Wusshhhh.....Sesosok makhluk hitam bersayap melintas, membuat pepohonan di sekitar bergoyang dedaunan pun ikut berguguran karena nya.
***
Aku terbangun di tengah malam entah mengapa aku selalu merasa ada yang tengah mengawasi ku di kegelapan, sepasang mata biru nampak dari semak depan rumah ku. Aku mengintip dari balik tirai jendela kamar. Wusshhh.... Pepohonan di sana terlihat bergoyang karena angin yang entah datang dari mana.
Aku berjalan keluar rumah karena penasaran akan makhluk yang selalu mengintai ku di kegelapan, bukan aku tak takut namun, ketakutan ku sama besarnya dengan rasa penasaran itu sendiri.
Ceklek....krieettttt
Aku membuka setengah pintu rumah ku dan sedikit menjulurkan kepala dari balik pintu, degupan jantung yang seirama dengan rasa takut ku, membuat deru napas ku kian meningkat siring pergerakan dedaunan di depan rumah ku.
"Siapa di sana?" ucapku dengan suara bergetar karena rasa takut. Namun tak ada jawaban dari sana, mungkin kah dia pencuri? atau yang lebih parah adalah pembunuh yang mengincar nyawa ku? Glek...aku menelan saliva ku, ketika pikiran buruk itu melintas membuat bulu-bulu ku seketika meremang.
Aku menutup pintu kembali dan mengunci nya, tinggal di rumah sendirian cukup mengerikan, dimana rumah ku memang agak jauh dari rumah warga yang lain, rumah ku memang bak sebuah vila yang terbuat dari kayu, namun tak mengurangi ke indahan nya, warnanya di cat dengan warna kayu asli jadi terkesan kelasik namun enak di pandang.
Di sekitar rumah terdapat pohon-pohon pinus yang cukup banyak dan tinggi-tinggi, jika kalian pernah nonton film Twilight, dimana rumah Edward berada nah seperti itu lah suasana nya, namun beda nya rumah ku tidak di tengah hutan namun berada di ujung desa, rumah ku juga terbuat dari kayu bukan rumah mewah seperti rumah Edward hihi.
Aku berjalan pelan menuju kamar, aku sungguh sedikit menyesal karena tidak ikut liburan dengan orang tua dan adik ku, tinggal di ruamah ini sendrian agak sedikit menyeramkan apa lagi di malam hari, tadi nya aku pikir diam sendirian di rumah akan memberiku banyak inspirasi untuk menulis nyatanya aku malah ketakutan sendiri.
Kriett...aku menutup pelan pintu kamar, namun suara decitannya tetap terasa nyaring karena kondisi rumah sangat sepi.
Arrrgggghhhh....pekik ku...bruk.. aku langsung terjatuh tatkala melihat sesosok makhluk yang tingginya sejajar dengan ku namun berwarna hitam, mata biru nya menyorot ke arah ku.
Dia berjalan dengan anggun di depan ku, sayap nya terlipat rapi, gaun hitamnya menjuntai hingga ke lantai, sketika ketakutan ku lenyap tatkala melihat wajah nya yang begitu cantik bak malaikat.
Deg...deg...jantung ku berpacu dengan cepat, aku terperangah menatap ke indahan di depan mata ku, apakah dia benar-benar malaikat? ataukah iblis berwajah malaikat?
"Si-siapa kau,?" tanya ku.
Dia menatap wajah ku dengan seksama, menilik setiap inici wajah ku, sungguh aku sangat malu di pandangi oleh gadis seperti itu, aku meraba wajah ku.
'Apa aku terlihat jelek, sampai dia menatap ku seperti itu?'
"Apa kau Brian," tanya nya.
"Benar aku Brian dari mana kau tau nama ku?" Dia malah diam tak menjawab.
"Siapa nama mu?" Akhirnya aku putuskan untuk menanyakan nama nya saja, karena dia terlihat baik.
"Nama ku Azalea," ucapnya datar.
Setelah pertemuan pertama ku dengan Azalea dia selalu datang di malam hari untuk menemui ku, aku sangat senang aku bahkan sudah tak asing lagi jika dia masuk dari jendela bahkan tiba-tiba muncul di depan ku pun aku sudah terbiasa. Aku tidak tau dia ini makhluk apa namun satu yang pasti aku telah jatuh cinta padanya.
***
Whushhh...Tirai di kamar ku seperti di terpa angin dan aku tau siapa yang datang.
