Apakah dia takdir ku?, atau dia hanya akan menjadi tokoh yang akan ku lupakan di dalam drama kehidupan ku yang rumit.
Aku telah berpacaran selama 4 tahun dengan seorang peria sempurna. Ya, kata sempurna bahkan tak cukup menggambarkan sosok endi ku, dia peria tampan dengan tubuh kekar yang memiliki otak brilian, ia sudah di anggap jenius sejak kecil, bakhan ia dapat memainkan alat musik dengan baik dan menciptakan lukisan yang luar biasa, dan satu hal yang membuatnya menjadi orang yang sangat berharga bagi ku, ia adalah orang yang selalu ada untuk ku saat suka maupun duka.
Namun akhir-akhir ini ia mulai terlihat asing di mataku, ia masi menjemput ku saat perangkat kuliah, memberiku kado, memberi pujian dan masi menjadi pendengar yang baik seperti biasa, namun aku bisa merasakan perubahan ekspresi dan gerak-geriknya yang tak nyaman.
Dan benar saja di minggu pagi yang cerah itu semua ketakutan dan kekhawatiran ku terjadi, bagai badai pasir di tengah gurun aku bahkan tak lagi mengetahui apa yang ku rasakan saat endi mulai mengungkapkan isi hatinya.
“Boleh kah kita berhenti di sini?” ia menatap ku masi dengan tatapan hangat miliknya,
“ya...aku tau hal ini akan terjadi, boleh aku tau alasanya?” tanya ku lirih, dada ku mulai sesak menahan perasaan yang menyakitkan ini.
“ini salah ku, entah sejak kampan hubungan ini mulai membuat ku takut pada diri ku sendiri, aku mulai menjadi orang yang berbeda agar dapat kau banggakan pada teman-teman mu, aku melupakan semua perasaan ku hanya untuk membuat mu tertawa dan tetap berada di pelukan ku, tapi kini aku merasa itu semua salah tak seharusnya aku menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta mu” endi menundukan pandangannya.
“aku tersiksa, aku terus ingin menjadi orang yang bisa kau andalkan dan menjadi orang yang sempurna bagi mu, namun kini aku tak bisa lagi ella, aku minta maaf” endi menatap ku sekilas dan kembali menundukan kepalanya.
Aku tau kini ia menahan tangisanya, sesekali ia menutup wajahnya untuk menyembunyikan ekspresinya, selama aku mengenalnya aku bahkan tak pernah melihat sosoknya yang terlihat serapuh ini.
Kami duduk di bangku taman yang biasa kami datangi yang kini menjadi saksi bisu dari berahkirnya hubungan ku dengan endi.
Aku menggenggam tangan endi perlahan, “ it’s okay, aku akan melepaskan mu, kau bisa menjadi diri mu sendiri, kau tak perlu menyembunyikan perasaan mu lagi” aku berusaha tersenyum untuk menenangkan endi yang mulai menagis di samping ku, namun aku gagal air mata ku mengalir dengan deras tampa bisa ku hentikan.
“aku tak pernah meminta mu menjadi orang yang bisa ku banggakan, aku hanya ingin kau ada di sisi ku” aku menagis tersedu-sedu dan aku kembali menundukan kepala ku di antara perasaan yang tak lagi dapat ku jelaskan.
“maaf kan aku ella, aku… aku minta maaf, aku tak akan pergi jika kau tak mengijinkan ku pergi, aku..aku akan..”
“kau harus pergi hiks hiks hiks” ucap ku lirih, endi memeluk ku erat yang ku sambut dengan tangisan yang semangkin menjadi-jadi saat aku membalas pelukan itu.
Sejujurnya aku sangat ingin menjadi egois saat ini, aku ingin menahan endi, aku tau pasti jika ia tak akan pergi dari sisi ku jika aku melarangnya, namun hubungan ini akan semangkin menyiksanya jika ia tak bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan ku.
Kami menagis cukup lama hingga akhirnya perasaan di hati kami mulai tenang, “apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya ku,
“aku akan berangkat ke paris untuk menemukan jawaban dari perasaan yang hampa ini”,
“kapan kau pergi?”, “nanti malam” ucap endi singkat, “boleh aku ikut mengantar mu ke bandara?”
Endi menatap ku cukup lama dengan mata berkaca-kaca “aku tak akan bisa pergi jika aku melihat mu di bandara ella, aku sangat mencintai mu, aku…”
Air mata ku kembali mengalir dan segera ku usap dengan tangan ku dan kembali menguatkan hati ku, “baiklah” aku tersenyum menatap endi yang terlihat mengkhawatirkan aku.
“apa kau baik-baik saja?” tanya endi.
Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, namun kata-kata itu tak bisa keluar dari mulut ku, apa yang harus aku lakukan tampa endi, kini aku menyadari betapa bergantungnya aku pada peria ini,
“ya, aku…, tak perlu mengkhawatirkan ku, kau tau kan aku wanita tangguh” ucap ku lantang yang di sambut dengan senyuman terpaksa oleh endi.
“aku tak akan menghubungi mu atau menunggu mu, karna aku tau kau tak akan melupakan jalan untuk kembali jika kau ingin” ucap ku
“setelah aku menjadi diri ku yang sebenarnya, bolehkan aku kembali pada mu?” ia menatap ku penuh harap yang membuat air mata ku kembali mengalir, aku mengangguk setuju, endi memeluku erat di antara buaian angin yang seakan ingin menenangkan ku. Endi pun pergi dengan senyumah hangat di bibirnya meningalkan ku yang kini menagis di bangku taman.
“kenapa dia harus meninggalkan ku, apa aku terlalu membebaninya, kenapa dia tak menunjukan dan mengatakan semua ini dari dulu, apakah ini sudah berakhir, aku harus apa sekarang, bagai mana aku bisa melewati hari-hari mengerikan ini tampanya”
Entah sejak kapan kata-kata itu terus terucap dari mulut ku hingga seorang pemuda berkulit putih yang duduk di sampingku menjawabnya, “maaf nona aku tak bisa memberikan kata-kata atau jawaban dari semua masalah mu, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik jika kau membutuhkannya!, ah sebentar aku akan membelikan minuman untuk mu, tunggu sebentar ya”
Peria berkulit putih yang baru ku temui itu bergegas pergi untuk membeli minuman, meninggalkan ku yang masi binggung menatapnya.
-Tamat-