"Ila, Ila, banguuun." Kakak ku Nima berteriak memanggil dengan kerasnya. Hal itu, seketika membuat diriku terbangun kaget membelalakan mata.
"Iya iya aku bangun, kak Nima bikin kaget saja," jawab ku sedikit kesal.
"Cepetan mandi, nanti keburu macet di jalannya." Dia kembali berteriak.
"Iya baweel!"
Selang beberapa menit, aku bergegas turun ke bawah menghampiri kak Nima yang sedari tadi sudah menunggu.
"Caw." Aku berjalan dengan santai melewati kakak ku.
"Wiihh,,, tumben secepat kilat?" tanya kak Nima.
"Kalau aku lama, yang ada situ bakalan ngomel," jawab ku dingin.
Sambil menepuk bokong ku di memuji, "Ok ok adik ku memang the best lah."
Kami pun berangkat menggunakan mobil ke tempat yang di tuju.
"Kak, kenapa gak sendiri sih ngambil undangannya?" tanya ku sambil menyetir pada kak Nima.
"Aku kan calon pengantin nih, jadi gak di bolehin bepergian sambil bawa kendaraan kata mama kan pamali," dengan konyolnya dia menjawab seperti itu.
"Lah, kalau gitu mah diem aja di rumah gak usah bepergian," melirik sinis kak Nima.
"Yang penting kan aku gak bawa kendaraan," jawabnya tak mau kalah.
"Whatever," menatap kesal ke arah kak Nima yang sibuk bermain ponsel.
Memanglah kakak ku itu paling bisa kalau soal berbicara, gak mau kalah sama adik kembarnya ini.
°°°°°
Setelah mengambil undangan pernikahan yang kak Nima pesan, kami berdua mampir ke sebuah cafe yang sering kami kunjungi sewaktu masih bersekolah dulu.
Aku duduk menunggu kak Nima yang sedang memesan makanan, sembari melihat-lihat undangan pernikahan kakak.
Di bagian sampul undangan tersebut, aku melihat foto kak Nima dan calon suaminya yang begitu tersenyum bahagia. Mereka berdua tampak serasi, memakai pakaian seragam profesi mereka masing-masing. Kakak ipar yang tampak gagah memakai seragam TNI nya, sedangkan kak Nima begitu anggun dengan jas putih yang ia kenakan serta stetoskop yang terkalung di lehernya.
Aku melihat ke arah kak Nima, dan ku perhatikan dia dengan seksama terlihat jelas pancaran kebahagiaan dari raut wajah cantiknya itu. Sebuah kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Kemudian dia menoleh ke arah ku, "Bentar ya." Berkata tanpa suara pada ku. Lalu aku hanya memberi isyarat "Ok".
Aku merasa seperti baru kemarin aku dan kak Nima masih bermain boneka-bonekaan, bermain di taman komplek dengan teman-teman sebaya, berangkat sekolah bareng, dan melakukan segala hal bersama-sama. Tapi ternyata, tinggal menghitung hari kak Nima akan memulai hidup baru bersama belahan jiwanya.
Di dalam hati paling kecil ini, sempat ada rasa tak bisa merelakan kak Nima untuk berbagi kehidupan dengan keluarga baru nya itu, bahkan sedikit rasa iri pun muncul dalam diri ku ini. Namun, semua rasa itu bisa terkubur dengan rasa cinta kasih antara aku dan kak Nima.
°°°°°
Hari dimana pernikahan kak Nima pun tiba, dan juga hari dimana aku untuk kedua kalinya memakai baju kebaya.
Aku menggerutu di depan cermin melihat penampilan diri sendiri.
"Haaahhh! Gatel aku pake ini, di tambah pake korset jadi pengap. Terakhir pake kebaya pas aku lulus sekolah SMA dulu. Ini lagi, jadi pagar ayu atau pun gak jadi pagar Ayu tetap aja make up nya tebal."
"Tapi kak Nila cantik lho hari ini," ujar adik sepupu ku yang masih di dandani.
