Usai, Bukan Berarti Berakhir
Ada pertemuan yang terasa seperti rumah. Sayangnya, tidak semua rumah akan tetap menjadi tempat pulang.
Langit pagi itu tampak cerah ketika bus yang ditumpangi Lisa memasuki sebuah kota di Sumatra Barat. Di pangkuannya tergeletak sebuah novel yang sejak tadi terbuka, tetapi tak satu pun halaman berhasil ia selesaikan. Perhatiannya lebih sering tertuju ke luar jendela, memandangi deretan pepohonan, bangunan, dan jalanan yang terasa begitu asing.
Hari itu adalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Setelah lulus SMA, ia akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi yang telah lama diimpikannya. Di dalam dadanya bercampur dua perasaan yang sulit dijelaskan: gugup sekaligus bahagia.
Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari Tata, sahabatnya sejak SMA.
"Lis, sudah sampai belum? Aku sudah di kos."
Senyum kecil terukir di wajah Lisa. Jemarinya segera mengetik balasan.
"Baru masuk kota. Sebentar lagi sampai."
Ia mengembuskan napas panjang sebelum kembali menatap jalan di balik kaca bus. Dalam hati ia berbisik, Semoga semuanya berjalan baik.
Tak lama kemudian, kendaraan yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang akan menjadi tempat tinggalnya selama kuliah. Bangunannya sederhana dengan cat putih yang mulai memudar. Di halaman depan, beberapa pot bunga berjajar rapi, membuat suasana kos terasa hangat.
Belum sempat Lisa mengangkat kopernya, Tata sudah berlari kecil menghampirinya.
"Lisa!"
"Tata!"
Keduanya saling tersenyum lebar. Tata langsung membantu mengangkat koper sambil berkata, "Akhirnya kita benar-benar satu kos."
Lisa mengangguk pelan. "Iya. Rasanya masih seperti mimpi."
"Dulu kita cuma sering ketemu di sekolah. Sekarang setiap hari bakal ketemu."
Lisa terkekeh kecil. "Semoga kamu nggak bosan lihat mukaku."
"Bosan? Justru aku senang."
Kalimat sederhana itu membuat hati Lisa terasa hangat. Ia merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu ada sejak masa SMA. Tinggal bersama Tata membuatnya yakin bahwa kehidupan perkuliahan tidak akan sesulit yang selama ini ia bayangkan.
Hari-hari pertama sebagai mahasiswa dipenuhi banyak pengalaman baru. Karena pandemi belum sepenuhnya berakhir, sistem perkuliahan masih dibagi menjadi dua. Sebagian mahasiswa mengikuti kelas secara daring, sementara sebagian lainnya belajar langsung di kampus. Lisa dan Tata termasuk mahasiswa yang mendapat jadwal kuliah luring. Sementara itu, dua sahabat mereka yang lain, Riri dan Mila, masih harus mengikuti perkuliahan dari rumah.
Meski terpisah jarak, mereka tetap menjaga komunikasi melalui grup percakapan.
"Titip foto kampus ya!" tulis Mila suatu siang.
"Kalau ketemu dosen galak, kasih tahu kami dulu," sahut Riri.
Tata membalas dengan cepat.
"Tenang. Kami jadi tim survei."
Lisa hanya tersenyum membaca percakapan itu. Ia memang bukan tipe orang yang banyak berbicara, tetapi bersama ketiga sahabatnya ia selalu merasa diterima apa adanya. Tidak pernah ada rasa canggung atau takut menjadi diri sendiri.
Hari demi hari berlalu dengan begitu menyenangkan. Setiap pagi Lisa dan Tata berangkat kuliah bersama. Seusai kelas, mereka sering makan di warung sederhana dekat kampus, lalu berjalan kaki pulang sambil bercerita tentang banyak hal. Sesampainya di kos, mereka mengerjakan tugas, saling bertukar cerita, bahkan terkadang memasak mi instan bersama meski hasilnya sering kali terlalu asin atau terlalu matang. Hal-hal sederhana seperti itu justru menjadi kenangan yang membuat mereka tertawa.
Suatu malam, ketika hujan turun perlahan membasahi atap kos, Tata tiba-tiba bertanya, "Lis, kalau nanti lulus kuliah, kamu pengin jadi apa?"
Lisa terdiam beberapa saat. Tatapannya mengarah ke jendela yang mulai dipenuhi embun.
"Aku..." ujarnya pelan. "Aku cuma ingin hidup tenang."
Tata mengernyitkan dahi. "Cuma itu?"
