Nala tidak percaya pada kesan pertama.
Menurutnya, kesan pertama adalah kebohongan yang dibuat manusia karena mereka terlalu malas mengenal seseorang lebih jauh.
Begitu pula dengan orang-orang di sekolahnya.
Mereka mengenal Nala sebagai gadis kaya yang menyebalkan.
Cantik, pintar, selalu terlihat mahal, tetapi mulutnya tidak pernah punya rem.
Kalau seseorang bertanya terlalu banyak, Nala akan menjawab seperlunya.
Kalau seseorang mencoba mendekatinya, Nala akan membuat orang itu menyesal.
Dan kalau seseorang mencoba mencari tahu tentang keluarganya
Nala akan memastikan orang itu berhenti bertanya.
"Lo nggak capek, Nal?"
Nala bahkan tidak mengangkat wajah dari ponselnya.
"Capek apa?"
"Jadi orang jutek."
"Enggak. Justru lebih hemat energi."
Temannya terkekeh.
"Lo tuh kalau ngomong—"
"Kenapa?"
"Nyakitin."
Nala akhirnya menatapnya.
"Berarti masih punya perasaan."
"Anjir."
Nala kembali ke ponselnya.
Selesai.
Bagi Nala, percakapan tidak perlu memiliki akhir yang menyenangkan.
Yang penting selesai.
Yumi pertama kali masuk ke kelas itu pada hari Selasa.
Tidak ada musik latar.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada tatapan pertama yang membuat dunia berhenti.
Bahkan Nala tidak menyadari keberadaannya selama hampir setengah hari.
Yumi hanya datang, memperkenalkan diri kepada guru, kemudian duduk di kursi yang kebetulan kosong di belakang.
Orangnya tenang.
Bukan tenang yang dibuat-buat.
Dia memang begitu.
Ketika kelas ribut, Yumi tetap mengerjakan tugas.
Ketika guru marah, Yumi mendengarkan.
Ketika ada teman yang bertengkar, dia tidak ikut campur sebelum tahu masalahnya.
Nala baru menyadarinya ketika suatu siang Yumi menegurnya.
"Pulpen kamu jatuh."
Nala melihat ke bawah.
"Oh."
Dia mengambil pulpennya.
Yumi kembali membaca buku.
Tidak ada percakapan lanjutan.
Aneh.
Biasanya orang akan memanfaatkan kesempatan sekecil itu untuk mengobrol.
Yumi tidak.
Nala justru merasa sedikit terganggu.
Bukan karena Yumi mengganggunya.
Justru karena Yumi tidak.
Mereka mulai sering berpapasan.
Di perpustakaan.
Di kantin.
Di lorong.
Kadang di halte.
Sampai akhirnya Nala menyadari satu hal yang agak mengganggu:
Yumi selalu membawa buku yang sama.
Bukan buku pelajaran.
Buku catatan dengan sampul kuning.
Suatu sore, Nala melihat Yumi duduk sendirian di perpustakaan.
Nala sebenarnya hanya ingin mengambil charger yang tertinggal.
Namun sebelum pergi, matanya jatuh pada buku kuning itu.
"Kamu nulis diary?"
Yumi mengangkat wajah.
"Enggak."
"Terus?"
"Catatan."
"Catatan apa?"
Yumi menutup bukunya.
"Hal-hal yang menurutku penting."
Nala mengernyit.
"Contohnya?"
Yumi berpikir sebentar.
"Hari ini hujan."
Nala menatapnya datar.
"Terus?"
"Terus aku suka hujan."
"...Itu doang?"
"Menurutmu harus ada apa?"
Nala tertawa pendek.
"Buku catatan paling nggak berguna yang pernah gue lihat."
Yumi hanya tersenyum.
"Mungkin."
Nala berdiri hendak pergi.
Kemudian Yumi berkata,
"Kalau menurutmu nggak berguna, kenapa kamu penasaran?"
Nala berhenti.
Menoleh.
Yumi sudah kembali membaca.
Nala mendengus.
"Nyebelin."
"Katanya aku tenang."
"Tenang bukan berarti nggak nyebelin."
Yumi tertawa kecil.
Itulah percakapan pertama mereka yang benar-benar terasa seperti percakapan.
Setelah itu, mereka tidak langsung menjadi teman.
Mereka hanya... terbiasa.
Nala mulai duduk di meja yang sama ketika perpustakaan terlalu penuh.
Yumi mulai terbiasa mendengar komentar-komentar pedas Nala.
"Kenapa lo selalu bawa bekal?"
"Karena lebih murah."
"Lo kaya?"
"Enggak."
"Terus?"
"Orang kaya juga bisa hemat."
Nala menatap bekalnya.
"Isinya sayur lagi."
"Aku suka."
"Lo aneh."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Aku tahu."
