Aku melihat temanku Rito yang sedang kegirangan, sehingga aku tanya dia. “Hey Suzuro, aku dengar ada anak baru loh.” kata Rito dengan nada gembira. Dari ekspresi dan nada bicaranya aku bisa menebak kalau anak baru ini adalah seorang gadis. “biar ku tebak, pasti dia itu cewek..” kataku.
“yap, tepat sekali dan dia akan masuk ke kelas kita!” jawabnya.
Sepertinya rasa senang Rito tidak mempengaruhiku, di pikiranku hanya ada keinginan untuk menghilangkan kesombongan pada Kuro. Bel masuk berbunyi, wali kelas kami datang dan diikuti oleh seorang gadis yang merupakan anak baru yang dibicarakan Rito tadi. Guru kami menyuruhnya untuk duduk di sebelahku. Itu karena hanya bangku di sebelahku saja yang kosong. Kami saling berkenalan, namanya adalah Yuki.
Saat jam istirahat banyak orang yang ingin berkenalan dengan Yuki, termasuk Kuro. “haruskah aku memecahkan kasus dalam dirimu untuk mendapatkan cintamu? Jika memang begitu, teka-teki tersulit pun akan ku pecahkan supaya kau menjadi milikku..” kata Kuro. Yuki memang memiliki paras cantik mau dilihat dari manapun, tapi menurutku Kuro terlalu berlebihan, “kenal aja belum, udah ngegombal.” itulah kalimat yang terus terbayang dalam pikiranku, lagi pula dia tidak bisa menganalisis apapun.
Daripada memikirkan hal seperti itu dan mengganggu teman-temanku berkenalan, lebih baik aku ke luar, lagi pula menurutku sudah mengetahui namanya saja sudah cukup, selain itu aku juga penasaran apakah Yuki akan tertarik dengan Kuro atau sebaliknya, malah membenci Kuro.. “Sombong, seperti biasanya. Hanya karena kedua orangtuanya adalah detektif dia tidak boleh selalu seperti itu kepada temannya.” kata temanku. Aku lebih memilih untuk tidak peduli dan tidak mau beradu pendapat dengannya karena teman-temanku lebih percaya dengannya dibandingkan denganku.
Beberapa hari pun berlalu, dan aku masih tidak melakukan interaksi terhadap Yuki, contohnya seperti saat aku tidak mengerti tentang suatu pelajaran, aku lebih memilih bertanya kepada teman laki-laki di depanku daripada bertanya padanya, meskipun aku tahu kalau ia lebih pintar dari temanku. Beberapa saat kemudian, Yuki memintaku untuk datang ke rumahnya. Aku terkejut dan menanyakan ulang karena takut salah dengar, ternyata ia memang mengajakku untuk pergi ke rumahnya.
Mau bagaimanapun aku tidak mungkin menolaknya. Sepulang sekolah, kami berjalan bersama menuju rumah Yuki, sepanjang perjalanan kami tidak mengucapkan sepatah kata pun. Rumah Yuki adalah rumah yang cukup besar dan berada di ujung kota, hanya ada beberapa rumah di dekatnya, ia menyuruhku masuk dan menunggu di ruang tamu. Aku banyak berpikir yang tidak-tidak saat aku sendirian di sana. Aku takut jika dia memperkenalkanku kepada orangtuanya, “aku masih belum siap.” pikirku.
Kemudian ia datang dengan membawa 2 buah cangkir di atas nampan, dari aromanya aku dapat menebak kalau isi dari cangkir tersebut adalah teh melati. Ia meletakkan nampan tersebut di meja dan duduk tepat bersebrangan denganku. “umm, Suzuro. Sebenarnya ada yang ingin ku katakan kepadamu.” katanya. Aku merasa pernah mendengar kata-kata tersebut di suatu komik yang bergenre percintaan, dan saat itu sang pemeran utama mengatakan hal itu untuk menyatakan perasaan kepada sang tokoh utama. Aku merasa jantungku sekarang telah menjadi bumi yang bergetar cepat sekali seperti hendak kiamat. Dengan sedikit ku paksakan tubuhku untuk tenang ku menjawab perkataannya.
