Melepasmu
Mungkin hari-hariku akan sulit
Mendengar tentangmu
Sekarang aku hanya bisa
Mengingat masa lampau tentangmu
Tentang aku, dirimu, dan dirinya
Aku sadar
Mungkin aku terlalu berharap
Sampai aku tak pernah tahu
Kita sudah berada diujung jalan
Harusnya aku sadar
Kau tak pernah membiarkan aku
Mengais rasa darimu
Yang bahkan tak pernah kau cecerkan untukku
Melepasmu begitu enggan rasanya
Seperti mengubur dalam-dalam
Benih yang sudah tumbuh kokoh ditanah
Tolong...
Ajari aku untuk melepasmu
Tanpa takut bagiku untuk jauh darimu
Ajari aku untuk melepasmu
Agar aku tahu rasanya jadi dirimu
Yang begitu mudahnya meninggalkan aku.
Madiun, 21 November 2020
Ratih wahyuningtyas
Hari ini aku membuka mataku menatap awan dibalik jendela, hari sudah pagi pikirku. Aku masih terdiam menatap keluar dengan tatapan kosongku. Harusnya hari ini aku membuka mataku dengan bahagia, namun tidak hari ini. Aku tidak tahu kenapa hati ku begitu sakit, tapi aku berusaha menutupinya dengan senyuman meskipun itu hanya sebuah topeng yang harus aku pakai setiap hari. Tak apa karna hanya aku lah yang tahu itu.
Aku menghela nafas panjang beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi. Aku menatap diriku dibalik cermin,
" Aku tidak kalah cantik kan, aku juga punya tubuh yang tidak kalah bagus kan?" gumamku sambil memutar-mutar tubuhku.
" Tapi kenapa kamu memilih dirinya dari pada aku."
Tiba-tiba hatiku merasa sangat sakit mengingat kembali masa-masa kau bersama dengannya.
Aku berjalan menyusuri jalan menuju kampus sambil melihat foto diponselku bersama Eza. Kami sudah berteman sejak masih duduk dibangku SMA. Dan sampai sekarang kita masih menjadi sahabat baik. Aku tidak tahu kapan rasa itu muncul, tapi ada perasaan yang ada dihatiku.
Dulu ada seseorang dari mantan Eza yang berkata kepadaku. Persahabatan kita akan putus karena suatu saat akan tumbuh rasa cinta. Pada saat itu aku tertawa, karna tidak mungkin bagiku menyukai Eza. Begitu juga Eza tidak mungkin menyukaiku. Kini aku terjebak oleh perasaanku sendiri yang hanya bisa menahan rasa cinta yang entah kapan tubuh, yang tanpa aku sadari rasa itu semakin dalam. Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepadanya karena aku takut persahabatan kita akan putus karena pernyataan cintaku.
" Lea...."
Aku melihat kebelakang, melihat seseorang yang memanggilku.
Ada Vilda. melihatnya berlari menghampiriku aku buru-buru menyembunnyikan ponselku. Vilda adalah pacar Eza saat ini. Dia gadis yang sangat cantik, kulitnya putih dan dia sangat feminim. Beda denganku yang hanya gadis biasa yang sedikit tomboi.
" Selamat pagi. kamu sendirian saja?"
Aku menatap Vilda yang berkata seperti itu pasti dia mencari Eza.
" Kau lihat gimana, aku gak sama Eza kan. Aku sendiri." jawabku sedikit kesal.
" Maaf, kalian kan selalu bersama, kemarin dan lusa Eza tidak datang kerumahku. kamu tahu kemana gak?"
Aku menghentikan langkahku dan menatap Vilda. Aku memang sedikit heran, tidak biasanya Eza melewatkan malam minggu dan hari minggunya tanpa Vilda. Dan lagi aku tidak bertemu dengannya kemarin karena aku tidak ingin melihat dia berduan dengan Vilda.
" Looh...emangnya kemana dia, kemarin aku juga dirumah aja, gak kemana-mana."
Aku mengambil ponselku dan mencoba menghubungi Eza. belum juga diangkat tiba-tiba seseorang datang dan merangkul pundakku.
" Eza...."
Aku sedikit kaget dan menjatuhkan ponselku. Aku buru-buru mengambil ponselnya jangan sampai Eza melihat gambar dilayarku.
" Kalian pasti membicarakanku kan."
" Iya, kamu kemarin kemana aja sih." kata Vilda yang sedikit manja.
