Nama resminya adalah Shinta. Namun di bio Insta**** dan akun Tik***-nya yang ber-follower lima puluh ribu, ia dikenal sebagai Shinta_Glamour. Di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun, Shinta merasa sudah memegang kunci dunia. Baginya, modal paras rupawan, kulit mulus hasil perawatan racikan dokter estetika, dan kemampuan mengedipkan mata dengan ekspresi paling lugu adalah kombinasi maut untuk menembus kerasnya Ibu Kota.
Gaya hidup Shinta adalah cerminan generasi serba instan. Ia enggan meniti karier dari bawah, benci melihat potongan pajak di slip gaji, dan paling alergi melihat teman-teman seangkatannya yang harus naik ARL atau berdesakan di busway demi gaji UMR. Prinsip Shinta sederhana: “Kenapa harus capek kerja kalau ada jalan pintas yang lebih wangi?”
Jalan pintas itu bernama Pak Bambang Sunaryo.
Pria berusia lima puluh lima tahun itu adalah seorang pejabat daerah berbobot seratus kilogram yang memiliki jabatan mentereng, perut buncit membayangi ikat pinggang kulit branded-nya, serta dompet tebal yang seolah tak pernah kehabisan lembaran uang merah. Bagi Shinta, Pak Bambang bukan sekadar pria paruh baya yang napasnya sering tersengal-sengal kalau naik tangga; Pak Bambang adalah BNI Walk—sebuah ATM berjalan yang siap meluluskan segala daftar keinginannya, mulai dari tas desainer terbaru, apartemen sewaan di kawasan elit, hingga liburan staycation berkelas.
Hari Sabtu itu, langit Jakarta sedang panas-panasnya. Di dalam kamar hotel bintang lima nomor 808 yang sejuk berkat AC central, Shinta baru saja menyelesaikan “tugas negaranya”.
Sepuluh menit yang lalu, adegan pemenuhan hasrat terlarang itu selesai. Pak Bambang, dengan sisa-sisa tenaga setelah berjuang melawan gravitasi dan usia, kini terkulai telentang di atas ranjang king size. Pria bertubuh tambun itu tertidur lelap, dengkurannya nyaring memecah keheningan kamar bak mesin diesel tua yang lupa diganti olinya. Perutnya yang membuncit naik turun secara tidak teratur, meninggalkan aroma minyak kayu putih bercampur parfum mahal yang menyengat di udara.
Shinta menghembuskan napas lega seraya merapikan rambutnya yang agak berantakan. Ia membatin penuh kemenangan. Di atas meja rias, sebuah kunci mobil baru dan amplop cokelat tebal berisi uang tunai sudah menunggunya. “Cuma butuh sabar sebentar nahan bau minyak kayu putih, tas Chanel melayang ke tangan,” pikir Shinta penuh rasa bangga.
Namun, semesta rupanya punya selera humor yang sangat kelam.
Tepat sepuluh menit setelah peristiwa perzinahan itu usai—saat Shinta baru saja hendak melangkah ke kamar mandi dengan hanya membalut tubuhnya memakai kimono hotel yang agak melonggar—pintu kamar nomor 808 mendadak didobrak dari luar.
BRAAKK!
Engsel pintu kayu jati tebal itu berderit keras. Sebelum Shinta sempat menjerit atau memahami apa yang sedang terjadi, badai petaka menghantam ruangan itu tanpa ampun.
Langkah kaki yang menghentak bumi terdengar riuh. Di garis depan, berdiri sesosok wanita paruh baya berpawakan tinggi tegap dengan sanggul megah bak kubah masjid dan kaftan sutra bermotif bintik macan tutul. Matanya melotot tajam, memancarkan aura membunuh yang sanggup membuat nyali iblis sekalipun ciut. Dialah Bu Tutik—istri sah Pak Bambang yang dikenal sebagai Ketua Persatuan Istri Pejabat Daerah, wanita yang disegani sekaligus ditakuti di seluruh dinas pemerintahan.
Dan Bu Tutik tidak datang sendirian.
Di belakangnya, memegang ponsel pintar dengan lampu flash menyala terang dan posisi kamera melayang siap merekam, berdiri tiga orang selebgram lokal yang sengaja disewa Bu Tutik, lengkap dengan dua staf Humas dinas yang wajahnya sudah pucat pasi.
