Sepertinya adikmu sudah ga ada, kata ibu di ujung telepon. Apa bu? Maksudnya? Ibu berkata dengan tenang, adikmu meninggal. Saya pun menangis sejadi-jadinya. Speechless....
Saya pun segera menelepon suami saya namun tidak bisa berbicara karna tidak bisa menahan tangis. Dengan terbata-bata saya bilang Lil’ Bro meninggal.....
Beberapa sahabat pun saya info, terutama geng SMP karna mereka kenal Lil’ Bro ketika masih balita, jadi ramailah WA Grup kami membahas kenangan tenang Lil’ Bro, yang katanya sering mereka godain kalo ikut di mobil pada saat menjemput saya di sekolah, atau ketika main ke rumah saya.
Lil’ Bro memang adik saya satu-satunya, saudara laki-laki satunya. Kebetulan saya anak bungsu sebelum Lil’ Bro lahir. Jarak umur kami terpaut jauh, sehingga ketika dia lahir jadilah saya pangais bungsu, mantan bungsu. Makanya saya sering cemburu sama dirinya. Ah.....
Karena kondisi saya saat ini, ditambah pandemi pula, saya pastikan secara sah dan meyakinkan, bahwa saya tidak dapat menghadiri pemakaman Lil’ Bro. Jadilah saya hanya menangis sendirian di pojokan, menghabiskan sekotak tisue, tanpa diketahui para roommate saya, yang satu masih tidur dan tidak terusik oleh tangisan saya, yang satunya entah lagi ngelayap kemana.
Saya pun melihat para sepupu sibuk mengenang Lil’ Bro, bikin story di IG, FB, bikin status, semua dengan foto Lil’ Bro, membuat saya makin melongo, ga percaya...
Dan kemudian, pintu teater 1 telah dibuka....
Karena beda umur kami cukup jauh, saya berkesempatan mengurus Lil’ Bro. Waktu itu ibu kebetulan sedang berdinas ke Bali selama 3 bulan. Saya lah yang memandikannya dll, walaupun saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Walaupun kami juga sering berebut memilih saluran radio di mobil ketika berangkat atau pulang sekolah, malah saya suka dijambak, ahaha, namun secara keseluruhan, kami kompak. Karna ternyata Lil’ Bro sering menganggap saya sepantaran dengannya. Bahkan ketika saya sudah punya SIM, Lil’ Bro cemburu banget karna dia belum bisa ambil SIM, jadilah SIM saya disembunyikan dan berbulan-bulan ibu mencarinya.
Kami juga sering pergi berdua, karna kakak-kakak yang lain sibuk, padahal usia saya dengan kakak-kakak sangat dekat jadi sebenarnya sama lah posisi kami kakak-kakaknya dengan Lil' Bro. Namun, entah mengapa, Lil’ Bro paling nyaman dengan saya, bahkan selalu bilang kalo dia mau punya pacar, bahkan istri, yang seperti saya. Ehm....
Suatu ketika kami mau menonton sirkus bersama para sepupu. Saya dan Lil’ Bro diantar sopir ke rumah tante. Berhubung saya sudah ABG, jadilah saya duduk menyendiri, memperhatikan Lil’ Bro bermain dengan para sepupu yang memang seumuran. Saya liat kok Lil’ Bro di bully ya. Saya pun marah dan menangis sambil segera telpon taxi untuk pulang saja ke rumah. Lil’ Bro saya ajak pulang dan dengan heran dia bertanya, kenapa sih kak Baby? Saya bilang kita pulang atau kita pergi ke sirkus berdua aja ya. Lil’ Bro pun menurut karna melihat saya menangis. Lil’ Bro yang hatinya bersih mungkin ga merasa kalo sudah di bully, sementara kakaknya ini kan ABG baperan, ahahaha. Saya ingat sekali tante saya berkata kepada anak-anaknya dan keponakan-keponakannya, liat tuh kompaknya kakak beradik, kakaknya membela adiknya, kalian harus contoh. Oh bangganya saya sebagai sang kakak pembela, hihi....
Kami juga punya rutinitas lain yang amat sangat menyenangkan. Ketika saya berkuliah di luar kota, saya biasanya pulang setiap wiken. Nah, jadilah rutinitas kami berdua pergi ke Dufan. Pagi-pagi sekali, ketika Dufan baru buka, kami di drop oleh sopir, dan dijemput kembali pada malam hari ketika Dufan tutup. Asik kan? Kami selalu berpisah karna berbeda kesukaan. Lil’ Bro senang di Game Arcade, sementara saya, yang pasti membuka acara dengan naik Ontang Anting, berlama-lama di situ membayangkan saya melayang pakai jetpack – eh belum ada jetpack ya saat itu hehe. Kami biasanya janjian di musholla setiap waktu sholat. Jadi kami hanya bertemu 3 kali, Zuhur, Ashar dan Maghrib. Biasanya kami maksi selepas sholat Zuhur dan makan malam selepas sholat Maghrib. Namun apabila Lil’ Bro kekurangan uang – karena saya yang selalu pegang uang, secara saya memang selalu jadi bendahara ahaha – Lil’ Bro tau kemana mencari saya, ke tempat saya mengkhayal melayang itu lah. Duh indahnya kalo inget masa-masa itu.....