"Ya kalau ganteng, bukan cewek dong," sedikit bercanda aku menimpali pujian nya.
Dia pun hanya membalas dengan tertawa.
Setelah bosan menatap diri di cermin, aku pergi menemui kak Nima di ruangannya.
Ketika membuka pintu, aku begitu kagum dengan penampilan kak Nima di hari pernikahannya.
"Uuwwaahh... Bidadari dari mana ini? Cantik bangeet kakak ku ini," ucap ku memuji sambil menghampiri kak Nima.
Kak Nima pun tersipu malu dengan pujian ku. Kami pun duduk bersebelahan, melanjutkan kembali obrolan malam kemarin yang tiada hentinya.
"Ila, cepetan nyusul aku nikah ya," kak Nima memegang tanganku.
"Huumhh, bosen aku dengarnya," jawab ku sambil mengorek kuping sendiri.
Dengan sedikit kesal kak Noma menjitak kepala ku,
"Isshh! Kebiasaan kalau di bilangin suka ngeyel, mau sampai kapan terus-terusan di luar negeri La? Hanteeem ajah sekolah ngejar gelar, jodoh gak di kejar."
"Di Luar negeri pun aku sambil kerja kak bukan senang-senang, jodoh juga nanti datang sendiri," jawab ku santai.
Kak Nima hanya menghela nafas panjang, karena sudah tahu jawabannya akan sama seperti sebelumnya.
Aku pun memeluk kak Nima, menyandarkan kepalaku di bahu nya.
"Kakak do'akan yang terbaik untuk mu Ila," sembari mengusap kepala ku.
"Aku juga kak."
'Teng', akhirnya prosesi acara pernikahan pun di mulai. Aku duduk di barisan paling depan, bersama dengan keluarga besar dari pihak mempelai perempuan.
Beberapa lama setelah penyambutan mempelai laki-laki, kini giliran kak Nima untuk duduk di sebelah calon suaminya untuk prosesi ijab kabul. Kak Nima terlihat sangan cantik dan anggun, dia berjalan menuju kursi pelaminan sembari di iringi oleh mama dan papa. Akhirnya mereka berdua pun duduk bersandingan melakukan prosesi ijab kabul dengan khidmat.
Setelah berbagai prosesi dalam pernikahan di lakukan, kini kak Nima dan suaminya akan melakukan lempar bunga. Dimana prosesi itu sangat di tunggu oleh teman-teman kami yang masih melajang. Namun aku hanya ikut berdiri saja di bagian belakang orang yang bersiap menangkap bunga. Aku bukannya tidak bersemangat untuk ikutan, hanya saja aku takut tatanan rambut ku bisa rusak saat akan menangkap bunga tersebut (Hahaha) 😅
"Satu, dua, tiga...." Bunga pun di lemparkan oleh mereka berdua. Suara riuh kegembiraan pun terdengar, mereka sangat berantusias ketika bunga tersebut di lemparkan ke arah mereka.
'Hap', salah satu dari mereka ada yang berhasil menangkap bunga tersebut dengan mudahnya. Dia seorang lelaki yang berpakaian seragam TNI, dia begitu tampak gagah memakai seragamnya dan di tambah dengan senyum manisnya. Namun yang membuat ku heran setelah dia mendapatkan bunga itu, dia menghampiri ku dan memberikan bunga di tangannya pada diriku.
"Untuk mu," dengan percaya diri nya.
Orang-orang yang melihat kejadian itu pun bersorak ria termasuk kak Nima pun melihatnya juga.
Di dalam hati aku hanya meracau gak jelas karena hal ini, "Omayah... Apa yang dia lakukan, apa dia kenal dengan ku? Haah i dont know, aku tak bisa berkata apa-apa lagi."
Dengan keadaan yang membingungkan ini, aku lantas menerima bunga yang dia berikan tanpa ragu.
"Terimakasih," hanya itu yang bisa terucap dari mulut ku.
Kami berdua pun hanya bisa tersenyum malu di antara orang-orang yang hadir di pernikahan kakak ku.
~The End~