Alyssa terjebak dalam lemari bawah tangga bersama manusia paling dia benci di dunia ini.
Bagaimana bisa?
------
Alyssa turun dari bis.
" Ah.. Bagaimana bisa aku tertidur tadi?"
Alyssa mengucek matanya yang gatal karena baru bangun tidur sekejap di bis sepulang sekolah.
Dugg!
Alyssa tersandung jejakan kaki trotoar.
Menyebabkan tasnya terguncang.
Isi tas Alyssa berhamburan.
" Haish! Bagaimana bisa? Ah! Tasku terbuka ternyata.. Ishh!" Alyssa menundukkan tubuhnya mengumpulkan kembali isi tasnya yang berserakan.
Memasukkan satu-persatu bukunya.
Terhenti di buku terakhir di tangannya.
" Tunggu. Buku apa ini? Desa berkabut?"
Alyssa membolak-balikkan buku mencoba mencari tulisan keterangan lain.
Buku catatan berwarna hitam itu hanya bertuliskan
' Selamat datang di Desa Berkabut bersama orang yang kamu sebutkan. '
" Hah? Desa berkabut? Orang yang aku sebut? Siapa?" kedua alis Alyssa mengerut berpikir.
" ALLY!!" seseorang tiba-tiba melompat ke sebelahnya menepuk bahu Alyssa.
Alyssa tersentak kaget.
Memejamkan mata menahan diri.
Menenangkan dirinya yang tadi terkejut.
Alyssa kini menatap galak sosok di sebelahnya.
" Justin?! "
Sesaat kemudian buku di tangan Alyssa terbuka menyibak cahaya terang.
-----------
Alyssa membuka matanya perlahan.
Sekelilingnya gelap.
Dan.. Apa ini?
Alyssa mendapati mulutnya diikat kain.
Tangan dan kakinya juga.
Dimana aku?
" Sstt..! Tenanglah! Aku sedang mencoba membuka ikatan ditanganmu!" Suara dari belakang Alyssa.
Alyssa menengadahkan kepalanya.
Matanya membesar tidak percaya.
" Hasti?"
Pria di hadapan Alyssa menunduk tersenyum kecil.
" Iya aku tahu namaku Justin dan kamu membenciku. Tunggu sebentar lagi. Sepertinya pisauku sedikit tumpul. Bersabarlah! Sebentar lagi akan terurai talimu!"
Setelah beberapa saat.
Tali di tangan dan kaki Alyssa terputus.
Alyssa menurunkan tali yang membebat mulutnya.
" Justin!" Alyssa membuka mulutnya hendak bicara namun langsung terdiam begitu terdengar suara ramai kaki berdesakan berjalan cepat di dekat pintu tempat mereka berada.
Krrkk Krrkk.
" Kemana mereka?" Suara satu di antara sepertinya beberapa orang di luar pintu.
" Tadi aku mengikat mereka berdua di kamar sini! "
suara yang lain.
" Tapi sekarang tidak ada?! Kemana mereka?"
" Aku yakin. Mereka belum pergi jauh! Ayo kita cari lagi!"
Alyssa mengatup mulutnya menahan nafas.
" Entahlah! Tapi sepertinya sudah keluar dari rumah ini! "
" Ok! Ayo kita keliling hutan sekitar sini! Kedua orang itu harus kita temukan!"
Tak lama dari itu.
Suara kaki menghilang dari pantauan balik pintu.
" Justin! Mereka siapa?" Alyssa bingung.
" Mereka adalah mafia pengumpul pemburu untuk di jual sebagai pembunuh bayaran.."
" Pemburu?pemburu apa?Pembunuh bayaran? Mafia? Astaga!! Justin!!"
Justin menggeleng tidak percaya.
" Alyssa.. Kamu ini bicara apa? Kamu itu pemburu nomor 1. Dan aku nomor 2."
" Pemburu apa? Apa yang aku buru? Aku cuma kutubuku yang suka baca dan memakai kacamata di sekolah!"
" Sekolah? Kamu bercanda?! Kita berdua berhenti sekolah sama-sama dan mulai jadi pemburu bayangan bersama sejak itu."
" Justin.Kamu jangan bercanda! Apa yang bisa aku buru? Kita memburu apa?"
" Kita pemburu bebas. Hanya memburu yang menggangu kenyamanan dan ketertiban desa berkabut... Tunggu .. Alyssa.. Apa kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat.."
" Aku tidak baik-baik saja, Justin!
Aku tadi turun dari bis lalu tersandung dan tasku berantakan dan..
Aku disini sekarang!"
" Lalu?"
" Hih!! Kamu tahu pasti aku membencimu!
Sangat membencimu!!"
Justin mengangguk. " Aku tahu.."
Alyssa mengangkat kedua tangannya gemas.
" Kenapa? Mau cakar? Apa kamu mau berubah jadi serigala atau kucing?" Justin setengah tertawa meledek.
