Masih sangat jelas di benakku senyum gadis itu. Ini cerita 2 tahun yang lalu tentang pertemuanku dengan orang yang paling menyebalkan.
* * *
"Hello! Boleh kenalan gak... Aku Rena, " katanya sambil menjulurkan tangan.
Wanita itu adalah rena putri. Dia adalah wanita yang paling ceria di kelas ku, meskipun begitu tetap saja ia selalu jadi bahan bulian.
Aku juga termasuk jajaran orang yang membulinya. Malahan mungkin aku yang menjadi ketua kelompok pembuli nya. Alasan ku membulinya sederhana, aku tak suka dengan kelakuannya yang sok ramah.
Meskipun begitu ia tetap mengajak ku bicara, ia selalu mengikuti ku seperti penguntit.
"Lho bisa jauh - jauh ga dari gue! " bentak ku kepadanya.
"Wahh kamu akhirnya bicara padaku, " ucap nya antusias dengan mata yang berbinar.
"Aneh, " gumam ku kepadanya.
"Hahah! Aku ngga aneh kok. Kamu nya aja yang nganggap gitu, aku ini anak yang baik, ramah, rajin menabung, dan berbakti kepada orang tua, terlebih lagi aku cantik", katanya dengan penuh percaya diri dan dengan nada sok akrab.
"Btw, kamu tinggal di mana? Nama kamu siapa? Kamu kenapa sendirian terus? Ga punya teman ya? Ayo jadi teman ku! Kalo kamu jadi teman ku kamu bakal menjadi orang yang paling beruntung lho. "
Gadis itu mulai berceloteh panjang lebar. Ia tak tahu, orang yang ia ajak berbicara adalah orang yang menjadi otak pembulian terhadap dirinya.
"Hei ayo mampir dulu! " ajaknya secara tiba tiba kepada ku.
Aku sangat tak nyaman dengan sikap sok akrabnya itu, menurutku dia hanya mencari muka di depan ku.
Aku adalah putra tunggal dari orang yang paling kaya di kota ini. Tak heran banyak orang yang ingin menjadi temanku. Tapi, mereka tak pernah tulus kepadaku. Bagiku mereka hanya lah sekumpulan linta yang hinggap seperti parasit.
Walaupun begitu aku masih memiliki tiga orang teman. Bagiku itu sudah sangat cukup.
"Ayolah! Masuk saja. Jika kamu tak masuk kamu bakal menyesal seumur hidup, " ujar gadis aneh itu kepadaku sambil menggenggam tangan ku.
Aku yang risih pun menepis tangannya dari tubuh ku dan berkata , "lho jangan sok akrab deh! Dari tadi gue cuma diem liat kelakuan lho!! Kalau lho mau jadi lintah TINGGAL BILANG AJA APA SUSAHNYA SIH! Dasar rakyak jelata! "
Gadis itu hanya diam mendengarkan hinaan ku. Aku tau ini tak pantas, tapi aku benar benar merasa risih dengan keberadaannya.
"Mmm.. Maaf.. Tapi aku tak punya maksud lain.. Aku hanya ingin memperkenalkan mu dengan tempat yang aku suka, " katanya dengan mata yang berkaca kaca.
"Emangnya siapa yang mau pergi sama lho HAH!! " kata ku dengan membentaknya.
Ia hanya diam mendengarkan bentakan ku.
Aku pun melanjutkan perjalanan pulang ku, aku tak peduli dengan perasaannya. Toh.. Yang mencari masalah kan dia duluan, pikir ku.
* * *
Pagi ini adalah pagi hari selasa. Aku berangkat ke sekolah diantar oleh sopir ku. Mama dan papa ku tak pernah sekalipun meluangkan waktu nya untukku, oleh karena itulah aku selalu melampiaskannya kepada orang lain.
Sesampainya aku di sekolah, aku melihat banyak orang yang berkerumun. Aku yang penasaran pun segera berjalan kesana.
Aku menyelinap diantara orang orang yang membentuk kerumunan. Alangkah terkejutnya aku menemukan gadis aneh nan menyebalkan itu sedang di buli oleh sahabatku.
Mereka menjambak rambutnya, menamparnya, bahkan sampai menyiraminya dengan air bekas pel.
"Hahah.. Rasain tuh! Emang enak.. Siapa suruh lho dekat dekat sama Reynold, " kata seorang gadis bermake up tebal.
