Grek… Grek… Grek…
Suara tandu roda yang ku dengar begitu terdengar keras, ku lihat langit-langit seperti berjalan. Orang di sekitar menatapku dengan iba sambil menggiringku ke suatu tempat, salah seorang ada yang menangis, ialah ibuku.
“Bertahanlah Nak.” keluh ibuku sambil menitikkan air mata. Aku hampir tak bisa melihat ibuku, pandanganku buram dan semua terlihat samar-samar. Ku gerakkan saluran infusku yang hampir terlepas sebentar meski kabur pandanganku, seketika semua yang memandangku tersenyum kepadaku termasuk ibuku.
“Ada apa dengan kalian?” tanyaku heran.
“Ibu, mengapa kau tersenyum?” tanyaku lagi. Aku merasa ada yang aneh, ku lihat mereka secara bersamaan mendekatiku.
“Apa yang kalian mau? Ibu, kenapa denganmu?” tanyaku gusar. Semuanya makin mendekat dan mereka mulai mengeluarkan pisau dari sakunya masing-masing. Aku ketakutan dan mengeluarkan keringat.
Sreeeett…
Pisau mengarah ke leherku, sedikit membuatku berdarah karena mengenai kulit. Ibu, suster, dan satu dokter tersenyum sinis. “Teganya kau Ibu,” ucapku sambil mengeluarkan air mata tanda kesakitan. Namun mereka hanya diam. “Apa mau kaliaaan?!!” teriakku dengan napas yang susah diatur. Keringat menjulur di sekujur kepala. Ibuku mulai melepaskan gagang pisau dari leherku, ia mengambil suatu berkas dari meja dan melemparkan ke arahku.
Sraaak!
“Bacalah, kau akan mengerti,” perintah ibuku. Namun aku tak bisa melihat karena pandanganku kabur. “aku tak bisa melihat tulisan ini,” jawabku.
“Baca tulisan itu!” bentak ibuku
“Aku tak bisa melihatnya!!” balasku membentak.
“Bacaa!!” bentak ibuku lagi.
“Aku tak bisaa!!” bentakku lagi lebih keras.
Plaaaakk
Wajahku di tampar olehnya, aku sedikit terkejut. Pandanganku tetap buram tapi aku hampir mengetahui apa maksud tulisan pada dokumen ini. Ku lihat warna logo putih.
“A..yah.” ucapku terbata-bata. Ibuku tersenyum kecil mendengarku. Tangan ibu kembali mendekati leherku dengan gagang pisaunya.
“Sekarang kau pasti mengerti.” ucapnya sinis. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun gagal. Aku tak mengetahui apa pun bahkan aku tak tahu aku ada di mana, yang ku kenal hanya ibuku.
“Aku tak tahu.” jawabku. Ku lihat ibuku telinganya mulai memerah tanda geram. Dia menekan pisaunya ke leherku lagi.
“Aaaarrrgh.” sakit yang ku rasa sangat teramat, membuat napasku tersengal-sengal.
“Jangan main-main denganku!” ucapnya penuh amarah.
“Aku ti-dak…Ta-hu.” jawabku terbata-bata. Seketika itu ia menyuruh dokter mengambil sesuatu dari almari. Kakiku ditahan oleh suster.
“Apa yang akan kau lakukan?!” tanyaku ketakutan.
“Ini tidak akan sakit,” jawabnya sambil tersenyum sinis. Dokter menghampiriku dengan senyuman sinis sambil menggenggam suntikan.
“Selamat tidur,” ucapnya terakhir ku dengar sambil menusukkan jarum ke arah leherku. Pandanganku perlahan makin tak jelas, lalu hilang.
—
Hosh…Hosh…Hosh…
Aku terbangun, aku ada di dalam mobil. Badanku terasa sehat tidak seperti tadi. Aku merasa aneh.
“Di mana aku? Apa ini mimpi?” aku melihat kedua telapak tanganku.
“Hari yang cerah ya Ryan?” ucap seseorang di luar mobil, dialah Paman Sam.
“Ng.. Paman?” tanyaku keheranan. Di tersenyum kecil melihatku.
“Keluarlah, hampiri Adikmu di seberang sana,” perintah Paman Sam. Aku segera ke luar dan menghampiri adikku yang sedang bermain basket di rumah seberang jalan.
“Heeeei…Carr, kemarilah.” teriakku memanggil adikku, di umur dia yang masih lima tahun aku sedikit keheranan jika dia bermain basket dengan ketinggian seperti itu, sedangkan umurku yang masih delapan tahun saja belum cukup kuat untuk mengangkat bola.
“Sudah paman bilang kan, hampiri ia.” perintah dia lagi sambil menyulutkan sebatang rok*k. Aku pun berlari menyebrangi jalan.
Tiiinnn!!
Braaaak!!
Hah…Hah…Hah…
Aku terbangun, ternyata aku tadi menabrak sebuah truk. Aku melihat kedua tanganku, tak mengapa.
“Aaaarrrgg.” keluhku merasa sakit di kepala. Semua terlihat gelap di lorong ini. Aku berusaha untuk berdiri namun sangat sulit.
Gyuuuut!!
Seseorang menarik tanganku, dia menggenggam tanganku dengan kuat dan membawaku untuk lari bersamanya. Aku panik karena di kegelapan seperti aku tak mengenal wajahnya dan takut salah melangkahkan kaki.
“Heeii, mau apa kau?” tanyaku sambil berteriak. Kami lari berdua menapaki jalan lorong yang gelap.
