Awalnya Serena tidak pernah mengira percakapan kecil dengan Dante akan menjadi sesuatu yang begitu sulit untuk dihentikan.
Mereka bertemu tanpa rencana. Tidak ada janji untuk saling memiliki. Tidak ada kata pacaran. Hanya obrolan ringan yang berubah menjadi kebiasaan.
“Lagi apa?”
“Sudah makan?”
“Jangan tidur terlalu malam.”
Pesan-pesan sederhana yang awalnya hanya untuk mengisi waktu, perlahan menjadi sesuatu yang ditunggu Serena setiap hari.
Begitu juga Dante.
Mereka tahu hubungan mereka tidak memiliki nama. Mereka menyebutnya HTS—hubungan tanpa status. Tidak ada hak untuk cemburu, tidak ada kewajiban untuk memberi kabar, dan tidak ada janji untuk bertahan.
Setidaknya, begitu seharusnya.
Namun hati tidak pernah pandai mengikuti aturan.
Awalnya Serena hanya iseng. Begitu pula Dante. Mereka saling menggoda, saling membuat nyaman, saling mencari ketika sepi.
Sampai suatu malam Dante berkata,
“Kalau suatu hari aku nggak chat kamu lagi, kamu bakal kangen nggak?”
Serena tertawa.
“Geer banget. Paling juga biasa aja.”
Dante membalas dengan emoji tertawa.
Tapi setelah ponselnya diletakkan, Serena justru terdiam.
Benarkah aku akan biasa saja?
Jawabannya ternyata tidak.
Hari-hari berlalu. Serena mulai hafal kebiasaan Dante. Cara Dante membalas pesan. Waktu Dante biasanya menghilang. Hal-hal kecil yang Dante sukai. Bahkan Serena bisa tahu ketika Dante sedang tidak baik-baik saja hanya dari satu kalimat pendek.
Dan tanpa disadari, Serena mulai jatuh cinta.
Masalahnya, Dante bukan miliknya.
Dan Serena juga bukan milik Dante.
Mereka masing-masing sudah mempunyai pasangan.
Itulah bagian paling menyakitkan dari semuanya.
Mereka saling menyayangi, tetapi tidak punya hak untuk saling memiliki.
Mereka saling merindukan, tetapi harus berpura-pura bahwa rindu itu tidak berarti apa-apa.
Mereka bisa menjadi tempat pulang ketika hati sedang lelah, tetapi tidak bisa menjadi rumah satu sama lain.
Suatu malam, Serena bertanya,
“Dante, sebenarnya kita ini apa?”
Lama tidak ada jawaban.
Kemudian pesan itu muncul.
“Entahlah.”
Satu kata.
Namun cukup untuk membuat dada Serena terasa sesak.
“Kalau kita sama-sama nggak tahu, kenapa kita masih terus begini?”
Dante tidak langsung menjawab.
Beberapa menit kemudian, ia mengetik,
“Karena aku nyaman sama kamu.”
Serena tersenyum pahit.
“Nyaman itu yang bikin semuanya jadi susah.”
Dante tahu Serena benar.
Mereka telah terjebak terlalu jauh.
Awalnya hanya iseng.
Kemudian menjadi kebiasaan.
Kebiasaan berubah menjadi kenyamanan.
Kenyamanan berubah menjadi rindu.
Dan rindu akhirnya berubah menjadi cinta.
Cinta yang seharusnya tidak pernah tumbuh.
Malam itu Serena menangis diam-diam.
Bukan karena Dante tidak mencintainya.
Justru karena mungkin Dante juga memiliki rasa yang sama.
Tetapi mereka tahu, rasa itu tidak boleh terus dibiarkan.
“Aku sayang sama kamu,” tulis Dante.
Air mata Serena jatuh.
Ia menatap kalimat itu lama sekali sebelum membalas.
“Aku juga.”
Lalu Serena mengetik lagi.
“Tapi mungkin sayang nggak selalu berarti harus memiliki.”
Dante terdiam.
“Kita punya kehidupan masing-masing. Kita punya orang yang sudah lebih dulu menunggu kita. Kalau kita terus mempertahankan ini, akan ada hati yang terluka. Dan mungkin akhirnya kita juga akan saling membenci.”
Dante hanya menjawab,
“Jadi kamu mau pergi?”
Serena menggigit bibirnya, menahan tangis.
“Aku mau belajar melepaskan.”
“Padahal aku masih sayang.”
“Aku tahu.”
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
“Aku juga nggak mau kehilangan kamu.”
“Terus kenapa harus selesai?”
Serena menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca.
“Karena kadang kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai, supaya kita tidak kehilangan diri sendiri dan tidak menghancurkan kehidupan orang lain.”
Tidak ada lagi balasan.
Malam semakin larut.
Serena tahu, setelah malam itu semuanya akan berbeda.
Tidak ada lagi pesan selamat pagi.
Tidak ada lagi pertanyaan sudah makan?
Tidak ada lagi seseorang yang diam-diam ia tunggu setiap malam.
Dan mungkin yang paling menyakitkan adalah mengetahui bahwa Dante masih ada di dunia yang sama, tetapi mereka tidak lagi boleh saling mendekat.
Beberapa hari kemudian, Serena membuka percakapan mereka untuk terakhir kalinya.
Ia membaca semua pesan lama.
Pesan-pesan yang dulu membuatnya tersenyum.
Candaan yang dulu membuatnya bahagia.
Pengakuan rindu yang sekarang terasa seperti luka.
Serena tersenyum sambil menangis.
“Terima kasih, Dante,” bisiknya.
“Terima kasih pernah membuatku merasa dicintai, meski akhirnya aku harus belajar mencintaimu dari jauh.”
Di tempat lain, Dante juga menatap percakapan yang sama.
Ia ingin mengirim pesan.
Ingin berkata bahwa ia rindu.
Ingin mengatakan bahwa ia menyesal.
Namun akhirnya ia menghapus semua yang sudah diketik.
Karena mereka sudah memilih jalan masing-masing.
Mungkin mereka memang bertemu bukan untuk bersama.
Mungkin mereka hanya dipertemukan untuk mengajarkan satu hal:
Bahwa hati bisa jatuh cinta pada siapa saja, kapan saja, bahkan kepada seseorang yang seharusnya tidak boleh dicintai.
Dan terkadang, bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah memperjuangkan agar seseorang tetap tinggal.
Melainkan merelakannya pergi.
Serena dan Dante pernah menjadi dua orang yang saling menemukan di waktu yang salah.
Mereka pernah menjadi tempat nyaman satu sama lain.
Mereka pernah saling merindukan dalam diam.
Tetapi pada akhirnya, mereka memilih berhenti.
Bukan karena sudah tidak cinta.
Melainkan karena mereka sadar—
ada cinta yang harus dilepaskan, bukan karena tidak berarti, tetapi justru karena terlalu berarti untuk dijadikan alasan menyakiti orang lain.
Sekian