Lampu jalanan kota kecil ini padam satu per satu begitu memasuki pukul sepuluh malam. Angin perbukitan berhembus membawa aroma tanah basah dan kabut tipis yang merayap turun dari lereng. Di ujung Jalan Angker—sebuah jalan berbatu yang jarang dilalui warga—berdiri sebuah bangunan tua berarsitektur era kolonial yang merana. Dinding batanya yang kusam dikerumuni sulur-sulur akar liar, sementara atap sengnya yang berkarat tampak terkulai menantang kegelapan.
Suatu malam yang gelap, saya memutuskan untuk menjelajahi sebuah rumah tua yang terletak di ujung Jalan Angker. Rumor-rumor di kota kecil ini selalu menyebutkan bahwa rumah itu dihantui, tapi rasa penasaranku tidak bisa dihentikan.
Langkah kakiku menyapu dedaunan kering yang berserakan di halaman depan. Obor kecil di tanganku memantulkan bayangan-bayangan memanjang yang tampak bergoyang menari di dinding luar. Warga kampung selalu melarang siapa pun mendekati tempat ini. Mereka menyebutnya sebagai Ujung Kesengsaraan, tempat di mana takdir buruk melingkupi siapa saja yang berani melintasi gerbang besinya yang berkarat. Namun, sebagai seorang pemuda yang hanya mengandalkan logika dan dahaga akan pembuktian misteri, semua desas-desus itu terasa seperti bualan belaka.
Ketika pintu berat rumah itu terbuka dengan sendirinya begitu saja, aku merasakan adanya kehadiran yang tak terlihat di dalam. Suasana seketika berubah, dan langkahku terdengar seperti gema di koridor yang sunyi.
Kriiiet...
Engsel pintu kayu berukir itu menjerit ngilu. Bau tengik campuran debu lapuk, minyak kemenyan tua, dan aroma amis yang samar langsung menyergap penciumanku. Udara di dalam lorong terasa jauh lebih dingin dibanding luar—dingin yang bukan berasal dari hembusan angin, melainkan dingin yang lembap dan menekan dada hingga terasa sesak.
Aku melangkah melewati ambang pintu. Setiap pijakan kaki di atas papan lantai kayu jati tua menghasilkan derit yang memantul panjang ke sudut-sudut ruangan. Di kiri dan kanan lorong, bingkai-bingkai foto usang tergantung miring. Debu tebal melapisi kaca-kacanya, namun aku masih bisa melihat siluet sebuah keluarga: seorang pria bertubuh tegap dengan kupiah hitam, istrinya yang bersanggul, serta lima orang anak kecil yang berdiri berjejer dengan wajah datar tanpa senyum.
Tiba-tiba, berembus angin kencang dari dalam koridor yang tak berjendela. Brak! Pintu utama di belakangingku tertutup rapat dengan sendirinya. Aku melompat kaget dan refleks memutar badan. Memegang gagang pintunya yang terbuat dari kuningan, aku mencoba memutarnya, namun pintu itu seperti terkunci rapat dari luar oleh kekuatan tak kasat mata.
"Siapa di sana?" teriakku, mencobanya menguasai rasa panik yang mulai menjalar ke ujung jari-jariku.
Tidak ada jawaban verbal. Hanya gema suaraku sendiri yang memantul di lorong panjang tersebut. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara bisikan sayup-sayup—suara tangisan anak kecil yang saling bersahut-sahutan dari lantai atas. Suara itu terputus-putus, diselingi erangan pilu yang menyayat hati.
Aku memberanikan diri berjalan lebih dalam, menyusuri koridor utama menuju ruang tengah yang lapang. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu bundar yang di atasnya bertengger piring seng usang berisi sisa-sisa kemenyan yang telah mengering, bunga melati yang layu membusuk, serta lima buah mangkuk cangkir kecil berisi cairan kehitaman yang berbau menyengat.
Di balik kegelapan sudut ruangan, sebuah bayangan tinggi besar berdiri tegak.
Rambutku berdiri seketika. Jantungku bergedup kencang hingga terasa menghantam tulang rusuk. Obor di tanganku bergetar, memancarkan cahaya temaram yang menerangi sosok di balik kegelapan itu. Bukan monster atau hantu berwajah rata yang kupikirkan, melainkan seorang pria tua yang sangat kurus. Tubuhnya dibalut jubah hitam lusuh, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat di sekelilingnya, dan kulitnya menempel ketat pada tulang-tulangnya seolah tak berdarah.
