Ini adalah pengalaman seram ku, saat melakukan perjalanan menuju ke vila milik keluarga di dekat hutan, untuk merayakan pergantian tahun bersama keluarga besarku. Seperti biasa, keluarga besar kami pasti akan menyempatkan untuk berkumpul merayakan pergantian tahun. Bahkan keluarga ku yang dari luar negeri pun, pasti selalu hadir untuk merayakannya bersama-sama.
Saat itu aku dan sepupuku Eric, akan pergi menyusul keluarga kami yang sudah terlebih dahulu berangkat ke vila. Kami berdua menyusul menggunakan mobil, namun sialnya karena kemalaman dalam perjalanan kami malah tersesat. Dan hal tersebut pun, hampir membuat kami berdua kehilangan nyawa bersama...
30 Desember 2020
Pukul 08.17
"Kakak bangun!!!" adikku membangunkan ku.
"Aku masih ngantuk Gaby," jawab ku dengan mata masih tertutup.
"Kak Lily bangun dong, keluarga besar kita sudah pada datang dan berkumpul di bawah. Kak Eric juga sudah datang lho dari Jerman," sekali lagi adikku membangunkan.
Aku pun langsung membuka mata, lalu bangun dari tempat tidur untuk segera keluar kamar menghampiri sepupuku Eric. Saat akumenuruni tangga, aku memanggilEric dengan keras, "Eriiic!!!"
Semua keluargaku yang sedang berkumpul melirik ke arahku. Begitu juga dengan Eric, dia langsung
ku menuju tangga dan kami berdua pun berpelukan.
"Eric kapan kau sampai dari Jerman?" tanyaku pada Eric.
"Sudah dari malam kali, aku bangunin kamu terus tapi gak bangun-bangun kaya kebo," jawabnya sambil mengejekku.
Kami pun akhirnya ke belakang rumah, dan saling bercengkrama karena sudah lama tidak bertemu, sekali pun bertatap muka hanya lewat video call saja. Dan lebih konyolnya lagi, aku sampai lupa untuk mencuci mukaku sebelum bertemu Eric 🙈.
°°°°°
Pukul 22.30
Malam harinya, aku masih menghabiskan waktu bersama Eric dan sepupuku yang lainnya. Kami terus mengobrol sampai lupa waktu, dan juga membicarakan tentang apa yang akan di lakukan bersama saat pergantian tahun baru ketika sudah sampai ke vila.
Kemudian, satu per satu sepupuku mulai mengantuk dan beranjak untuk tidur. Kini hanya tinggal aku dan Eric yang masih melek.
"Ly, gimana kalau besok kita berangkat ke vilanya belakangan?" Eric bertanya padaku.
"Memang ada apa gitu Ric?"
"Aku ingin ke balai kota dulu."
"Mau ngapain?" tanyaku lagi.
"Cuman pengen jalan-jalan saja, karena sudah lama aku gak ke sana hehe," jawab Eric sambi nyengir ke arah ku.
Aku pun hanya bisa menepuk jidat dan mengiyakan permintaannya, "Ok bos, baiklah."
°°°°°
31 Desember 2020
Pukul 10.00
Siang harinya keluargaku segera bergegas berangkat menuju vila, setelah selesai membereskan barang-barang yang di butuhkan nanti saat berada di vila.
"Lily, Eric, beneran kalian nanti akan menyusul kami, gak akan tersesat kan?" ayah menanyaiku dan Eric.
"Iya om, nanti kami segera menyusul kok tenang saja, tempatnya juga bisa di lacak GPS kan," jawab Eric santai.
"Iya ayah tenang saja kami gak akan tersesat kok, aku juga hafal menuju vila kita," aku meyakinkan ayahku.
"Baiklah, kalian berhati-hatilah jangan sampai kemalaman," jelas ayahku.
"Siiip."
Aku dan Eric pun berangkat menggunakan mobilku berangkat balai kota, sedangkan keluargaku dan sepupu yang lain berangkat menuju vila dengan beberapa mobil.