"Lea.." ucapku pelan, hembusan nafas lembut terasa hangat di ceruk leher ku.
"Hem..!" gumamnya pelan.
"Kenapa kau baru datang aku selalu menunggu mu," aku menatap netra biru nya.
"Kita tak seharusnya berhubungan Brian, kita sudah melanggar peraturan dunia, dunia ku dan dunia mu berbeda, kau manusia dan aku---Iblis," ucapnya datar.
Aku terkekeh pelan, "jika kau Iblis tentu kau akan sudah menghabisi ku kan, tapi kau tidak melakukan itu Lea, jadi jangan sebut dirimu seperti itu."
"Kau tidak mengenal ku Brian, aku datang ke sini mengemban sebuah tugas," ucapnya, aku pun bangkit dari tidur ku.
"Tugas apa?" ucap ku.
"Tugas ku adalah membawa mu pada yang mulia," mata ku membola mendengar jawabannya.
"A-apa maksud mu dengan membawa ku pada yang mulia? Dan siapa yang mulia yang kau maksud?"
"Raja kami, dan kau adalah tumbal yang di inginkannya," deg....tumbal, kata-kata itu bak sebuah hantaman di jantungku membuat nya seolah akan meledak karena rasa takut yang teramat sangat.
"Tu-tumbal?" ucap ku terbata.
"Ya kau adalah tumbal untuk yang mulia, apa kau memiliki tanda hitam di dada mu?" Aku meraba dada ku, dan ya itu memang benar tanda itu ada bahkan semenjak aku lahir.
"Tanda itu adalah, tanda kepemilikan sang Raja dan aku di tugaskan untuk menjaga dan melindungi mu sampai waku nya tiba sang Raja menginginkan mu."
"Apa?" aku menggeleng tak percaya.
"Kebohongan macam apa ini? Ini sungguh gila, aku tidak percaya dengan kata-kata mu," sergah ku. Diapun tersenyum lemah, entah mengapa aku mersakan jika dia tengah bersedih wajah cantiknya tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
"Kau boleh tidak percaya, larilah Brian pergilah sejauh mungkin jangan kembali ke tempat ini lagi," gumam nya lirih, aku pun mengerutkan kening gagal mencerna apa maksud dari perkataannya yang menurut ku terasa membingungkan.
"Kenapa? bukan kah aku tumbal kata mu, kenapa kau menyuruh ku pergi," aku semakin tak paham dengan apa yang dia kata kan.
"Aku tidak bisa menghabisi mu, aku tidak bisa," lirihnya, kini wajah cantiknya berkilat-kilat dengan cairan bening yang membanjiri wajahnya. Kenapa dada ku terasa sesak melihat air mata nya.
"Apa kau mencitai ku Lea?" tanya ku.
Dia tersenyum lembut, "benar aku mencintai mu Brian, dan itu adalah sebuah pelanggaran yang akan mengakibatkan sang Raja murka," kini tatapannya berubah tajam dan dalam.
"Larilah Brian, selamatkan diri mu, aku takakan mampu menyelamatkan mu," tatapannya menggelap bola mata biru nya perlahan tertelan dengan warna hitam pekat.
"La-larilah Bri-an, cepat!" Perintahnya, aku ragu lantas aku berdiri namun aku enggan untuk berlari, entah mengapa tubuh ku tak mau menuruti keinginan otak ku.
"Tidak aku akan tetap di sini, karena aku pun mencintai mu Azalea."
"Tidak...pergilah ku mohon, pergilah Brian."
Arghhhhh...dia menjerit lengkingan suara nya memenuhi seluruh ruangan.
"Sang Raja murka Brian, pergilah..." teriaknya, namun suaranya terdengar aneh. Aku melihat perubahan bentuk pada diri Lea, Lea yang kini nampak menyeramkan, matanya berwaran hitam pekat dengan setitik warna putih di tengahnya, guratan-guratan hitam nampak bermunculan di setiap inci wajahnya, rambut ikal bergelombangnya berhamburan bak di terpa angin, serta dari kedua sudut bibir nya muncul sepasang taring runcing nan tajam, kuku-kuku tangannya yang lentik berubah pajhang dan tajam serta berwarna hitam keungun serta dari kedua sisi kepalanya muncul dua buah tanduk kecil yang berukuran sama.
Glek...aku menelan saliva ku, ini kah wajah asli Azalea, wajah ini terlihat begitu mengerikan, aku ingin Lea ku kembali, lirih ku dalam hati.