" Kamu!!" Alyssa meninju lengan Justin.
" Kalau bukan karena kita bertetangga dan Ayah kita berteman..."
" Apa kamu begitu bencinya padaku?"
" Tentu saja! Kamu membuatku menjadi ranking 2!
Selalu! Selama kita sekelas! Semua orang menyukaimu! Guru-guru! Teman-teman! Bahkan ayah ibuku lebih menyukaimu sepertinya!"
Justin mengetuk kepala Alyssa.
" Konyol sekali!
Di sini kamu adalah nomor 1!
Dan lagi.. Ya kamu betul. Semua orang menyukai aku .. Kecuali kamu! Bagiku kamu selalu nomor 1 dihatiku.."
Alyssa mencubit paha Justin .
" Jangan bercanda kaya gitu!!"
Wajahnya bersemu memerah mendengar ucapan Justin.
Justin hanya menyeringai kecil berucap tanpa suara.
" Aku serius!"
Dugg!
Alyssa menendang lutut Justin kini.
" Kamu sudah pernah kesini? Bagaimana kita keluar dari sini?"
Justin menggaruk hidungnya.
" Apa kamu mau keluar dari sini? Yakin?
Bukankah lebih nyaman disi..."
" Ihhh cepetannn!!" Alyssa mengangkat tinjunya.
Namun Alyssa kembali tercekat berhenti bersuara mendapat isyarat Justin yang menaruh telunjuknya di bibir dan bicara tanpa suara.
' Ada orang masuk..' Justin menunjuk sisi luar pintu.
Alyssa ikut menajamkan pendengarannya.
Benar ada suara gesekan kaki melangkah pelan di luar ruangan kembali.
Nafas Alyssa tertahan mengetahui langkah kaki si empunya beberapa kali bolak-balik di depan pintu.
Alyssa mendongakkan kepalanya menatap Justin yang memang lebih tinggi darinya.
Justin memejamkan mata beberapa kali bergidik mengedikkan bahunya menggeleng pelan.
Tetap tanpa suara.
Auuuwwwww...
Suara manusia serigala dari kejauhan.
Auuuwwwww..
" Sial! Aku masih mau cari disini! Kenapa kalian cerewet sekali!!" Kesal suara dari balik pintu.
Justin membuka matanya lalu mengangguk menatap Alyssa.
" Ok! Beres! Ayo kita keluar!"
Justin menurunkan lengannya mencoba menggapai gagang pintu di belakang Alyssa.
" Eh.. Sorry.. Maaf..Kalau kamu kurang nyaman..
Tapi disini.. Sempit dan.. Ya.. "
Justin masih mencoba meraih gagang pintu kayu.
Tapi mau tidak mau teraba olehnya punggung Alyssa yang memang begitu sesak mereka berdua di ruangan lemari bawah tangga ini.
" Eh.. Maaf Alyssa.. Aku benar-benar.."
" Sudahlah! Cepat!" Alyssa menunduk mengalihkan pandangannya dari menatap Justin.
" Oh! " Justin mendapati gagang pintu.
Mematahkannya lalu mendorong dengan sikunya.
" Ayo kita keluar!"
Justin menggaet lengan Alyssa memandunya keluar ruangan.
Di luar lemari pun ternyata begitu temaram.
Terang sinar dari atas tangga begitu redup.
Alyssa bergegas menuju tangga hendak menaik.
Namun Justin memegang erat bahu Alyssa.
Menatap serius.
" Alyssa.Dengarkan aku dulu.
Disini. Kita sedang diburu.
Aku sudah beberapa kali kesini.
Buku yang ada di tasmu tadi.
Aku juga awal mendapatkannya di tas sekolahku sebulan lalu.
Di sini usia kita juga sama.
Hanya saja.. Ya.. Kita tidak mengikuti sekolah kita disini.
Ada orang lain dengan nama dan rupa sama seperti kita disini.
1 Hari disini sama dengan 1 bulan di dunia kita.
Aku sudah bertemu dengan ' yang seperti kita' disini.
Aku belajar tentang memburu dan dunia ini dalam sebulan waktu sini."
" Kamu ini bicara apa? Aku pusing mencerna semua kata-kata kamu, Justin!"
" Ohya. Kamu benar.
Kamu harus kembali!
Ayo kita pergi dari sini secepatnya!" Justin mendorong Alyssa agar menaiki tangga lebih dulu.
Mereka berdua kini berada di depan rumah tengah hutan.
" Justin. Kita ini dimana?" Alyssa memandang sekeliling.
" Ini hutan perbatasan.
Ayo kita ke arah kiri." Justin mulai berlari sambil menarik tangan Alyssa.
Menoleh kebelakang.
"Dan lagi..." Justin menatap Alyssa. " Jangan berbalik!" Justin memperingatkan. " Jangan menoleh kebelakang!"
Alyssa mengangguk mengerti.
