Waktu menunjukkan pukul 03.27 wib.
Di luar masih gelap, bulan masih bersinar dengan terangnya. Cahaya yang benar-benar indah dan terang. Tampak lampu menyala di sebuah kamar rawat inap rumah sakit, pertanda beberapa orang pasien sedang dirawat di ruangan itu. Bukan sedih ataupun kesakitan, rona wajah kebahagiaan terpancar pada wajah kedua pasien di ruangan itu.
Tampak salah satu dari mereka menenangkan debay yang menangis. Menimang dan memeluknya penuh kasih sayang. Ditemani seorang wanita paruh baya. Dan seorang lagi terlihat masih sedikit lemah setelah perjuangan antara hidup dan matinya. Namun jelas tergambar kebahagiaan di wajahnya. Dia ditemani putri sulungnya yang berusia 14 tahun. Tak ada bayi di sisi mereka.
" Ibu, istirahatlah dulu! Ibu terlihat lelah. "
" Ibu tidak lelah sayang, sudahlah ... berhenti memperlakukan ibu seperti orang sakit! Di mana ayahmu? " tanyanya pada putrinya.
" Ayah menunggu dedek di ruang bayi. Ayah menyuruhku menemani ibu dan tak boleh meninggalkan ibu. Ibu, dedek kecil dikasih nama siapa? Hyun Bin? Ji Chang Wook? Ah ... Lee Min Ho ... " usulnya pada sang ibu.
" Nama apa itu? Ibu gak mau nama anak ibu aneh gitu. "
" Ibu ... itu nama artis korea, " sahutnya dengan wajah berbinar dan kedua tangan yang ditempelkan di pipi.
Ibunya tersenyum melihat ekspresi putrinya. Diikuti tawa kecil dari dua orang di sebelah mereka.
" Wah ... wah ... usulan nama yang bagus, " ujar wanita yang berbaring di ranjang sebelah.
" Tuh kan bu ... kata kakaknya bagus. " Merasa senang karena ada yang me dukung.
" Kamu itu. Masalah nama biar ayah yang cari. Kamu gak usah kasih nama yang aneh-aneh, " kata ibunya sambil menarik hidungnya gemas.
" Ibu ... sakit tau. Key tau hidung key mancung ke dalam, tapi jangan ditarik-tarik, " ujarnya kesal lalu menggembungkan pipinya. Disusul dengan tawa orang-orang di ruangan itu.
" Eh ... ssttt ... masih malem, ntar dimarahi perawatnya. "
Seketika semua menahan tawanya yang hampir meledak. Suasana hening sejenak. Sayup-sayup terdengar bunyi adzan subuh. Keyla melihat jam yang ternyata menunjukkan pukul 04.09 wib.
" Key ... bantu ayah menjaga dedekmu ya. Ibu mau istirahat sebentar sebelum pulang, " pintanya pada putrinya sambil tersenyum.
" Ibu tenang aja. Key pasti jagain dedek. Ibu istirahatlah dulu. " Gadis itu tersenyum menatap ibunya yang tampak lelah. Lalu ibunya pun mulai memejamkan matanya.
Dipegangnya tangan ibunya, " Hei .. dingin sekali. Apa ibu kedinginan?. " Ia pun menaikkan selimut ibunya sampai dadanya.
Dia mengelus pucuk kepala ibunya. Dilihatnya ibu yang nampak tersenyum dalam tidurnya. Dia menatap selimut yang menutupi tubuh ibunya. Lama sekali dia menatap. Pandangan matanya kosong.
Tiba-tiba jantungnya berdegub sangat kencang. Kencang, semakin dan semakin kencang. Deru nafasnya berubah tak beraturan. Kaki dan tangannya mulai gemetar.
Dengan ragu ia meletakkan jari telunjuknya di depan hidung ibunya. Lalu ia memegang pergelangan tangan ibunya. Dan berdiri, membungkukkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di dada ibunya.
" Berhenti. Apa aku terlalu banyak bicara sehingga membuat ibu terlalu lelah? "
Air matanya tertahan. Ia terduduk lemas di kursinya. Diam menatap ibunya. Lalu memejamkan matanya. Berharap apa yang dilihatnya hanya mimpi. Dan membukanya lagi. Masih sama. Ini bukan mimpi.
Tak lama kemudian wanita paruh baya yang menunggu kakak ranjang sebelah masuk ke dalam ruangan itu dengan berjalan cepat. Diikuti dua orang perawat dan ayah keyla.
" Suster! Biarkanlah ibu. Aku sudah terlalu banyak bicara sampai ibu sangat kelelahan. Biarkan ibu istirahat dulu. Jangan ganggu istirahatnya. Aku pun akan jadi anak yang baik dan tidak akan mengganggunya. Tolong ... biarkan ibu istirahat, " ucapnya sambil menghalangi suster yang akan memeriksa ibunya.
Ayahnya menahan tangis dan memeluk Keyla. " Key ... sayang. Suster tidak akan mengganggu ibu. Biarkan mereka membantu ibu ya. "
Keyla yang sudah lemas hanya pasrah saat ayahnya memeluk dan mengajaknya menjauh dari ranjang ibunya. Masih dengan mata yang berkaca-kaca.
Suster pun memeriksa ibunya. Dan ...
" Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha semampu kami. Sabar ya. "
Sejenak suasana hening. Air mata yang sedari tadi ditahan pun tumpah, mengalir deras. " IBUUU ... "
Tubuhnya meronta dari pelukan ayahnya. Mencoba mengejar ibunya yang dibawa keluar oleh perawat. Tangannya mencoba menggapai ibunya. Namun ayahnya semakin mempererat pelukannya. Menahan putrinya sambil menenangkannya. Keyla pun mulai lemah. Pandangannya kabur, perlahan-lahan meredup dan gelap.
***
" Ibu ... maaf. Key tak bisa menjaga ibu dengan baik, " sesalnya saat ia tersadar dari pingsannya.
" Key janji, Key akan merawat dedek dengan baik. "
***