukan dua teman lama dan seorang hansip tengah asik mengobrol dengan kopi masing-masing di hadapan mereka.
" Wah wah, serius bener lagi ngobrolin apa ini? " ujar Bimo membuyarkan cerita.
" Eh Bimo, kapan kau datang " ujar Asep menyapa.
" Tadi siang, sehat bang? "
" Alhamdulillah "
" Wah orang kota ini, keluarin dong rokoknya " ujar pula Jajang.
Dengan tersenyum Bimo segera mengeluarkan sebungkus rokok dan menaruhnya di tengah-tengah.
" Lagi ngobrolin apa sih tadi, ko serius amat " tanya Bimo yang masih belum mendapatkan jawaban.
" Lagi ngobrolin den Teguh " jawab hansip.
" Siapa Teguh? " tanya Bimo yang merasa tak kenal.
" Temannya Burhan, dari kota dia " ujar Asep menjawab kan.
" Terus kenapa dengan dia? "
" Kamu belum dengar ceritanya Bim? " tanya Jajang.
Bimo menggeleng, bukannya di jawab tapi ketiga orang itu malah saling pandang membuat Bimo bingung, namun hansip akhirnya bersedia bercerita.
" Minggu lalu den Burhan dateng membawa kawan namanya den Teguh, saya juga tidak tahu cerita lengkapnya seperti apa namun yang saya dengar suatu hari den Burhan dan den Teguh mandi di sungai cimanuk, namun mereka tidak pulang-pulang bahkan dua hari lamanya sampai akhirnya kita menemukan den Teguh pingsan di tepi sungai. Lalu tak berapa lama kemudian den Burhan di temukan di tempat lain namun dengan tubuh yang sudah terbujur kaku dan bau bangkai, dia sudah tidak bernyawa lagi "
" Innalillahi wainna ilahi ro'jiun, lalu bagaimana keadaan Teguh sekarang? " tanya Bimo lebih penasaran.
" cukup tragis Bim " jawab Jajang.
" Maksudnya? " tanya Bimo lebih tak mengerti.
" Setelah Teguh siuman dia langsung bangkit dan pergi begitu saja lalu hilang entah kemana, kami dan semua warga sudah mencarinya kemana-mana tapi tak kunjung menemukan, kami juga sudah menyusuri sungai tapi ada tanda-tanda Teguh, sampai suatu malam ada warga yang menemukannya pingsan didalam kebun dekat sungai, anehnya begitu di bangunkan Teguh langsung berlari ke arah sungai dan berteriak-teriak ' tunggu aku, tunggu aku' kami mencoba menghadangnya tapi sulit sekali, kekuatannya tiba-tiba besar hingga bisa menghempaskan kami yang memegangnya. Terkadang tubuhnya juga seperti licin sehingga tidak bisa kami peluk atau tarik " ujar Asep bercerita.
" Untung saja pak ustad datang di waktu yang tepat, beliau menyadarkan den Teguh dan membawanya pulang. Namun menurut kabar yang saya dengar den Teguh sakit keras, dia demam dan selalu mengigau anehnya ia meneriakan kalimat ' tunggu aku ' dalam ngigaunya " ujar hansip.
" Katanya sih mereka di bawa oleh sirarawing, sang penguasa sungai cimanuk karena itu Teguh sakit keras dan kesadarannya hilang " ujar Jajang.
" Tapi aku meragukan opini itu, Sirarawing tidak pernah mengganggu apalagi memangsa penduduk asli sini " ucap hansip.
" Ah bapa seperti tidak tahu saja kelakuan si Burhan, bapa kan tahu kalau kita ke sungai cimanuk entah itu mau mencuci, menangkap ikan atau mandi kita tidak boleh sompral dan harus menjaga kebersihan, sedangkan si Burhan kelakuan nya kotor, bicara kotor terus dan tidak tahu sopan santun wajarlah jika sirarawing menghukumnya " jawab Asep.
Semua mengangguk-anggukan kepala tanda setuju, begitu pun Bimo meski ia kurang percaya dengan hal yang gaib. Ia terbilang orang asing karena tidak tinggal di kampung itu namun karena ia cukup sering main ke sana sambil menjenguk neneknya semua warga kampung telah mengakuinya.
Malam semakin larut saat mereka memutuskan untuk berkeliling, Jajang dengan Asep dan Bimo dengan hansip. Dengan teliti mereka melihat setiap celah kampung melewati rumah dengan lampu redup di depan rumah.
Malam itu cukup aman, tak ada hal yang mencurigakan sampai Bimo tak sengaja mendengar sebuah suara musik, langkahnya terhenti demi memperjelas pendengaran.
" Lho den Bimo kenapa berhenti? " tanya hansip yang sadar Bimo berhenti melangkah.
" Kalau di kampung pesta juga di lakukan sampai malam ya pak? " tanya Bimo polos.
" maksudnya? " tanya hansip.
" Saya mendengar suara gamelan, meski jauh tapi cukup jelas telinga saya mendengarnya, alunannya lembut dan indah sekali barangkali di kampung tetangga ada yang sedang hajatan " jawab Bimo.
