Pagi yang sejuk seperti biasa, awan yang menggumpal menunjukan mendung, matahari tertutup awan yang membuat sinarnya tidak begitu terpancar, seperti biasa tugasku hanya menjaga toko laundry kiloan milik keluargaku.
Menjalani menjadi wanita introvert sangatlah keras, aku tidak suka berbaur dengan keramaian, dan lebih tenang jika berada sendirian.
Lalu setetes air dari langit turun, mendung yang tadi telah menjadi sebuah hujan, derasnya hujan yang membuat suasana semakin dingin, sendirian seperti biasa, orangtuaku pergi keluar kota, dan meninggalkanku menjaga toko dan juga rumah. Entah darimana pikiranku mulai mengulang kembali ke masa lalu, berpikir untuk memiliki cafe diseluruh dunia. Menguasai perkafean yang ada di dunia, mungkin enak memiliki kafe sebanyak itu.
Namun, hayalan hanyalah hayalan. Tidak mungkin terjadi kepada seorang introvert bodoh seperti aku, aku jarang berkomunikasi kepada seseorang, lalu aku berkhayal ingin memiliki semua cafe yang ada di dunia. Itu mungkin akan sangat repot sekali.
Rintikan hujan mulai mereda, sekarang hanya ada kesepian dan gerimis kecil. Aku mulai mengantuk, suara kesunyian telah berubah menjadi bernada. Suara gerimis tadi telah tercampur oleh alunan melodi dari HP ku.
Tanpa sadar aku terlelap oleh melodi ini, tiba-tiba saja aku mulai mendengarkan suara seorang pria. Mataku yang setengah terbuka melihat kondisi tempat laundry, terdapat pria berbaju tuxedo. Memagangi tongkat, bertopi hitam, aku pun mulai bertanya dalam pikiranku.
"orang ini siapa?" tanyaku.
Aku pun membuka seluruh mataku, bangun dari lelapan tidurku, dan bertanya kepada orang itu.
"ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku.
Lalu orang itu menoleh kearah aku, seolah ingin mengatakan sesuatu, suara sepatu pantofel yang berbunyi 'klotak klotak', orang itu mendekat lalu berkata.
"Apakah anda lupa kalau ada rapat hari ini." Kata orang itu.
Aku bingung, rapat apa? Aku bahkan tidak tau apa-apa, seumur hidup aku tidak pernah mengadakan rapat, lalu orang aneh ini datang dan mengatakan 'apakah anda lupa kalau ada rapat'. Sepertinya dia adalah orang gila.
"Eh.. maaf anda salah orang sepertinya." Kataku.
Lalu orang itu menyodorkan tangannya, menyuruhku untuk menggenggam tangannya, aku pun melakukannya. Orang itu membawaku keluar, nampak aneh. Diluar biasanya aku dihadapkan oleh toko roti milik Babah lah hong. Namun kenapa sekarang berganti menjadi cafe yang aku tidak tau itu milik siapa. Orang itu membawaku ke dalam cafe itu, ruangan yang besar tampak seperti aula. Musik klasik berbunyi, ada banyak sekali pegawai yang berpakaian rapi tampak tersenyum hangat.
Orang misterius tadi mengajakku ke sebuah ruangan yang sangat besar, sepertinya ini adalah ruangan rapat yang dibicarakan oleh orang itu, namun aku tidak tau, aku sedang menghadiri rapat seperti apa.
Lalu orang itu menyuruhku duduk di tengah tengah meja yang sangat panjang, dan orang misterius itu membuka pintu yang ada di arah barat. Sekumpulan orang-orang mulai masuk, berpakaian rapi, bertopi, dan membawa koper. Lalu aku lihat diriku, berpakaian seperti piyama ini, sandal jepit yang tidak branded, rambut acak-acakan, dan muka terlihat seperti bangun tidur.
Sekumpulan orang yang tadi duduk, satu persatu memberikan data statistik tempat kerjanya, aku tidak tau apa maksudnya. Kenapa aku duduk ditengah layaknya sebuah bos, dan orang misterius tadi tampak berdiri di sampingku layaknya bodyguard. Aku yang mulai aneh dan bingung, tiba-tiba menangis. Karena sedari kecil, kalau aku bingung dan tidak dapat melakukan apa-apa, aku hanya bisa menangis.
