Tampak begitu girang rupa wajah Citra kala dia melihat Irman yang telah berada di hadapannya. Wanita itu memang telah jatuh cinta kepada Irman sejak lama. Tepatnya sejak mereka masih duduk di kelas 11 SMA. Citra tak dapat menyembunyikan lagi rasa cinta yang kian meluap dari kolam hatinya itu. Tetapi, Irman sendiri belum memiliki rasa apa pun kepada Citra.
"Kamu lagi ngapain di sana?" tanya Irman yang melihat Citra sedang duduk di bawah pohon beringin tua.
"Aku lagi gak ngapa-ngapain kok," jawab Citra yang masih menyanggah dagunya dengan kedua lututnya itu.
"Hemm, mau makan berondong jagung bareng?"
"Boleh."
Mereka makan berondong jagung itu berdua. Mereka menikmatinya. Menikmati suasana senja yang perlahan akan terganti oleh petang. Angin pun telah berhembus. Dinginnya menusuk-nusuk pepori mereka kala itu.~Citra menggigil. Ia memeluk tubuhnya sendiri.
"Kamu kedinginan?" tanya Irman.
"Enggak kok," jawab Citra.
"Yang bener? kalau kamu kedinginan bilang aja!"
"Iya bener."
"Bener apa?"
"Bener, kedingingan. Hehe!"
Hari-hari mulai berganti. Suasana pegunungan hari itu masih membekas di dalam kenang benak mereka berdua, yang ternyata diam-diam telah mengukir cinta di dalam hati Irman. Ketika di kelas pun, Irman jadi lebih perhatian kepada Citra. Pria itu membelikan Citra camilan sebagai teman belajar. Karena, memang Citra suka dan mencintai belajar. Bukan hanya itu, dia juga mencintai buku. Entah itu buku fiksi atau juga non-fiksi. Ia menyukainya.
Wanita itu sering sekali mampir ke salah satu toko buku yang ada di kotanya. Bandar Lampung namanya. Kalau sudah berada di toko buku, ia tampak senang sekali. Ia senang bukan dia akan bertemu dengan banyak orang melainkan ia senang karena dia dapat melihat dan membaca sejenak buku-buku yang terpampang rapih di rak-rak buku toko itu.
"Kamu mau beli buku yang mana?" tanya Irman sewaktu pulang sekolah.
"Aku mau beli novel yang romantis, ah," jawab Citra sembari lompat-lompat kecil.
Tampak girang sekali raut wajah wanita cantik itu. Tampak tak ada satu pun beban dalam hidupnya kalau dia sedang melihat buku. Padahal, di rumah, ia selalu berhadapan dengan sejuta kata api yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. Meskipun, ia tak membuat satu kesalahan pun.
Tetapi, Citra hanya diam mendengar celotehan yang keluar dari mulut kedua orang tuanya. Ia pun tampak sedih ketika ia telah mengurung diri di kamar yang hanya diisi oleh satu lemari plastik, satu kasur yang tanpa ranjang (kasur itu hanya tergeletak pasrah di lantai dan selalu siap untuk ditiduri oleh Citra), tak lupa pula 2 karton atau kardus bekas penanak nasi elektronik untuk meletakkan semua peralatan sekolahnya.
Wanita itu hanya bisa membeli satu novel yang harganya 80 ribu rupiah. Ya, walaupun ketika dia tiba di rumah nanti, ia terpaksa harus mendengar kata api lagi. Kali ini, ia hanya dapat pasrah dan berdoa saja. "Semoga emak sama bapak gak marahin aku!" harapnya di dalam hati.
Setelah satu jam lamanya ia menyusuri jalanan kota yang penuh debu knalpot yang teramat bising terdera dan yang hampir memcahkan gendang telinganya. Akhirnya, Citra tiba di rumahnya. Wanita itu, langsung saja memasang raut wajah yang teramat pasrah kala dia masih berada di daun pintu rumahnya. Satu daun pintu jumlahnya.
"Assalamualaikum." Citra mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya yang saat itu sedang duduk di depan televesi. Tak ada dinding pembatas dari pintu masuk hingga televesi dan tak ada ruang keluarga atau juga ruang tamu di rumahnya. Rumah yang sederhana sekali. Citra tak masalah akan hal itu. Hanya gerutuan kedua orang tuanya yang selalu ia masalahkan dan ia pikirkan dalam benaknya. Kalaupun nanti Citra sedang membaca buku kemudian kedua orang tuanya bertengkar atau memarahinya. Maka, Citra akan menggunakan earphone pada telinganya. Kemudian, dia akan menyetel volume cukup keras pada hp-nya. Begitulah Citra. Karena hal itu, ia lebih senang kalau dirinya berlarut-larut di sekolah. Menghabiskan waktu bersama Irman saja. Hal itu, telah menjadi mimpinya sejak lama. Sejak mereka baru naik kelas 12 SMA dan kini mereka masih duduk di kelas 12 SMA, dan sudah menjalani masa kelas 12 SMA selama 3 bulan lamanya.
