Tidak kusangka akan jadi begini. Cuma karena sebuah permainan konyol dua teman tetanggaku hilang bak ditelan bumi.
Aku (Delphia), Lilis dan Eriko adalah teman akrab. Kami sering main bertiga di petak kosong tanah sebelah rumah milik orang cina, Koh Angga. Satu-satunya tanaman yang tumbuh cuma tunggul tua pohon waru.
"Yok maen petak umpet!'' ajakku pada mereka. Eriko mengiyakan penuh semangat. Begitu juga dengan Lilis. Dia yang mengusulkan berhompimpaa.. yahhh, aku deh yang harus jaga.
"Kalian siap? Kuhitung sampai sepuluh, yaa. SATU!"
Keduanya berlari bersembunyi. Petak itu hanya ada sebatang pohon tua. pohon waru tua yang dimakan usia. Sisa tunggul saja yang tetap berdiri kokoh. Mereka masuk ke lubang di sana.
Aku sudah melihat jumbai baju milik Eriko. Hahaha, ketangkap kalian, batinku.
"Eriko kena!" Aku berusaha menarik baju Eriko dari lubang itu.
SRAK!
Lah? Kok cuma secarik kain usang yang terselip di lubang pohon. Eriko? Lilis?
Aku mencari kedua temanku, tetapi tidak bisa kutemukan. Sampai magrib mereka belum kembali. Kedua orang tua Eriko dan orang tua Lilis datang ke rumah menanyakan anak mereka.
"Bukannya kalian bertiga, kenapa anak kami belum pulang?"
"Mana Eriko, Phia?" tanya Ayah Eriko.
Aku sangat takut, sambil berlari memeluk Bundaku.
"Ibu... Ibu, Eriko dan Lilis menghilang di lubang itu," laporku.
"Lubang, lubang apa, Nak?" tanya Ibunda Lilis. Mukanya pucat.
"Tadi kami bermain bersama di petak sebelah, Om. Tanahnya Koh Angga. Aku jaga lalu mereka berdua bersembunyi di lubang pohon waru yang sudah tua. Aku menarik baju Eriko, tetapi cuma secarik kain tua aja di sana. Eriko dan Lilis hilang, Om!''
"Apa? Apa yang terjadi? Tolong bawa kami ke sana!" Om Bayu ayahnya Eriko menyeretku dengan kasar sampai ke tanah Koh Angga. Kedua orang tua Lilis juga ikut pergi.
"Itu di sana, Om-Tante. Kami cuma main di situ.'' Aku menunjuk sebuah pohon menyeramkan dengan tunggul bercabang-cabang. pohon itu seolah menatap kami dengan geram.
"Ini, pohon waru mati yang ada penunggunya. Kalian kenapa main di sini?" bentak ibu padaku.
Tiba-tiba ibunda Lilis pingsan. Mereka segera membawa kembali orang tua Lilis.
"Ya Tuhaaan, Lilis dan Eriko pasti dibawa ke alamnya. Ini salah saya, Ndoro Rahmat. Saya tidak mengawasi anak-anak!" Ibuku menyesal dan menangis.
"Mohon maafkan anakku, Ndoro Rahmat." Ibu minta maaf kepada Ayah Eriko.
Rahmat Bayu menatapku dengan gusar. "Kalau terjadi apa-apa dengan Eriko, anakmu kubunuh!"
Rahmat dan istrinya pun pergi.
Sampai sekarang dua temanku itu tidak pernah ditemukan. Aku selalu merasa bersalah dan menyesali semua.
Ini salahku...
(Kisah nyata yang dibuat secara fiksi)