Gemuruh helikopter perintis yang membawa Yudha Surya Abadi (26 tahun) melintas di atas hamparan hijau Pegunungan Tengah Papua seolah menjadi lonceng penanda babak baru dalam hidupnya. Pemuda lulusan sarjana pendidikan asal Jawa Barat itu memilih jalan yang dihindari banyak rekan seangkatannya: menjadi guru honorer di SD Negeri Kecil Kampung Yabome. Sebuah kampung yang bahkan tidak tertera di sebagian besar peta cetak. Gaji honorernya yang hanya lima ratus ribu rupiah per bulan—itu pun sering menunggak berbulan-bulan—bukan alasan utama ia bertahan. Ada penyesalan masa lalu dan panggilan nurani yang menarik langkahnya ke pedalaman ini.
Hari pertamanya disambut oleh bangunan sekolah berbahan kayu lapis yang lapuk. Atap sengnya bolong di sana-sini, meninggalkan bercak-bercak basah di atas lantai tanah kering. Di dalam kelas berukuran empat kali lima meter itu,sepuluh pasang mata menatapnya dengan binar yang tak pernah Yudha lihat di kota.
Sepuluh anak. Hanya sepuluh anak dari seluruh kampung yang diizinkan orang tuanya untuk bersekolah. Sisanya harus membantu berburu atau menggarap ladang ubi. Ada Yonas yang paling tua di antara mereka, berumur empat belas tahun tapi baru duduk di bangku kelas tiga karena sekolah sering tutup tanpa guru. Ada Silas yang bertubuh kutilang namun bersuara nyaring, Naomi yang pemalu dan selalu membawa adiknya yang masih balita ke dalam kelas, serta tujuh anak lainnya yang datang tanpa alas kaki, berpakaian lusuh dengan robekan di sana-sini.
"Pak Guru," panggil Yonas pada suatu pagi, memegang pensil pendek yang sudah diraut di kedua ujungnya hingga nyaris tak bisa dipegang lagi. "Hari ini kita baca buku tentang laut lagi? Papua punya laut luas, toh?"
Yudha tersenyum tipis, dadanya sesak. Buku bacaan yang mereka miliki hanya ada tiga eksemplar, semuanya terbitan belasan tahun lalu dengan halaman yang hilang diselimuti jamur. "Iya, Yonas. Kita baca tentang laut. Nanti Pak Guru gambarkan di papan tulis."
Realita kemiskinan di Yabome bukan sekadar kurangnya buku. Itu adalah rasa lapar yang menggerogoti setiap hari. Sering kali, pelajaran harus terhenti karena anak-anak memegangi perut mereka yang berbunyi. Ketika musim hujan tiba dan hasil ladang membusuk, sepuluh anak itu hanya mengunyah batang tebu untuk mengganjal lapar. Namun, tidak pernah sekalipun mereka bolos sekolah. Bahkan saat hujan deras mengguyur dan air merembes masuk memenuhi lantai kelas, Silas dan kawan-kawannya dengan cekatan mengeringkannya memakai daun pisang tua, lalu kembali duduk tekun mendengar penjelasan Yudha tentang matematika dasar.
"Semangat mereka adalah tamparan bagi saya yang dulu sering mengeluh," tulis Yudha di catatan harian kusamnya di bawah temaram lilin minyak tanah.
Namun, mengajar di daerah konflik berarti hidup dengan satu kaki di dalam bahaya. Kampung Yabome berada di garis perbatasan zona merah. Gemerisik daun di hutan belakang sekolah bisa berarti dua hal: babi hutan, atau pergerakan kelompok bersenjata yang dikenal warga lokal sebagai Tentara Pembebasan atau Gerakan Papua Merdeka (GPM).
Kejadian itu datang di bulan kelima Yudha bertugas. Musim kemarau membuat air sungai menyusut, dan Yudha harus berjalan dua kilometer melintasi pinggiran hutan tebal untuk mengambil air bersih. Sore itu, kabut turun lebih cepat dari biasanya. Saat Yudha membungkuk mengisi jirigen plastiknya, bunyi kokangan senjata yang nyaring memecah kesunyian hutan.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" suara berat bergema dari balik pepohonan.
