" Oh ya.. ngomong-ngomong namanya siapa mbak ?" tanya Jemi kepada seorang pegawai sebuah salon langganan Jemi.
" Aku Reni mas, pegawai baru disini "
Sejak perkenalan itu membuat Jemi lebih sering berkunjung ke salon, potong rambut yang biasanya dia lakukan sebulan sekali menjadi dua Minggu sekali, bahkan pernah seminggu sekali walau hanya memotong ujung anak rambutnya, yang penting bisa bertemu dan bisa pdkt dengan Reni.
Akhirnya mereka saling akrab, apapun permintaan Reni asalkan bisa bersama, Jemi memberinya dengan suka rela.
" Reni..., Belum cukupkah cintaku padamu, hingga saat ini kau belum menjawab perasaanku ?" Kata Jemi mengeluhkan capeknya menunggu jawaban cinta dari Reni yang tak pernah dia dapatkan.
Uang perhiasan sudah Jemi berikan, bisa dikata dia sudah jatuh bangun mengejar Reni dg segala kemampuan jiwa juga harta.
" Maaf mas, aku sudah punya tunangan, jangan dekati aku lagi, kamu tidak pantas untukku !! " kata Reni dengan santai sambil berjalan meninggalkan Jemi yang masih duduk di sebuah warung makan.
Dada Jemi seperti mau meledak,
" Hemmmh...!!"
" Braakkk !!" Jemi memukulkan tangannya diatas meja dengan keras, rasa dendam cinta merasuki hatinya, tabungannya sudah dikuras habis ,kini dia akan bersenang-senang dengan orang lain.
" Hemmm, tidak ada cara lain, kamu harus membayar semuanya Reni !".
Jemi memulai ritualnya dengan puasa mutih tiga hari, hanya makan beberapa suap nasi, minum air putih ketika sahur dan berbuka. Bangun tengah malam berdoa membaca mantra-mantra ajian jaran goyang warisan buyutnya.
Ritual tiga hari sudah selesai, Jemi tinggal menunggu hasilnya. Reni dirumahnya mulai kebingungan, rasa hatinya hanya ingin bertemu dan bersama dengan Jemi. Sekonyong-konyong tak ada manusia lain di dunia ini selain Jemi.
" Tiit...tiit...tiiit..". Ponsel Jemi berbunyi ,Reni menelepon ingin bertemu. Tanpa jawab Jemi menutupnya.
" Kling...kling...dua pesan Reni ingin bertemu dan akan menerima cinta Jemi. Tapi tidak dibalas, dihapus begitu saja .
" Tok...tok...tok..." Reni nekat mendatangi rumah Jemi tapi tidak dibukakan pintu.
Rasa cinta Jemi berubah jadi dendam tanpa belas kasihan.
Reni termenung dikamarnya, matanya kosong, mulutnya hanya menyebut nama Jemi. Orang tuanya kebingungan melihat kondisi anaknya yang linglung.
Beberapa orang pintar tak mampu menyembuhkan keampuhan pelet jaran goyang Jemi. " Reni akan sembuh jika menikah dengan Jemi " kata salah seorang dukun.
Orang tua Reni meminta Jemi menikahi anaknya, tapi Jemi sudah tidak lagi mencintai Reni, hanya tinggal kebencian dan dendam di hatinya.
Reni semakin lama semakin linglung, tak ingat siapa dirinya. Setiap hari hanya duduk memeluk bantal melamun, kadang berdiri memeluk tiang rumahnya.