Nala mendengus.
Kadang Yumi membuat Nala kesal.
Kadang Nala membuat Yumi lelah.
Dan justru karena itu hubungan mereka terasa nyata.
Yumi bukan satu-satunya orang yang memahami.
Nala juga mulai belajar membaca Yumi.
Dia tahu kalau Yumi sedang lelah dari cara gadis itu menekan ujung pulpennya.
Dia tahu Yumi sedang kesal ketika jawabannya menjadi terlalu pendek.
Dia tahu Yumi sedang memikirkan sesuatu ketika matanya berhenti terlalu lama pada satu halaman.
Tetapi Yumi tidak pernah memberi tahu apa pun.
Dan Nala tidak bertanya.
Sampai suatu hari
Nala bertanya juga.
"Lo kenapa?"
Yumi menggeleng.
"Nggak kenapa-kenapa."
"Jawaban paling bohong."
Yumi menatapnya.
"Kamu juga sering bilang begitu."
Nala terdiam.
Kena.
"Ya udah."
Yumi tersenyum.
"Nah."
"Apa?"
"Kamu baru saja belajar."
"Belajar apa?"
"Bahwa nggak semua orang harus menjelaskan dirinya saat kamu bertanya."
Nala menyandarkan tubuh ke kursi.
"Lo sok bijak."
"Kadang."
Yumi tertawa lagi.
Dan entah kenapa, Nala ikut tersenyum.
Sedikit.
Hampir tidak terlihat.
Nala memang punya sisi buruk.
Dia bisa manipulatif.
Kalau tidak mendapatkan sesuatu yang dia mau, dia bisa membuat orang lain merasa bersalah.
Kalau marah, dia sengaja mengatakan sesuatu yang dia tahu paling menyakitkan.
Kadang dia meminta maaf.
Kadang tidak.
Suatu hari, Nala marah kepada Yumi hanya karena Yumi menolak menemaninya.
"Lo berubah."
Yumi memasukkan bukunya ke tas.
"Aku dari awal begini."
"Enggak."
"Menurutmu begitu."
"Biasanya lo ikut."
"Karena biasanya aku bisa."
Nala diam.
Yumi mengangkat tasnya.
"Aku pulang dulu."
Nala menatapnya.
"Ya udah."
Yumi pergi.
Nala tidak mengejarnya.
Namun malamnya, untuk pertama kalinya, Nala merasa bersalah.
Bukan karena Yumi marah.
Yumi bahkan tidak marah.
Justru itu.
Yumi tidak membalas dengan kemarahan.
Dia hanya menetapkan batas.
Dan Nala tidak terbiasa dengan orang yang tidak bisa dia tarik kembali hanya dengan membuat mereka merasa bersalah.
Keesokan harinya, Nala meletakkan sebuah minuman di meja Yumi.
Yumi melihatnya.
"Ini apa?"
"Minuman."
"Aku tahu."
"Ya udah."
Yumi tersenyum.
"Maaf diterima."
Nala mengerutkan kening.
"Gue belum minta maaf."
"Makanya aku bantu."
"Nyebelin."
"Terima kasih."
Nala hampir tersenyum.
Beberapa bulan berlalu.
Kedekatan mereka tumbuh dengan cara yang tidak pernah mereka bicarakan.
Nala mulai tahu bahwa Yumi selalu menyimpan tisu lebih banyak daripada yang diperlukan.
Yumi tahu Nala tidak suka tempat terlalu ramai.
Nala tahu Yumi sering membantu orang bahkan ketika dirinya sendiri sedang lelah.
Yumi tahu Nala tidak suka disentuh secara tiba-tiba.
Mereka tidak pernah membicarakan batas masing-masing secara formal.
Mereka hanya belajar.
Pelan-pelan.
Sampai suatu malam, semuanya berubah.
Yumi sebenarnya tidak sengaja melihatnya.
Dia sedang mencari Nala karena ponselnya tertinggal di perpustakaan.
Seorang staf sekolah mengatakan Nala sudah pergi.
Yumi keluar melalui pintu samping.
Di parkiran belakang, dia melihat sebuah mobil hitam.
Beberapa orang berdiri di sana.
Dan Nala ada di tengah mereka.
Tapi bukan Nala yang Yumi kenal.
Posturnya berbeda.
Wajahnya kosong.
Suaranya rendah.
"Sudah selesai?"
Seseorang mengangguk.
"Baik."
Yumi berhenti.
Dia tidak mendengar semuanya.
Namun satu nama cukup membuatnya diam.
"Saka."
Nala menoleh.
Mata mereka bertemu.
Wajah Nala langsung berubah.
"Yumi?"
Yumi tidak bergerak.
Nala berjalan mendekat.
"Lo ngapain di sini?"
"Nyari kamu."
"Kenapa?"