Aku menangis kencang di tengah-tengah rapat ini, orang misterius tadi menyuruh sekumpulan orang pergi dari ruangan itu.
Dia menghampiriku, dan bertanya.
"Kenapa anda menangis nyonya?"
Aku dipanggil nyonya, layaknya hidup seperti orang yang hidup mewah, aku semakin bingung, tangisanku tidak dapat terhenti. Hingga akhirnya aku bertanya kepada orang itu.
"Ini semua apa, dan kamu siapa?"
Orang misterius itu seperti biasa, menyodorkan tangannya, menyuruhku untuk menggenggam tangannya, dia menyuruhku untuk berdiri. lalu menyuruhku duduk di kursi yang tadi. Dia menjelaskan siapa dirinya dan apa maksud dari keadaan ini semua.
"Saya adalah Zero Skizo Fancy Fernia anda bisa memanggilku Z" kata orang itu.
"Anda memiliki 230 juta cafe di dunia yang belum anda urus sejak 5 tahun terakhir." Jelas orang itu.
Aku semakin bingung, aku memiliki cafe di dunia? Delusi apalagi ini. Orang itu menyodorkan tangannya, menggandengku. Membawaku keluar dari ruang rapat yang besar ini, membawaku keluar dari cafe yang besar ini. Menuju ke sebuah landasan pacu pesawat jet pribadi, Z menyuruhku masuk kedalam pesawat itu, dan kita akan pergi ke Islandia. Negara yang tenang dan nyaman, aku pernah bermimpi pergi kesana, memesan secangkir teh kayu, bersantai dan menikmati ketenangan.
Z mengajakku berangkat dari Indonesia ke Islandia, namun aku tidak bisa berbicara bahasa Islandia, dan juga aku tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris.
"Z aku tidak bisa bahasa Islandia maupun bahasa Inggris." Kataku.
Z memberikanku sebuah pil dan Z berkata.
"Minum pil ini, dan kau akan paham seluruh bahasa di dunia ini." Ucap Z.
Aku meminum pil itu, dan aku mulai mengantuk, apakah ini reaksi dari pil itu. Baiklah aku akan tidur, aku meminta Z untuk membangunkan ku saat sampai di Islandia.
"Z, apakah aku boleh tidur?" Tanyaku.
"Boleh nyonya, saya akan menjaga nyonya." Jawab Z.
"Kalau sudah sampai bangunkan aku ya." Kata ku.
"Baik nyonya." Ujar Z.
Entah berapa lamanya aku tidur, Z membangunkan aku. Saat pertama kali melihat pemandangan Islandia, aku melihat sebuah cafe kuno yang berdiri di tengah-tengah pertanian. Cafe mungil yang terbuat dari kayu.
"Nyonya kita sudah sampai." Ujar Z.
Aku bangun, dan segera turun dari pesawat.
Lalu aku memeluk Z dengan sangat erat.
Tak kusangka, aku bisa pergi ke Islandia, negara yang selama ini aku impikan.
"Nyonya, anda harus berpakaian rapi." Ucap Z.
"Z, panggil saja aku Vina." Suruhku.
"Baik nyonya Vina." Kata Z.
"Tidak usah pakai nyonya, hanya Vina." Kataku.
"Baiklah Vina." Ucap Z.
Aku memakai jaket yang diberikan Z, aku menguncir rambutku, tapi tetap, aku masih memakai sandal yang menemaniku selama 2 tahun.
Kita berdua masuk kedalam cafe, aku duduk di kursi cafe itu, memesan secangkir teh kayu herbal. Z hanya berdiri di sampingku, aku menyuruhnya untuk duduk.
"Z, kau duduk saja." Suruh ku.
"Tidak usah nyonya," kata Z.
"Maksud saya Vina." Lanjutnya.
"Kau duduk saja Z." Paksa ku.
Z duduk di depanku, pegawai disana datang, sambil membawa secangkir teh kayu herbal kesukaanku. Aku menikmati alur hidupku yang seperti ini, hanya ada ketenangan dan kenyamanan. Setelah meneguk teh itu, Z meminta bayarannya ke bos yang ada disana.
"Mana uang setoran anda." Kata Z.
Bos cafe itu memberikan uang setoran yang sangat amat banyak, Z menaruh semua uang itu didalam koper yang ia bawa tadi.