“apa itu?” Dia terdiam sejenak, seperti sedang malu untuk menyatakan perasaannya. Namun, aku langsung mengingat suatu perkataan Kakekku, “cu, janganlah berharap terlalu tinggi atau kau akan jatuh.” kata Kakekku. Ternyata Kakekku benar, aku terlalu berharap Yuki akan menyatakan perasaannya kepadaku, tapi sebenarnya tidak begitu.
“Begini, ada hal yang ingin ku lakukan, aku sudah meminta tolong pada Kuro sebelumnya, tapi sepertinya dia tidak bisa. Kau kan temannya, jadi aku yakin kau pasti bisa melakukannya.” kata Yuki. Dengan mendengar nama Kuro saja sudah membuatku tidak mau lagi melanjutkan obrolan ini, tapi dengan sediit penasaran aku bertanya apa yang tidak bisa dilakukan oleh Kuro dan kenapa dia meminta tolong kepada Kuro saja. Dengan wajah polos Yuki menjawab “karena ia anak dari keluarga detektif…”
Dengan nada membentak aku menyanggah perkataannya, “Dengar ya! meskipun Ayah dan Ibunya adalah seorang detektif, ia tidak pernah tertarik untuk menyelesaikan kasus, aku sering bertemu Ayah dan Ibunya di TKP namun aku tidak pernah melihat Kuro di sana. Ia juga hanya menyebarkan spekulasi dari orangtuanya untuk disebarkan ke teman-temannya..” Yuki terdiam melihat seluruh emosiku yang meluap.
“Maaf Suzuro, aku tidak tahu kalau kau sangat membenci Kuro, aku kira kalian ini teman baik. Sekali lagi, tolong maafkan aku!” kata Yuki sedikit menunduk. Kemudian aku juga meminta maaf karena telah membentaknya dan juga menyuruhnya untuk menjaga rahasiaku tentang membenci Kuro. Lalu Yuki mengajak kami untuk kembali ke permasalahan.
“Begini, rumah ini ditinggalkan oleh Kakek dan Nenekku, aku hanya bisa masuk ke beberapa tempat saja, karena masih banyak ruangan yang terkunci, aku hanya menemukan sebuah kunci dan terdapat banyak teka-teki untuk mendapatkan kunci lainnya. Ada empat ruangan yang masih terkunci dan aku yakin pasti ada hal yang disembunyikan Nenekku kepadaku sebelum ia meninggal dunia. Aku juga menemukan kertas yang bertuliskan ‘carilah rahasia Nenek.’ dan ‘di setiap ruangan ada satu pertanda..’ Kemarin aku meminta tolong Kuro namun ia malah ingin menyuruh orangtuanya saja, aku menolak hal itu, karena aku pikir hal seperti ini tidak perlu bantuan detektif terkenal, dan ia mengatakan kalau ia tidak bisa menolong. Aku pun meminta tolong kepadamu Suzuro, maukah kau menolongku?” Katanya memohon.
Aku tidak tahu kenapa dia meminta tolong kepadaku, aku juga bukanlah pemecah kasus seperti orangtua Kuro. Tapi karena ia sangat memohon padaku aku pasti akan mencoba untuk menolongnya. Kami memulai teka-teki ini di ruangan yang penuh dengan gaun, pakaian, dan alat-alat menjahit lainnya, karena hanya ruangan itu yang bisa terbuka dengan kunci tadi. Pasti sang Nenek adalah seoang penjahit, itu adalah info pertama yang aku dapatkan. Tepat di atas mesin jahit kami menemukan secarik kertas. kertas itu bertuliskan “terdapat banyak misteri dari suatu hal yang cantik di dunia ini terutama yang kecil..”
Yuki mengajakku untuk mencari kunci di ruangan tersebut, namun aku memilih untuk memikirkan tulisan tersebut. Sesaat setelah aku melihat ruangan tersebut aku mendapatkan petunjuk, “terdapat banyak misteri dari suatu hal yang cantik…” yang dimaksudkan dari hal itu adalah kunci yang berada di hal-hal yang cantik, “…di dunia ini…” memiliki makna yaitu di ruangan ini, dan “…terutama yang kecil..” bermakna yang dilihat cantik oleh yang kecil atau anak atau cucu.
