Haunted Black mempersembahkan sebuah cerita thriller yang dikemas dengan makna-makna kehidupan, yaitu tentang kesetiaan, persahabatan, dan pengorbanan.
☀☀☀
[Miku Mizhunashi]
Dunia sedang berada di bawah ancaman virus berbahaya. Virus yang diciptakan oleh organisasi misterius ini, dapat mengubah manusia menjadi zombie. Teriakan ketakutan terdengar dari segala arah. Dunia sedang membutuhkan pertolongan!
Inilah saatnya para manusia-manusia pemberani akan berdiri dan melindungi dunia. Mereka tidak akan pernah mundur, karena mereka memiliki sesuatu untuk dilindungi. Mereka rela mempertaruhkan nyawa bukan karena ingin menjadi pahlawan, melainkan demi ketentraman dunia.
“Raaawwrrr...," erangan zombie menggema dari luar markas.
Miku, Wati, Bella, dan Lisa adalah manusia-manusia yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan para zombie. Kini mereka tengah berdiskusi, bagaimana caranya agar bisa mengembalikan keadaan kota ini.
Miku terdiam sejenak, berusaha untuk mencari cara. Kemudian, dia menatap wajah teman-temannya. Akhirnya, Miku menetapkan sebuah keputusan.
“Kita bisa mengalahkan para zombie dengan menggunakan alat ini," ujar Miku sembari menunjukkan sebuah alat berbentuk kubus.
“Apa itu?" tanya Lisa.
“Alat ini bernama Z-10. Kita bisa mengembalikan dunia seperti sedia kala, menggunakan alat ini," ucap Miku.
“Jadi, kita harus taruh alat ini di pusat kota. Maka, semua zombie akan berubah menjadi manusia lagi," imbuh Miku.
“Hanya itu?" tanya Wati.
“Iya, hanya itu. Tetapi, ini bukanlah hal yang mudah. Mengingat bahwa di luar para zombie masih berkeliaran. Kita harus berhati-hati," ucap Miku.
“Hm kau benar. Tapi kita tidak akan bisa menang melawan zombie-zombie ini tanpa menggunakan senjata," ujar Lisa.
“Pegang ini." Miku menyerahkan pistol kepada teman-temannya.
“Kita bisa menggunakan pistol ini sebagai senjata untuk melumpuhkan para zombie," imbuh Miku.
“Baiklah," kata mereka secara kompak.
“Apa kalian sudah siap?" tanya Miku memastikan.
Semua menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Miku. Mereka membuka pintu dan bergegas keluar.
[Pwiii-!!]
Para zombie yang berkeliaran menyambut mereka berempat dengan tatapan lapar. Sebuah zombie mendekati mereka, berniat untuk memangsa mereka. Dengan sigap, Lisa langsung menembak zombie itu.
"Ayo kita basmi mereka semua," ujar Lisa sambil bergaya ala-ala aktor film aksi Hollywood.
Satu per satu zombie mereka habisi, tetapi sayangnya zombie-zombie itu seolah tak terhingga. Mereka terus membeludak, membuat keempat manusia yang bertahan hidup menjadi kewalahan.
"Kenapa mereka semakin banyak, sih?" tanya Wati heran.
"Tetap waspada semuanya, jangan sampai lengah!" ucap Miku sambil menembaki zombie-zombie itu.
Matahari mulai tenggelam, tetapi para zombie malah bertambah ganas dari sebelumnya. Miku, Wati, Bella, dan Lisa sudah kelelahan, tetapi masih memasang posisi waspada.
"Eukhh ... aku sudah tidak kuat!" keluh Lisa.
Wati melihat ada bangunan kosong yang mungkin bisa menjadi tempat istirahat sementara. "Lihat! Di sana ada bangunan kosong! Ayo bertahan sebentar lagi! Kita harus pergi ke bangunan itu!" seru Wati lantang.
"Akh! Sial! Peluruku sudah habis!" gerutu Miku, menatap senjatanya kesal.