Aku pun bertanya kepada Z.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Meminta uang setoran." Jawab Z.
"Emangnya cafe ini milik siapa?" Tanyaku.
"Milik anda nyonya, maksud saya Vina." Jawab Z.
Cafe ini milik ku? Aku bingung, dilema antara ingin menangis atau ingin berbahagia, lalu Z memberikan tangannya kepadaku, aku menaruh tanganku ke tangan Z. Dan kita berdua pergi dari sana, bergandengan tangan menuju ke pesawat.
Aku sepertinya akan suka kepada Z. Dia terlihat tampan, gagah, dan tampan lagi.
Kita mengelilingi seluruh dunia, memasuki semua cafe milik ku, aku pun capek karena penerbangan yang tiada akhir ini. Kita menginap di hotel yang ada di Swiss.
Psychotic disorder hotel. Nama yang aneh untuk sebuah hotel yang mewah. Kita menyewa ruangan V.I.P, dan Z menjagaku, dia tidur di sofa yang ada di kamar hotel ku.
Aku mulai berpikir kalau Z akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku, biarlah lagi pula Z itu tampan.
Aku tertidur pulas, aku terbangun di pagi yang sejuk ini. Tampaknya hujan salju turun saat malam tadi, aku dapat melihat pemandangan pedesaan dari hotel ini, semuanya tertutup oleh selimut putih. Aku keluar dari kamar, tampak Z yang sudah membuatkan teh ricola. Dia tampak elegan mengenakan tuxedo. Aku duduk didekat perapian yang ada disana, membaca majalah Time. Z menghantarkan dua cangkir teh ricola, kita duduk bersama. Menikmati teh yang enak ini, di ikuti alunan melodi allgero con Brio karya Mozart.
Tiba-tiba saja Z menyodorkan tangannya lagi, dan berkata.
"Apakah anda ingin berdansa dengan saya?" Tanya Z.
Aku menerima tangan dari Z.
Kita berdua berdansa di atas karpet hotel, aku tidak tahu bagaimana cara berdansa dengan benar, aku hanya mengikuti langkah kaki Z. Z memimpin gerakan dansa, wajahnya yang sangat tampan membuatku lupa akan semua masalah yang ada di dunia, ini saatnya aku memiliki dunia yang tentram.
Sekitar 15 menit kita berdansa, Z berterimakasih karena bisa berdansa denganku, bukan aku yang seharusnya berterimakasih kepada Z. Karena dia sudah mengajariku cara berdansa, lalu aku pun mandi karena kita akan mengunjungi cafe ke 250. Kali ini ada di pulau impian. Ada 2 cafe yang katanya milik ku di pulau itu.
Aku tidak sabar untuk bersantai di sana, katanya pulaunya sangat sejuk dan tentram. Karena sekarang November, disana sedang musim dingin. Aku memakai pakaian musim dingin yang kemarin aku beli saat di Jepang.
Kita berangkat menggunakan pesawat jet yang sama. Beginilah hidup, aku senang sekali memiliki hidup yang seperti ini. Kita terbang, dari Swiss menuju ke pulau Sicily, yang berada di Italia.
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam, tidak seperti biasa. Aku tidak tertidur saat penerbangan. Musik klasik pop dari pesawat berbunyi, rasanya nyaman sekali.
Kita mendarat disebuah pangkalan udara, tampak ada mobil Jeep hitam yang menyusul kami dari bandara itu. Kita pergi ke cafe yang bergaya jaman Romawi kuno. Aku bingung ingin memesan apalagi, lalu pegawai disana menawarkan untuk memesan kopi gunung, dan spaghetti yang khas dari cafe itu. Z tidak menemaniku saat itu, dia pergi keluar. Katanya dia ingin membeli sesuatu, aku biarkan saja.
Tak lama kemudian, spaghetti dan teh gunung yang aku pesan datang. Pertama aku menyeduh teh terlebih dahulu, rasanya yang enak, tidak seperti teh pada umumnya yang aku beli di warung pak Samad. Lalu aku mencoba spaghetti nya, sausnya yang legit dan mienya yang lembut ternyata yang membuat spaghetti di cafe ini khas.
Z datang, sambil membawa buku. Aku tidak memesan buku, mungkin itu buku untuk dirinya sendiri, namun Z memberikan satu buku tersebut ke aku.