Ketika Lil’ Bro SMA dan ada acara Jambore, kami pun ngobrol. Saya bilang, kamu kan pinter main gitar. Nanti di tepi api unggun kamu main gitar aja sendiri, bawain lagu ini, pasti cewek-cewek ngerumunin kamu deh. Sepulangnya dari Jambore, Lil’ Bro dengan semangat bilang, bener lho kak, cewek-cewek pada ngerumunin aku dan pada nyanyi lagu itu. Nah kan, apaku bilang, kakak gaul.....
Kemudian ketika Lil’ Bro di plonco di Universitas dan dapat tugas bikin yel yel, kemana lagi dia minta kalo bukan ke kakaknya yang ini, hihi, dan yel yel nya terpilih jadi yel yel angkatan. Keren kan? Siapa dulu, kakaknya Lil’ Bro...
Lil’ Bro juga dekat dengan pacar saya, bahkan suami saya. Dulu kalo saya dan pacar lagi berantem, sang pacar pasti deketin Lil’ Bro ngasih game sambil titip pesen buat saya supaya ga ngambek. Hehe...
Lil’ Bro orangnya unik, dia sangat berbakat, namun bakatnya itu tidak digunakan untuk mencari uang. Padahal, duh, kalau karya-karya nya dikomersilkan, diuangkan, saya mungkin ga usah kerja pontang panting, cukup jadi manajernya dia aja.
Bayangkan dalam usia belia, ketika ada suatu band remaja yang ngetop karna lagunya bagus, saya tiba-tiba tersentak, kayak pernah denger, batin saya. Waktu kami nonton TV bareng dan liat band itu di TV Lil’ Bro bilang, salah satu pemainnya itu temennya. Saya langsung nyambung, saya bilang, ini lagunya karangan kamu? Kak Baby pernah dengar kamu mainkan gitar lagu ini. Lil’ Bro ga jawab, cengengesan aja. Saya tanya lagi, kamu kasih gratis? Jawab Lil’ Bro, gapapa sama temen. Begitu sering Lil’ Bro ngasih lagu karangannya ke band-band baru, kasian katanya. Uuuuh gemes banget rasanya, padahal di kepala saya sudah berhitung, banyak juga royaltinya.....
Pada saat musim house music, tiba-tiba Lil’ Bro kasih saya satu album buatan dia. Ya ampun, keren banget. Saya yang berjiwa bisnis pun langsung minta suami bawa album itu ke pengusaha rekaman. Benar saja, boss perusahaan rekaman langsung bikin kontrak setahun dengan imbalan yang sangat besar, jauh dari gaji saya saat itu, untuk 6 album. Artinya Lil’ Bro harus bikin 1 album tiap 2 bulan. Dengan sumringah saya bawa kontraknya dan apa kata Lil’ Bro? Ga ah kak, nanti aku pas ga ada ide gimana? Iiiih mau tak pites rasanya, tapi dia kan badannya besar. Huhuhu, gagal maning.
Lil’ Bro memang berbakat, bayangkan dia pernah bikin drum machine untuk seorang musisi kondang, ketika drummernya punya masalah dengan kakinya. Jadilah band itu rekaman menggunakan drum machine buatan Lil’ Bro. Dibayarkah Lil’ Bro? Ga lah, gratis tis tis....
Karena melihat bakatnya, seorang musisi kondang lainnya merekrut Lil’ Bro, alasannya daripada dimanfaatin sama yang satu itu. Mulia juga hatinya. Lil’ Bro sampe punya studio khusus, difasilitasi segalanya dan dilayani sebaik mungkin. Namun Lil’ Bro akhirnya resign. Kenapa? Karna katanya ide itu ga bisa dipaksa, aku ditarget Kak, aku takut ga bisa memenuhi target. Iiiih, geregetan banget. Padahal dia sudah berhasil memodifikasi guitar synthisizer yang jadi user friendly dan sekarang dipakai oleh banyak gitaris handal. Dapet nama? Ga lah, Lil’ Bro bilang puas kalo karyanya bermanfaat. Huh, tambah geregetan.
