Aku membencinya, aku sangat membencinya. Kata-kata itu keluar dari mulut anak yang baru berusia 5 tahun.
Lista adalah seorang anak yang masih lugu, saat itu lista sedang bermain bersama sahabat kecilnya. Tanpa sengaja sahabatnya membuat boneka kesayangan nya rusak sehingga memicu kemarahan lista.
Kata benci dan dendam ada di mulut Lista. Lista meninggal sahabatnya itu dan memilih pulang kerumah. Setiba di rumah Lista kembali melanjutkan kemarahannya.
Aku membenci Cantika...aku benci cantik..Hiksssss...Hikss...
Ayahnya Rio mendengar kata-kata anaknya yang baru berusia lima tahun itu.
"Ada apa nak, kenapa bisa berbicara seperti itu. Tanya Rio.
"Cantika merasakan bonekaku pa... Aku membenci Cantika. "
Rio menggeleng-menggelengkan kepalanya, yang merasa tak percaya anaknya yang masih kecil itu bisa mengeluarkan kata-kata itu. Hal yang tidak pernah di ajarkan Rio dan istrinya kepada Lista.
"Sini papa cek bonekanya dulu. "
"Ini pa." Lista menyodorkan bonekanya ketangan Rio dengan muka cemberut.
"Rusak kan pa.. itukan boneka pemberian papa." lista menatap Rio dengan tatapan bersalah.
Rio melihat boneka itu, ternyata boneka itu tidak rusak hanya saja kepalanya copot dari sambungannya. Karena usia yang masih muda, membuat Lista berfikir jika mainan sudah terpisah dengan bentuk aslinya itu artinya mainan itu sudah rusak. Rio menyambungkan kembali kepala boneka itu.
"Ni sudah papa perbaiki. " ucap Rio pada anaknya.
Lista tersenyum bahagia dan langsung memeluk bonekanya itu.
"Terima kasih pa. Papa yang terhebat. " dipeluknya Rio dengan tubuh mungilnya.
Masih marah dengan Cantika? Rio menanyakan perasaan anaknya setelah bonekanya berhasil di perbaiki.
Masih pa. Lista tidak ingin memaafkan Cantika lagi. Cantika sudah berkali-kali membuat Lista marah, jadi sudah tidak ada kata maaf lagi.
Rio hanya tersenyum mendengar kata-kata anaknya. Di pangkunya anak itu dan mulai bercerita.
Dulu saat papa masih kecil papa suka sekali membuat kake marah. Tetapi papa heran kenapa kakek masih saja memaafkan papa. Papa bertanya kepada kakek.
Kakek kenapa kakek selalu saja memaafkan Rio. kakek hanya tersenyum dan berkata. Karena Tuhan selalu memaafkan kesalahan kakek jadi kakek pun harus selalu mengampuni kesalahan orang lain.
Tapikan ke.. kesalahan Rio banyak. kakek menjawab bahwa mengampuni tidak pernah ada batasnya. setiap saat kita bisa mengampuni seperti Tuhan yang selalu mengampuni kita setiap saat.
"Jadi anak papa yang cantik ini juga harus mengampuni seperti Tuhan mengampuni kita." Ucap Rio kepada anaknya.
Tuhan luar biasa ya pa, aku mau mengampuni seperti Tuhan pa. Terima kasih pa. Lista memeluk Rio dengan pelukan hangat.
Hari ini Lesti belajar mengampuni itu tidak pernah ada batasnya.
#Mengampuni