Yudha membeku. Tiga pria keluar dari balik semak belukar. Wajah mereka dicoret cat hitam dan merah, mengenakan pakaian loreng lusuh, dan memegang senapan serbu tua. Pria tertua dengan janggut tebal dan noken melingkar di dadanya melangkah mendekat. Ia adalah Komandan Pendius, sosok legendaris yang ditakuti sekaligus dicari oleh aparat keamanan.
"Kau pendatang. Tentara punya mata-mata, toh?" bentak Pendius, ujung laras senjatanya menekan dada Yudha.
Napas Yudha memburu, dingin menjalar hingga ke ujung jarinya. "Saya... saya guru honorer di sekolah kampung, Pak. Saya bukan tentara."
"Guru?" Pendius tertawa sumbang, tatapannya dingin. "Pemerintah cuma kirim guru buat bikin anak-anak kami lupa pada tanahnya sendiri. Kau bawa apa di tas itu? Dokumen militer?"
Pendius merenggut tas kain lusuh milik Yudha dan mengosongkan isinya ke atas tanah. Tidak ada dokumen rahasia. Yang terjatuh adalah sepuluh lembar kertas bekas kalender yang telah dipotong rapi, berisi tulisan tangan huruf alfabet, beberapa batang kapur, dan sepotong ubi bakar yang sudah dingin.
Pria bersenjata di sebelah Pendius memungut salah satu lembar kertas itu. Di sana tertera tulisan anak-anak: Yonas cita-cita jadi dokter, Naomi mau bikin sekolah besar.
Pendius menatap kertas-kertas itu lama. Matanya yang keras mendadak menegang. "Ini tulisan Yonas?" tanya Pendius, suaranya tiba-tiba berubah merendah.
Yudha mengangguk pelan, berusaha menguasai suaranya yang bergetar. "Iya. Yonas murid saya yang paling pintar. Dia mau jadi dokter supaya bisa obati mama dan warga kampung yang sakit tanpa harus jalan kaki dua hari ke kota."
Hening merayap di antara mereka. Rintik hujan mulai turun menimpa dedaunan. Pendius menurunkan senjatanya. Pria itu berbalik menatap kegelapan hutan sebelum kembali menatap Yudha dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Bawa airmu dan pergi," kata Pendius datar. "Jangan pernah lewat jalan ini lagi setelah matahari tenggelam. Dan... ajari Yonas sampai dia bisa baca semua buku di dunia."
Yudha berlari kembali ke kampung dengan jantung yang serasa mau melompat keluar. Malam itu, ia tidak bisa tidur. Kejadian di hutan terus terbayang, meninggalkan pertanyaan besar dalam benaknya. Mengapa Pendius mengenali Yonas?
Kehidupan sekolah tetap berjalan di tengah bayang-bayang ketakutan. Semangat sepuluh anak itu menjadi satu-satunya alasan Yudha tidak mengepak barangnya dan pulang ke Jawa. Kecerdasan mereka melesat cepat. Yonas sudah lihai perkalian, Naomi lancar membaca paragraf panjang, dan Silas mulai bisa menulis puisi sederhana tentang pegunungan mereka.
Hingga suatu hari, sebuah krisis besar menghantam Yabome. Wabah demam tinggi dan batuk darah menyerang anak-anak kampung. Fasilitas kesehatan terdekat jaraknya puluhan kilometer dengan medan yang hampir tak mungkin ditempuh jalan kaki oleh orang sakit. Tiga dari sepuluh murid Yudha terkulai lemas di atas tiang bambu rumah mereka, termasuk Yonas.
Dada Yudha serasa dihantam batu besar saat melihat Yonas menggigil hebat dengan bibir kebiruan. Obat-obatan dasar di kotak P3K sekolah yang serba terbatas sudah habis. Satu-satunya harapan adalah membawa obat antibiotik dan penurun panas dari pos kesehatan distrik, namun jalan menuju distrik sedang terputus akibat longsor total di jurang jalan utama.