"Ayo kita lari!" usul Wati. "Kau yakin?" balas Miku ragu-ragu.
"Percayalah!" Wati meyakinkan Miku dan yang lain.
"Baik," jawab Lisa cepat.
"Dalam hitungan ketiga, kita lari ke bangunan itu!" titah Wati lagi.
"Satu ... dua ... TIGA!"
Mereka berempat langsung berlari sekencang-kencangnya ke bangunan kosong itu. Lautan zombie pun sigap mengejar mereka dengan beringas.
"Mereka mengejar!" jerit Bella semakin panik.
"Lari lebih kencang!" teriak Wati sembari menambah kecepatan. Mereka semua mengerahkan seluruh tenaga untuk sampai ke bangunan itu.
Akhirnya, mereka berhasil sampai di sana dengan napas tersengal-sengal. Secepat kilat mereka memasuki bangunan itu, kemudian mengunci seluruh pintu dan jendelanya.
[IWA Nasution]
Setelah mengunci semua celah masuk bagi para zombie, mereka berkumpul tepat di tengah sebuah ruangan yang kumuh serta usang. Masing-masing sedang sibuk mengatur napas dan menjaga sisa stamina.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?!" tanya Lisa dengan tubuh gemetar. Rasa takut masih melilit di lehernya.
"Huhh ... huhh ... huhh ...." Suara napas Miku begitu terdengar. "Mari kita pikirkan ide apa yang tepat, agar kita bisa membasmi zombie-zombie itu," jelas Miku singkat, lalu mengambil napas dengan rakus.
Mereka terdiam, hanyut dalam pikirannya masing-masing. Namun, dengan topik yang sama. Yaitu mencari solusi dari masalah yang tadi Miku jabarkan.
Kraakk ... raauurrghhh ....
Terdengar suara yang menandakan para zombie itu semakin mendekat.
"AAAHHH!!!" jerit Bella histeris, tatkala melihat beberapa zombie menjebol penutup jendela yang terbuat dari kayu lapuk.
Seketika Miku, Wati dan juga Lisa ikut menjerit kaget. Para zombie memaksa masuk, tak peduli pada kulitnya yang koyak karena ujung runcing kayu. Mereka bertiga hanya bisa berjalan mundur, hingga akhirnya punggung mereka berempat menempel di pertengahan ruangan.
"Sekarang apa, Miku?!" seru Wati, mulai merasa panik.
"Tenanglah!" jawab Miku, mencoba meyakinkan.
"A-apa kalian ti-tidak punya ide?!" tanya Lisa terbata-bata.
Dalam hitungan detik, suara dari puluhan bahkan mungkin ratusan zombie terdengar semakin jelas. Jarak di antara mereka hanya berkisar 3 meter lagi.
"Sepertinya kita harus berpencar," saran Miku, melihat masih ada celah untuk mereka berlari. "Wati dan Bella, kalian ke arah kiri. Aku dan Lisa ke arah kanan. Lalu akan kita coba membuat semua zombie terperangkap di dalam bangunan ini. Kemudian kita pasangkan Z-10 ini di pusat kota," papar Miku sejelas dan sesingkat mungkin.
"Baik!" sahut ketiga temannya serempak.
"Wati, tetaplah pegang pistolmu. Dan Bella, berikan pistolmu padaku," tegas Miku. Bella langsung memberikan pistolnya. Dia paham, kali ini Miku akan menggunakan senjata seadanya dan ide yang kuat untuk melawan para zombie ganas itu.
[🍒 Ma Wati 🍒]
Mereka berempat pun segera berpencar seperti yang sudah Miku arahkan. Wati berlari ke arah kiri, diikuti oleh Bella di belakangnya.
"Wati, bagaimana ini? Aku takut," gumam Bella dengan suara bergetar. Wati yang melihat Bella ketakutan langsung menepuk pundak temannya itu.
"Aku tau, tapi kita harus berusaha untuk mengembalikan dunia ini seperti semula. Aku bersamamu Bella, apapun yang terjadi kita harus melaluinya."