Ya... Reynold itu adalah nama ku. Sekarang aku tahu inti permasalahan nya.
Aku melihat gadis itu sedang menahan sakit akibat jambakan dari zoya sahabat ku. Bukannya merasa iba aku malah senang melihatnya di tindas.
"Sudah la.. Tak ada juga untung nya berbicara dengan orang yang tak punya akal, " kataku sambil menatapnya.
HAHAHAHH..
Orang orang mulai mentertawainya.
Meskipun begitu, ia tetap diam. Melihatnya tak berkutik aku pun meninggalkan nya. Tak sampai beberapa langkah aku berjalan, gadis itu angkat suara.
"Hei! Nama mu Reynold ya! "
"Kamu punya nama yang bagus, " ucapnya dengan nada yang sangat pelan. Mungkin hanya aku yang mendengarkannya, karena jarak ku dengannya tak terlalu jauh.
Aku berbalik kearahnya. Dia masih terduduk di sana, mungkin ia tak sanggup berdiri. Karena ku lihat Zoya memukulinya dengan keras.
Ia tersenyum kepadaku, tapi aku tak memperdulikannya. Aku segera berbalik dan berjalan menuju kelas ku.
"SAMPAI KETEMU LAGI REYNOLD , "ucap gadis itu.
* * *
Hari - hari berlalu. Sudah 10 hari sejak kejadian itu. Tapi gadis itu tak pernah lelah mengejarku, bahkan ia sudah berani menyentuh ku.
"Reynold! Ayo mampir dulu!" Ajaknya kepadaku sambil menuntun ku ke sebuah toko tua.
Toko itu adalah tempat yang dulu menjadi awal dari kesialan ku.
Aku hanya bisa pasrah. Karena dengan 10 hari bersamanya, aku dapat menyimpulkan sesuatu. ' dia akan terus menggangguku apabila aku tak mengikuti kemauannya'.
Tring~
Disini lah aku sekarang. Di dalam sebuah toko tua, di dalam toko ini terdapat banyak barang antik. Aku mengamati satu persatu barang yang di pajang di toko itu.
'Hmm.. Tidak buruk' pikir ku.
Mungkin toko tua itu tak terlalu buruk, aku tak sepenuhnya menyesal mengikuti kemauan gadis itu.
"Hei Rey! ayo kesini.. " ajaknya kepadaku. Aku pun mengikuti kemauannya, walaupun rasanya aku tak sudi di perintah oleh gadis yang paling aku benci.
"Bukan kah ini indah.. Kotak ini akan mengeluarkan seorang penari apa bila kuncinya di putar, " jelasnya dengan wajah berseri seri.
"lho bego ya?... Masa kotak musik aja.. Lho ga tau? " ucap ku sinis.
"Waahh.. Namanya kotak musik ya! Aku tak tahu.. Apa rey juga punya kotak seperti ini, "dia bertanya denganku dengan wajah yang berbinar binar.
Sebenarnya aku enggan untuk menjawab pertanyaannya. Tapi, melihat wajahnya yang penuh harapan itu. Aku langsung kepikiran dengan kotak musik yang di berikan nenek ku pada saat aku masih kecil.
" Ya.. Aku punya satu dulu ," jawab ku singkat.
"Waahh, aku juga pengen punya satu, "katanya kepadaku.
"Kamu kan tinggal beli.. Toh harganya cuma 100.000 ," jawab ku santai kepadanya.
"Hahahaa... Aku tak bisa membeli itu, " jawabnya dengan ekspresi sedih.
Aku tak tahu kenapa dia bersedih, aku seperti mendengar tersirat penderitaan dari kata kata yang ia ucapkan.
"Aku akan membelikannya untukmu.. Tapi tak sekarang.. " kata kata itu tak sengaja keluar dari mulutku.
ingin rasanya aku menarik kata kata ku kembali. Tapi ia terlanjur senang dengan ucapan ku. Aku yang tak tega melihatnya kecewa pun hanya diam saja.
"Rey.. Kamu orang yang baik"
Deg!
Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini ada seseorang yang berkata begitu kepada seorang reynold.
Aku mulai mengontrol emosi dan raut wajah ku kembali. Aku tak ingin ia mengetahui perasaan senang ku.
"Berisik, " ucap ku kepadanya.
* * *
Hari demi hari pun berlalu, aku dan dia pun semakin dekat. Kini mendengarkan celotehannya adalah asupan sehari hari ku.