"SERGAP! REKAM SEMUANYA! JANGAN ADA YANG LOLOS!" teriak Bu Tutik dengan suara alto-nya yang menggema menembus langit-langit kamar.
Shinta membeku di tempat. Wajahnya yang mulus seketika berubah warna dari merah muda menjadi putih pucat bagai kertas HVS. "E-eh... Tante... ini ada salah paham..." gagap Shinta, mencoba menutupi dadanya dengan kimono yang mendadak terasa begitu tipis.
"Salah paham gundulmu!" jerit Bu Tutik.
Tanpa aba-aba, Bu Tutik melesat maju bak banteng murka yang melihat kain merah. Dengan kecepatan yang tak masuk akal untuk wanita berusia lima puluh tahun berbobot delapan puluh kilo, jemari Bu Tutik yang dihiasi lima cincin permata berukuran besar langsung menyambar rambut panjang Shinta.
CRASH!
"ADUUUH! TANTE, AMPUN! SAKIT!" jerit Shinta melengking saat kepala dan badannya ditarik paksa hingga tersungkur ke lantai marmer yang dingin.
"Oooh, ini dia ulat bulu yang makan uang rakyat?!" cerocos Bu Tutik tanpa menghentikan jambakannya. Tangannya yang lain meraih piring bekas kue kering di meja samping dan melemparkannya tepat ke arah Pak Bambang yang terbangun gagap.
Pak Bambang yang terbangun dari mimpi indahnya kaget setengah mati. Dengan kondisi belum mengenakan pakaian utuh dan hanya tertutup selimut tipis yang melorot, pria bertubuh kekar tambun itu melompat ketakutan. "M-Mama?! Kok Mama ada di sini?!"
"DIAM KAMU, BAMBANG! NANTI BAGIANMU!" bentak Bu Tutik seraya berbalik fokus sepenuhnya pada Shinta.
Di sudut ruangan, kamera ponsel para kreator konten sewaan Bu Tutik bekerja tanpa henti. Lampu flash menyambar-nyambar wajah Shinta yang sedang menangis tersedu-sedu, berjuang mempertahankan kimononya agar tidak terlepas sepenuhnya sembari menghindari tamparan pelan tapi menyakitkan dari sang istri sah.
"Guys, kalian lihat ini?!" teriak salah satu selebgram sewaan Bu Tutik sambil melakukan Live Streaming di Tik***. "Ini dia pelakor yang lagi viral! Lagi asyik-asyik sama Pak Pejabat di kamar 808! Penonton Live kita sudah tembus lima puluh ribu orang! Jangan lupa tekan tombol like dan bagikan!"
Shinta menutup wajahnya dengan kedua tangan, namun sudah terlambat. Angle kamera mengambil setiap sudut penderitaannya: hidungnya yang meler, riasan matanya yang luntur terkena air mata hingga menyerupai hantu panda, serta posisi tubuhnya yang meringkuk tragis di atas lantai di dekat piring pecah.
"Tante, tolong Tante... kasihanilah saya... saya cuma diajak Pak Bambang..." iba Shinta seraya bersujud di kaki Bu Tutik.
Bu Tutik tertawa sinis, suara tawa yang begitu kencang hingga mengguncang chandelier hotel. "Diajak? Kamu pikir suamiku ini bis sekolah yang main ajak-ajak sembarangan?! Kamu yang kegatalan minta dipasok barang mewah, kan?! Ini tas yang kamu bangga-banggakan di Instagram?!"
Bu Tutik menyambar tas berharga ratusan juta di atas meja, lalu tanpa ragu melemparkannya ke dalam wadah es batu hingga basah kuyup.
Siksaan fisik itu mungkin hanya berlangsung lima belas menit sebelum petugas keamanan hotel datang menelerai dengan wajah sangat canggung. Namun, siksaan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Siksaan di dunia digital—sebuah tempat di mana dosa tidak pernah dilupakan dan jejak jelek diabadikan selamanya.
Hanya dalam waktu dua jam setelah peristiwa pembongkaran itu, algoritma media sosial bekerja bagaikan kesetanan.
Klip video pendek berdurasi tiga puluh detik yang memperlihatkan Shinta dijambak dalam kondisi hanya berbalut kimono kusam meluncur deras menjadi Trending Topic nomor satu di X (Twit***), Tik***, dan Insta****. Tagar #PelakorKamar808, #ShintaGlamourJatuh, dan #BambangBuset menduduki posisi puncak secara bersamaan.