Wati berusaha menyemangati Bella, walaupun saat ini dia juga sedang dipenuhi ketakutan. 'Miku, Lisa, semoga kalian baik-baik saja,' batin Wati tanpa menurunkan kecepatan.
Di sisi lain ....
Miku dan Lisa berusaha menghindari para zombie yang terus mengejar mereka. "Haisshh!!" keluh Miku saat melihat para zombie masih semangat berlari di belakangnya.
"AAAHH!" jeritan Lisa sukses menghentikan laju Miku, membuatnya menoleh ke belakang.
Mata Miku langsung membulat sempurna ketika melihat Lisa sudah terkepung. "LISAAA!!" teriak Miku, hendak mendekat untuk menolongnya.
"Cepat lari!! Jangan pedulikan aku!" seru Lisa sembari berusaha melepaskan diri dari jeratan zombie. Namun sepertinya, nasib Lisa terlampau malang.
"CEPAT LARI!" titah Lisa ketika sadar Miku masih membeku di tempat.
"Miku, dengarkan aku! Argh! Kau yang bisa ... menyelamatkan dunia ini dari marabahaya! Jadi ... ugh! Aku mohon lakukan yang terbaik! Hiyak! Pergilah, jangan pedulikan aku!" Lisa terus meyakinkan Miku supaya melanjutkan perjalanan.
Dengan mata kepalanya sendiri, Miku menyaksikan Lisa dikeroyok habis-habisan. Satu zombie mematahkan tangan Lisa dengan mudah. Kemudian sekedip mata, tubuhnya sudah nyaris tak berbentuk. Miku hanya bisa menangis sejadi-jadinya, tak peduli jika hal itu bisa menarik perhatian kaum zombie.
Dia merasa bahwa dirinya gagal dalam menjaga Lisa. "Lisaaa ... maafkan aku ...."
[J Aprilia Dybala]
Miku kembali berlari dan menuju kedua temannya yang lain untuk bergabung. Namun tiba-tiba, langkahnya terhenti saat ia merasa ada yang aneh dengan lantainya. Ternyata dibawah lantai itu ada sebuah jalan rahasia.
"Hei, lewat sini!" teriak Miku kepada Wati dan Bella. Mereka bertiga dengan sigap melompat masuk ke dalam pintu bawah tanah itu. Tepat beberapa detik sebelum lautan zombie tiba dan mengakhiri napas mereka.
Setelah menutup kembali pintu itu, mereka dihadapkan pada gang sempit bercahaya minim. Terlihat semacam penunjuk arah yang menempel di dinding beton terowongan. Logo itu berbentuk segitiga dengan lingkaran di setiap sudutnya. Di semua lingkaran terdapat masing-masing tiga titik hitam.
"Aku sepertinya sudah pernah melihat logo ini," kata Bella spontan. "Iya! Logo ini milik sebuah kelompok rahasia yang tak pernah ditemukan markasnya. Puluhan tahun lalu, banyak orang yang menghilang, dan di setiap tempat terakhir kunjungan mereka selalu ada logo ini."
"Tahu dari mana kau?" tanya Miku penasaran.
"Dari buku yang pernah kubaca. Mungkin ini adalah markas mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun dicari oleh semua aparat keamanan," jelas Bella.
Mereka meneruskan perjalanan, hingga sampailah di sebuah ruangan yang penuh dengan tabung reaksi dan gambar logo tersebut.
Terdapat rak buku besar di depan sebuah meja dan sofa kerja. Juga ada sebuah asbak yang dihuni oleh beberapa puntung rokok di atas meja. Jika diperhatikan, mungkin puntung rokok itu masih baru.
Miku berjalan ke arah peta yang terpampang di dinding ruangan itu. "Terowongan ini menuju pusat kota! Ayo kita selesaikan misi kita!" seru Miku antusias, kemudian mencabut peta itu dari dinding.
"Ada yang datang!" bisik Bella tiba-tiba.