Rena selalu berada di dekatku. Zoya yang melihat itu pun tak terima.
Pada saat pulang sekolah, zoya dan geng nya menyeret rena ke atap sekolah. Disana mereka melakukan penyiksaan kepada Rena.
Aku juga ada di sana, menyaksikan penyiksaan yang di berikan zoya kepada gadis itu. Aku hanya diam saja melihat gadis itu di siksa, bagi ku zoya lebih penting dari padanya.
Mereka mulai memegang kedua tangan gadis itu dengan erat. Aku bisa melihat rena sangat tak berdaya di sana.
Walaupun begitu aku tetap diam. Dan...
HOEKK!!
Aku, zoya, dan yang lainnya terkejut melihat Rena memuntahkan banyak darah. Aku sontak mendekatinya dan langsung menggendong nya.
Aku berlari secepat mungkin ke ruang kesehatan sekolah. Aku sangat panik, tak sadar aku sudah meneteskan air mata.
Sesampainya di sana, guru yang bertugas pun langsung membersihkan darah yang ada di sekitaran mulut Rena.
Setelah selesai membersihkannya, ibu guru menanyakan kepadaku, apa yang terjadi pada Rena. Akupun menceritakan semuanya.
Bu guru yang telah mengetahui kronologis kejadiannya pun, segera beranjak pergi. Ia menyuruhku untuk menjaga rena sementara waktu.
Sudah di pastikan zoya dan kawan-kawan akan terkena masalah.
15 menit berlalu.
Kini rena sudah membuka matanya, ia melirik kearah ku.
"Kamu kenapa nangis rey.. Reynold yang ku kenal bukan orang yang cengeng, " jawabnya sambil terkekeh kecil.
Tangis ku mulai pecah.
"Maafkan aku! Sungguh aku minta maaf! Harusnya aku membantumu pada saat itu!! Gara gara aku... Hiks... Gara gara aku... Kamu jadi seperti ini, " kata ku sambil menangis tersedu sedu.
Ia yang melihat ku menangis mulai memelukku. Pelukan nya sangat hangat, baru kali ini aku dipeluk oleh seseorang selain nenek ku. Aku sangat bahagia.
Sembari memelukku ia berkata, " ayolah rey! Yang muntah kan aku.. Kenapa kamu yang nangis."
* * *
Setelah kejadian itu aku selalu berada di dekatnya. Aku tak mau kejadian itu terulang lagi. Jika kalian bertanya tanya apa yang terjadi dengan zoya?
Maka aku akan menjawab 'dia sudah dei keluarkan dari sekolah'.
Aku melihat ada kejanggalan dari tubuh rena. Akhir akhir ini tubuhnya jadi semakin kurus.
"Ren... Ulang tahun kamu kapan? " tanya ku kepadanya.
" sekitar 4 januari, " katanya singkat.
* * *
Hari ini aku tak pulang bersamanya. Aku ingin membeli hadiah untuk ulang tahunnya. Ulang tahun rena hanya berjarak 1 bulan lagi.
Aku singgah sebentar di toko tua yang sering kami kunjungi berdua. Aku datang untuk membeli kotak musik favorit rena.
Tapi sesampainya di sana ada seseorang yang sudah terlebih dahulu membelinya. Aku langsung memohon kepada pembeli itu untuk menjual barang itu kepada ku. Berapa pun harganya akan ku beli. Asalkan aku bisa memberikan itu kepada rena.
Pembeli itu pun setuju, kini kotak musik tersebut sudah menjadi milikku. Aku ingin memberikannya kepada rena sebagai tanda persahabatan kami.
* * *
Sudah dua minggu rena tak masuk sekolah. Aku mencarinya kemana mana, namun tak kunjung menemukan sosok perempuan itu.
Aku pun memutuskan untuk mendatangi rumahnya.
Sesampainya di rumah nya, aku pun mengetok pintu. Rumah rena bisa di bilang sangatlah sederhana.
Pintu rumah itu terbuka, terlihat dua anak kecil sedang membukakan pintu. Mereka berdua adalah adik rena, rena sering membicarakan tentang mereka berdua kepada ku.
"Masuk kak.. " kata salah satu dari mereka dengan ramah.
"Kakak duduk saja dulu di sini.. Kak rena masih kerja, " kata yang satunya lagi sambil menepuk nepuk lantai mengisyaratkan bahwa itu tempat duduk yang di maksud.