Eza merangkul Vilda dan berjalan, aku sedikit memelankan langkahku berjalan jauh dibelakang mereka. Hatiku sakit melihat mereka berjala bersama-sama seperti ini. Rasanya air mataku ingin sekali jatuh, tapi aku berusaha menahannya.
" Lea ayooo.... kenapa kamu berjalan jauh dibelakang."
" Maaf tadi sedang balas chat." aku sedikit berlari menyusul mereka dan berjalan disampin Eza dengan sangat susah payah menunjukkan senyuman manis di wajahku.
Aku dan Eza ambil jurusan Seni dan Budaya, sedangkan Vilda menejemen perkantoran. jadi kita berpisah diujung lorong dan pergi kekelas masing-masing.
" kemarin kau kemana, Vilda bilang kau tidak menemuinya."
" Aku gak kemana-mana, dirumah aja. lagi males jalan."
" Males....?"
" Iya... padahal kemarin aku berharap kamu meneleponku ajak aku main gitar sama-sama."
" ya enggak lah...aku tahu sabtu minggu adalah waktu kamu sama Vilda."
Aku menatap Eza yang hanya diam tanpa memberi jawaban mengabaikan kata-kataku.
Kelas telah berakhir. aku melihat Eza hanya diam saja dari tadi. Dia hanya melihat ponsel dan membolak-baliknya.
" Lea...kita ke kantin yuk cari makan." sapa salah seorang temanku.
" Enggak kamu duluan aja."
" Kamu lagi ada masalah kah dengan Vilda?"
" hah...."
" kenapa kaget seperti itu, jawab ada apa sebenarnya?" aku duduk kembali disamping Eza bersiap mendengarkan ceritanya.
" Enggak ada apa-apa kok.... nanti sore kita jadi ke taman gak. aku jemput kamu sambil sekalian ambik gitar dirumah kamu."
" Oke..."
" Sekarang kita kekantin yuk, aku lapar."
Eza berjalan meninggalkan aku dibelakang. Aku penasaran baru kali ini Eza tidak bercerita kepadaku saat ada masalah. Aku mencoba berfikir positif, tapi rasanya memang ada yang berbeda.
Kami berjalan menuju kantin, sudah ada Vilda disana sedang menunggu kami bersama teman-temannya. Ya tahu sendiri anak-anak perkantoran yang cantik-cantik dan feminim menjadi pusat perhatian di kantin ini.
" Sudah lama...?"
Eza duduk bersama dengan Vilda dan teman-temannya.
" Enggak kok, baru aja. Aku sudah pesankan untukmu jadi duduk aja disini. Maaf Lea aku belum pesankan untukmu."
" gak apa-apa aku bisa pesan sendiri kok."
Aku tersenyum dan pergi meninggalkan mereka, padahal dalam hati aku sangat kesal dengan sikap Vilda yang manja kepada Eza.
Setelah memesan makanan aku duduk bersama Riko yang jauh dari Eza dan Vilda. Aku menatap dengan kesal mereka. Tanpa sadar Riko memperhatikan aku yang terus saja menggumam dari tadi.
" Kamu sepertinya kesal sekali."
" Hah...." aku kaget tiba-tiba Riko berkata seperti itu
" Apa terlihat sekali ya?"
" Kalian itu sebenarnya sama-sama punya perasaan suka hanya saja kalian memendamnya."
" Eh... enggak kok. mana ada aku suka sama Eza."
" Emang aku tadi bilang kamu suka Eza?"
" Hah...." aku sangat malu dan mencoba mengalihkan pandanganku.
" Lihatlah, saat kamu tidak disampingnya dia mencarimu kan."
Aku melihat Eza yang melihat kesekeliling sepertinya mencariku, ya itu yang sebenarnya aku harapkan. Dan benar saja ketika matanya menemukanku dia terus menatapku. seolah bertanya bagaimana keadaanku. Aku menganggukan kepala memberi tahu kalau aku baik-baik saja.
" Ya kan...kalian saling memahami walau hanya dengan pandangan." kata Riko
" Kenapa kalian tidak besatu saja."
" Tidak.... aku tidak bisa bersatu dengan dengan Eza, aku tidak bisa mengganti persabatan kami dengan Cinta.
" kenapa?"
" Kamu tahu, Cinta suatu saat nanti aku putus dan kita saling meninggalkan. sedangkan sahabat tidak akan putus, walau suatu saat nanti jarak yang memisahkan hubungan kita akan tetap ada."