Tak lama kemudian, beberapa manusia ceking berseragam tertutup muncul dari arah jalan masuk. Secara terpaksa, Miku dan teman-teman harus melawan mereka semua. Berkat keberuntungan yang sangat bagus, mereka bertiga sukses meloloskan diri.
[Bella Belvis]
Untuk kesekian kali Miku menoleh ke belakang, lalu bernapas lega karena para manusia berseragam tadi tidak mengejar mereka.
Tiba-tiba, teriakan Bella menghentikan kakinya. "Miku! Awas!" Ketika dia menoleh, seorang pria berjas putih rapi berdiri kira-kira sepuluh langkah dari mereka. Dahi Miku mengernyit, merasa familiar dengan wajah yang tersenyum miring itu.
Prok! Prok! Prok!
Dia bertepuk tangan, membuat ketiga gadis yang masih ngos-ngosan di hadapannya merasa heran. Kemudian, pria itu membuat gerakan menjentikkan jari.
"Miku, Bella ...," lirih Wati seraya menoleh ke belakang, diikuti oleh Miku dan Bella. Kira-kira sepuluh manusia yang tadi mereka lawan sudah berdiri menghadang jalan.
"Miku? Hahaha! Ternyata ingatan manusiamu masih ada yah, Zero Point One," kelakar Pria itu. Badannya cukup berisi, suara tawanya yang keras bergema di dalam terowongan.
"Apa maksudmu?" tanya Miku heran. Z-10 yang ada ditangannya sengaja disembunyikan di balik punggung.
Lidah pria itu berdecak. "Kau mengingat namamu, tapi tidak mengingatku? Haha ... baiklah, akan kubantu. Aku adalah Profesor Globglogabgalab."
Seketika, suara-suara aneh melintasi pikiran Miku. Nada cempreng seorang anak kecil yang mengatakan, "Prof Globie, ayo bermain!", "Bagaimana kalau mereka malah menghancurkan dunia, Prof Globie?" memenuhi kepalanya.
Pandangan Miku berubah kabur, terdengar sayup-sayup teriakan khawatir dari Bella dan Wati. Mendadak, tayangan buram seorang remaja cantik seolah muncul di hadapannya. Setelah diperhatikan, remaja itu sangat mirip dengan Miku.
"Prof Globie, aku akan berusaha menyelamatkan dunia simulasi ini, untuk membuatmu bangga ...," ucapnya dengan suara bergema.
"AAAAHHH!" Miku seketika berteriak histeris, lalu jatuh terduduk. Tanpa sengaja menjatuhkan Z-10 yang seharusnya menjadi tujuan utama mereka.
"Apa yang kau lakukan pada Miku?!" bentak Wati ketika tubuhnya dan Bella tiba-tiba ditahan oleh manusia berseragam tertutup.
"Kau tidak bingung kenapa dia tiba-tiba memiliki senjata dan kubus canggih ini? Dasar otak udang!" sarkasnya sembari berjalan menghampiri Miku.
"Tenang, Zero Point Two. Kau sudah berhasil membawanya kepadaku. Semua zombie ini akan kembali menjadi manusia. Kecuali ... mereka yang sudah mati ...."
Tepat setelah Miku berhasil menyadari maksud kalimat itu dengan susah payah, darah seketika membanjiri tempatnya duduk. Takut-takut Miku menoleh ke belakang.
Jantungnya berhenti berdetak saat melihat manusia berseragam tertutup itu ternyata adalah zombie yang kejam. Mereka menyantap kedua teman yang Miku sayangi tanpa ampun. Bahkan membiarkan isi perut mereka berserakan di lantai terowongan.
"Maafkan aku ... Bella ... Wati ... Lisa ...."
—Tamat—
Haunted Black :
1. Miku Mizhunashi
2. Bella Belvis
3. 🍒Ma Wati🍒
4. J Aprilia Dybala
5. IWA Nasution
6. Pwiii-!!
Terima kasih, karena telah mengerahkan waktu kalian demi sebuah cerita. Dan terima kasih juga buat para pembaca yang telah membaca cerita kami. Arigatou!!
Salam, all Members Haunted Black.