Lampu gantung di atas meja makan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menimpa dua mangkuk sup ayam yang asapnya perlahan menipis. Di kursi kayu berukir itu, Rani duduk memeluk lututnya sendiri, menatap suaminya, Bram, yang tergeletak pasrah di atas kasur lipat di sudut ruang tengah.
Rumah itu sempit, hanya bertipe tiga puluh enam, namun kini terasa begitu lapang dan asing—seperti sebuah galeri yang seluruh lukisannya telah diturunkan, menyisakan bekas paku dan dinding kusam.
Bram tidak lagi gagah seperti sepuluh tahun lalu saat ia meminang Rani dengan janji-janji yang dirajut dari benang kebaikan. Tubuh pria itu kini menyusut, menyisakan tulang-tulang pipi yang menonjol tajam dan kulit yang kehilangan kilau alaminya. Suara napasnya berat, patah-patah, menyerupai gesekan amplas pada kayu lapuk.
Di kamar sebelah, suara dengkur halus dua buah hati mereka—Gendis yang berusia delapan tahun dan Damar yang baru menginjak empat tahun—terdengar ritmis. Mereka tidur lelap, terlindung dari badai tak terlihat yang sedang melumat habis atap rumah tangga mereka.
Semua bermula dari selembar kertas laboratorium yang ditemukan Rani di dalam saku celana kerja Bram tiga bulan lalu. Kertas itu berisi rangkaian istilah medis yang asing, namun satu baris kalimat di bagian bawahnya seperti kilat yang menyambar dada Rani tanpa suara: HIV Positive.
Rani ingat betul betapa matanya menolak mempercayai deretan huruf itu. Ia mengira ada kesalahan nama. Ia berharap itu milik kawan kantor Bram yang tertinggal. Namun, ketika malamnya ia menatap mata Bram yang dipenuhi ketakutan dan rasa bersalah yang teramat sangat, runtuhlah seluruh istana yang dibangunnya dengan kesetiaan.
Bram akhirnya mengaku. Di balik kemeja rapi dan bau parfum maskulin yang selalu menyambut Rani setiap sore, ada malam-malam gelap yang disembunyikan. Tugas luar kota yang kerap dituduhkan sebagai alasan kerja keras ternyata menjadi kedok untuk menyambangi sudut-sudut remang kota: pemandu lagu di tempat karaoke, wanita pekerja seks di hotel-hotel melati. Pengakuan itu meluncur dari mulut Bram disertai derai air mata dan erangan kesakitan yang hina.
Hari itu, Rani tidak berteriak. Ia tidak membanting piring atau mencakar wajah pria yang telah membagikan separuh hidupnya. Ia hanya berdiri membeku di depan cermin rias, menatap bayangannya sendiri, lalu perlahan berjalan ke kamar mandi untuk mengunci pintu. Di bawah kucuran air shower yang dingin, ia menangis tanpa suara, membiarkan dadanya sesak oleh rasa dikhianati yang teramat dalam.
Ujian terberat datang ketika Rani harus mengumpulkan keberanian untuk memeriksa dirinya dan kedua anak mereka. Hari-hari menunggu hasil tes terasa seperti berjalan di atas pusingan pisau. Setiap malam Rani berdoa dengan jemari gemetar, memohon agar dosa suaminya tidak menetes ke darah anak-anaknya yang tak berdosa.
Tuhan masih menyisa keajaiban di tengah reruntuhan itu. Hasil tes Rani dan kedua anaknya dinyatakan negatif. Namun, keselamatan fisiknya tidak otomatis menyembuhkan luka di hatinya. Rasa jijik, marah, dan benci sempat memenuhi rongga dada Rani. Ada hari-hari di mana ia ingin mengepak pakaian, menggandeng Gendis dan Damar, lalu pergi sejauh mungkin meninggalkan Bram yang mulai digerogoti penyakitnya.
Namun, ke mana ia harus pergi? Dan yang lebih penting, nurani seperti apa yang akan ia tinggalkan jika ia membiarkan seorang manusia—betapapun bersalahnya ia—membusuk sendirian dalam penyesalan?