Riko menatapku, mataku mulai berkaca. Aku tahu itu akan sulit, namun aku akan berusaha.
" Aku heran sama kamu, apa sih yang kamu pikirkan? aku lihat dengan jelas kalau kamu suka Eza. dan aku juga lihat Eza sepertinya juga suka sama kamu meskipun mungkin dia belum sadar perasaannya. kalau suka kenapa dipendam sih. ngomong aja, seenggaknya kamu udah ungkapin isi hati kamu. bukankan itu akan lebih baik untuk hati kamu juga."
Dalam perjalanan pulang aku memikirkan kata-kata Riko. Benar juga kata-katanya, mungkin rasa sakit di hatiku akan sedikit berkurang kalau aku bilang sama dia. Tapi bagaimana dengan persahabatan kita. apa kita masih bisa menjadi sahabat setelah aku bilang suka padanya. atau jangan-jangan dia akan menjauhi ku. dan itu yang paling tidak aku inginkan. aku ingin selalu dekat dengannya walau hanya sebagai sahabatnya.
Mungkin benar yang dimanakan cinta tak harus memiliki, melihatnya bahagia saja sudah cukup bagiku. Meskipun dia menggandeng tangan orang lain disampingnya.
Sampai dirumah aku berbaring diranjang, aku ingat Eza akan datang mengambil gitarnya. aku melihat gitar yang aku gantung didinding. aku mengambilnya dan mengosoknya perlahan dengan tanganku. Disana aku melihat Ada namaku kan Eza yang bersama. Aku mengusapnya, nama kita yang bersama namun tidak dengan tubuh kita.
Tidak lama Eza datang, aku keluar sambil membawa gitarnya ditanganku.
" ini...." kataku sambil mengulurkan gitar ditanganku.
" Kamu belum siap."
" Aku tidak pergi."
" Kenapa?"
" Males aja."
" Ya udah, kalau kamu gak pergi aku juga gak pergi."
" Loh jangan gitu. Yang lain pada nungguin."
" Biarin aja. Kita duduk disana aja yuk."
Eza berjalan menuju ayunan di halaman belakang rumahku.
Aku duduk disampaing Eza, dia mulai memainkan gitarnya. Bernyanyi dengan merdunya. Ya aku akui Eza sangat pintar bernyanyi. Bahkan lagu-lagunya akan membuat yang mendengarnya jatuh cinta.Kaya aku yang perlahan mencintainya.
" Lea..."
" Hemmm?"
" Milea...."
" Apa sih....?
Eza terdiam dia mendekap gitarnya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu namun apa itu. tidak tahu kenapa hatiku bergetar.
" Apa sih, kenapa malah diem."
aku menatap Eza yang menunduk.
" Apa ada masalah. apa kamu bertengkar dengan Vilda?"
Eza menggeleng, dia menatapku, wajahnya telihat sedih, dari matanya aku melihat kebimbangan, keraguan untuk bercerita. Aku semakin penasaran ada apa dengannya. Tapi Eza tidak berkata apa pun ada aku pun juga tidak berani bertanya lebih dalam lagi. Aku tahu, jika dia siap dia akan bercerita kepadaku.
Tiba-tiba suatu hari Ayah dari ayahku dikabarkan meninggal. Iya kakekku yang tinggal bersama dengan budhe ku yang jauh di ujung paling barat jawa timur yaitu kota Magetan. Aku harus segera berangkat kesana bersama keluargaku.
Disana aku punya satu teman wanita, namanya sisil dia sudah menikah dan memiliki satu orang anak berusia 1 tahun. aku bercerita kepadanya kalau aku secara tidak sadar mulai menyukai bahkan mencintai sahabatku. Dia bercerita kepadaku kalau dia menikah dengan sahabatnya dulu. Dia memilih laki-laki yang dulu sahabatnya itu karena dia tahu sahabatnya itu yang paling mengerti dia dan sebaliknya juga dia yang paling mengerti tentang sahabatnya yang kini sudah menjadi suaminya itu. Dia bilang lebih baik kita hidup bersama orang yang paling mengenal kita dan mau menerima kita apa adanya.
" Kalau kamu benar suka padanya, lebih baik dikatakan dari pada dipendam."
Aku tidak menjawab, aku hanya diam. Berfikir apa memang sebaiknya aku katakan kepadanya kalau aku menyukainya.
