Nama ku Maryam Putri Ardiwangsa umur ku 21 tahun aku dinikahkan oleh orang tua ku semenjak umur 20 tahun, suamiku bernama Reza Putra Pratama ia adalah seorang dosen di Universitas Indonesia dan aku adalah salah satu mahasiswi yang kuliah di sana. Keluarga kami sangatlah dekat hingga kami akhirnya dijodohkan bahkan tanpa perasaan apa pun, namun aku dan suamiku tidak berdaya untuk menolak.
Untuk ku tidak masalah jika dijodohkan oleh orang tua karena aku sedari dulu tidak pernah menjalani masa pacaran seperti yang di rasakan oleh anak-anak ABG lainnya, namun perjodohan ini sangatlah mengganggu bagi suamiku karena ia sudah memiliki pacar sebelum akhirnya kami di jodohkan.
Sudah 1 tahun lebih usia pernikahan kami namun aku dan dia masih tetap berjalan di tempat tidak memiliki kemajuan, namun bagiku ia sudah menjadi suamiku pemimpin yang memimpin ku menuju Jannah nya walaupun ada hal yang salah dalam hubungan kami.
Pagi harinya, aku terbangun dan melihat sekeliling kamar tidak ku dapati suamiku mas Reza di dalam kamar aku pun bangun dari tempat tidur dan terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.
" sepertinya mas Reza sedang mandi, lebih baik aku menyiapkan makanan buatnya." aku pun segera menuju dapur untuk membuat sarapan buat mas Reza.
beberapa menit kemudian aku selesai membuat sarapan untuknya nasi goreng special buatan ku, tampak dari jauh mas Reza turun dari tangga yang bergegas untuk pergi ke kampus.
"mas.." aku pun memanggil mas Reza, ia pun melihat ke arah ku dengan raut wajahnya yang selalu cuek dan dingin terhadap ku namun itu sudah biasa bagiku.
"apa?" jawab mas Reza dengan singkat.
"ini aku udah buatin nasi goreng buat mas." kata ku dengan suara merendah dan menyodorkan piring kepada mas Reza yang masih berdiri.
"kau makan saja, saya sudah terlambat." ucap mas Reza dengan dinginnya dan pergi berlalu meninggalkan ku yang masih duduk di meja makan, aku pun mengejar mas Reza yang keluar dari rumah.
"mas tunggu.." aku pun memanggil mas Reza, ia pun berhenti dan menegok ke belakang dengan tatapannya yang terlihat marah.
"apa lagi!!" ucap mas Reza dengan suara yang sangat kesal, aku pun meraih tangan kanan mas Reza dan menciumnya sontak ia pun terkejut melihat tindakan ku.
"maaf mas, hati-hati ya dijalan." kata ku dengan suara merendah dan memberikan senyuman termanis ku di hadapan mas Reza, ia hanya diam dan pergi. Aku masih melihat kepergian suamiku dengan hati yang sangat sakit entah sampai kapan aku bisa menahan dan bersabar atas sikap mas Reza yang terus cuek dan dingin terhadapku lebih buruknya lagi aku harus berpura-pura bahagia didepan orang tua ku dan orang tuanya.
Sore harinya mas Reza tiba di rumah dan aku pun dengan sigap menyambutnya dengan senyuman terbaikku namun lagi-lagi ia hanya menunjukkan raut wajahnya yang cuek dan dingin itu.
"mas mau aku buatin teh?" tanyaku kepada mas Reza.
"nggak usah, saya minum air putih saja." kata mas Reza dengan singkat lalu kembali berjalan menuju kamar.
"baiklah mas, aku ambilkan air minum nanti aku akan anterkan ke kamar." ucap ku kepada mas Reza yang berjalan menuju kamar namun tiba-tiba langkah kaki mas Reza pun terhenti.
"oh iya, aku nanti malam pergi." ucap mas Reza dengan suara merendah.
"kemana mas?" tanyaku kepada mas Reza dengan perasaan yang penuh bertanya-tanya.
"pergi makan." jawab singkatnya dengan memalingkan pandangannya kepada ku.
"oh, kalau gitu aku juga akan siap-siap." ucap ku bergegas berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"saya pergi bukan sama kamu." lanjut mas Reza dan seketika aku pun menghentikan langkahku dan berbalik melihat ke arah mas Reza dengan perasaan yang tidak enak.
"te..terus dengan siapa mas?" tanya ku kembali dengan ragu.
beberapa detik mas Reza terdiam lalu membuka mulutnya.
"Santi." jawab singkat mas Reza memberitahu nama orang yang akan pergi makan dengannya malam hari ini, jawaban tersebut benar-benar membuat hatiku terpukul hingga rasanya sakit.
"oh baiklah, hati-hati." ucap ku singkat dengan memaksakan senyumanku, mas Reza pun pergi menuju kamar.
bodohnya aku hanya bisa tersenyum didepannya dengan mengiyakan tanda memberikan izin kepada kepergian mas Reza dengan wanita lain yaitu mantan pacarnya.
Tanpa sadar air mata menetes di pipiku dengan segera aku mengusapnya dengan tangan ku, istri mana yang rela melihat suaminya pergi dengan wanita lain terlebih ia adalah mantan pacar sang suami, bagaimana ini ya tuhan apakah usahaku untuk meluluhkan hati suamiku hanya akan sia-sia.
Aku pun meletakkan gelas di meja kamar yang berisikan air putih untuk mas Reza.
Aku pun menatap punggung suamiku dari jauh, lalu bertanya dalam hati kepada sang khalik. Apakah dia benar-benar jodohku ya tuhan? namun mengapa suamiku masih menyukai wanita lain? apakah usahaku ini benar-benar tidak ada gunanya Dimata suamiku? ya tuhan buatlah ia jatuh cinta padaku karena engkau maha pembolak-balik hati manusia.