"Pak Guru..." bisik Yonas dengan suara sangat lemah dari atas matras kusamnya. "Nanti kalau Yonas sembuh... Pak Guru ajari Yonas hitung uang, toh? Supaya kalau Yonas beli obat di kota, orang tidak tipu Yonas."
Air mata Yudha menetes tak terbendung. Ia memegang tangan kecil Yonas yang panas. "Pasti, Yonas. Kamu harus sembuh. Pak Guru akan cari obat."
Nekat dan tanpa berpikir panjang, Yudha menembus hutan perawan. Ia ingat ada jalan pintas rahasia melintasi celah bukit—jalur yang sama tempat ia bertemu kelompok GPM beberapa bulan lalu. Ia tidak peduli lagi pada bahaya ditangkap atau tertembak. Yang ada di pikirannya hanya sepuluh pasang mata muridnya yang terancam padam.
Saat menanjak di celah bukit yang licin, langkah Yudha terhenti saat dua sosok berbayang muncul dari balik kabut. Itu adalah anak buah Pendius. Sebelum mereka sempat mengacungkan senjata, Yudha berlutut di tanah yang berlumpur.
"Tolong!" teriak Yudha histeris, napasnya tersengal-sengal. "Yonas... Yonas sakat parah! Dia demam tinggi! Saya harus ke distrik ambil obat tapi jalan longsor!"
Dua pria itu saling pandang. Salah satu dari mereka berlari ke dalam kegelapan hutan dan kembali beberapa menit kemudian bersama Komandan Pendius.
Pendius menatap Yudha yang berlumuran lumpur dan air mata. "Kau gila? Jalur ini berbahaya."
"Murid-murid saya mau mati, Pak!" pendar amarah dan keputusasaan menyatu dalam teriakan Yudha. "Yonas... anak yang Bapak tanyakan waktu itu, dia kritis! Kalau Bapak mau tembak saya, tembak sekarang! Tapi tolong ambilkan obat untuk anak-anak di kampung!"
Pendius terpaku. Otot-otot wajahnya yang keras bergetar. Pria yang ditakuti sebagai pimpinan pahlawan bagi pengikutnya dan pemberontak bagi negara itu perlahan mengepalkan tangannya.
"Ikut aku," perintah Pendius singkat.
Bukan ke distrik, Pendius membawa Yudha lebih dalam ke dalam gua tersembunyi di balik air terjun. Di sana, di antara tumpukan logistik, terdapat beberapa kotak kayu berisi peralatan medis dan obat-obatan standar militer yang lengkap—hasil rampasan dan pasokan medis lama.
Pendius mengambil beberapa botol sirup antibiotik, penurun panas, dan alkohol medis, lalu memasukkannya ke dalam noken kain. Ia melemparkan noken itu ke dada Yudha.
"Bawa ini. Suntikkan atau minumkan sesuai dosis," kata Pendius.
Saat Yudha meraih noken itu dengan gemetar, matanya menangkap sebuah foto kecil yang tertempel di dinding gua batu, persis di atas tempat tidur kayu Pendius. Foto itu memperlihatkan Pendius muda bersama seorang wanita Papua dan seorang bayi laki-laki dengan tanda lahir berbentuk segitiga hitam di leher kirinya.
Jantung Yudha seakan berhenti berdetak. Tanda lahir itu... ia sangat mengenalnya. Setiap kali Yonas berkeringat setelah berlari menggejar bola pelastik di halaman sekolah, tanda lahir segitiga di leher kiri anak itu selalu terlihat jelas.
Yudha menatap foto itu, lalu menatap Pendius dengan tatapan tak percaya. "Yonas... dia..."
Pendius memalingkan wajahnya ke arah kegelapan gua. Suaranya terdengar pecah, kehilangan keperkasaan seorang komandan perang. "Istriku meninggal saat operasi militer sepuluh tahun lalu. Aku melarikan diri ke hutan, dan warga Yabome mengambil bayiku, merawatnya sebagai anak yatim kampung. Dia tidak boleh tahu siapa ayahnya. Jika dia tahu ayahnya adalah seorang pemberontak, dia tidak akan pernah punya masa depan."
