Hari masih pagi,baru pukul 10:41.Suasana sekolah sudah ramai seperti pasar.Suara kisruh jeritan murid-murid dan seruan panik guru menyelimuti pagi yang mendung.
"Ada yang gantung diri lagi,"
Begitu bisik-bisik siswa yang kudengar.Aku berlari cepat menuju pusat kekacauan.Tak lain dan tak bukan,pohon besar Tabebuya yang berdiri tegak didepan sekolah.
"Siapa sekarang?siapa yang tergantung dipohon besar itu?"
Langkahku semakin cepat,menyeruak kerumunan siswa yang tak kalah penasaran denganku.
Ini sudah kasus yang keempat kali semenjak aku sekolah disini.Kasus pertama,anak teladan kelas XI tergantung dengan kaus olahraga.Kasus kedua,teman sekelasku yang pendiam tergantung dengan bukul novel kesukaannya yang terjatuh.Kasus ketiga,lagi-lagi anak kelas XI,pemegang juara umum sekolah,tergantung dengan rambut tergerai seperti kuntilanak.
''Jangan kesana,Li,"Rafli menghentikanku.Wajahnya pucat pasih.Ada bekas air mata diasana."jangan kesana,"
Aku berderap maju,tangan kokoh Rafli kutepis."Jangan menghalangiku,Raf,''
"Jangan kesana,kumohon,"
Aku tetap keras kepala melangkah,berjalan semakin cepat dengan Rafli mengekor dibelakang.
Pohon angkuh itu semakin jelas.Kerumunan manusia menyesaki lapangan.Aku mendongak,mencari tau siapa kali ini yang menjadi korban sekolah ternama ini.
Mataku membulat,tubuhku seketika lemas melihat siapa yang tergantung disana.Itu sahabatku,Santi.
"LILAC!"
Aku tak sadarkan diri.
888
Sebuah bola biru melintas didepanku.Membentuk sesuatu yang lebih besar darinya.Tak lama,ratusan bola lainnya menyusul.Membentuk sesuatu.pohon depan sekolah dengan belasan tubuh yang terikat.
Santi,salah satu dari mereka,menoleh dengan tubuh terawang dikelilingi tujuh bola biru.Menatapku dengan wajah memelas.
"Tolong kami,Lilac!"
"AAAAAA....!!!"
Aku terbangun dengan peluh sebesar biji jagung.Di sana,Rafli,Abram dan Nina mengelilingiku dengan wajah cemas.
"Santi ???"
Aku harap kejadian tadi hanya mimpi buruk.Tapi melihat tiga temanku menggeleng dan Nina yang langsung menangis,membuat harapanku pupus.
"Santi udah di bawa pulang.Om sama Tante juga udah di kasih tau,"jelas Abram.
Aku menunduk.Teringat mimpiku tadi yang terasa sangat nyata.
"Aku tadi mimpiin Santi.Bukan cuma dia,tapi banyak banget orang yang pernah gantung diri di pohon itu,"
Teman-temanku mendengarkan dengan seksama.Kami pernah membahas soal pohon itu beberapa hari lalu.Soal keanehan dan setiap berita gantung diri yang sama sekali tidak menurunkan reputasi sekolah.Bahkan,sekolah semakin ramai saat penerimaan murid baru.
"Mereka dirantai,dan minta tolong,"
Teman-temanku mendesah.Ini memang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan hal ini.Tapi,memberitahu mereka tentang hal yang dari dulu kami curigai itu lain hal.
"Kita bicarakan ini nanti.Sekarang,kita harus pulang,sekolah akan diliburkan,"
Kami mengangguk,dan segera berderap ke rumah Santi.
Sekolah diliburkan selama seminggu.Selama itu juga,ingatan kami seolah dicuci bersih oleh sesuatu.Sesuatu yang tak kasat mata.
Besoknya-tepatnya sehari setelah kejadian mengenaskan Santi,kami berkumpul dirumah Rafli,membicarakan ini itu dan mimpiku yang kembali terulang.
“Kau bermimpi lagi?”tanya Rafli.
Aku mengangguk,”kali ini lebih nyata,Santi menarikku kepohon itu.Sesuatu menunggu pohon itu,hal yang sangat mengerikan mengikat mereka disana,”
“Apa itu,Ly?”Nina bertanya ingin tau.,”apa Santi baik-baik saja?”
Aku menggeleng,”Aku tidak tau,”
Kami semua terdiam,sibuk dengan pikiran masing-masing saat sebuah Orb biru melintas didepanku.Membentuk sesuatu yang lebih besar,tapi tetap tembus pandang.Santi berdiri dengan wajah memelas dan badan terikat rantai,memandangi kami satu persatu.
“A.....”
“Santi!”Abram sontak berteriak.
“A....”
Nina gemetar disampingku,sedangkan Rafli dan Abram yang sudah berdiri membentangkan tangan mereka-melindungi kami berdua.
“Istirahatlah kawan!kau harus tenang!”ucap Abram setengah memerintah.
Santi malah makin mendekat,menggoyangkan tangannya yang dirantai.
“Tolong kami,”
Santi lenyap,hanya kata-kata itu yang terus diulangnya,bergema diruangan,meninggalkan prasangka besar di otak kami,”Pohon itu mengikat Roh Santi”
Besoknya,kami berempat mengunjungi sekolah.Tempat itu sangat mengerikan,suasana sunyi dan legang membuat pohon Tabebuya besar itu seperti monster.
Abram mendekati pohon,mengitarinya sebentar dan kembali pada kami dengan sebuah jeruk segar ditangan.
“Apa ini?”tanyaku.