"Ini Vin, buku yang kau suka."
Aku mengambil buku itu, Charlie and the Chocolat factory.
Entah bagaimana Z bisa mendapatkan buku seperti ini di pulau ini. Aku berterima kasih kepada Z.
"Terima kasih Z." Kataku.
"Sama sama Vina." Kata Z.
Lalu seperti biasa, Z meminta setoran ke bos cafe ini, lalu kita keluar dari cafe ini. Aku berswafoto di pulau ini, banyak sekali tempat-tempat yang cocok untuk berfoto. Rumah dan bangunan bergaya Romawi yang sangat keren, banyak musisi jalanan yang menyanyikan lagu lagu pop. Pertunjukan sirkus juga ada di pulau ini, pulau yang berada di gunung berapi ini memang pas dikunjungi saat musim dingin seperti ini.
Setelah berjalan-jalan dan berswafoto, kita pergi ke cafe yang kedua, jaraknya sekitar 40km dari cafe yang tadi. Dengan menaiki Jeep, perjalanan menjadi sangat cepat.
Aku mengunjungi cafe kedua di pulau ini, cafe ini beda dengan cafe yang tadi. Kalau cafe yang tadi memiliki gaya Romawi kuno, cafe yang satu ini memiliki gaya yang lebih modern. Ada juga band kecil yang menemani makan siang disana, melakukan pertunjukan musik disana. Aku tidak memesan sesuatu disana, tapi Z menyarankan aku untuk memesan. Wine yang khas dari cafe ini. Aku pun menuruti nya, lalu aku menuyuruh Z untuk menemaniku minum wine.
"Z aku tidak bisa minum terlalu banyak."kataku.
"Tenang saja Vin, disini wine nya tidak terlalu berat" kata Z.
Setelah 2 menit, aku meminum 5 kali, dan saat itu aku mabuk. Pikiranku mulai ingin melakukan yang aneh-aneh.
Aku berkata. "Z maukah kau menjadi suamiku."
Setelah mengatakan itu, aku pingsan, entah tidak tau kelanjutannya, aku pingsan di cafe itu.
Pagi yang cerah, aku bangun dari tidur ku. Aku terbangun di sebuah villa yang bergaya klasik, nampak Z yang duduk di kursi sambil membaca majalah dan meminum secangkir kopi.
"Z" sapa ku.
"Anda sudah bangun." Ujar Z.
"Aku ada dimana?" Tanyaku.
"Anda berada di villa." Jawab Z.
"Apakah kita masih di Itali?" Tanyaku lagi.
"Iya." Jawab Z.
Kita terbang, menuju ke seluruh dunia, memasuki cafe yang aku punya. Nampaknya memiliki cafe di seluruh dunia bukanlah suatu hal yang gampang, memang yang selalu mengalir. Tapi aku perlu berkeliling dunia untuk menagih setoran. Tidak apa-apa lah, aku bisa mencoba semua teh, kopi, makanan, dan juga dessert yang berbeda dan khas dari setiap cafe. Sekitar 3 mingguan, aku telah mengunjungi 203 juta cafe, tinggal 1 cafe saja. Semuanya sudah selesai.
Saat itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya kepada Z.
"Z" panggilku.
"Ada apa Vin?" Tanya Z.
"Ada yang ingin aku katakan." Jawabku.
"Katakan saja." Kata Z.
"Apakah kau mau jadi pasanganku?" Tanyaku sambil memejamkan mata.
Z tidak menjawab, dia melihati ku. Menatap ku seolah dia akan menjawab tidak, jika Z menolak ku, aku juga tidak keberatan.
"Apakah anda yakin Vin?" Tanya Z.
"Aku yakin." Jawabku tegang.
Z lagi-lagi tidak menjawab, dia terdiam.
"Saya sangat senang jika bisa menjadi kekasih maupun suami anda, namun yang perlu anda ingat. Saya tidak sepenuhnya ada." Ujar Z.
Aku bingung, apa yang Z katakan. Aku pun terdiam, keheningan mulai terasa. Lalu Z berkata lagi.
"Saya tidak sepenuhnya menemani anda, maka dari itu. Anda lebih baik bersama pria yang selalu ada untuk anda." Lanjut Z.
"Tapi, kau selalu ada untuk ku." Kataku.
