Aku berlari tunggang-langgang melewati akar-akar pohon besar, kemudian mencoba bersembunyi di baliknya. Aku sedikit mengintip melihat pria itu yang dari tadi mengejarku. Sekarang dia berhenti mengamati sekitar, mencariku. Tangannya memegang senapan. Tak lama datang tiga orang lagi dari belakang menyusul, mereka juga sama memegang senjata api. Orang itu memberi isyarat kepada tiga pria yang baru datang untuk berpencar.
Napasku masih terengah-engah. Aku lihat mereka juga sama.
Setelah melihat mereka sudah terpecah pergi ke arah lain. Aku melangkah hati-hati. Namun, saat menjauh dari pohon, pria itu kembali. Dia melihatku, kemudian menembakan senapannya. Aku cepat-cepat berlari menghindari tembakannya. Peluru itu melubangi pohon di hadapanku. Beberapa kali pria itu menembak, tapi pelurunya terus meleset. Aku tetap berlari tanpa melihat ke belakang. Keningku kini dipenuhi keringat dingin.
Aku sudah tidak melihat pria itu. Mungkin dia telah tertinggal jauh di belakang. Perlahan aku menghentikan langkahku.
"Ada lubang." Kataku sambil menghela napas.
Lubang itu tertutup tanaman rambat. Namun, aku masih bisa melihatnya. Aku mencoba masuk untuk berlindung. Ukuran lubangnya nya tidak begitu besar, tapi tubuhku bisa masuk ke dalamnya.
Ternyata di dalam lubang ini tidak sekecil yang aku bayangkan. Aku merasa aneh ada lilin di sini dan juga ada tempat tidur. Mungkinkah ada orang yang tinggal di hutan belantara ini. Namun, aku juga tidak ingat mengapa sudah berada di hutan ini dan kenapa mereka memburuku.
Aku melihat ada pedang tergeletak di samping lilin, karena penasaran aku mengambil pedang itu. Namun, saat aku memegangnya seperti ada listrik menyengat tubuhku, kemudian aku terkulai lemas, lalu semuanya gelap, aku hilang kesadaran.
***
Mataku perlahan terbuka, aku terperanjat bangun, tapi kali ini aku telah di luar dan bersandar di pohon. Napasku seketika berat saat melihat ada mayat tertali di pohon besar ini. Aku segera menjauh dari pohon itu. Ternyata ada empat mayat tertali di sana. Namun, yang membuatku semakin sesak, mayat-mayat itu telah kehilangan kedua tangan dan kakinya. Darah empat mayat itu mengucur membuat pohonnya menjadi warna merah.
Aku sangat terkejut saat melihat tanganku dipenuhi darah segar. Pedang yang tadi aku pegang telah menancap di bawah pohon itu.
Aku menarik pedangnya, kemudian tersenyum lebar.
- buru -