"Siapa sih? .. " Kata seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi roda dengan nada yang tak ramah. Itu ibu Rena.
Aku hanya tersenyum melihat kearahnya.
"Kamu pulang saja! Tak ada gunanya kamu mencari rena di sini!! Dia sudah saya jual kepada lelaki tua kay, " kata wanita tua itu.
Apa?
"KENAPA KAMU TEGA MELAKUKAN ITU KEPADA ANAK MU SENDIRI!? KAMU INI IBUNYA ATAU BUKAN. PADAHAL DIA SUDAH BANYAK BERKORBAN UNTUK MU!! " aku sangat kesal, aku tak menyangka akan meledak seperti itu.
"Reynold.. Kenapa kamu ada disini? " tanya seorang gadis yang sangat aku kenali suaranya.
Aku sontak membalikkan badan ku ke arahnya. Aku langsung menariknya keluar dari rumah itu.
"Siapa yang membeli mu? KATAKAN!!, aku akan menebus mu kembali, "kata kata itu langsung keluar dari mulutku begitu saja.
"Ahhahahahah....kamu lucu rey.. Tak ada yang membeli ku, ibuku emang bermaksud menjual ku. Tetapi lelaki tua itu hanya menganggap ku sebagai cucunya! " ucapnya dengan riang.
* * *
Sejak malam itu aku sering, bertemu dengan rena di luar sekolah. Rena tak pernah datang ke sekolah lagi.
Orang tua ku mengetahuinya, mereka melarang ku untuk bertemu dengan rena. Tetapi aku tak menghiraukan sama sekali.
"Rey.. Aku tak sanggup berjalan lagi... Uhuk.. Uhk... "
" Ayolah ren! Kemana rena yang aku ken dulu? " kataku padanya.
* * *
" Rena kamu mau tidak jadi pacar ku? " ucapku dengan berlutut dihadapannya.
Kini kami sedang berada di taman kota.
"Rey... Aku tak bisa, "
Aku tak pernah menyangka rena akan berkata seperti itu. Ku kira aku dan dia sudah saling mencintai.
"Tapi apa alasannya? " tanyaku dengan nada frustasi.
" Tak ada alasan apapun rey"
JLEB!
Rasanya seperti si tusuk ribuan pedang. Aku tak pernah memprediksi bahwa rasanya akan sesakit ini.
"Maaf kan aku, tapi berada di sisiku hanya akan membuat mu menderita rey. Aku mohon kamu kembali lah ke rumah orang tau mu! "
" Sejak awal aku tak pernah meyukai mu rey, aku hanya mendekati mu karena uang yang kau miliki, sekarang kau bahkan tak memiliki sepeser uang pun, "
PLAK!
satu tamparan dari ku mendarat mulus di wajah pucatnya . Bagi ku ini sudah sangat keterlaluan.
Aku yang tak ingin lebih menyakitinya pun memilih beranjak dari sana.
* * *
Setelah kepergian reynold, Rena menangis sejadi jadinya. Ia tak bisa menahan luka yang ada di dadanya. Bukannya tak cinta, tapi rena tak ingin reynold menderita karena dirinya.
* * *
Sudah satu minggu setelah kejadian itu terjadi, reynold telah kembali kerumah keluarganya.
Besok pagi adalah ulang tahun Rena. Reynold berniat memberikan kotak musik itu sehari sebelum ulang tahunnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu pun terdengar oleh kedua adik rena.
Mereka segera membukakan pintu.
"Kakak kemarilah!" Ajak adik rena tergesa gesa.
Krieek~
Dari balik pintu terlihat seorang wanita yang sedang terbaring lemah.
" Uhuk.. Uhuk.. "
Itu rena, dia begitu kurus dan pucat.
"Uhukk.. Uhuk.. Uhuk... "
Rena batuk berdarah. Aku spontan langsung menggendong dan membawanya kerunah sakit.
"Kakak! Ku mohon selamat kan dia, kami sangat menyayanginya, " ucap kedua adik rena sebelum aku membawa kerumah sakit.
* * *
"Pasien mengidap Leukimia stadium akhir, ia tak akan bertahan lama. "
Aku terduduk lemas mendengar diagnosis dokter tersebut. Tangis ku pecah mendengarkan kata kata dokter tersebut.