Pria tua itu terduduk di sebuah kursi kayu tua, memegang seuntai tasbih berdebu di tangannya yang gemetar hebat. Di hadapannya, lima buah nisan kayu berukuran kecil tertancap di atas keramik lantai yang dibongkar paksa.
Ternyata itu adalah rumah pesugihan yang kelima anaknya mati mengenaskan.
"Siapa... siapa Anda?" bisikku dengan suara bergetar, memegang erat senter dan obor di tanganku.
Pria tua itu mendongak lambat. Matanya yang suram menatapku tanpa kemarahan, hanya ada kedalaman penyesalan dan ketakutan yang teramat sangat. Dari bibirnya yang pecah-pecah, meluncur suara parau dan berat yang bergetar.
"Jangan mendekat, Anak Muda..." desisnya. "Tempat ini adalah neraka yang kubangun dengan tanganku sendiri. Aku adalah Pak Rahmad... pemilik rumah terkutuk ini."
Aku mematung. Nama Pak Rahmad pernah kudengar dalam cerita-cerita tua warga. Beliau dulu dikenal sebagai pedagang terkaya di daerah ini puluhan tahun lalu, sebelum seluruh keluarganya hilang secara misterius dan rumahnya ditinggalkan menjadi angker.
"Apa yang terjadi di sini, Pak? Kenapa ada nisan di dalam rumah?" tanyaku, mencoba mencari pijakan realita di tengah atmosfer mistis yang makin tebal.
Pak Rahmad menatap lima nisan kecil di hadapannya, lalu air mata bening menetes membasahi pipinya yang kempot dan keriput.
"Kekufuran..." pungkasa Pak Rahmad serak. "Tiga puluh tahun lalu, aku dibutakan oleh dunia. Bisnis dagangku bangkrut, utang-utangku menumpuk, dan aku malu dipandang hina oleh kerabat. Dalam keputusasaan itu, aku melupakan Allah. Aku mendatangi seorang dukun hitam di kaki gunung dan mengikat janji dengan iblis."
Beliau menghentikan kalimatnya, dadanya turun naik menahan sesak yang teramat sangat. Udara di dalam ruangan mendadak menjadi sangat panas, dan bau busuk yang membakar hidung makin menyengat. Di sudut-sudut plafon, tampak bayangan-bayangan hitam berbentuk makhluk mengerikan bersayap membran bertengger, memperhatikan kami dengan mata merah menyala.
"Iblis itu meminta syarat..." lanjut Pak Rahmad dengan suara gemetar. "Kekayaan melimpah, emas bertumpuk, dan kehormatan duniawi... namun imbalannya adalah jiwa dari darah dagingku sendiri. Satu per satu anakku diambilnya sebagai tumbal pesugihan."
Aku menutup mulutku kaget. Cerita pesugihan yang sering kuanggap dongeng sebelum tidur kini nyata terhampar di depannya.
"Anak pertamaku mati tenggelam di sungai tanpa sebab," bisik Pak Rahmad penuh kepiluan. "Anak keduaku terserang demam aneh hingga kulitnya mengelupas dalam semalam. Anak ketiga dan keempatku tewas dalam kecelakaan mengerikan... dan anak bungsuku, si kecil yang baru berusia lima tahun, mati tersedak darahnya sendiri di atas kasur ini."
Tangisan Pak Rahmad pecah, menggema di seluruh sudut rumah tua itu. Seiring dengan tangisannya, bayangan lima anak kecil yang tampak pucat dengan tubuh penuh luka muncul berdiri di sekeliling nisan mereka, menatap sang ayah dengan pandangan sedih dan kerinduan yang tak tersampaikan.
"Setiap kali anakku mati, harta daganganku bertambah berlipat ganda," ujar Pak Rahmad memukul-mukul dadanya sendiri. "Aku kaya raya! Rumah ini dibangun dengan kemewahan! Namun apa gunanya harta berlimpah jika setiap malam aku mendengar jeritan anak-anakku yang disiksa oleh iblis perjanjian itu?! Aku telah menjual jiwa anak-anakku demi kesenangan dunia yang fana!"
"Lalu kenapa Anda masih di sini?" tanyaku menahan tangis melihat keheningan yang menyiksa itu.
"Istriku gila dan akhirnya gantung diri di lorong depan tempatmu masuk tadi," bisik Pak Rahmad. "Harta kekayaanku hancur tak berbekas dalam hitungan bulan setelah anak terakhirku tewas. Iblis itu kembali untuk menagih jiwaku. Namun... di puncak kegelapan itu, saat aku hendak mengakhiri hidupku sendiri, aku mendengar suara azan dari surau kejauhan."