Lisa mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Iya."
Tata ikut tersenyum. "Kamu memang unik."
Lisa hanya tertawa kecil. Baginya, hidup tenang adalah impian yang sederhana, tetapi justru terasa paling sulit untuk dimiliki.
Di balik wajahnya yang selalu tampak tenang, masih tersimpan ketakutan yang tak pernah benar-benar hilang. Sejak beberapa tahun lalu, ia memiliki fobia terhadap tempat tinggi. Ketakutan itu pernah membuat tubuhnya gemetar hanya karena berdiri di lantai dua sebuah bangunan. Beruntung, seiring waktu, rasa takut itu mulai mereda. Lisa percaya bahwa dirinya telah berhasil berdamai dengan masa lalu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa kehidupannya mulai menemukan arah. Ia memiliki sahabat, memiliki tempat yang terasa seperti rumah, dan memiliki harapan bahwa empat tahun ke depan akan dipenuhi cerita-cerita indah.
Namun, Lisa belum mengetahui bahwa tidak semua orang yang datang untuk tinggal akan tetap memilih untuk bertahan. Sebab terkadang, luka yang paling sulit disembuhkan bukan berasal dari orang asing, melainkan dari mereka yang pernah kita sebut sebagai rumah.
Semester pertama berlalu lebih cepat daripada yang Lisa bayangkan. Hari-harinya dipenuhi tugas, presentasi, dan tawa kecil yang tercipta di sela-sela kesibukan. Ia mulai mengenal banyak wajah baru di kampus, tetapi hanya sedikit yang benar-benar ia ajak berbincang. Seperti biasa, Lisa lebih nyaman menghabiskan waktu dengan buku-bukunya atau berjalan pulang bersama Tata.
Memasuki semester genap, suasana kampus mulai berubah. Seluruh mahasiswa akhirnya mengikuti perkuliahan secara luring. Koridor yang sebelumnya lengang kini dipenuhi langkah kaki dan suara obrolan mahasiswa dari berbagai jurusan. Bagi sebagian orang, itu hanyalah perubahan sistem belajar. Namun bagi Lisa, itu berarti ia akan kembali berkumpul dengan dua sahabatnya, Riri dan Mila.
Hari pertama kuliah luring menjadi hari yang begitu ia nantikan.
"Lisa!"
Suara itu membuatnya menoleh. Riri melambaikan tangan dari kejauhan, disusul Mila yang langsung memeluknya.
"Akhirnya kita ketemu juga," ujar Mila sambil tersenyum lebar.
"Iya. Rasanya sudah lama sekali," balas Lisa.
Tak lama kemudian Tata datang menghampiri.
"Nah, lengkap sudah," katanya.
Empat sahabat itu berjalan menuju kantin sambil saling bercerita tentang pengalaman mereka selama kuliah daring. Tawa mereka terdengar lepas. Saat itu, Lisa benar-benar merasa semuanya akan kembali seperti dulu.
Beberapa minggu kemudian, Riri dan Mila memutuskan pindah ke kos yang sama dengan Lisa dan Tata. Meski kamar mereka berbeda, kini mereka tinggal di bawah atap yang sama.
"Biar lebih gampang kalau mau berangkat kuliah bareng," kata Riri.
"Iya, terus kalau malam bisa ngobrol sampai ngantuk," sahut Mila.
Lisa mengangguk senang. Baginya, kebersamaan seperti ini adalah sesuatu yang selama ini ia harapkan.
Malam-malam mereka kembali dipenuhi cerita. Kadang mereka membeli gorengan di depan gang kos, lalu duduk di teras sambil menikmati angin malam. Di waktu lain, mereka mengerjakan tugas bersama hingga larut.
Lisa berpikir, Mungkin inilah yang disebut masa-masa kuliah yang menyenangkan.
Namun, kebahagiaan sering kali berubah tanpa meminta izin.
Suatu sore, seorang penghuni baru datang ke kos mereka. Namanya Wela. Gadis itu ramah, mudah bergaul, dan selalu punya cerita yang mampu menghidupkan suasana.
"Kenalin, aku Wela," katanya sambil tersenyum.
"Lisa."
"Tata."
"Riri."
"Mila."
Perkenalan itu berlangsung singkat. Tidak ada yang terasa aneh.
Hari-hari berikutnya, Wela mulai sering bergabung ketika mereka makan malam atau duduk di teras kos. Lisa tidak mempermasalahkannya. Justru ia senang karena lingkaran pertemanan mereka bertambah.
