Namaku Radhitya Permana, biasa dipanggil Didit. Kala itu umurku masih sekitar 13 tahun-an dan masih duduk di bangku SMP. Tepatnya pertengahan tahun 2009 aku baru pindah rumah dan rumah tersebut masih kutempati sampai sekarang. Dulu sampai sekarang di sekitar sini masih ada banyak sawah dan bukit bukit kecil yang rimbun akan pepohonan. Di suatu sore hari senja menjelang malam dan langit perlahan berubah menjadi jingga aku beserta mamah dan adikku seperti biasanya menunggu bapakku pulang kerja yang sudah pasti akan sampai rumah kira-kira pukul 18.00 WIB tentunya sambil menonton TV supaya tidak terlalu bosan menunggu. Disela-sela itu ketika aku berbaring rebahan di sofa, sedangkan mamah & adikku 'gogoleran'/berbaring di atas karpet kami ngobrol ngobrol kecil seperti biasa. Saking lelahnya beraktivitas seharian & lama menunggu bapak pulang kami pun sampai ketiduran.
" Agis.....Agis....Agis.....?!?!" Aku terbangun setengah sadar, seperti ada yang memanggil-manggil adikku hendak 'nyampeur' atau hendak mengajak bermain, lalu aku berpikir mungkin itu teman-teman adikku yang ingin mengajak mengaji qur'an di masjid (rutinitas ba'da magrib di masjid). Berhubung mamah dan agis masih tidur, terpaksa aku harus keluar untuk menemui seseorang tersebut yang terus menerus memanggil-manggil nama adikku dan aku akan memberitahunya bahwa agis tidur.
Aku membuka pintu lalu keluar dan menutupnya lagi. Dibawah langit senja aku dan seseorang yang (masih) ku kira itu teman adkikku berbincang serta bertanya jawab.
*(aku dan 'orang itu' berbicara menggunakan bahasa sunda, tapi di sini aku akan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia)
Aku = 👦
'Orang itu' = 🧟♀️
🧟♀️ : "Agis....Agis....Agis.....!?!?!" Terus menerus memanggil adikku.
👦 : "Iya tunggu sebentar....Siapa ya? Mau ke siapa?" Tanyaku sambil melihat perawakan orang tersebut dari atas sampai bawah. Ternyata perawakannya tidak seperti orang-orang pada umumnya.
Aku melihat sesosok wanita yang tidak terlalu tua tapi juga tidak terlalu muda berambut panjang semerawut tak tertata, wajahnya pucat dan ada bercak-bercak darah, kepalanya bertanduk warna merah, sorot matanya tajam melotot berwarna merah menyala. Ada 2 taring di mulutnya yang sangat besar & runcing panjang kurang lebih dari mulut hingga bahu, bajunya berwarna putih kotor dan banyak bercak darah, panjang sampai sampai kakinya tak terlihat sedikit pun. Kalau dipikir-pikir secara fisik orang itu menyeramkan, tapi anehnya aku tidak merasa takut/seram sedikitpun, padahal aku termasuk orang yang 'borangan'/penakut, tapi entahlah.
🧟♀️ : "Saya Juriyah, temannya Agis. Agisnya ada?" Jawabnya dengan nada yang sopan pakai logat sunda yang khas tapi juga sedikit flat.
👦 : "Oh temannya Agis, mau apa ya?"
🧟♀️ : "Mau main sama Agis"
👦 : "Mau main? Kan udah mau malem besok aja ya mainnya. Sekarang Agisnya juga masih tidur."
🧟♀️ : "Kirain Agisnya gak tidur, nanti kalau Agis udah bangun tolong kasih tau ya saya nyamper mau main sama Agis"
👦 : "Iya nanti aku kasih tau Agis. Emang kamu rumahnya dimana?"
🧟♀️ : "Itu di sana (sambil nunjuk ke arah pohon paling besar & tinggi yang ada di semacam bukit kecil). Di pohon itu yang ada bendera partai warna merah yang ada gambar bant*ngnya, dekat kalau dari sini."
👦 : "Oh... di pohon itu, ngomong-ngomong kenapa ada bendera partai P*I di pohonnya?" Tanyaku karena penasaran.