Air mata meluncur di pipi Pendius yang kasar. "Aku bertempur di hutan ini karena aku ingin tanah ini bebas. Tapi tiap kali aku lihat surat kalender dari tasmu... aku sadar, kebebasan yang sejati untuk anakku bukan senjata. Tapi buku yang kau pegang itu."
Pendius mendorong bahu Yudha menuju mulut gua. "Pergi! Selamatkan anakku. Selamatkan murid-muridmu. Jangan pernah beritahu Yonas siapa aku. Biarkan dia kenal ayahnya sebagai pahlawan yang salah jalan, bukan orang yang merusak masa depannya."
Yudha berlari melintasi hutan malam seperti orang gila, membawa obat-obatan di dadanya. Keajaiban malam itu berpihak pada Yabome. Obat-obatan dari gua Pendius bekerja efektif. Dalam tiga hari, demam Yonas runtuh. Satu per satu anak-anak kembali bangun, dan keceriaan kembali mewarnai ruangan kayu lapuk bernama sekolah itu.
Dua minggu setelah kejadian tersebut, suara gemuruh mesin kembali terdengar, namun kali ini bukan helikopter. Pasukan keamanan menggencarkan operasi di sekitar wilayah Pegunungan Tengah. Suatu pagi, kabar duka merayap masuk ke Kampung Yabome. Terjadi kontak tembak besar di celah bukit. Komandan Pendius gugur dalam pertempuran setelah memimpin pasukannya bertempur memutar arah, menjauhkan area kontak senjata dari Kampung Yabome agar desa dan sekolah tidak terpapar bahaya.
Hari itu, suasana kampung begitu senyap. Yonas berdiri di depan pintu kelas, menatap asap tipis yang membumbung jauh di atas celah bukit. Anak itu tidak menangis, namun matanya memancarkan kesedihan yang amat dalam, seolah ada ikatan tak kasat mata yang baru saja terputus di dalam dadanya.
"Pak Guru," panggil Yonas pelan saat Yudha menghampirinya. "Orang-orang bilang pimpinan perang di hutan sudah meninggal."
Yudha menahan gejolak emosi di dadanya, merangkul pundak kurus anak itu. "Iya, Yonas."
Yonas merogoh saku celana lusuhnya dan mengeluarkan sebuah benda. Sepotong kayu kecil yang diukir rapi membentuk angka dan huruf-huruf. "Waktu Yonas sakit, Yonas mimpi... ada orang besar cium Yonas punya kening. Dia bau asap kayu dan minyak senjata. Dia ditaruh kayu ukir ini di samping tempat tidur Yonas."
Yudha menatap ukiran kayu itu. Di sana tertulis kalimat sederhana dengan huruf yang agak kaku: BELAJAR YANG PINTAR, ANAKKU.
Yudha menggigit bibirnya erat-erat, menahan tangis agar tidak pecah di hadapan muridnya. Janjinya pada Pendius di dalam gua malam itu mengiang jelas di telinganya.
"Pak Guru," kata Yonas sambil menatap lurus ke mata Yudha. "Yonas janji. Yonas akan belajar sampai pintar sekali. Yonas mau jadi dokter, mau bangun sekolah, supaya tidak ada lagi orang-orang yang harus masuk hutan dan saling membunuh karena tidak punya ilmu."
Yudha berlutut, memeluk Yonas dan sepuluh muridnya yang kini mengerumuninya di depan kelas kusam itu. Di atas tanah pedalaman Papua yang berdebu dan penuh luka kemiskinan, harapan itu tidak mati. Di balik dinding kayu lapuk dan jendela tanpa kaca, sepuluh anak pedalaman itu terus mengeja masa depan mereka—dipimpin oleh seorang guru muda honorer yang kini tahu, bahwa tugasnya di sini bukan sekadar mengajar membaca, melainkan menjaga nyala api peradaban agar tidak dipadamkan oleh kegelapan.