Ku lihat tubuhnya bergetar, amarah nampak menguasai dirinya. "Lea..ini aku Brian," herrr...dia menggeram ke arah ku membuatku beringsut mundur.
Hahahah..."dasar Iblis bodoh, kau telah jatuh cinta pada target mu sendiri, kau tak pantas menjadi pengawal ku," gumam Lea pada diri sendiri.
"Ma-maaf kan hamba yang mulia, tapi hamba tak akan mungkin membunuh Brian, anda bisa menyuruh saya mencari tumbal yang lain, ke belahan dunia mana pun saya akan mendatangi nya," ucap Azalea dengan tubuh mengkerut takut.
Hahaha," kau benar-benar telah berkhianat pada ku Lea, kau berani menentang ku demi manusia yang tak berharga ini," ucapnya lagi.
'Ada apa ini? apa Lea tengah di kendalikan oleh Raja yang ia maksud?'
"BUNUH....DIA..LEA...!" Perintahnya.
"Ti-tidak yang mulia," Arrrgggghhhh....jerit nya kesakitan, entah apa yang di lakukan Raja itu di dalam tubuh Lea.
"Jangan sakiti Lea, ku mohon jangan," lirih ku, mata Lea menatap sinis ke arah ku, tepatnya adalah sang Raja yang menatap ku.
Argghhhh...jeritnya kembali kini tangan Lea mencengkram dada nya dengan kuku-kuku tajam nya, mata Lea membola sempurna seolah akan keluar dari tempatnya.
"HABISI...DIA...LEA," kini suaranya menjadi dua seperti seorang pria dan wanita yang tengah bicara secara bersamaan.
Sepertinya makhluk itu berhasil menguasai tubuh Lea sepenuhnya.
Lari..Brian...Lari lah, dia bukan Lea...tapi sang Raja kegelapan.
Aku berlari secepat mungkin meninggalkan rumah, menuruti kemana kaki ku membawa ku, Lea terus mengejarku dengan cara terbang sayap hitamnya nampak berkilau di terpa sinar bulan.
Bruk...aku terperosok masuk lubang setinggi lutut ku, aku merasakan kaki ku sakit yang teramat mungkin kaki ku kini telah patah, darah mengucur dari betis ku, aku merangkak menggeret kaki ku yang terasa sakit.
Tubuh hitam dan menyeramkan itu kini telah berdiri menjulang di hadapan ku, aku tak dapat lari lagi kini aku pasrah jika memang ini akhir dari hidup ku aku ingin Lea lah yang menghabisi ku bukan sang Raja kegelapan.
"Aku menyerahkan diriku padamu, tapi satu yang ku minta, aku tidak ingin mati di tangan sang Raja aku ingin Lea sendiri yang menghabisi ku," aku tersenyum lirih.
"Baiklah, sesuai keinginan mu," perlahan mata Lea berubah menjadi merah dengan setitik warna hitam di tengahnya. Aku tersenyum menatapnya.
"Habisi aku Lea, lakukan tugas mu itu," ucapku penuh penekanan.
"Habisi dia Lea..." Suara kencang terdengar begitu memaksa. Lea masih diam tak bergeming mata merah nya menatap dalam bola mata ku, aku tau dia mencintai ku, dan tak ingin aku di habisi.
Aku tersenyum lembut, "lakukan lah Lea," pinta ku.
"CEPAT BUNUH DIA LEA ATAU AKU YANG AKAN MELAKUKAN NYA," teriakan makhluk tak terlihat itu begitu menggema di telinga ku.
"Maaf kan aku, Brian," Argghhhhh.....jerit ku, rasa sakit kian menusuk di dada ku tatkala kuku-kuku tajam Lea berusaha menembus dada ku. Argghhhh...jeritan ku semakin menjadi-jadi, jantungku seolah di remas, lelehan darah segar nampak merembes dari dada ku, deg...deg...jantungku mulai melemah, pandangan pun terasa kabur dan Arghhhh....jantung ku terlepas sempurna. Seketika tubuhku terhempas jatuh ke tanah.
Kulihat samar-samar Azalea menggengam gumapalan merah di tangannya dan di detik berikutnya aku telah tiada.
Tamat.
Hay gaes👋 Cerpen ini ada persi Novel nya loh, yang penasaran cush mampir 😘
Tinggal klik aja propil ku, pasti langsung ada dengan judul yang sama.
Makasih🙏