"Citra, kamu tuh ya, bisanya cuma ngabisin uang aja!" marah ibunya ketika dia melihat Citra sedang membaca novel barunya.
"Kan, aku memang suka ngebaca," kata Citra.
"Ngapain juga kamu ngebaca? hah! emangnya dengan ngebaca kita bisa kaya! enggak kan!"
Citra hanya diam mendengarnya. Tetapi, beberapa jenak kemudian dia meneteskan air mata. Ia sedih, teramat sedih karena ibunya tak merestui hobinya itu.
Padahal, ibunya sendiri tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Kalimat itu ia dapatkan ketika dirinya masih duduk di kelas 8 SMP. Gurunya selalu memerintahkan dia dan teman sekelasnya membaca dan gurunya selalu mengutarakan kalimat itu. Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh gurunya kala itu. Tetapi, ketika dia sudah menikah dan hidup sebagai keluarga miskin. Keluarga yang kalau makan saja seketemunya. Ia menjadi kecewa sekali sehingga ia pun berpendapat bahwa belajar itu "Percuma, percuma dan percuma. Tak dapat membuat orang kaya," katanya selalu kalau dia melihat anak-anaknya makan seadanya. Juga ketika dia tak mampu membeli barang yang dia inginkan.
Satu bulan sudah waktu berlalu. Meninggalkan waktu kemarin yang penuh dengan bising. Kali ini, Citra tengah berada di kelas dan masih sepi. Kelas yang masih tampak kosong dengan teman sekelas lainnya. Ia membaca buku di sana. Pada tempat duduk bagian depan paling kanan tepatnya. Wanita itu tampak fokus sekali dengan bahan bacaannya. Ia berkhayal ketika sampai matanya melihat dan membaca kalimat dan adegan romantis yang tertera pada kertas novel yang ia beli waktu itu.
Tetapi, fokus yang telah Citra bangun sejak dirinya baru membuka halaman pertama pada novel itu. Terpaksa harus pecah begitu saja kala Irman melemparnya dengan kertas yang telah dibentuk seperti bola. Irman melemparkan kertas itu lewat jendela yang dekat dengan Citra. Jendela yang juga dekat dengan pintu keluar-masuk kelas.
"Cit! Citra!" seru Irman seraya memasukkan kepalanya pada rongga jendela.
"Iya, apa, Man?" tanya Citra seraya menolehkan kepalanya ke arah Irman.
"Sini!"
Citra menghampiri Irman dan Irman pun buru-buru menyembunyikan kedua tangannya ke tubuh bagian belakangnya dengan memegang cokelat yang tampak manis. Cokelat itu juga diselimuti oleh plastik yang tampak menawan bagi siapa saja yang melihatnya.
Citra telah tiba di hadapan Irman. Tanpa pikir panjang Irman pun langsung menyatakan cintanya yang telah lama membuat dirinya menjadi resah tak terkira, sampai-sampai Irman pernah membayangkan sosok Citra ketika dirinya sedang terbaring di ranjang yang ada di kamarnya. "Cit, jujur ya. Sebenernya aku tuh sayang banget sama kamu. Kamu mau enggak jadi pacarku?" tanya Irman sembari menunduk di hadapan Citra.
Citra tampak kebingungan sekali kala itu. Tetapi, pipinya kala itu tampak memerah. Ia tersipu malu. Sebab, kala itu teman sekelasnya mulai berdatangan ke kelasnya dan mereka melihat adegan romantis yang tengah diperagakan oleh Irman. "Iya, aku mau jadi pacar kamu," jawab Citra.
Irman senang sekali mendengar jawaban yang keluar dari mulut Citra kala itu. Tetapi, Irman juga tak percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi. Ia pun seperti terbang ke ujung angkasa dan melihat sejuta bintang yang tampak berbaris rapih. Irman telah kembali ke raganya. Kemudian, dia tertegun sembari memegang lembutnya jari-jemari dari kedua tangan Citra dan mereka resmi berpacaran di hari itu.