"Ran..." Suara Bram terdengar serak, memecah kesunyian malam.
Rani bangkit dari meja makan, melangkah pelan mendekati kasur lipat. Ia berdiri di samping tubuh suaminya yang terkulai. Tak ada lagi benci yang membara, hanya tersisa kepedihan yang teramat dalam dan rasa kasihan yang mengiris-iris.
"Kenapa, Mas? Ada yang sakit?" tanya Rani datar, namun lembut.
Airmata meleleh dari sudut mata Bram yang cekung, mengalir melewati pelipisnya menuju bantal yang sudah basah. "Kenapa kamu belum pergi, Ran? Kenapa kamu masih di sini... menyuapiku, membersihkanku? Aku ini kotor, Ran. Aku yang menghancurkan kita..."
Bram menggenggam pinggiran seprai dengan jemarinya yang kurus, dadanya naik turun oleh kepedihan yang meluap. Penyesalan itu datang terlambat, membakar jiwanya lebih menyiksa daripada virus yang sedang merusak sistem kekebalan tubuhnya.
Rani menarik napas panjang, menahan getaran di tenggorokannya. Ia berlutut di samping kasur, mengambil selembar kain lap basah, lalu perlahan menyapu keringat dingin di dahi Bram.
"Aku bertahan bukan karena aku lupa pada apa yang sudah kamu perbuat, Mas," ucap Rani pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Bram yang redup. "Aku bertahan demi kemanusiaan. Kamu adalah ayah dari Gendis dan Damar. Aku tidak ingin anak-anakku tumbuh melihat ibunya meninggalkan seorang manusia yang sedang sekarat, terlepas dari seberapa besar kesalahannya."
Bram tergugu, menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. "Aku menyesal, Ran... Demi Allah, aku menyesal... Kalau bisa kuputar waktu..."
"Waktu tidak bisa diputar, Mas," potong Rani halus namun tegas. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjalani sisa hari yang ada dengan martabat. Kamu fokus berobat, minum obat ARV secara teratur. Jangan biarkan rasa bersalah itu membunuhmu lebih cepat dari penyakitmu."
Di kamar sebelah, pintu terbuka perlahan. Gendis berdiri menyipitkan mata karena silau, memegang boneka beruang kusamnya.
"Ibu... Ayah kenapa?" tanya anak perempuan itu dengan suara serak khas bangun tidur.
Rani dengan cepat menghapus setitik air mata di pipinya, lalu melempar senyum paling hangat yang sanggup ia rakit. "Ayah cuma agak demam, Sayang. Ayo kembali tidur, Ibu antarkan."
Sebelum berbalik, Gendis mendekati kasur ayahnya, mengelus kaki Bram yang terbungkus selimut. "Ayah cepat sembuh ya. Nanti kalau Ayah sembuh, kita main sepeda lagi di taman."
Kata-kata polos itu menghantam dada Bram seperti pukulan telak. Pria itu mengangguk patah-patah, tak sanggup bersuara, hanya mampu menyembunyikan wajahnya di balik selimut agar tangisnya tidak pecah di depan sang putri.
Rani membimbing Gendis kembali ke tempat tidur, menepuk-nepuk punggung kecil itu hingga putrinya kembali terlelap. Di kegelapan kamar anak-anaknya, Rani menyandarkan kepala ke dinding.
Ia tahu jalan di depannya akan sangat panjang dan berliku. Stigma masyarakat, biaya pengobatan, dan bayang-bayang masa depan yang penuh ketidakpastian siap menantangnya setiap hari. Namun, saat menatap wajah polos Gendis dan Damar, Rani menemukan kekuatan baru yang tak pernah ia sangka ia miliki.
Ia bukan sekadar seorang istri yang terluka; ia adalah seorang ibu dan manusia yang memilih untuk tidak membalas kehancuran dengan penelantaran. Di dalam rumah kecil itu, di antara bau obat dan penyesalan yang pekat, Rani menyalakan sebatang lilin ketabahan—menjaga agar kemanusiaan tidak ikut mati di tengah badai.