Pak Rahmad memegang tasbih kayu di tangannya erat-erat, air matanya membasahi kain sarung lusuh yang dikenakannya.
"Aku tersadar... betapa nistabaginya manusia yang menukar akhiratnya yang abadi dengan dunia yang hanya sekejap. Aku membatalkan niat bunuh diri. Tapi dia mau bertaubat dengan segala konsekuensinya."
Pak Rahmad mendongak menatap langit-langit. Di sana, sosok hitam berukuran raksasa dengan tanduk mencuat dan mata membara tampak mencengkeram balok-balok kayu atap rumah. Suara geraman berat yang menggetarkan keramik lantai terdengar jelas di telinga kami: *
“Rahmad... jiwamu milikku! Perjanjian kita abadi!”
"Aku tahu iblis itu menungguku mati untuk menyeret jiwaku ke neraka," pungkasa Pak Rahmad dengan keteguhan yang muncul dari balik kerapuhannya. "Setiap malam, mereka menyiksaku dengan teror, bau busuk, dan penampakan anak-anakku. Namun aku tidak akan lari lagi. Aku bertahan di rumah angker ini untuk bersujud, meratapi dosa-dosaku, dan memohon ampunan dari Allah Yang Maha Pengampun sebelum jalanku terputus."
Pak Rahmad lalu melepaskan tasbihnya dan meletakkannya di atas nisan terendah. Beliau berdiri dengan kaki gemetar, membelakangi sosok-sosok hantu ketakutan dan bayangan iblis yang melayang di atas kami. Pria tua itu melangkah menuju sebuah sajadah lusuh yang tergelar menghadap kiblat di sudut ruangan.
"Anak Muda..." ujar Pak Rahmad tanpa menoleh padaku. "Allah membawamu ke sini malam ini bukan untuk memuaskan rasa penasaranmu tentang hantu, melainkan untuk memperlihatkan padamu betapa hancurnya hidup manusia yang berpaling dari ketauhidan. Dunia ini menipu, dan tipu daya iblis adalah seburuk-buruknya tempat bersandar."
Pak Rahmad mengangkat kedua tangannya ke samping telinga, menyempurnakan niat shalat malam di tengah kepungan teror ghaib.
“Allāhu Akbar...”
Begitu takbiratul ihram berkumandang dari mulut Pak Rahmad, sebuah gelombang cahaya putih yang lembut merayap keluar dari tempat sujudnya. Cahaya itu perlahan merambat, menerangi lorong-lorong gelap, menyapu bau busuk kemenyan, dan memudarkan bayangan-bayangan hitam yang bertengger di plafon rumah. Suara geraman iblis terdengar melengking kesakitan sebelum akhirnya menguap terbakar oleh keagungan nama Sang Pencipta.
Sosok lima anak kecil yang mengelilingi nisan mendadak tersenyum lembut. Wajah-wajah pucat mereka berubah menjadi bersih dan bercahaya, melambaikan tangan pelan sebelum akhirnya memudar perlahan dalam kedamaian.
Aku membeku di tempatku berdiri. Air mata menetes hangat di pipiku. Seluruh ketakutan dan kesombongan logikaku runtuh seketika. Di hadapanku, seorang hamba yang bergelimang dosa paling berat sekalipun sedang bersujud dengan derai air mata, merengkuh pintu taubat yang tak pernah tertutup selama napas belum sampai di kerongkongan.
Seiring dengan sujud terakhir Pak Rahmad, pintu utama rumah tua yang tadinya terkunci rapat melesat terbuka pelan. Cahaya fajar pertama terpancar dari ufuk timur, menerobos masuk menembus celah-celah jendela kayu dan menerangi seluruh koridor yang tadinya gelap gulita. Bau amis dan lembap berganti dengan aroma embun pagi yang segar.
Pak Rahmad menyelesaikan shalatnya dengan salam. Beliau terduduk tenang di atas sajadahnya, tersenyum tipis menatap cahaya matahari pagi yang mengenai wajah renta dan lelahnya. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, rumah itu terasa damai dan bersih dari kejahatan.
Aku melangkah keluar dari rumah tua tersebut dengan langkah kaki yang terasa berat namun dada yang lapang. Pengalaman malam itu bukan sekadar petualangan horor, melainkan sebuah teguran keras dari Sang Maha Kuasa tentang arti keimanan, bahaya kesombongan dunia, dan indahnya ampunan Ilahi bagi hamba-Nya yang berserah diri.
---