Karna terburu-buru, aku lupa membawa ponselku.Dan aku tidak ingat nomer Eza berapa apa lagi teman-teman ku yang lain. sekitar 7 hari aku berada dikota Magetan, besok aku akan kembali kekota Surabaya. Aku sudah bertekat akan memberitahu kepada Eza kalau aku memiliki rasa yang berbeda kepadanya yaitu Cinta.
Perjalanan pulang kali ini rasanya begitu lama, mungkin karena aku berharap segera tiba dikota Surabaya dan segera bertemu dengan Eza. Setiba dirumah aku mencari ponselku, aku mengecek pesa chat dan pangilan diponselku. Aku tersenyum karena ada banyak panggilan dari Eza. Tapi senyumku perlahan menghilang ketika membaca chat dari Widi yang memberitahuku kalau Eza melamar Vilda kemarin. Ada juga pesan dari Vilda yang bercerita kalau dia dilamar Eza.
Sungguh rasanya seperti langit yang runtuh didepanku. Hancur hatiku, air mataku tidak tertahan terus mengalir membasahi pipiku. Hatiku serasa dicabik-cabik. Kenapa ketika aku berniat memberitahu perasaanku padanya aku malah mendapatkan kabar seperti ini. Sebenarnya apa yang aku harapkan, apa kah aku berharap Eza juga mencintaiku dan lebih memilihku dari pada Vilda. Apa kah aku berharap aku dan Eza bisa hidup bahagia seperti Sisil dan suaminya.
Bodohnya aku yang berfikit Eza akan meninggalkan Vilda yang begitu sempurna demi aku yang tidak ada apa-apa nya. Tapi bukan kah aku punya satu hal yang cukup menyakinkan untuk dicintai yaitu aku memiliki hati yang tulus yang bisa mencintainya.
Hari berikutkan, matahari bersinar dengan hangat. aku sudah bersiap dari pagi, Hari ini aku berdandan sangat cantik. Aku memakai hiasa wajah dan merapikan rambutku. Aku sangat ingin terlihat cantik hari ini, karena aku bertekat hari ini aku akan memberitahu Eza tentang perasaanku.
Akhirnya aku sampai di kampus, aku bertanya kepada teman-teman dimana Eza dan mereka bilang Eza sedang ada ditaman, aku berjalan menyisuri taman mencari sosok pria yang sangat ingin aku temui. Terlihat Eza sedang duduk dibangku taman seorang diri.
"Ini kesempatan bagus, tidak ada orang lain, aku bisa langsung bilang padanya." Gumamku sambil berjalan.
" Hay...."
Eza tidak menjawab, dia melihatku dengan sangat heran dan terkejut. Ya aku tahu aku tidak seperti biasa hari ini. Aku tahu aku lebih terlihat konyol dari pada cantik, karna sejak tadi semua orang terus menatapku dengan aneh. dan sekarang Eza jg menatapku dengan aneh.
" Lea...."
" iya ini aku, memang aku terlihat begitu aneh kah sampai-sampai kamu mematapku seperti ini."
" Tidak.... hanya saja kamu terlihat berbeda."
" Sebernya ada yang ingin aku katakan padamu."
" Apa...sini duduk"
Eza bergeser dan aku pun duduk disampingnya. namun Eza terus menatapku dari tadi membuatku menjadi salah tingkah.
" Aku mau jujur sama kamu."
" Jujur....? soal apa?
Aku menelan ludah, aku merasa gugup disampingnya. rasanya ini lebih dari seperti Ujian kenaikan kelas dan semacamnya.
" Aku suka kamu"
Tiba-tiba kata itu keluar dari mulutku. aku menatap Eza yang hanya diam menatapku, aku tahu kalau dia sangat kaget dengan pernyataan ku.
" Aku tidak ingin kamu membalas rasa aku, aku hanya ingin kamu tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak ingin memendam perasaanku lebih lama lagi. Aku tahu rasa ini tidak mungkin kamu balas, namun tidak apa-apa aku sudah cukup bahagia bisa mencintaimu."
Eza hanya diam, tiba-tiba Vilda memanggil dan menghampiri kami. Aku pergi meninggalkan mereka. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku. Aku merasa lega bisa mengungkapkan semua isi hati kepada Eza. aku tidak berharap balasan, aku serahkan semua kepada tuhan. Kalau dia memang jodohku, aku tahu tuhan akan menyatukan kami. Jika dia bukan jodohku setidaknya aku sudah mengungkapkan isi hatiku dan aku bahagia sudah mencintainya.
"TAMAT"
😭😭😭