Namun, tanpa disadari, kebersamaan itu mulai berubah arah.
Suatu sore, Lisa keluar dari kamar sambil membawa tas kecil.
"Tata, nanti sore jadi ke toko buku?" tanyanya.
Tata yang sedang duduk di ruang tengah mengangguk pelan.
"Jadi... tapi tunggu Wela dulu, ya. Katanya dia juga mau ikut."
"Oh... ya sudah."
Lisa tersenyum tipis.
Ia menganggap itu hal yang biasa.
Beberapa hari kemudian, Lisa kembali mengajak Tata membeli makan malam.
"Ta, lapar. Ke warung depan, yuk."
"Boleh. Eh... tunggu Riri sama Wela dulu, ya."
Lisa kembali mengangguk.
"Baik."
Ia tidak berpikir macam-macam. Mungkin memang lebih ramai kalau pergi bersama.
Tetapi beberapa hari setelahnya, saat Lisa keluar kamar untuk mengisi botol minum, lorong kos terasa begitu sepi. Kamar Tata terbuka, tetapi kosong. Kamar Riri dan Mila pun demikian.
Lisa mengernyit.
"Mereka ke mana, ya?"
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Bukan pesan dari teman-temannya.
Melainkan sebuah unggahan di media sosial.
Di layar ponselnya terlihat Tata, Riri, Mila, dan Wela sedang duduk bersama di sebuah kedai kopi. Mereka tersenyum ke arah kamera sambil mengangkat gelas minuman.
Lisa memandangi foto itu cukup lama.
Bukan karena mereka pergi tanpa dirinya.
Melainkan karena tidak seorang pun berpikir untuk mengatakan, Lisa, ikut, yuk.
Ia mematikan layar ponselnya perlahan.
Malam itu, ketika mereka kembali ke kos, suara tawa masih terdengar dari luar.
"Wah, tempatnya enak banget," kata Mila.
"Iya, lain kali ke sana lagi," sambung Wela.
Lisa yang sedang membaca buku di teras mengangkat wajahnya.
"Kalian habis dari mana?" tanyanya pelan.
"Oh... tadi cuma keluar sebentar," jawab Tata singkat.
"Iya, mendadak aja," tambah Riri.
Lisa hanya mengangguk.
"Oh... begitu."
Tidak ada yang salah dengan jawaban itu.
Namun entah mengapa, malam itu ada sesuatu yang terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya, Lisa merasa dirinya sedang berdiri di dalam lingkaran yang sama, tetapi perlahan tak lagi menjadi bagian darinya.
Ia menutup bukunya, menatap langit yang mulai dipenuhi bintang, lalu menarik napas panjang.
Di dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan yang tak berani ia ucapkan kepada siapa pun.
Apakah aku yang berubah... atau mereka yang perlahan menjauh?
Sejak malam itu, Lisa mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah. Bukan perubahan yang datang secara tiba-tiba, melainkan perlahan, seperti warna langit yang berganti tanpa pernah disadari kapan tepatnya.
Ia masih berjalan bersama mereka ke kampus. Masih duduk di meja makan yang sama. Masih tertawa ketika salah satu dari mereka melontarkan lelucon. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Ia mulai merasa sendirian, bahkan ketika sedang berada di tengah keramaian.
Suatu siang, setelah perkuliahan selesai, Lisa memberanikan diri menghampiri Tata.
"Ta, nanti pulang bareng?"
Tata tampak berpikir sejenak.
"Maaf ya, Lis. Aku sudah janjian sama Wela. Mau beli beberapa kebutuhan."
"Oh..."
Lisa tersenyum kecil.
"Besok saja."
"Iya."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa, rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh pelan di dalam hati Lisa.
Ia memilih pulang sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju kos, ia terus mencoba meyakinkan dirinya.
Mungkin memang kebetulan.
Mungkin aku saja yang terlalu sensitif.
Beberapa hari kemudian, mereka kembali berkumpul di teras kos.
Wela sedang bercerita tentang dosen yang mengajar di kelasnya. Tata, Riri, dan Mila tertawa hingga air mata hampir keluar.
Lisa ikut tersenyum, meski sebenarnya ia tidak terlalu mengerti cerita yang sedang mereka bahas.
Beberapa kali ia mencoba ikut berbicara.
"Aku pernah mengalami hal yang hampir sama..."
Kalimatnya belum selesai.
"Oh iya, Wela! Jadi yang kemarin itu gimana?" sela Riri.
Pembicaraan kembali berlanjut.
