Kali ini tepat hari kamis, gue bersama tiga kawangue sedang merencanakan perampokan yang entah keberapa. Saking banyaknya perampokan yang kita lakukan, jadi tak bisa dihitung.
Kita berempat sedang berdiri melingkari meja agak besar berbentuk bulat yang di tengahnya ada peta hologram gambar denah rumah yang akan kita rampok.
***
Malam pun tiba. Kita sudah berada di mobil yang melaju dikendarai Si Coki salah satu kawangue. Si Rana duduk di sampingnya. Sementara, gue sama Si Tora duduk di belakang.
"Jor, udah mau tiba, siap-siap."
Gue ngangguk serius.
Mobil kita berhenti di depan gerbang sebuah rumah. Gue keluar memakai topeng badut untuk mengecek situasi.
Gue lihat dari balik pagar rumah itu ada dua lantai persis dengan foto yang di ambil Si Coki. Rumah itu gelap cuman lampu depan yang nyala. Mungkin benar kata Si Rana kalau pemiliknya sedang ke luar negeri.
Si Tora keluar dari mobil terus menyorot gue pakai senter. Gue yang merasa kondisi sudah aman langsung mengacungkan jempol. Si Coki sama Si Rana keluar dari mobil sambil bawa peralatan.
Kita berempat sudah masuk ke halaman. Anehnya gak ada satu pun kamera di rumah segede ini. Biasanya kalau rumah mewah kaya gini dipasang banyak cctv.
"Wah beruntung banget, gue kagak usah ngurusin kamera." Si Rana kegirangan.
"Woi, nanti aja ngerayainnya." Si Tora ngomel.
"Kagak ada alarm juga." Kata Si Rana, sembari memainkan alat canggihnya.
Sesampainya di depan rumah itu, Si Coki mengisyaratkan kalau kita harus berpencar. Gue sama Si Tora ke lantai atas. Sementara, Si Coki sama Si Rana masuk lewat pintu depan.
Si Coki sama Si Rana congkel pintunya, mereka sudah duluan masuk.
"Sial. Si Rana kagak kasih gue alat buat manjat." Gue masih nunggu Si Tora cari tangga.
"Ketemu nih." Si Tora langsung pasang tangganya, dia naik duluan.
Gue juga naik buru-buru
Karena gak ada alarm, gue pukul kacanya, kita berdua masuk lewat jendela.
Setelah masuk, gue sedikit kaget. Lampu kamarnya nyala otomatis, "padahal gue udah biasa ngeliat lampu kaya gini masih aja kaget." Gue ngomel dalam hati.
Si Tora yang melihat barang mahal langsung menggasaknya. Gue amati sekeliling fokus pada target.
"Ayo, kamar ini bukan target kita." Gue lihat, Si Tora lagi sibuk memilih.
Gue buka pintu kamar lalu keluar. Si Coki sama Si Rana sibuk di bawah lagi congkel beberapa pintu.
Si Tora kali ini sudah pindah ruangan. Gue lihat sekeliling gak ada jalan rahasia di ruangan ini.
Peta sudah gak berguna, karena cuman nunjuk ruangan-ruangan yang ada. Satu-satunya petunjuk, "Cari ruangan yang ada jalan rahasianya." Kata Si Coki waktu itu.
Tak berapa lama. Saat gue sama Si Tora sibuk membuka pintu-pintu ruangan atas, "Jordi, ganti." Si Coki bicara lewat alat yang nempel di kuping, gue lupa nama alatnya apa.
"yoi." gue balas singkat
"Gue udah nemu jalannya. Ganti."
"Gue segera ke sana. Ganti."
Cepat-cepat, gue turun tangga, Si Tora segera membuntut.
Kita berempat sudah masuk ke bawah tanah. Terowongannya dari baja, tapi sempit. Kita berbaris saling membuntut.
Gue, Si Coki, Si Rana sama Si Tora melotot. Saat lihat gunungan emas di sebuah ruangan besar, "kita masukin kantong sebanyak-banyaknya." Kata mereka bertiga teriak, sambil lari.
Gue pun memasukan emas sebanyak yang bisa dibawa.
***
"Itu catatan cerita perampokan terakhir gue. Gue buat catatan ini setelah kami berempat tidak bisa keluar dari ruang bawah tanah. Siapapun yang nemukan HP ini berarti gue sudah mati." Aku masukkan ponsel ini ke tas. Ponsel jadul yang aku temukan di salah satu tumpukan tengkorak. Saat aku robohkan serta menggali rumah tua terbengkalai ini.
- salah -