“Heeei!! Jawaab!!” tanyaku berteriak lebih keras. Namun dia hanya terdiam. Aku berusaha melepaskan tanganku namun tak bisa, genggamannya sangat kuat dan larinya sangat kencang. Kami melihat lubang dalam di depan kami.
“Apa kau gila?!” teriakku lagi. Ia semakin berlari dengan cepat menghampiri lubang hitam yang dalam itu. Aku pun melemaskan kedua kaki agar tak ikut melangkah.
Bruuuk!!
Ternyata dia tetap membawaku dengan cara diseret. Aku putus asa, aku terjun bebas dengannya dalam lubang hitam itu, dalam keadaan masih di udara dia menodongkan pistol ke arahku.
“Sebutkan kode rahasia yang kau simpan ketika kau berumur delapan tahun.” tanya dia sambil menodongkan pistol. Aku terkejut dengan pertanyaannya.
“Apa? Apa kau gila?!” umurku sudah tiga puluh tahun bagaimana bisa mengingatnya.
Clek!
Suara pelatuk pistol sudah ditekan olehnya menandakan dia serius untuk menembakku. Aku memutar otak mengingat memoriku, aku teringat ketika bertemu dengan Paman Sam di mimpi sebelumnya.
“Rumah yang ku seberangi angka 07, korek api pada saat Paman Sam menyulut rok*k ada angka 78, lalu apa lagi?” tanyaku pada diri sendiri kebingungan. Terlihat duri tajam di bawah, aku masih mengudara terjatuh bersama wanita misterius ini.
“Oh, sebelum aku ditabrak truk aku teringat angka pada plat nomornya, 52!” ucapku dalam hati.
“077852!!” ucapku lantang kepadanya. Wanita misterius ini tersenyum lalu menarik parasut untuk menyelamatkan diri sedangkan aku dibiarkan terjun ke dasar jurang berduri.
“Siaaall!!” teriakku dengan keras.
—
Pandanganku buram, lalu semakin jelas dan makin jelas lagi. Kepalaku sangat sakit, terasa ingin pecah.
“Bagaimana dengan tidurmu?” tanya bibi Jane. Ternyata aku salah lihat, dia bukanlah ibu melainkan bibi Jane, suster, dan dokter adalah anak buahnya yang menyamar.
“Kurang ajar,” ucapku dalam hati. Aku berusaha melepaskan diri namun diriku sudah diikat di ruangan yang ku ketahui ternyata ada di ruangan operasi. Tak selang berapa lama bibi Jane memperlihatkan secarik kertas dengan angka kode, angka yang sudah ku ingat sejak umurku delapan tahun. Dokter dan suster melepaskan topeng di balik wajahnya.
“Pa..Paman Sam. Bagaimana bisa?!” Tanyaku, aku tak percaya ternyata dokter adalah Paman Sam dan suster itu adalah wanita yang di lorong ketika aku bermimpi.
“Mimpimu sudah kami atur, kau mungkin menganggapku kenapa masih hidup ya? Hahaha.” ucap Paman Sam.
“Kandungan yang ada di dalam cairan suntikan ini ada senyawa yang bisa dikontrol oleh komputer oleh bibi Jane, sedangkan aku untuk memasuki mimpimu aku juga membius diriku sendiri dan wanita ini. Tapi kamilah yang ambil kendali, hahahaha.” jelas Paman Sam.
“Kau… Arrrggh!! Untuk apa kau mengetahui kode itu?!” tanyaku sambil berteriak.
“Jangan bodoh, tentu saja surat berharga perusahaan Ayahmu yang ada di berangkas, hahaha.” ucapnya sambil tertawa lebar.
“Dasar kau wanita bermata hijau!!” teriakku kepadanya. Badanku lemas tak berdaya, aku benar-benar mengkhawatirkan nasib istriku Carol dan anakku Sarah di rumah. Mereka perlahan mundur dan berjalan ke pintu untuk meninggalkanku. “Jangan sakiti keluargaku!! Kau boleh mengambil semuanya, tapi ku mohon jangan…” belum selesai ku bicara bibi Jane menghampiriku dan mengecup keningku sebagai arti perpisahan.
“Jangan apa my honey Ryan?” tanya bibi Jane merayu.
“Tolong jangan sakiti Carol dan Sarah.” ucapku sambil mengeluarkan air mata. Napasku tersengal-sengal menahan kesedihan.
“Tentu saja akan ku habiskan mereka semua, termasuk kau!!” teriaknya di depan wajahku.
“Apa salah merekaa!? Habisi saja aku tapi jangan mereka!!” pintaku sambil berteriak.
“Tragedi kehancuran menara kembar WTC, kau tahu? Ayahmu sebenarnya tahu hal itu akan terjadi namun dia tak memberitahu suamiku!! Dia membiarkan suamiku mati atas kehancuran gedung tersebut!!” ucapnya sambil menangis.
“Tapi Ayahku sudah tiada! Dia juga sudah divonis atas kesalahannya.” jawabku lantang.
“Itu tak cukup, dendamku sudah besar.” ancam bibi Jane. Dia mundur beberapa langkah dan mengambil pistol dari sakunya sambil memasang silincer.
“Tidaaaaaakk!!” teriakku.
Taaar!!
Timah panas mengarah tepat di jantungku, aku terlungkup lemas dan penuh darah mengalir. Ku lihat mereka meninggalkanku sambil mengenakan baju dokter, pandanganku buram. “Ugh, uhuk.. uhuk.” aku terbatuk mengeluarkan darah. Pandanganku gelap, yang terdengar hanya suara alat deteksi tekanan jantung.
Tiit…Tit…Tit…Tiit…Tiitt