Tidak ada yang menyadari bahwa suara Lisa terhenti di tengah kalimat.
Ia kembali diam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia memilih masuk ke kamar lebih awal.
Bukan karena mengantuk.
Melainkan karena ia mulai merasa kehadirannya tidak lagi berarti.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Namun, semakin lama, Lisa semakin sering menghabiskan waktu sendirian.
Ia kembali menemukan kenyamanan di balik lembar demi lembar buku yang ia baca.
Setiap kali suara tawa terdengar dari luar kamar, Lisa hanya menaikkan volume musik di earphone miliknya.
Bukan karena tidak ingin mendengar mereka.
Tetapi karena suara itu perlahan mengingatkannya pada sesuatu yang mulai hilang.
Suatu sore, hujan turun cukup deras.
Lisa sedang membaca novel di kamarnya ketika terdengar suara pintu depan ditutup. Ia membuka sedikit tirai jendela.
Dari balik kaca, ia melihat Tata, Riri, Mila, dan Wela berjalan tergesa-gesa sambil tertawa, masing-masing membawa payung.
Mereka kembali pergi bersama.
Tanpa mengatakan apa pun kepadanya.
Lisa menatap mereka hingga menghilang di ujung jalan.
Beberapa detik kemudian, ia menutup tirai perlahan.
Kamar itu mendadak terasa lebih sunyi daripada biasanya.
"Kenapa rasanya sesakit ini?" bisiknya lirih.
Ia mencoba membaca kembali halaman novelnya.
Satu halaman.
Dua halaman.
Tiga halaman.
Namun tak satu pun kata berhasil ia pahami.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang sama.
Apa aku memang tidak cukup berarti?
Sejak saat itu, Lisa mulai sulit tidur. Setiap malam ia memikirkan banyak hal. Apakah ia pernah berbuat salah? Apakah sikapnya terlalu pendiam? Atau memang orang-orang akan selalu memilih mereka yang lebih menyenangkan?
Pikiran-pikiran itu datang tanpa henti.
Hingga suatu pagi, saat dosen mengumumkan bahwa kelas mereka akan dipindahkan ke lantai empat gedung baru, wajah Lisa seketika pucat.
Tangannya mulai terasa dingin. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Tangga demi tangga mulai ia naiki dengan napas yang tidak beraturan. Pemandangan dari lantai atas membuat tubuhnya menegang. Kedua telapak tangannya berkeringat.
Suara teman-temannya perlahan terdengar samar.
"Lisa... kamu nggak apa-apa?" tanya salah seorang teman sekelas.
Lisa menggeleng pelan.
"Aku..."
Kalimatnya terputus.
Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Ia buru-buru menjauh dari pagar balkon dan bersandar di dinding.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan ketakutan seperti itu.
Ia pikir semuanya telah berlalu.
Ternyata luka yang belum benar-benar sembuh hanya sedang tertidur.
Dan kini, ketika hatinya kembali dipenuhi rasa kehilangan, ketakutan itu bangun lagi.
Lisa memejamkan mata.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Rasa takut terhadap ketinggian...
Atau kenyataan bahwa perlahan ia kehilangan orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai rumah.
Hari-hari setelah kejadian di gedung baru itu terasa berbeda bagi Lisa. Sejak ketakutannya kembali muncul, ia lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Buku-buku yang tersusun rapi di rak menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa tenang.
Meski begitu, ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Berkali-kali ia berkata pada dirinya sendiri bahwa mungkin semua ini hanyalah kesalahpahaman. Mungkin teman-temannya memang sedang sibuk. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir.
Ia masih ingin percaya bahwa persahabatan mereka belum benar-benar berubah.
Suatu sore, Lisa memberanikan diri mengetuk pintu kamar Tata.
"Masuk, Lis," sahut Tata dari dalam.
Lisa membuka pintu perlahan. Tata sedang melipat pakaian sambil sesekali melihat layar ponselnya.
"Kamu sibuk?"
"Nggak kok. Ada apa?"
Lisa menarik napas pelan.
"Besok kan hari Minggu. Aku kepikiran... gimana kalau kita ke toko buku? Sudah lama juga kita nggak pergi berdua."
Tata tersenyum tipis.
"Boleh sih... tapi aku sudah janji sama yang lain."
"Oh..."
"Mungkin lain kali ya."
Lisa mengangguk pelan.
"Iya... nggak apa-apa."
Ia keluar dari kamar sambil tetap mempertahankan senyumnya. Namun, begitu pintu tertutup, senyum itu perlahan menghilang.