"Setelah anda menagih semua setoran cafe terakhir ini, saya sudah tidak bisa menemani anda lagi." Kata Z
"Kalau begitu, kita tidak perlu menagih cafe terakhir ini." Ujar ku.
"Tapi, jika cafe ini tidak anda tagih, maka semuanya akan berakhir." Ucap Z.
Aku terdiam, bingung mau menjawab apa. Aku tidak paham apa yang Z katakan, aku menangis, Z memelukku erat, dia menenangkan aku dari tangisanku.
Dia berkata.
"Maaf sepertinya saya tidak bisa menemani anda."
"Saya akan mengatakan semuanya saat cafe terakhir ini anda tagih." Lanjutnya.
Keesokan harinya, kita datang ke cafe terakhir yang berada di Yunani, cafe yang sangat monoton. Bergaya biasa, tidak memiliki keunikan sendiri dibandingkan cafe yang telah aku kunjungi, bahkan pegawai cafe disana berbeda dibandingkan cafe Yunani yang lainnya. Hanya ada dua menu di cafe itu.
Rehabilitas, dan juga Herbalife.
Cafe seperti apa yang menunya seaneh ini.
Z seperti biasa, dia menagih setoran.
Aku masih bingung dengan menu yang ada di cafe ini.
"Baiklah Vin, saatnya mengatakan segalanya." Ucap Z.
Aku terdiam, aku akan mendengarkan semuanya dari Z.
"Ini semua hanyalah halusinasi anda, saya, cafe, dan semua rasa ini. Saya adalah orang yang pernah ada untuk anda, bedanya anda mengubah nama saya menjadi sebuah kata yang sering anda dengar. Seperti Skizofrenia itu adalah penyakit yang anda hadapi saat ini, lalu Fancy adalah nama tengah saudara anda, dan Zero adalah nama yang pernah ada untuk anda. Semua hayalan yang nyata ini, adalah halusinasi anda. Anda mengidap skizofrenia yang membuat mental anda terganggu, anda mengidap penyakit ini saat anda masih kecil. Umur 5 tahun anda mengidap penyakit ini. Anda adalah sebuah pasien rumah sakit jiwa." Jelas Z.
Aku mendengarkan semua kata-kata yang terucap dari mulut Z.
"Seperti toko laundry, itu adalah tempat terakhir anda berada di toko milik keluarga anda, yang sebenarnya adalah toko laundry yang dipikirkan anda, sebenarnya adalah ruang gawat darurat. Lalu toko roti lah hong, adalah toko roti yang anda sukai, yang sebenarnya adalah ruang tamu. Lalu kita menginap di hotel dan villa, yang sebenarnya adalah itu kamar anda sendiri di rumah sakit jiwa ini, setiap cafe yang anda kunjungi adalah kantin-kantin yang ada di rumah sakit ini. Dan setiap negara yang anda kunjungi, itu hanyala hayalan anda. Dan saya hanyalah teman sementara anda, karena ini adalah misi terakhir saya untuk menyelamatkan Anda dari penyakit mental ini." Lanjut Z.
"Anda harus meminum pil ini, agar anda bisa sembuh dari oenyakit mental ini." Suruh Z.
"Apakah aku bisa bertemu dengan mu lagi?" Tanyaku meneteskan air mata.
"Mungkin saja." Jawab Z.
Lalu aku meminum pil tersebut, aku meminumnya, aku menangis. Semua yang aku rasakan ini hanyalah sebuah hayalan penyakit mental yang aku sandang. Setelah aku meminum pil itu. Semua sedikit demi sedikit memudar, meja, kasir dan semuanya melebur menjadi debu. Z juga iku melebur, aku menangis. Z seperti biasa, dia menyodorkan tangannya agar aku bisa menggenggam tangannya untuk terakhir kalinya. Sedikit demi sedikit Z melebur, wajahnya yang tampan hilang sesaat. Semua yang aku lihat hanyalah warna putih kosong.
Aku terbangun dari tidurku, aku terbangun di kamar yang sulit aku ingat ini ada dimana.
Lalu ada beberapa orang masuk ke kamarku, aku pun bertanya.
"Siapa kalian?" Tanyaku.
"Selamat datang dirumah." Ucap seluruh orang didalam disertai senyum yang sangat hangat.
The End