Hari ini tepatnya hari minggu dimana aku dan adik ku libur sekolah, ayah dan ibu mengajakku untuk mengunjungi salah satu museum bersejarah di mana banyak barang bersejarah peninggalan jaman belanda, selain berlibur aku dan adikku bisa menambah ilmu dan wawasan di museum itu.
"Ayo kak buruan kita masuk ke dalam. Sambil menarik tanganku Dede tidak sabar untuk melihat isi museum.
Sambil berkeliling ayah menceritakan sejarah-sejarah di masa perang dulu, dan menunjukkan beberapa foto-foto jaman dulu.
Mataku tertuju pada satu kursi antik yang sangat mewah sekilas aku melihat seorang wanita cantik yang sedang duduk dengan anggun dengan wajah yang sangat jahat. Wanita itu terus saja menatapku dengan sinis, ku coba memalingkan pandanganku ke arah yang lain namun tetap saja wanita itu menatapku dengan penuh amarah.
Aku pun mengajak ayahku untuk pindah ke tempat lain untuk melihat-lihat namun lagi-lagi wanita itu muncul lagi di salah satu sudut ruangan, aku mulai merasa tidak nyaman dengan tempat ini.
"Ayah ayo kita pulang sebentar lagi hari mulai soreh. Aku mengajak ayah untuk pulang agar wanita itu tidak menatap ku lagu.
"Kamu yakin sudah mau pulang? Masi banyak lho ruangan yang belum kita kunjungi. Jawab ayah.
"Lain kali saja kita kesini lagi ayah hari ini aku sangat lelah, aku ingin beristirahat. Aku membuat alasan pada ayahku agar segera pulang.
"Kalau begitu ayo kita pulang saja. Ayahku pun menuruti ajakanku.
Di tengah perjalanan aku masi saja memikirkan tentang wanita yang duduk di kursi antik itu, kenapa ia menatapku dengan begitu sinis seakan-akan ia ada dendam kepadaku.
Dan tiba-tiba mobil yang kami kendarai mogok di tengah jalan dan di daerah tempat mobil kami mogok tak satupun bengkel bahkan rumah warga yang bisa kami mintai tolong. Ayah sibuk mencari signal agar bisa menelfon bengkel langganannya namun sia-sia tak sedikit pun signal yang nyangkut di HP ayahku.
Hari pun mulai gelap aku dan adikku di suruh masuk ke dalam mobil agar tidak terkena angin malam sedang kan ayah dan ibu sedang berdiri di pinggir jalan siapa tau saja ada kendaraan yang lewat untuk di mintai pertolongan.
Dari kejauhan aku mendengar langkah kaki dengan jumlah yang banyak dan semakin lama semakin mendekat kearah kami. Aku sipitkan pandanganku agar bisa melihat lebih jelas siapa yang datang menghampiri kami.
Dan betapa terkejut aku setelah aku melihat ternyata yang mendekat ke arah kami adalah sosok none belanda yang aku liat waktu di museum tadi, none itu datang dengan beberapa pasukannya dengan perlengkapan perang yang lengkap.
Aku memeluk adikku sambil menutup kedua matanya. Dengan terdengar kata...
"Bunuh mereka semua....!!!" Perintah sang none belanda itu.
Ayah dan ibuku di seret masuk ke sebuah hutan lalu di siksa, aku hanya bisa mendengarkan suara rintihan ayah dan ibuku menahan rasa takut.
Sesekali aku mendengar teriakan ibuku meminta ampun namun tidak satupun yang mengindahkannya. Dan aku mendegar suara terakhir ayahku.
"Uugh...!" Nyawa ayahku sudah menghilang dan di susul suara pekikan ibuku A.a.a" ayah dan ibu meninggal di tangan pasukan none belanda itu.
Aku dan adikku berusaha bersembunyi di bawah jok mobil bagian belakang, keringat dingin membanjiri tubuh kami.
"Kak aku takut.." bisik adikku di dalam pelukanku.
"Ssstt jangan berisik kakak ada di sini menemanimu kamu tidak usah takut ya. Aku berusaha membuat adikku tenang.
Suara gemuruh langkah itu semakin mendekati mobil kami, aku dan adikku semakin ketakutan tubuh kami bergetar dan wajah kami pucat. Aku hanya bisa berdoa kapan malam ini berganti siang..
Aku dan adikku berusaha diam agar tidak menimbulkan suara yang bisa memancing mereka untuk menemukan kami. Akhirnya aku dan adikku ketiduran di dalam mobil saat aku membuka mata kami sudah berada di sebuah rumah kepala desa, kami di tolong oleh seorang warga yang kebetulan sedang melintas dari mencari kayu di hutan.
Mereka menceritakan kalau mereka menemukan mayat seorang wanita dan laki-laki di dalam sebuah hutan. Akupun menangis dengan histeris, mereka adalah ayah dan ibuku yang semalam di bunuh oleh none belanda itu.
Mayat ayah dan ibuku pun di bawa ke kota untuk di visum setelah itu di adakan pemakaman, aku dan adikku hanya bisa menangisi pusara ayah dan ibuku...
END