Aku pun bergegas memberitahukan hasil dari analisisku dan bertanya kepada Yuki, “Yuki, di keluargamu ada berapa orang cucu dari Kakekmu?” Yuki menjawab kalau hanya dia satu-satunya cucu di keluarganya, aku pun bertanya di ruangan itu manakah yang menurutnya paling cantik saat ia masih kecil. “ada sebuah gaun berwarna pink yang aku pakai untuk pesta ulang tahunku, itu adalah hal tercantik saat aku masih kecil di rumah ini, mungkin itu yang kita cari.” jawabnya.
Ternyata gaun yang kami cari berada di sudut ruangan dan dikenakan oleh manekin, Yuki mengecek gaun tersebut dan menemukan sebuah kunci di dalam kantungnya. Aku melihat Yuki terdiam sejenak sambil mengusap matanya, lalu dia segera mengajakku untuk mengecek ruangan lain, ruangan ini adalah ruang yang paling mudah karena kuncinya tepat berada di depan sebuah komputer. Dimana Yuki terdiam dan pandangannya hanya tertuju pada komputer. Aku mencoba menghidupkannya, namun untuk membuka komputernya diperlukan kata sandi yang tidak diketahui oleh kami berdua, jadi ku pikir kami seharusnya segera mencari pesan dari Nenek di ruangan lain, ruangan berikutnya adalah ruangan yang berisi barang-barang antik dan barang berharga.
Dari 2 ruangan sebelumnya, sepertinya ruangan ini yang paling sulit, kami harus mencari petunjuk di antara barang-barang antik yang mudah pecah tanpa memecahkannya.
“bagaimana ini Suzuro? Kita tidak menemukan apapun, hari juga sudah sangat sore, apa perlu aku antar kau sampai ke rumah?” ujar Yuki.
“tidak usah, lagian kan aku ini laki-laki. Jadi tenang saja.” kataku sembari mendekati pintu. Tiba-tiba Yuki menghentikanku dan berkata.
“umm, Suzuro, kau tinggal di kostan kan? Ini kan akhir bulan, bagaimana kalau sebelum kau pulang, makan dulu di rumahku..” aku, lelaki yang polos dan tidak tahu apa-apa ini segera salah tingkah di depannya.
Aku berusaha ingin menolak hal itu, tapi karena perutku lebih mengikuti perintah hatiku, jadi ia pun berbunyi dan aku tak dapat menolak tawarannya. Ini adalah pengalaman pertamaku, makan berdua dengan cewek cantik, makanannya dimasakin sama cewek itu, dan lagi makannya di rumah cewek itu. Selama makan, aku selalu memandangnya, aku baru menyadari kalau Yuki itu benar-benar idaman semua cowok di sekolah, bahkan saat ia makan ia tetap terlihat anggun. Aku jadi semakin semangat untuk menolongnya.
“terima kasih ya, untuk makanannya.” kataku senang.
“ah, tidak apa apa. Harusnya aku yang berterima kasih padamu karena telah menolongku sejauh ini.” jawabnya.
Aku pun segera pamit dan pulang ke rumahku.
Keesokan harinya, kami melanjutkan teka-teki rumah Nenek. Saat di kelas aku selalu memikirkan soal teka-teki di ruangan ke tiga sampai-sampai aku dimarahi oleh guru yang mengajar.
“baiklah, ini hanya spekulasi sementara, menurutku kita harus menggunakan catatan pertama di ruangan ini, jadi, Yuki! Yang mana menurutmu benda yang cantik disini?” kataku. Hal itu membutuhkan banyak waktu untuk Yuki berpikir, namun ia tidak mengingat apapun. Ia kembali menampakkan sikap sedihnya. Melihatnya begitu aku langsung mengingat sesuatu, setiap ruangan pasti ada satu ungkapan, maka arti dari “pertanda.” itu artinya di ruangan dengan komputer sebelumnya juga terdapat pesan.