“ini sajen,ada banyak disana,”
“Buahnya masih segar,kurasa belum lama ini diletakkan,”Kali ini Rafli berkomentar,di ambilnya jeruk ditangan Abram lalu melemparnya kasar,”Seseorang menumbalkan teman-teman kita untuk sekolah ini,”
Nina mendekati pohon,mengamati berbagai macam persembahan didepannya.
“Siapa yang melakukannya?mengapa dia tega sekali?”nina mulai menangis lagi.
Aku memeluknya,mencoba menenangkan.”kita akan menemukannya,Na,aku berjanji,”
“Loh,kalian kenapa disini?”
Kami menoleh,Pak Dinata,kepala sekolah kami berjalan mendekat,”bukannya sekolah sedang libur?”
“Ka...,”
Ucapanku terhenti saat melihat berbagai macam sajen di kantong kresek di tangan Pak Dinata.
“Kenapa,Li?”Abram yang heran bertanya.
“Lari,Bram!”
“Apa?”
“Cepat lari!”
Aku menarik tangan Nina yang masih heran,Abram dan Rafli menyusul dibelakang.Kami bersembunyi di kelas X-B.
“Kenapa,Li?”Nina tak sabar bertanya.
“Kalian nggak liat yang dibawa Pak Dinata?dia bawa sesajen,”
Teman-temanku melongo,baru sadar dengan keadaan.Obrolan kami terhenti mendengar tapak kaki dan panggilan Pak Dinata.Suara gema memantul diruang kelas yang kosong.Langkah itu berhenti didepan pintu kelas.Kepala putih itu melongo dengan seriangan mengerikan.
“Ketemu,”
Nina berteriak,Pak Dinata melangkah masih denga seringai di bibirnya.Aku menahan nafas,ku rasa Abram dan Rafli juga melakukan hal yang sama.Tapi,mereka lebih dulu menemukan keberanian dan menyerbu Pak Dinata dan berteriak menyuruh kami mencari bantuan.
Aku dan Nina berlarian dikoridor kelas,gerbang sekolah terasa sangat jauh sekarang.
Kami terhenti saat mendengar suara bedebrak dibelakang.Abram dan Rafli,entah bagaimana tergantung ditangan Pak Dinata yang kurus.Nina sekali lagi berteriak,dia terduduk dilantai marmer.
“Lepasin!lepasin mereka!”aku berlari menyerbu,Walau tau usahaku akan sia-sia.
Aku terjatuh karena Pak Dinata melempar Abram.
“Sorry,Li,”Abram tertatih berdiri dan membantuku.
Pak Dinata masih berdiri disana,sedangkan Rafli sudah terbaring lemas dengan nafas tersegal.
“Kalian mau kemana,anak-anak?”
Aku menelan ludah susah payah.Pak Dinata yang ini sangat berbeda dengan Pak Dinata yang bijaksana dan bersenyum ramah.
“Kenapa Bapak melakukan ini?”akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibirku.
Pak Dinata mematung,seperti berfikir.
“Kenapa bapak menumbalkan teman-teman kami?”pertanyaan kedua,tapi Pak Dinata masih mematung.
Aku memberi isyarat kepada Nina yang sepertinya mulai pulih.Menyuruhnya untuk menelpon siapapun selama kami sibuk mengalihkan Pak Dinata.Nina mengerti dan diam-diam mengeluarkan Handphonenya dengan tangan masih gemetar.
“Tidak ada alasan,anak-anak,”Akhirnya Pak Dinata mulai bicara.
“Kalian tau?menjadi orang tua dan tidak punya pengalaman apapun,membuat Bapak dan keluarga Bapak selalu miskin dan jadi hinaan orang-orang dikampung.Akhirnya,atas saran seorang dukun,bapak bisa mendirikan sebuah sekolah.Tapi dengan syarat tumbal setiap bulannya,”
Aku menggigil,mata Pak Dinata menatapku dengan cengirannya.
“Kau korban yang bagus.Aku akan menjadikanmu tumbal selanjutnya,”Pak Dinata merengsek maju.Aku berusaha lari.Tapi,badanku seperti terpaku dilantai.Abram pun sama,dia diam saja dengan mulut menggumam aneh.
Aku hanya pasrah saat tangan kurus itu memegang leherku.Saat cahay biru bola-bola Orb seperti menyerbu Pak Dinata.Pak Dinata berteriak,tubuhnya melayang.Bola-bola Orb itu mengangkatnya keatas pohon lalu mengelilinginya.
Seketika aku bisa bergerak,begitu juga Abram.Di luar sana,suara sirine polisi dan hiruk pikuk warga mulai ramai.
“Polisi udah nyampe,”Nina memapahku pergi.Kami berempat segera di amankan.Sedangkan Pak Dinata,lelaki tua itu sekarang tergantung diatas pohon dengan lidah menjulur.Di sana,roh-roh teman kami bermunculan,terbang satu demi satu kelangit dengan senyum merekah.Ku kira Cuma aku yang melihat fenomena itu.Tak disangka,semua orang yang berada disana juga melihat.Sedikit demi sedikit pohon besar itu layu.Seperti kehabisan energi untuk berdiri.
“Kita berhasil teman-teman,”lirihkku,”kita menyelamatkan Santi,”
Nina menangis,roh Santi mendekati dan memeluk kami.Dia tidak semenyedih kan waktu itu.Wajahnya cerah dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
“Terima kasih teman-teman,”Setelah mengucapkan itu,dia menghilang.
Setelah kejadian mengerikan disekolah,banayak para siswa yang pindah,termasuk kami berempat.Banyak cerita beredar,arwah Pak Dinata masih mendiami sekolah.