Di dalam desa berkabut. Aku Anna, baru saja beberapa langkah menapaki desa ini. Aku masih pelajar remaja, ingin menjelajahi tanah desa yang dibilang penuh misteri ini.
Petang menjelang malam. Sedikit semburat merah di ufuk barat. Aku melihat sekeliling. Benar kata orang-orang, seperti namanya kabut mulai menyelimuti desa ini. Beruntung masih ada lampu jalan meskipun jaraknya berjauhan.
Perlahan aku melangkah di atas jalanan yang belum di aspal. Tak jarang aku merasakan menginjak beberapa kerikil dan rerumputan. Aku menengok kiri kanan, hanya ada sawah yang ditanami padi yang masih muda.
Aku berhenti sejenak. Di depan sana cahaya lampu tampak remang-remang di balik pohon. Aku juga seperti melihat seseorang disana yang nampak seperti gambar siluet. Aku mencoba menghampirinya, mungkin dia salah satu penduduk desa ini.
"Permisi, Pak?" Begitu sapa ku. Ku lihat dari belakang orang itu tinggi dengan bahu lebar, berambut pendek dan sepertinya berjenggot. Dia berbalik, dan seketika mengagetkanku begitu memanggul gunting besar di bahunya sambil menatap tajam ke arahku.
"Iya, ada apa Nak?" Balasnya dengan ramah. Rupanya aku salah kira, ternyata dia hanyalah seorang tukang kebun yang sedang merapikan ranting pohon.
"Um, jalan ke makam tua kemana ya Pak?" Tanya ku, karena itulah tujuan utama ku datang kemari.
"Oh, dari sini kamu lurus saja. Nanti kamu tinggal belok kanan di perempatan."
–––
Aku berjalan mengikuti arah bapak yang kutemui tadi. Hanya sekitar dua menit aku pun sampai di depan makam tua. Aku tau karena aku langsung di sambut dengan gerbang besi dan ada tulisan "TPU Desa Berkabut" di situ.
Makam ini sudah tidak di pakai lagi. Yang ku dengar, makam ini sering digunakan untuk ritual magis. Tapi masyarakat tidak mengkeramatkannya. Namun, bapak tukang kebun yang ku temui tadi berpesan untuk tidak menggangu penghuni makam.
Perlahan aku membuka pagar. Sambil mengucapkan "permisi" kepada penghuni makam untuk menunjukkan kesopanan ku. Perlahan aku menapaki jalanan di antara gundukan-gundukan tanah. Pandangan ku menelusuri jejeran batu nisan dari ujung ke ujung. Sorot senter ku arahkan seirama dengan pandangan ku.
Ku...ku...!
Suara burung hantu mengejutkan ku. Sorot senter tepat mengenai ranting pohon tempat burung hantu itu bertengger. Dia memutar kepalanya 360 derajat, itu wajar aku sudah mengetahuinya sejak di sekolah dasar. Sejenak tadi membuat jantung ku berdebar.
Sekarang aku sadar telah berada di tengah pemakaman. Aku menjumpai beberapa sesajen, dan kuburan bertabur bunga yang telah layu bahkan kering. Mungkin ada warga yang berziarah sebelum aku datang kemari.
Sepertinya tak ada hal menarik disini. Aku datang kemari untuk merasakan sendiri kisah mistis yang ku dengar. Tapi rupanya semua hanyalah fiksi. Memang begitulah yang ku rasakan, hanyalah angin malam yang membuat ku merinding. Suara burung hantu yang membuat jantung ku berdebar. Pemakaman biasa yang memang tempat peristirahatan terakhir orang-orang yang telah meninggal dunia.
–––
Aku berjalan menuju ke gerbang pintu pemakaman. Rasa penasaran ku sudah terjawab. Lebih baik mencari penginapan untuk beristirahat. Ini sudah larut malam. Jam tangan ku menunjukkan pukul 10.50.
"Anna..." Aku mendengar suara misterius memanggil nama ku. Siapa? Tak ada orang selain aku disini. Hawa dingin yang menyeruak membuat ku merinding.
"Ini hanyalah angin malam, dan mungkin hanya salah dengar saja." Begitu gumam ku sambil mengusap-usap kedua lengan ku.
"Anna..." Suara itu memanggil ku lagi. Siapa itu, kali ini jelas sekali.
Aku ingin berbalik. Mengetahui suara siapa itu. Namun pikiran ku juga berkata "jangan". Aku sudah membayangkan sosok menyeramkan yang akan mengejutkan ku ketika berbalik. Rasa takutku terkalahkan dengan rasa penasaran, aku akhirnya berbalik. Dan, tak ada siapa-siapa.
Entah mengapa aku jadi resah, perlahan aku berjalan mundur. Tiba-tiba aku terperosok masuk kedalam sebuah liang lahad yang samasekali tidak ku sadari keberadaannya. Kini aku benar-benar panik dengan jantung yang berdebar kencang.
Sebuah cahaya datang. Aku mendengar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Aku kemudian terkejut ketika mereka mengatakan ini mengubur liang lahad ini. Ku dengar orang yang memesannya tak jadi memakamkan mayat disini.
Aku mencoba keluar dari lubang sedalam satu meter ini. Anehnya aku tidak bisa bangkit. Sebuah tangan misterius muncul dari dalam tanah. Menahan kaki dan tangan ku, serta membungkam mulut ku. Dan perlahan merayap menutup mata ku.
Semuanya gelap. Aku memberontak seraya harap orang-orang di atas sana melihat ku di dasar sini. Namun, sepertinya tidak. Aku merasakan tanah basah mulai menimpa tubuhku. Anehnya aku seperti bisa bernapas di begitu tanah mengubur bagian kepalaku.
Apa aku akan jadi seperti mayat yang telah dikubur? Merasakan hidup dalam alam kubur. Aku tak tahu apa mereka sudah selesai atau belum. Yang jelas seluruh tubuh ku telah tertindih tanah.
–וTAMAT•×–