Bukannya menjawab hansip hanya diam mematung dengan wajah yang memucat, tak sanggup berkata dan malah menyeret Bimo kembali ke pos ronda.
" Ada apa sih pak, ko tiba-tiba ngajak balik? "
" Astaga den, tidak ada yang berani memainkan gamelan di malam hari, karena gamelan bukan alat biasa " jawab hansip ketakutan.
" maksud bapa? "
" Jika ada suara gamelan maka hanya ada dua kemungkinan, pertama seseorang tengah melakukan ritual dan yang kedua alam selain alam manusia tengah melakukan pesta, entah mana yang benar yang jelas jika aden mendengar suara gamelan di malam hari itu bukanlah pertanda baik, sebaiknya Den Bimo sekarang pulang jangan lupa bersih-bersih dulu sebelum tidur " jawab hansip menasehati.
Meski masih ingin ronda tapi karena desakan hansip akhirnya Bimo menurut juga, ia pulang meski malam masih panjang, dengan santai ia berjalan menyusuri jalan setapak namun, sebuah cahaya menarik perhatiannya makin lama ia bisa mendengar suara gamelan di tabuh hingga ia memutuskan untuk mencari tahu.
Rupanya dugaannya benar, ia menemukan sebuah pesta perkawinan. Begitu ramai dengan gadis- gadis penari yang gemulai, para bujang atau bapa-bapa bahkan kakek-kakek juga ikut menari jaipong bersama penari. Dilihatnya kedua mempelai saling berbisik dan tertawa malu.
" Akang, masuk saja kenapa di luar? " sapa seorang gadis berkebaya merah menyapanya.
" Oh tidak dek terimakasih, saya bukan tamu undangan hanya sekedar lewat saja " jawab Bimo menolak dengan sopan.
" Tidak apa akang, kedua mempelai sedang berbahagia begitu pun keluarga besar mereka menyambut siapa pun yang datang, ini adalah perayaan kebahagiaan siapa pun boleh masuk dan ikut, akang dari kampung tetangga kan? " ujar si gadis.
" Benar dari mana ade tahu? " tanya Bimo heran.
" Karena saya tidak pernah melihat akang di kampung ini, jadi saya pikir akang pasti dari kampung tetangga. Mari akang masuk saja silahkan makan sepuas akang " jawab lagi si gadis.
Meski enggan tapi Bimo tak mampu menolak kebaikan si gadis dan keluarga yang tengah berbahagia, ia di suguhi banyak makanan dan minuman bahkan saking ramahnya pribumi Bimo terlena dan ikut menari bersama.
Sampai kenyang makan dan lelah menari Bimo akhirnya memutuskan untuk angkat kaki dan berniat akan membalas budi mereka esok hari dengan memberikan kado pernikahan untuk kedua mempelai sebagai tanda terimakasih.
Lambaian tangan si gadis berkebaya merah menyertainya kepulangannya hingga ia berhenti menoleh dan menapaki jalan setapak menuju rumah, bulan masih di atas langit dengan cahayanya yang indah. Bimo sadar ia sudah berjalan cukup lama namun anehnya ia tak juga sampai ke rumah justru ia merasa semakin jauh dari kampung.
Disekelilingnya hanya ada pohon-pohon dan rumput, semakin jauh ia melangkah ia semakin masuk kedalam rindangnya pohon hingga kakinya berhenti melangkah di pinggir sungai.
Entah karena ngantuk atau kebanyakan makan, Bimo mengambil jalan yang salah hingga ia kini berada di pinggir sungai, ia sudah hendak melangkah lagi kembali menyusuri kebun dan pulang saat air sungai tiba-tiba meluap.
Meski jarak berdirinya cukup jauh dari aliran sungai namun luapan air itu mampu sampai padanya dengan cepat, sadar dirinya dalam bahaya Bimo mencoba pergi ke tempat yang lebih tinggi namun karena tak mampu melihat dengan jelas ia terjatuh dan melihat, seekor ikan muncul dari dalam sungai.
Ikan yang besarnya sama dengan ikan hiu pemangsa yang sering ia lihat di film, ikan itu berenang tanpa memperdulikan dirinya yang basah kuyup. Seketika bulu kuduknya meremang, di tengah ketakutan Bimo masih bisa bergumam.
" Sirarawing "
* * *
Pak hansip berlari seolah di kejar setan, gerak langkahnya cepat menuju rumah pak Ustad sambil komat kamit agar benar menyampaikan pesan, begitu sampai di rumah pak Ustad ia segera mengetuk pintu.
" Assalamu'alaikum, pak ustad... assalamu'alaikum " teriaknya.
" Wa'alaikumsalam " jawab seseorang dari dalam, pak ustad membuka pintu dan menengok keluar.
" Eh, ada hansip. Kenapa pak hansip? " tanya pak Ustad.
Dengan khawatir dan setengah ketakutan hansip bicara.
" Pak ustad, tolong pak. Den Bimo sudah ketemu.. "