*(Jujur, dari dulu hingga sekarang masih penasaran gak habis pikir kenapa bisa ada bendera partai yang tentancap di atas pohon yang sebesar dan setinggi itu, mustahil kalau ada orang yang naik atau manjat pohon itu, entahlah. Wallahualam)
🧟♀️ : "Iya sengaja ada bendera itu karena saya ngefans dan terinspirasi banget sama Meg*wat* Soekarnop*tri. Saya juga ingin seperti dia. Terus saya pasang bendera itu."
👦 : "Ooohhh gitu...."
🧟♀️ : "Iya, saya mau pulang dulu, nanti kalau Agis bangun kasih tau besok saya nyamper ke sini lagi mau main."
👦 : "Iya." Kataku sambil melihat Juriyah terbang pulang menuju pohon paling besar & tinggi yang ada bendera merahnya.
*(FYI, dulu dekat rumahku sekitar ±200 meteran dari arah utara rumahku emang bener ada pohon yang tinggi banget & besar banget yang di atasnya ada bendera merah tersebut, tapi sekarang benderanya udah gak ada guys)
Setelah perbincangan singkat antara aku dan Juriyah yang ternyata 'bukan manusia', Tiba-tiba...... Terdengar keras suara motor S*pra X milik bapakku yang dimasukan ke halaman rumah, lalu aku terbangun sambil sedikit mengusap-usap mataku yang masih ngantuk, akhirnya bapak pulang kerja juga sambil diiringi adzan maghrib yang bersahutan. Aku pun membangunkan Mamah dan adikku untuk sholat maghrib.
"Huuuuhhhh....." Aku menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya. Ternyata perbincanganku dengan Juriyah tadi hanya mimpi, pantas saja aku tidak merasa takut/seram, kalau misalnya lihat sosok seperti itu asli (bukan mimpi) mungkin aku sudah berteriak lari terbirit-birit atau pingsan 😅.
Ternyata benar juga perkataan orang tua-orang tua zaman dulu, "Jangan keluar rumah dan tidur pas 'SAREUPNA' atau waktu menjelang maghrib pamali takut ada 'SANDEKALA'." Dan mungkin apa yang kualami juga itu salah satu alasannya, kukira itu hanyalah mitos belaka yang dibuat oleh orang tua zaman dulu untuk menakut-nakuti anak-anak supaya tidak keluar rumah ataupun tidur waktu maghrib karena harusnya waktu maghrib itu bergegas untuk melaksanakan sholat maghrib bukannya keluar rumah ataupun tidur.
Hampir semalaman aku tak bisa tidur karena ketakutan dan kepikiran tentang Juriyah. Keesokan harinya aku menceritakan semuanya pada orang tuaku serta teman-temanku, sampai-sampai beberapa temanku ketakutan. Hufttt baru kali ini aku mendapat bunga tidur yang seperti ini.
Beberapa hari berlalu, aku dan teman-teman mendengar semacam issu dari tetanggaku, katanya berdasarkan kabar yang tetanggaku dapat dari warga warga sekitar yang memang sudah menetap di daerah ini selama puluhan tahun, katanya di sekitar sini tepatnya di dekat pohon paling besar & tinggi (gak tahu itu pohon apa) yang ada bendera partai berwarna merah, dulu ada makam nenek-nenek yang tua banget yang secara fisik nenek-nenek yang dimakamkan tersebut memiliki tinggi badan di atas rata-rata berbeda dengan tinggi badan orang pada umumnya, pokoknya tinggi banget katanya dan tentunya makamnya juga panjang banget, meskipun gak tahu lokasi tepatnya di sebelah mana.
Mendengar kabar tersebut, tentu saja tiba-tiba aku mengaitkannya dengan sosok Juriyah, tapi Wallahualam. Sampai saat ini setelah kurang lebih 11 tahun berlalu aku masih selalu terngiang sosok Juriyah yang sangat menyeramkan. Ketika hendak berpergian/pulang dan melewati jalan yang di sebelah sananya ada pohon tersebut, aura aura negatif masih selalu terpancar dari tempat itu.
~TAMAT~
*Mohon maaf bila ada kesalahan pengetikan.
*Mohon maaf kisah nyata ini tidak bermaksud menyinggung unsur politik atau sejenisnya, karena ini hanyalah sebuah kisah nyata yang mengalir begitu saja.
TERIMA KASIH TELAH MEMBACA
Tolong bantu Support Like Comment & Share
IG :radhitya_permana