°°°°°
Pukul 16.47
Tidak terasa hari sudah sore, aku dan Eric sampai lupa waktu karena terlalu asyik menghabiskan waktu bersama untuk berjalan-jalan kesana-kemari, dan entah berapa yang di ambil Eric dalam kamera miliknya itu.
"Ya ampun, Eric lihat sudah jam berapa ini, kita harus cepat menyusul ke vila," aku terkejut saat melihat jam di tanganku.
Eric pun melihat jam di tangannya,
"Ly!! Ini sudah sore Ly, oh my god kita kebablasan."
"Iya ayo, kita harus cepat nanti bisa kemaleman," ajak ku pada Eric sambil berlari menuju mobil.
Kami berdua bergegas masuk ke mobil, dan tancap gas menuju vila.
Di perjalanan, kami mengebut agar tidak sampai kemalaman.
"Ly maaf, gegara aku kita jadi kesorean," sambil menyetir Eric meminta maaf padaku.
"No problem Ric, aku juga menikmatinya sampai lupa waktu haha," jawabku santai menepuk bahunya.
Eric pun tersenyum dan kembali fokus menyetir.
Kemudian ponsel ku bergetar, aku pun menjawab panggilan ayahku,
"Halo yah."
"Masih dimana Ly?" tanya ayahku.
"Kami baru mau masuk jalan tol ayah," jawabku
"Ok, hati-hati jangan sampai kemalaman," ayahku me gakhiri panggilan telphonenya.
°°°°°
Pukul 19.27
Hari sudah gelap ketika kami baru keluar dari jalan tol, kami tidak memperkirakan kalau lewat jalan tol pun akan terkena macet.
"Oh sial, kita pasti kemalaman Ly," ungkap Eric.
"Ya mau bagaimana lagi Ric, lihat sendiri kan tadi di tol macetnya minta ampun."
"Dari sini kamu ingat kan jalan ke vilanya?" tanya Eric.
"Sebenarnya sih,,, lupa-lupa ingat hehe," jawabku sambil menggaruk kepala.
"Ok! GPS jalan keluarnya," Eric membuka GPS di ponselnya.
Akhirnya kami pun mengikuti arahan jalan dari GPS nya.
°°°°°
Pukul 21.57
Aku dan Eric pun mulai dilanda rasa takut, karena rasanya kami telah melewati jalan yang salah. Eric melajukan mobilnya dengan pelan, karena jalan yang sedikit berbatu di tambah sepi pula tak ada satu penduduk pun. Sejak dari tadi aku berusaha menghubungi ayah, namun tetap saja panggilan di alihkan terus.
"Ly gimana ini, sudah beberapa jam kita belum sampai juga, apa masih belum nyambung ke om juga?" tanya Eric yang mulai cemas.
"Masih belum tersambung juga Ric, duuh gimana ini aku mulai takut," aku mulai merasa takut sekali.
Lalu aku mulai melihat navigasi dari GPS nya mulai ngaco di ponsel Eric.
"Lah kok navigasinya mulai gerak-gerak gak jelas Ric," sambil mengambil ponsel Eric.
"Sinyalnya jelek kali," jawab eric sambil terus fokus melihat ke depan.
"Tidak kok, sinyalnya bagus kok," kataku pada Eric dan memperlihatkan ponselnya.
"Eric, kita berhenti dulu saja di sini sambil menunggu tersambung dengan ayahku, takutnya nanti kita malah tersasar lebih jauh," lanjutku.
"Ly! Masa iya di jalan sepi seperti ini kita malah berhenti, gimana kalau nanti ada yang berniat jahat, sudahlah di depan pasti jalan yang benar," tegas Eric padaku.
Mobil kami terus melaju dengan pelan, mengikuti jalan yang sepi di kegelapan. Tiba-tiba di pinggir jalan sebelah kanan, aku melihat seseorang yang memakai gaun putih bersih dan memakai veil di atas kepalanya hingga menyentuh tanah. Sosok itu berdiri mematung tersorot oleh lampu mobil kami.