"ARGGHHHH... MAAF.. MAAFKAN AKU... SEHARUSNYA AKU TAK PERNAH MENINGGALKAN MU.. HARUSNYA AKU PERXAYA PADA MU.., " hati ku sesak, aku tak bisa menerima kenyataan itu.
Aku kembali ke ruangan tempat dimana rena di rawat. Dia sudah terbangun, teroasang banyak selang di tubuhnya.
Aku tak bisa menghadapinya.. Aku takut melihat orang yang aku cintai terbujur kaku tak bernyawa.
" Rey! Kemarilah.. Kamu di luar kan... "Dia memanggil ku dengan suara yang lemah.
Aku berjalan kearahnya dan kemudian memeluk erat tubuh kurusnya.
" Rey.. Aku membuat mu menangis lagi... "
"Bukannya sudah ku bilang padamu, jatih cinta terhadap ku hanya akan meninggalkan luka di hati mu",
"Maaf kan aku rey... "
"Lain kali aku takkan membuat mu menangis. "
Sontak aku menangis sekeras mungkin di pekukannya.. Aku sungguh tak ingin dia meninggalkan ku.
* * *
" Rey! Rey!.. "
"Aku akan pergi... "
"Apa kau tak bahagia bersama ku?... Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan mu"
"Terima kasih karena telah menjadi teman ku"
"Terima kasih telah mengingat benda favoritku"
"Dan selamat tinggal rey! "
Aku tersadar dari mimpiku.. Aku menangis.. Menangis dan menangis... Sudah satu minggu aku tak menjenguknya. Aku terlalu takut untuk mengahdapinya.
Tok .. Tok.. Tok..
"Reynold sayang ada apa?" Papa dan mamaku bertanya dari luar kamar.
Aku tak menjawab mereka, aku terus menangis. Mendengarbtak ada jawaban dari ku papa dan mama pun masuk kemar ku.
"Ma.. Pa.. Rey takut rena meninggal... , "aku menangis tersedu sedu.
Papa dan mama yang mendengar perkataan ku pun langsung memelukku dengan erat.
"Percayala nak.. Rena pasti akan baik baik saja, "
* * *
Pagi hari ini telah tiba, kami sekeluarga berencana menjenguk rena di rumah sakit.
Tring~tring~
Handphone ku berdering. Aku melihat nomor yang tertera di sana. Itu adalah nomor rumah sakit tempat rena di rawat.
....
Aku langsung berlari menuju mobil. Aku tak mengiraukan pertanyaan dari kedua orang tua ku.
Sesampainya di rumah sakit aku berlari menuju kamar rawat Rena. Di situ aku melihat sebuah tubuh yang telah terbaring kaku.
Aku tak kuasa menahan tangis ku..
"ARGHHHH... RENA... KU MOHON.... BANGUNLAH.. SETIDAKNYA BUKALAH MATAMU UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA, "
"Maaf kan aku ren... Seharusnya.. Aku menemani mu.. Untuk yang terakhir kali, "
Sampai kematiannya pun tak ada satu orang pun yang menemaninya.
* * *
Sudah dua tahun sejak kejadian itu terjadi, walaupun begitu aku tak pernah bisa melupakan senyuman manisnya.
Aku kembali berkunjung kerumah rena. Aku ingin minta maaf kepada kedua adik rena, karena aku tak bisa menepati janjiku kepada mereka.
Tok.. Tok.. Tok
Aku mengetuk pintu kayu itu. Tak banyak yang berubah dari rumah rena.
Kriekkk..
Terlihat dua orang anak yang membukakan pintu tersebut.
"Kak rey! " ucap keduanya antusias sambil menarik ku masuk.
"Kakak minta maaf karena tak bisa menepati janji untuk menyelamatkan rena, " kataku dengan penyesalan.
" Kenapa kakak harus minta maaf? Aku yakin kak rena sedang berbahagia di atas sana, ia tak perlu lagi merasakan sakit dan kelaparan lagi, " keduanya menangis sambil mengucapkan kata kata tersebut.
Aku juga ikut menangis mendengarkannya...
Ibu rena meninggal 1 tahun sepinggalan rena. Kini aku lah yang membiayai kedua adik rena. Walaupun mama dan papa ku mengajak mereka untuk tinggal bersama. Mereka tetap menolaknya, alasannya karena ada banyak kenang kenangan dari rena dan ibu mereka di rumah itu.
* * *
TAMAT