Mereka berlari selama 30 menit menuju kedalaman hutan.
Hingga tiba di sebuah pohon dedalu besar.
Justin menghampiri pusat pohon.
Sebuah lubang seukuran mangkuk terbuka di tengah batang.
Justin memejamkan mata kembali.
Alisnya tertaut seperti konsentrasi keras.
Cahaya biru cerah keluar dari sisi belakang pohon.
Melintas ke pohon sebelahnya membentuk dinding seperti cermin.
Justin membuka matanya.
" Cepatlah! Kamu pergi!" dorong Justin.
" A.. Aku saja?!" bingung Alyssa.
" Iya! Aku masih ada urusan!" Justin mengibaskan tangannya. " Sshh.. pergi sana cepat!"
" Haish! Justin! Nanti kalau Ayah dan Ibu kamu mencarimu.. Bagaimana?"
" Apa kamu juga akan mencariku?"
" Justin! Aku serius! Aku tidak enak kalau harus berbohong.."
Justin menghampiri Alyssa lalu memeluknya.
Mencium keningnya. " Aku akan kembali 3 jam dari sekarang di waktu sana... Kamu jangan khawatir.."
Justin mengelus rambut panjang Alyssa.
Melepas pelukannya dan mendorong Alyssa keras.
" Cepatlah pergi! Manusia serigala sudah hampir tiba disini! Husss!!"
Alyssa benar-benar terdorong kali ini dan memasuki dimensi seberang cermin.
---------
" Alyssa!.. Ayo makan ,Nak.." suara Ibunda Alyssa dari luar kamar.
Alyssa melirik jam dinding.
Pukul 1 siang.
Sudah 1 jam berlalu sejak dia kembali dari desa berkabut.
Alyssa berkali-kali melongok luar jendela kamarnya.
Melirik seberang dimana berhadapan dengan kamar Justin.
" I.. Iya Mom.. Nanti Alyssa keluar sebentar lagi.."
" Kamu lagi ngapain sih? Dari pulang sekolah kok dikamar aja.."
" Ah.. Ya.. Iya.. Alyssa keluar sekarang.." Alyssa mendecak tidak bisa menolak makan siangnya.
Dia menuju ruang makan dan mencoba terlihat seperti biasa.
Padahal dalam hatinya begitu risau memikirkan Justin yang masih di desa berkabut.
" Apa makanannya tidak enak, Alyssa?" Ibunda Alyssa menurunkan sendoknya melihat Alyssa makan dengan malas.
" Oh tidak! Enak sekali kok Mom..! Hehe.." Alyssa menyuap makanannya banyak-banyak sekaligus ke mulut.
" Hey.. pelan-pelan.. Nanti kamu tersedak kalau kamu makan seperti itu.."
Kringgg kringgg..
Suara telepon rumah berbunyi.
" Sebentar.. Biar Mommy angkat. Kamu teruskan makan!" Ibunda Alyssa berdiri melangkah menuju telepon.
Bahu Alyssa menurun cemberut.
" Bagaimana aku bisa makan ?! Di otak aku hanya memikirkan Justin disana!" Alyssa berbicara ketus ke piringnya.
" Alyssa.. Justin bilang Dia menunggumu diluar..." suara Ibundanya dari sisi lain ruangan.
Alyssa langsung berdiri beranjak cepat memburu keluar.
Membuka pintu rumahnya dan berhadapan dengan Justin yang tersenyum kecil.
" Hai.." sapanya canggung.
" Justin!! Kamu hidup?!" Alyssa memeluk Justin erat.
" Ya.. Sayangnya sepertinya begitu...Hehe. Aku merindukanmu Alyssa.."
Alyssa mendengus keras mendongakkan kepala.
" Jangan ' Hehe' ke aku! Sekarang ceritakan semuanya!!"
" Ceritakan apa? Cerita tentang aku yang berpisah darimu selama 2 hari waktu sana dan tersiksa merindukanmu?"
" Kamu merindukan aku?"
" Mmhmm. Aku rindu menjitak kepalamu. Aku rindu di tinju olehmu. Aku rindu di marahi oleh suara cempreng mu.. Ah.. Kamu tidak bisa bayangkan betapa sepi 2 hari waktu sana tanpamu.."
" Ihhh Justin!!!" Alyssa mencubit pinggang Justin.
" Aduh!! Iya.. Iya.. Aku akan ceritakan semuanya..
Kita makan dirumahmu!"
" Kenapa dirumahku?"
" Karena tadi saat aku meneleponmu,Aku tahu kamu sedang makan dan pasti belum habis dan aku lapar dan ayo!! Perutku sudah demo ingin makan!" Justin merangkul Alyssa kembali ke rumahnya.
" Apa kamu akan cerita semua?"
" Iya pasti!"
" Janji?!"
" Janji!! Demi Alyssa yang bawel cerewet dan menyebalkan!"
------selesai---