Mas Reza pun berbalik dan melihat ku yang sedari tadi menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"kau kenapa?" tanya mas Reza dengan terheran.
"ah,nggak apa-apa mas." jawab ku dengan tersenyum lalu mendekati mas Reza.
"kerah baju kamu masih belum rapih mas " ucapku sambil merapihkan kerah baju mas Reza dengan melemparkan senyuman ku.
Mas Reza hanya terdiam, dan aku pun menatap matanya dengan sangat dalam ia pun tanpa sadar menatap mataku kami saling menatap dalam 10 detik .
"ehemm, terimakasih." ujarnya sedikit mendaham.
"iya sama-sama mas" jawab ku dengan tersenyum tipis, suasana sangat canggung karena tatapan tersebut.
"saya pergi." ucapnya kembali bersiap pergi.
"iya." jawab ku singkat dan meraih tangan mas Reza lalu mencium punggung tangan kanannya dengan hati yang sangat sakit. Mas Reza hanya terdiam lalu pergi tanpa ingat meminum air putih yang sudah ku sediakan, lagi-lagi aku hanya bisa menatapnya dari jauh tanpa sadar air mataku kembali menetes dada ku terasa sesak dan akupun tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi ku tahan.
Jam 00:00 WIB , aku masih menunggu kedatangan mas Reza yang masih belum pulang perasaanku seketika berkecamuk, khawatir dan cemas. Tiba-tiba suara mengetuk pintu pun terdengar, aku pun segera membuka kan pintu ternyata suami yang kutunggu akhirnya pulang.
"mas." ucapku sembari melihat wajahnya.
"saya capek, jadi jangan banyak tanya." ucapnya dengan dingin lalu pergi ke kamar, akupun segera menutup pintu dan menyusul mas Reza ke kamar.
aku pun melihat ia berbaring di atas kasur tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.
"mas ganti baju dulu, cuci kaki baru tidur yuk." ucap ku mengingatkan mas Reza namun tidak ada respon dari mas Reza aku pun berinisiatif melepaskan kaos kaki dan membuka bajunya.
tangan ku pun merasakan hawa yang begitu panas dari tubuhnya, benar saja mas Reza sedang mengalami demam tinggi.
"ya Allah mas, kenapa badan kamu panas sekali." ucap ku dengan nada sedikit tinggi karena terkejut dan cemas.
aku pun bergegas mengambil handuk dan air untuk mengompres kepala mas Reza tidak lupa pula obat penurun panas.
Aku pun tetap terjaga untuk menjaga mas Reza yang sedang sakit sembari mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang, melihatnya yang terbaring sakit membuat hati ku sangat remuk aku pun tak kuasa menahan air mata ku yang mengenai kening mas Reza yang sedang terlelap.
Tak terasa ternyata aku tertidur disamping mas Reza lalu membuka mata, mata ku pun mencari mas Reza namun tidak ada. Sontak aku bergegas turun ke bawah menuruni tangga dengan cepat, terlihat sosok laki-laki yang sedang berdiri di samping meja makan yang sedang menyiapkan gelas dan piring.
"mas Reza, kok disini?" ucap ku bertanya terheran.
"oh kamu udah bangun? ayok sini." ujar mas Reza lalu menarik tangan ku menuju meja makan dan menyuruh ku duduk.
"aku buatin nasi goreng buat kamu special buatan aku, dijamin enak." ujar mas Reza dengan melemparkan senyumannya, seketika aku pun terpana melihat senyuman mas Reza baru kali pertama bagi ku melihat senyuman suamiku tersebut selama satu tahun lebih ini.
"ma..mas kamu tersenyum? ada apa denganmu mas?" ucapku sembari bertanya.
"emang kenapa? apa ada yang salah kalau saya tersenyum di depan istri." ucap mas Reza dengan tersenyum, kata-kata tersebut sontak membuat ku terkejut dan bahagia aku merasa doaku terkabulkan selama satu tahun lebih ini.
Aku pun membalas senyuman mas Reza dengan sangat lebar karena hari ini aku sangat bahagia.
"maafkan aku yang sudah membuat mu menangis selama setahun lebih ini, beberapa hari ini aku terus berpikir dan ada yang aneh di dalam hati ku saat aku cuekin kamu dan kemaren aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan Santi itu dan dia mengikhlaskan ku dengan menangis, aku pun mengantarnya pulang dan entah kenapa tiba-tiba badan ku rasanya lemas dan akhirnya jatuh sakit. Terimakasih karena kamu sudah selalu ada saat aku bahagia dan saat aku jatuh sakit, dan baru ku sadari bahwa beberapa hari terakhir ini ternyata aku sudah jatuh cinta sama kamu Maryam." ucap mas Reza dengan jelas sembari memegang tangan ku di atas meja makan.
"aku mencintaimu istriku" ucap mas Reza mengatakan perasaannya kepada ku.
"aku juga mencintaimu suamiku" jawab ku dengan membalas perasaan mas Reza dengan tersenyum dan meneteskan airmata, aku tak menyangka akhirnya tuhan telah menjawab doa-doa ku selama ini kesabaran dan usaha ku untuk membuat suamiku mencintaiku akhirnya terjawab sudah.
Hingga akhirnya kami menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai dan rumah terasa hangat begitu juga hubungan kami hingga akhirnya aku pun hamil anak pertama kami semua keluarga pun bahagia mendengar kabar tersebut begitu juga kami yang akan segera menjadi seorang ibu dan ayah untuk calon bayi kami, terimakasih ya tuhan kau telah menjawab doa-doa ku untuknya.
-Tamat-