"Oh my god!!! Apa yang ku lihat terlihat oleh mu juga Eric?" aku terkejut setengah mati sambil memegang lengan Eric.
Eric pun mengerem langsung mobilnya, sebelum mendekati sosok putih tersebut, "Ya aku melihatnya Ly."
Saat Eric menghentikan mobil, sosok itu seperti akan berjalan melintas di depan mobil kami.
"Oh no!!" Eric pun segera memundurkan mobilnya.
Namun sayang, mesin mobil yang di kendarai kami tiba-tiba mati total, sehingga saat itu kami berdua terjebak di kegelapan malam yang menakutkan.
Eric terus berusaha mencoba menyalakan mesin berkali-kali, namun tetap masih tidak bisa menyala.
"Ah sial, sial," Eric memukulkan tangan nya ke setir.
"Ya Tuhan, bagaimana ini," lirih ku di kegelapan.
Di dalam mobil, aku dan Eric berusaha tenang dan terus mencoba menyalakan mesin.
Tak lama, akhirnya mesin mobil kami mulai menyala kembali.
"Syukurlah mesinnya kembali normal, terimakasih Tuhan," sambil mengelus dadaku.
Dan ternyata, sesaat setelah mobil kami kembali menyala, sosok putih itu masih ada dan berdiri tepat di depan mobil kami. Sontak akan hal itu, membuat kami berdua begitu kaget dan ketakutan.
"Kyaa!!!" Aku menjerit sejadi-jadinya.
"Uwwaaggh!!" Eric tancap gas memundurkan mobilnya.
"Dan "Brruaakkk!!!" bagian belakang mobil kami menghantam sesuatu yang amat keras. Kepalaku tersentak ke belakang, kemudian pandanganku kabur dan mulai tak sadarkan diri.
°°°°°
1 Januari 2021
Pukul 06.37
"Brakk brakk"
"Lily, Eric, cepat bangun dan sadarlah!!!"
Suara dari seseorang yang ku kenal terus terdengar di telingaku. Samar-samar, terlihat wajah ayahku dari balik kaca pintu mobil. Dia terus menggedor pintu mobil di sebelahku, hingga aku tersadar sepenuhnya. Aku melihat di luar mobil, sudah ada beberapa anggota polisi dan juga keluarga ku yang terus mencoba membangunkan kami dari luar, dan Eric yang berada disebelahku masih belum sadarkan diri juga. Dengan badan yang masih lemas dan kepalaku yang masih sakit, aku berusaha membuka pintu mobil yang terkunci dari dalam.
Pintu mobil pun terbuka, dengan segera ayahku membuka tali pengaman dan membawaku keluar dari mobil. Begitu juga dengan Eric, dia sudah keluar dari mobil walaupun masih belum sadarkan diri.
"Lily, apa yang terjadi nak?" tanya ayah padaku.
"Umhh ayah, kepalaku terasa sakit," jawabku pelan sembari memegangi kepalaku.
Terlihat jelas, wajah-wajah yang begitu cemas dari semua keluargaku saat mereka menghampiri aku dan juga Eric.
Kemudian aku di buat terkejut, ketika melihat bagian belakang mobil yang aku tumpangi, menabrak sebuah pohon yang tepat berada di sisi tebing yang curam.
"Ya Tuhan, ternyata tadi malam mobil kami menabrak pohon itu," gumamku dalam hati.
Aku kembali teringat, dengan sosok putih yang tadi malam berdiri di depan mobil kami berdua. Sosok yang sangat menyeramkan, bahkan membuat kami hampir kehilangan nyawa. Entah apa jadinya, kalau mobil kami tidak menabrak pohon itu, pasti kami akan terjun bebas bersama mobil ke dasar jurang itu.
Aku melirik ke arah Eric yang masih belum sadarkan diri, lalu aku mengucap syukur pada Tuhan, kalau kami berdua masih terselamatkan.
~~~~~