Malam harinya, terdengar suara ramai dari ruang tengah.
Lisa yang sedang membaca keluar untuk mengambil minum.
"Wah, jadi besok kita berangkat jam sembilan ya!" seru Wela.
"Jangan telat, nanti keburu ramai," sahut Mila.
"Tenang, aku siap dari pagi," jawab Tata sambil tertawa.
Lisa berdiri beberapa langkah dari mereka.
Tak ada satu pun yang menoleh.
Tak ada yang berkata, Lisa, ikut ya.
Ia hanya mengambil botol minumnya, lalu kembali masuk ke kamar.
Di balik pintu yang tertutup, ia menyandarkan punggungnya perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia berhenti mencari alasan atas semua yang terjadi.
Bukan karena mereka lupa.
Melainkan karena ia merasa mereka memang tidak lagi mengingatnya.
Keesokan paginya, suara motor terdengar meninggalkan halaman kos.
Lisa mengintip dari balik jendela.
Empat orang itu pergi bersama.
Tawa mereka terdengar samar sebelum akhirnya menghilang di ujung jalan.
Lisa menutup tirai.
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil menatap buku yang terbuka di pangkuannya.
Namun kali ini, ia tidak menangis.
Entah mengapa, hatinya justru terasa lebih tenang.
Mungkin karena akhirnya ia berhenti berharap.
Hari demi hari berlalu.
Lisa mulai mengubah rutinitasnya.
Sepulang kuliah, ia tidak lagi menunggu siapa pun untuk makan bersama. Ia pergi sendiri ke warung langganannya.
Akhir pekan yang biasanya diisi dengan menunggu ajakan teman, kini ia gunakan untuk mengunjungi perpustakaan atau duduk berjam-jam di toko buku.
Kesendirian yang dulu terasa menyakitkan perlahan berubah menjadi ruang untuk mengenal dirinya sendiri.
Suatu sore, saat sedang membaca di taman kampus, seorang teman sekelas menghampirinya.
"Hai, Lisa."
Lisa mengangkat wajah.
"Oh... Dinda."
"Kamu sering di sini ya?"
Lisa tersenyum.
"Iya. Tempatnya tenang."
"Boleh duduk?"
"Tentu."
Hari itu mereka mengobrol cukup lama. Tentang buku, tugas kuliah, dan hal-hal sederhana lainnya.
Tidak ada rasa canggung.
Tidak ada perasaan harus menjadi orang lain agar diterima.
Saat Dinda pamit pulang, Lisa menyadari satu hal.
Masih ada orang-orang yang mau hadir tanpa membuatnya merasa harus memohon untuk dianggap.
Beberapa minggu kemudian, Tata mengetuk pintu kamar Lisa.
"Lis, nanti malam ikut makan di luar, yuk."
Lisa menatap sahabatnya beberapa saat.
Dulu, ajakan seperti itu adalah hal yang paling ia tunggu.
Namun kini, rasanya berbeda.
"Makasih, Ta."
Lisa tersenyum kecil.
"Tapi malam ini aku mau menyelesaikan novel yang sedang kubaca."
"Oh... ya sudah."
Tata mengangguk lalu pergi.
Lisa menutup pintu perlahan.
Bukan karena ia ingin membalas perlakuan mereka.
Ia hanya tidak ingin lagi memaksakan diri berada di tempat yang membuat hatinya terus terluka.
Menjaga jarak ternyata tidak selalu berarti membenci.
Kadang, itu adalah cara paling lembut untuk menyelamatkan diri sendiri.
Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Tanpa terasa, semester demi semester telah Lisa lalui. Kehidupan di kampus masih sama, gedung-gedung yang setiap pagi ia lewati masih berdiri di tempatnya, dan lorong kos masih dipenuhi suara langkah para penghuninya. Namun, ada satu hal yang telah berubah.
Bukan lingkungan di sekitarnya, melainkan cara Lisa memandang semua yang pernah terjadi.
Kini ia tak lagi menunggu ajakan untuk makan bersama. Tak lagi memeriksa ponselnya berharap ada pesan yang masuk dari grup mereka. Bahkan ketika mendengar tawa Tata, Riri, Mila, dan Wela dari luar kamar, hatinya tidak lagi dipenuhi rasa sesak seperti dulu.
Ia mulai memahami bahwa waktu memang mampu mengurangi rasa sakit, meski tidak menghapus seluruh bekasnya.