Netizen Gen Z yang terkenal tanpa ampun langsung menjalankan aksi 'silaturahmi digital'.
Akun Instagram Shinta yang semula dipenuhi komentar pujian "Cantik banget Sis", "Body goals", dan "Slay queen", berubah menjadi lautan caci maki dan lelucon kejam. Lebih dari seratus ribu komentar membanjiri unggahan terakhirnya.
"Ooh ini yang katanya independent woman? Ternyata independennya hasil morot uang bapak-bapak bau minyak kayu putih!" tulis seorang netizen.
"Minimal kalau mau jadi pelakor, pilih yang badannya mirip aktor Korea kek. Ini mah demi tas KW rela meluk gentong!" timpal akun lainnya lengkap dengan stiker tertawa mengejek.
"Plot twist terngakak minggu ini: 10 menit digagahi, selamanya di-bully!"
Tidak berhenti di sana, kejahatan digital meluas. Akun kampus Shinta dihubungi massal oleh netizen. Hanya dalam waktu enam jam, pihak universitas mengeluarkan surat keputusan resmi yang diunggah di akun media sosial kampus: Shinta resmi di-DO (Drop Out) karena mencemarkan nama baik institusi.
Keluarga Shinta di kampung tak luput dari imbasnya. Ibunya yang merupakan guru SD terpandang pingsan saat tetangga menunjukkan video anak gadis kesayangannya dijambak di kamar hotel. Rumah orang tuanya mendadak digrebek warga yang merasa malu. Ayahnya yang merupakan pensiunan pegawai negeri memilih mengurung diri di kamar, tak sanggup menahan rasa malu yang teramat sangat.
Malam harinya, Shinta duduk sendirian di sudut kantor polisi tempat ia diamankan sementara untuk menghindari amukan massa. Pakaiannya sudah diganti dengan kaos oblong longgar pinjaman polisi pamong praja. Wajahnya sembab, matanya bengkak, dan tubuhnya menggigil hebat bukan karena dinginnya AC, melainkan karena rasa malu yang meremukkan seluruh sel tubuhnya.
Ia mencoba membuka ponselnya yang terus bergetar tanpa henti. Setiap detik, puluhan notifikasi masuk: ancaman pembunuhan, pesan ejekan, hingga foto-foto wajahnya yang diubah menjadi meme kocak oleh para pembuat konten humor. Wajah cantiknya yang dulu dipuja-puja kini terpasang di mana-mana sebagai simbol kehinaan dan lelucon nasional.
Pak Bambang? Pria itu sudah melarikan diri menggunakan pengacara keluarga, melemparkan seluruh kesalahan kepada Shinta dengan tuduhan pemerasan dan pencemaran nama baik. Pria bertubuh tambun yang tadi siang membisikkan kata-kata manis di telinganya, kini secara terbuka menyebut Shinta sebagai "wanita pengganggu yang meng mengancam kariernya".
Shinta memeluk lututnya di atas bangku kayu dingin. Air matanya menetes, menembus baju oblong kusamnya. Di kepalanya, bayangan masa depan yang hancur berantakan menari-nari tanpa henti. Tidak ada lagi impian hidup mewah, tidak ada lagi tas desainer, tidak ada lagi pujian di media sosial. Yang tersisa hanyalah stempel "Pelakor" yang diukir dengan tinta abadi di dahinya, dibaca oleh ribuan pasang mata di seluruh negeri.
Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari teman baiknya di kampus: "Shin, nama kamu udah masuk di Wikipe*** bab Skandal Sosial. Mending kamu ganti nama dan pindah pulau deh."
Shinta memejamkan mata erat-erat. Penyesalan terlambat selalu datang dengan rasa sakit yang tak teranggungkan. Hanya karena impulsivitas muda, ketakutan akan hidup susah, dan godaan kemewahan semu selama beberapa jam, ia telah menukarnya dengan seluruh sisa hidupnya yang kini berubah menjadi neraka di bumi.
Di malam yang dingin itu, di balik jeruji besi sementara, sang Shinta Glamour menyadari satu hal yang amat pahit: kenikmatan terlarang yang dikejarnya selama sepuluh menit ternyata harus dibayar mahal dengan rasa malu abadi yang takkan pernah bisa dihapus oleh tombol delete mana pun.