"Ponsel kamu ketinggalan."
Nala melihat ponsel di tangan Yumi.
Kemudian matanya naik kembali.
"Berikan."
Yumi menyerahkannya.
Nala mengambilnya.
"Lo lihat apa?"
Yumi diam.
Nala langsung tahu.
"Yumi."
Nada suaranya berubah.
"Aku nggak akan cerita ke siapa-siapa."
"Aku nggak nanya itu."
Nala semakin dekat.
"Aku tanya, lo lihat apa?"
Yumi menarik napas.
"Cukup."
"Cukup apa?"
"Cukup untuk tahu bahwa hidup kamu jauh lebih rumit daripada yang kamu ceritakan."
Nala tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena gugup.
"Bagus."
"Apa?"
"Berarti sekarang lo tahu."
Yumi tidak menjawab.
Nala menatapnya tajam.
"Dan?"
"Aku tetap Yumi."
Jawaban itu justru membuat Nala semakin marah.
"Jangan ngomong seolah semuanya baik-baik aja."
"Aku nggak bilang baik-baik aja."
"Lo tahu siapa gue?"
"Aku tahu sebagian."
"Lo tahu apa yang bisa terjadi kalau lo ikut campur?"
"Aku nggak ikut campur."
"Terus kenapa masih berdiri di sini?"
Yumi terdiam.
Nala menunggu.
Yumi akhirnya berkata,
"Karena kamu temanku."
Nala tertawa hambar.
"Teman?"
"Ya."
"Setelah lihat semua ini?"
"Ya."
"Lo bodoh."
"Mungkin."
"Lo seharusnya takut."
"Mungkin."
"Kenapa jawabannya selalu mungkin?"
"Karena aku nggak mau pura-pura tahu semuanya."
Nala diam.
Yumi melanjutkan,
"Aku nggak tahu siapa Saka sepenuhnya. Aku juga nggak tahu semua tentang keluargamu."
Nala menatapnya.
"Tapi aku tahu Nala."
Hening.
"Dan aku nggak akan pura-pura bahwa aku nggak mengenalmu hanya karena aku baru tahu bagian lain dari hidupmu."
Nala mengalihkan pandangan.
"Pergi."
Yumi tidak bergerak.
"Aku serius."
"Aku tahu."
"Pergi, Yumi."
Kali ini suaranya tidak terdengar marah.
Justru terdengar lelah.
Yumi mendekat.
Nala mundur.
"Jangan."
Yumi berhenti.
"Aku nggak akan menyentuh kamu."
Nala menatapnya.
Untuk beberapa detik mereka hanya berdiri.
Kemudian Nala berkata pelan,
"Kenapa lo nggak pergi?"
Yumi menjawab,
"Karena kalau aku pergi sekarang, aku takut kamu menganggap bahwa setelah seseorang tahu sisi burukmu, mereka pasti akan meninggalkanmu."
Nala terdiam.
Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Bukan rahasianya.
Ketakutannya.
Nala selalu berpikir bahwa orang hanya akan tinggal selama mereka melihat versi dirinya yang bisa diterima.
Begitu Saka muncul
mereka pergi.
Yumi justru tetap di sana.
Nala menunduk.
"Aku nggak tahu harus gimana."
Itu pertama kalinya Nala mengatakannya.
Bukan dengan sarkasme.
Bukan dengan kemarahan.
Bukan sebagai Saka.
Hanya Nala.
Yumi perlahan membuka kedua tangannya.
Tidak langsung memeluk.
Dia menunggu.
Nala melihatnya.
Lama.
Kemudian Nala sendiri yang maju.
Pelukan itu singkat.
Tidak dramatis.
Nala hanya menyandarkan kepalanya sebentar.
Seolah tubuhnya sendiri akhirnya mengakui bahwa dia lelah.
Yumi tidak berkata, "Aku akan menyembuhkanmu."
Tidak berkata, "Semuanya akan baik-baik saja."
Dia hanya berkata,
"Besok kita tetap sekolah."
Nala tertawa kecil.
Suara yang sangat pelan.
"Lo serius?"
"Iya."
"Setelah semua ini?"
"Iya."
"Kita tetap bahas tugas matematika?"
"Iya."
Nala menghela napas.
"Nyebelin."
Yumi tersenyum.
"Besok jangan lupa bawa tugas."
Nala melepaskan pelukan.
"Kalau gue lupa?"
"Aku marah."
Nala menatapnya.
"Kamu bisa marah?"
"Sesekali."
"Menakutkan."
"Bagus."
Nala akhirnya tertawa.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Nala tidak merasa bahwa dirinya harus memilih antara menjadi Nala atau menjadi Saka.
Karena ada seseorang yang mengetahui keduanya
dan tetap memanggilnya dengan nama yang sama.
Nala.