Aku segera pergi ke ruangan tersebut, dan mencari di seluruh ruangan sampai akhirnya aku melihat ada sesuatu di dalam cpu. Aku mengeluarkan cpu tersebut dan melihat ‘pesan dari Nenek’ di sana. “Pesan dari Nenek!!!” ucap Yuki yang terkejut melihatku menemukan pesan itu. Kali ini tulisannya adalah “semakin rapuh hatimu, semakin ketat kau harus menjaganya.” hanya dengan melihat kata-katanya aku sudah tahu dimana petunjuk selanjutnya, aku pun tersenyum.
“ada apa Suzuro? kok senyum gitu?” tanya Yuki.
“itu karena aku sudah tahu petunjuk selanjutnya.” jawabku.
Yuki terkejut mendengar kata-kataku, aku menyuruhnya untuk mencari tahu dengan pemikirannya sendiri, dan sepertinya ia mulai mengerti.
“hati, hati itu barang yang berharga kan, dan yang rapuh itu benda yang mudah pecah kan, itu artinya guci di ruangan itu! Artinya petunjuk berikutnya berada pada guci yang dijaga dengan baik!” kata Yuki bersemangat. Aku hanya menganggukkan kepalaku dan langsung mengajaknya pergi ke ruangan tersebut.
Kami menemukan guci tersebut, dan di dalamnya terdapat kunci dan ‘pesan dari Nenek’ isi pesan itu adalah “kunci adalah hal yang menyenangkan, sampai-sampai aku ingin mengganti namaku dengan kunci..” Kami langsung ke ruangan terakhir dan mengabaikan pesan tersebut, kunci terakhir merupakan kunci ke loteng, namun memerlukan kode untuk membukanya, kode itu berupa angka yang sama sekali tidak diketahui oleh kami. Mau bagaimana pun kami mencari petunjuk di pesan-pesan dari Nenek, kami tidak menemukan petunjuk apapun.
“komputernya! Pasti komputer itu memiliki kode untuk pintu ini..” ujar Yuki.
Jika itu memang benar maka kode untuk membuka komputernya ada di pesan ketiga. Sudah setengah jam kami mencoba membuka komputer tersebut, namun tidak menemukan apa-apa, setelah dipikir-pikir makna kunci di pesan ketiga adalah password untuk membuka komputernya. Aku langsung menanyakan kepada Yuki siapakah nama Neneknya. “umm, Yukiko.” kata Yuki. Tidak ku sangka nama Yuki diambil dari nama Neneknya. Setelah aku mencoba akhirnya komputer itu terbuka, di desktopnya ada file di notepad yang bertuliskan, “untuk Yuki.” kami membuka file itu, isinya adalah angka yang kami duga sebagai kode untuk pintu ke loteng.
Kami pergi ke loteng. Tak diduga kode yang ditinggalkan Nenek ternyata memang benar, dapat membuka pintu ke loteng, kami pun pergi ke sana, loteng itu memiliki banyak mainan anak seperti boneka, masak-masakan, dan banyak mainan anak perempuan lainnya, di tengah-tengah loteng, kami menemukan kertas, yang bertuliskan.. “Yuki cucuku, kalau kau bisa menemukan kertas ini itu artinya umurmu sekitar 15 tahun ke atas kan, ini semua hadiah dari Nenek yang tidak pernah sampai, karena Ibumu tidak mau kau menjadi anak yang manja, jangan bilang ke Ibumu ya kalau kau menemukan hal ini.”
“oh iya, Nenek sangat merindukanmu Yuki, kau pernah datang hanya pas ulang tahunmu 8 tahun yang lalu, Kakek juga merindukanmu, kami doakan engkau menjadi anak yang baik, sukses, rajin beribadah, dan dermawan, kami doakan juga agar engkau mendapatkan jodoh yang baik, dari Yukiko, Nenekmu.” Yuki menangis dengan kencang setelah membaca surat dari Nenek, ia juga memelukku sambil menangis, aku mencoba menenangkannya.
Setelah semua hal itu berakhir, ia berterima kasih kepadaku, dan aku pun pamit kepadanya. Ku rasa itu akan menjadi akhir kedekatanku dengannya, namun ternyata tidak, ia menyatakan perasaan sukanya padaku dan begitu pula denganku, setelah hari itu kami mulai berpacaran dan Kuro terlihat cemburu padaku.
TAMAT