ini pengalaman ku yang lumayan lama terjadi dan sampai sekarang masih teringat di dalam ingatanku secara mendetail. kisah ini terjadi saat aku di pesantren. sejak awal aku datang sudah ada rumor kalau pesantren yang ku tempati lumayan seram. awalnya aku tak percaya sama sekali tapi suatu kejadian yang menimpaku membuat ku mempercayai rumor tersebut
~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~[][]~
Jam sudah menunjukkan 21:00, bel di bunyikan yang menandakan semua anak santriwati untuk saatnya tidur.
"UDAH MALAM, SAATNYA TIDUR SEMUANYA!!!" ucap salah satu senior santriwati.
"Baik teteh" ucap kita semua dengan bersamaan. Sebelum di suruh teteh, kami semua menyikat gigi dan membersihkan muka terlebih dahulu.
"Akhirnya kita berjumpa lagi kasur, mari kita istirahatkan seluruh raga dan jiwa ini untuk malam ini" ucapku yang girang karena seperti sudah lama tak bertemu bedcover padahal cuma beberapa jam tak menyentuhnya.
aku menidurkan diriku di atas bedcover kesayangan ku, hanya hitungan detik ku terlelap ke alam mimpi. Tapi kesalnya adalah hanya beberapa jam mata ku tertutup dan terbuka karena ada suara bel berbunyi.
Tring... Tring... Tring....
suara lonceng bel yang biasanya digunakan untuk penjual es Doger dan berbunyi tiga kali.
"Aneh. Siapa yang masih jual es Doger di jam segini? bukannya jalanan di depan sepi hanya di atas jam 8"
Aku terheran-heran, kenapa aku bisa terbangun dengan mudahnya. Aku ini tipe orang yang susah bangun tidur. tapi ini? hanya suara lonceng saja bisa membuat ku terbangun dan tak tertidur lagi.
Aku mencoba tidur dan tertidur lagi. Dan juga lagi-lagi aku terbangun hanya suara lonceng sebelumnya.
"Masa iya sih tukang es Dogernya gak pergi-pergi? ah! bodo amatlah, capek"
setiap 15 menit sekali aku terbangun hanya suara lonceng. Ini suara lonceng ke 5 kalinya karena aku menghitungnya dari awal. Saat ingin kembali ke bedcover ku, tiba-tiba terdengar suara aneh di ruangan sebelah.
"HIHIHIHIHI"
Ya, itu adalah suara perempuan yang tertawa amat kencang. Mendengar hal itu tidak membuat ku tidak takut sama sekali, malahan aku ingin memastikannya dengan mata kepalaku sendiri. Sebelum kesana aku membawa senter kecil seperti gantungan kunci yang ku beli beberapa hari terakhir karena akhir-akhir ini suka mati lampu.
"mari kita lihat siapa yang masih terbangun"
Aku berjalan ke ruangan sebelah tanpa ragu dan takut. Aku menyenteri dengan senter kecil di setiap sudut tapi tidak menemukan apa-apa.
"Tidak ada siapapun, mungkin suara radio?"
Aku berjalan ke ruangan sebelah tanpa ragu dan takut yang hanya bermodalkan senter kecil, tapi aku tak menemukan apa-apa di sana. Aku kembali ke ruangan ku berada dan tertidur karena aku harus bangun pagi-pagi sekali.
***
Pagi pun tiba. Aku ingin bertanya kepada para senior dan teman-teman yang satu ruangan dengan ku.
"Teteh disini ada radio?" tanya ku tanpa menunjuk kepada siapa pun.
"Tidak ada, Lia tau kan kalau disini tidak boleh bawa yang semacam itu apalagi gadget" jawab salah satu senior.
"Memang ada apa Lia bertanya seperti itu?" tanyanya senior kepada ku.
Aku menceritakan kejadian semalam dari awal sampai akhir. Cerita ku membuat para senior dan teman-teman di ruangan ku pada heboh karena aku berani untuk menggali lebih dalam daripada bersembunyi di dalam selimut.
"Terus semalam itu suara apa? masa iya apa yang di katakan rumor itu ada?"
TAMAT