Suatu sore, Lisa sedang duduk di perpustakaan kampus. Di hadapannya terbentang sebuah novel, tetapi kali ini ia benar-benar membacanya. Sesekali ia menandai kalimat yang menurutnya menarik. Kegiatan sederhana itu kembali membuatnya merasa damai.
"Lisa?"
Suara itu membuatnya mendongak.
Tata berdiri di samping meja sambil tersenyum canggung.
"Boleh duduk?"
Lisa menutup bukunya perlahan.
"Iya, silakan."
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara. Keheningan terasa begitu asing bagi dua orang yang dulu hampir selalu memiliki bahan obrolan.
"Aku... sebenarnya mau minta maaf," ucap Tata pelan.
Lisa menatapnya tanpa berkata apa-apa.
"Akhir-akhir ini aku baru sadar kalau kita sudah jarang ngobrol. Aku juga sadar sering nggak peka sama perasaanmu."
Lisa menarik napas pelan.
"Ta... aku nggak marah."
"Tapi aku tahu kamu pasti kecewa."
Lisa tersenyum tipis.
"Dulu iya."
"Dulu?"
"Iya. Dulu aku sering bertanya-tanya, apa salahku sampai aku merasa ditinggalkan."
Tata menundukkan kepala.
"Maaf."
Lisa menggeleng pelan.
"Aku sudah memaafkan kalian."
Jawaban itu membuat Tata mengangkat wajahnya.
"Benarkah?"
Lisa mengangguk.
"Karena kalau aku terus menyimpan kecewa, yang lelah itu aku sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Namun kali ini, keheningan itu tidak terasa menyakitkan.
"Tapi..." lanjut Lisa lirih, "memaafkan bukan berarti semuanya harus kembali seperti dulu."
Tata memahami maksud kalimat itu.
Ia tahu ada beberapa hal yang, sekali retak, mungkin bisa diperbaiki, tetapi bekasnya akan selalu ada.
"Aku mengerti."
Lisa tersenyum.
"Terima kasih."
Sepulang dari perpustakaan, Lisa berjalan sendirian melewati taman kampus. Langkahnya pelan, ditemani angin sore yang berembus lembut. Ia berhenti sejenak di bawah sebuah pohon yang dulu sering ia lewati bersama teman-temannya.
Anehnya, tempat itu tidak lagi membawa rasa sedih.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Dan kenangan, pada akhirnya, hanyalah bagian dari perjalanan hidup.
Malam harinya, Lisa duduk di meja belajarnya. Sebuah buku catatan terbuka di hadapannya. Ia mengambil pulpen, lalu mulai menulis.
"Ada orang-orang yang datang untuk tinggal. Ada pula yang datang hanya untuk mengajarkan bahwa tidak semua kebersamaan akan bertahan selamanya."
Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan tulisannya.
"Dulu aku mengira kehilangan mereka adalah akhir dari segalanya. Aku takut berjalan sendirian. Takut tidak lagi memiliki tempat untuk pulang."
"Namun ternyata aku keliru."
"Kesendirian mengajarkanku banyak hal. Ia mengajarkanku untuk mendengarkan diriku sendiri, menerima kekuranganku, dan memahami bahwa kebahagiaan tidak seharusnya bergantung pada siapa yang memilih untuk tetap tinggal."
Lisa menutup buku catatannya sambil tersenyum.
Di luar jendela, langit malam tampak begitu tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan ketenangan yang dulu selalu ia impikan.
Ia memang kehilangan beberapa orang.
Tetapi di saat yang sama, ia menemukan dirinya sendiri.
Dan ternyata, itu jauh lebih berharga.
Sejak hari itu, Lisa tidak lagi membenci mereka yang pernah membuatnya kecewa. Ia juga tidak menyesali perpisahan yang terjadi. Sebab ia percaya, setiap orang yang hadir dalam hidupnya selalu meninggalkan pelajaran.
Ada yang mengajarkan arti kebersamaan.
Ada yang mengajarkan arti kehilangan.
Dan ada yang mengajarkan bahwa mencintai diri sendiri bukanlah sebuah bentuk keegoisan.
Sebelum mematikan lampu kamarnya, Lisa kembali menatap langit melalui jendela yang sedikit terbuka.
Ia tersenyum, lalu berbisik pelan,
"Terima kasih... karena pernah menjadi bagian dari hidupku."
Mungkin persahabatan itu telah usai.
Namun hidupnya tidak.
Sebab usai bukan berarti berakhir. Terkadang, sesuatu harus selesai agar kita memiliki ruang untuk memulai babak yang baru.
Tamat.