Suatu hari Lil’ Bro nunjukin preamp gitar kepada ibu, dia bilang, ini foto siapa yang ada dibungkusnya? Ibu memperhatikan, kayak foto kamu kayaknya. Dia pun tersenyum. Bayangkan, F*shm*n preamp pernah mengeluarkan produk dengan foto Lil’ Bro yang dibuat vintage di packing nya. Dia juga bikin guitar synthisizer lengkap dengan tutorialnya yang kemudian diadaptasi oleh R*l*nd. Bahkan lagunya ada yang digunakan L*d* G*g*. Apa dia jadi kaya, jadi terkenal? Ga. Kenapa? Karna semua karyanya, baik software maupun lagu dia taro di blog atau Youtube dan dia bilang silakan diambil kalo perlu. Dia juga bikin voice keys, yang saya ga paham gunanya, tapi kayaknya sih untuk menyetem atau menyelaraskan alat musik, gratis tis di blognya. Bingung saya dibuatnya.
Kemudian dia cerita, bahwa dia dikontak sebuah perusahaan di Jerman yang mau mengambil midi conventer buatannya dan ingin mempekerjakan Lil’ Bro. Apa jawabannya? Silakan diambil aja. Saya pun marah, kenapa sih bro? Dia bilang, karna aku buatnya pake software bajakan, nanti malah dituntut. Duh, saya bilang, kan bisa bikin disclaimer dari awal. Tapi Lil’ Bro keukeuh ngasih gratis. Ih, nyebelin banget, berapa ribu dollar kau buang bro....
Setiap saya tanya, kenapa sih dikasih cuma-cuma? Lil’ Bro bilang, dia puas kalo karyanya bermanfaat, jadi bukan soal uang. Ckckck. Tapi akhirnya blognya ditutup, begitu pula Youtube nya dihapus semua karna dia bilang, ga ada yang kasih masukan atas karyanya, dia inginnya ada diskusi untuk mengasah kemampuannya. Duh, hilang deh kesempatan saya memonetisasi karya-karyanya. Padahal saya udah berencana mengurus hak patentnya, ini semua kan intellectual property yang mahal.
Yang terakhir, dia bikin lagu sampai 40 buah dan minta tolong suami saya untuk menjualnya. Tiba-tiba dia bilang, selera pasar berubah, ga jadi deh. Ya ampun, belum tentu bro, sini kak Baby jualin.
Namun sejak saya punya anak memang hubungan kami tidak seakrab dulu, tapi saya tetap kakaknya yang paling didengar pendapatnya. Walaupun kemudian komunikasi lebih sering melalui ibu, kami tetap berkomunikasi. Terakhir ibu bilang, Lil’ Bro kerap menanyakan kapan saya pulang, karna katanya Lil’ Bro mau kerja bareng saya, karna menurut dia saya banyak ide. Ehm ehm, ga kebalik? Saya pun bilang, tunggu ya Bro, sehabis pandemi ini, kak Baby akan pulang.
Saya excited banget diajak kerja sama dengan Lil’ Bro. Langsung kebayang, saya bisa mengkolaborasikan anak saya yang sulung, si Kakak, yang kuliahnya Gaming Apps, dengan Lil’ Bro sehingga bisa menghasilkan game yang spektakular, yang fenomenal, ngalahin Among Us, bahkan Cyberpunk 2077 pun lewat. Ahay.....
Namun, hari ini saya sadar, ga mungkin itu terjadi karna pada dasarnya Lil’ Bro emang ga mau jadi siapa-siapa, ga mau terkenal. Dia memang memilih jadi ‘Nobody’. Dan dia menjalaninya dengan persisten. Ga kayak kakaknya ini yang selalu bilang pengen jadi Nobody tapi masih suka menggerutu kenapa saya yang beli pompa tapi ga dikasih air. Duh, malu saya Bro....
Dan ternyata, pagi ini kamu pulang duluan Bro. Ingin rasanya berteriak padamu dan bilang, kok kamu curang banget bro? Katanya nungguin kak Baby pulang, ternyata kamu pulang duluan.....
Dari Lil’ Bro saya belajar, bagaimana menjadi Nobody dan apa konsekuensinya. Konsekuensinya, hidup Lil’ Bro sepi, jauh dari keramaian. Dan ketika dia berpulang, semuanya sepi, sunyi senyap, pemakamannya hanya dihadiri segelintir orang – kebetulan lagi pandemi juga kan. Ga ada tuh para musisi kondang yang memakai karyanya. Tapi saya yakin, semua itu ga penting buat Lil’ Bro, yang pasti proses pemakamannya berjalan lancar, bahkan hujan pun berhenti. Ga penting siapa yang datang melayat ya bro, toh kita memang pulang sendirian...
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Dedicated to my one and only brother who passed away on the first day of 2021.
I love you bro
I miss you