Di sudut ruang rawat inap rumah sakit kelas tiga, tempat bau antiseptik bercampur dengan bau keringat dan harapan yang mulai pudar, seorang lelaki tua terbaring dengan tubuh kurus yang tinggal tulang. Namanya Haji Salman. Usianya tujuh puluh dua tahun. Dua minggu lagi, menurut dokter, ginjalnya akan berhenti total. Dia sudah menolak cuci darah. Bukan karena takut sakit, tapi karena dia sudah lelah. Bukan lelah tubuh, tapi lelah menunggu.
Haji Salman menunggu seseorang. Tiga puluh tahun dia menunggu, dan orang itu tak kunjung datang. Putra semata wayangnya, Raka, yang terakhir dia lihat saat berusia dua puluh tahun, ketika anak itu mengucapkan kata-kata yang masih terngiang sampai sekarang: "Ayah bukan ayahku lagi. Ayah hanya mesin shalat tanpa hati. Aku pergi."
Raka pergi ke luar negeri, menjadi fotografer wildlife yang terkenal, dan tidak pernah sekalipun mengirim kabar. Haji Salman hanya tahu dari media sosial yang dia pelajari sendiri di usia tua—melihat foto-foto Raka di savana Afrika, di puncak Himalaya, di tengah badai di Antartika. Dan setiap kali melihat anaknya tersenyum dalam foto, Haji Salman menangis. Bukan karena iri, tapi karena dia tahu di balik senyum itu, Raka masih menyimpan luka. Luka yang diakibatkan oleh ayahnya sendiri.
Haji Salman dulu adalah seorang hafiz. Dia menghafal Al-Qur'an tiga puluh juz, menjadi imam masjid besar, dan sangat disegani. Tapi di rumah, dia adalah orang yang dingin. Dia menghabiskan malam dengan tilawah, tapi tidak pernah mengusap kepala Raka. Dia mengajarkan Al-Qur'an pada ratusan santri, tapi tidak pernah bertanya pada Raka bagaimana harinya. Dia mengimami shalat subuh dengan khusyuk, tapi ketika istrinya meninggal karena kanker, dia hanya diam dan kembali ke masjid, meninggalkan Raka yang baru berusia lima belas tahun menangis sendirian di kamar. Raka tumbuh dengan kebencian yang diam-diam. Bukan pada Al-Qur'an, tapi pada agama yang menurutnya hanya menjadikan ayahnya lupa bahwa dia punya anak.
Hari itu, di ruang rawat inap yang pengap, Haji Salman memandangi langit-langit rumah sakit. Dia menggenggam tasbih di tangan kirinya, tangan kanannya sudah lemah tak berdaya. Bibirnya bergetar membaca doa. Dan di matanya yang keruh, ada sungai yang tak pernah kering—penyesalan.
Seorang suster muda bernama Mira masuk dengan bawa obat. Usianya dua puluh enam tahun, baru tiga bulan bertugas di ruangan ini. Mira selalu tersenyum, tapi matanya sedih. Setiap kali dia melihat Haji Salman, dia teringat pada ayahnya sendiri yang juga meninggal sendirian saat Mira sedang ujian akhir kuliah.
"Pak Haji, minum obatnya, ya," kata Mira lembut.
Haji Salman menggeleng pelan. "Nak Mira, aku tidak butuh obat. Aku butuh nomor ponsel anakku. Aku sudah minta tiga bulan, tapi kau selalu bilang tidak punya."
Mira menunduk. Sebenarnya dia tahu nomor Raka. Dia sudah menemukannya dari internet. Tapi dia ragu. Dia takut jika menghubungkan, pertemuan itu bukan pertemuan maaf, tapi pertemuan luka yang lebih dalam.
"Aku takut, Pak Haji," jawab Mira jujur. "Aku takut anak bapak tidak mau datang."
Haji Salman tersenyum. Senyum itu pahit, tapi ada kepasrahan yang aneh. "Dia akan datang, Nak. Karena aku sudah melihatnya dalam mimpiku. Malam ini dia akan menelepon. Tapi bukan untuk memaafkanku, melainkan untuk mengucapkan selamat tinggal."
Mira bergidik. "Maksud bapak?"
"Raka sakit, Nak. Leukemia stadium lanjut. Dia tidak tahu bahwa ayahnya juga sakit. Tapi malaikat malam membisikkan padaku. Raka di rumah sakit di Nairobi, Afrika. Sama seperti aku di sini. Dalam waktu bersamaan, kita akan bertemu di hadapan Allah. Bukan di dunia."
Air mata Mira jatuh. Dia tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana mungkin seorang lelaki tua yang sekarat ini tahu tentang anaknya yang sakit di seberang benua? Dan bagaimana mungkin dia mengatakannya dengan tenang seperti sedang membaca cuaca?
"Pak Haji, kalau bapak tahu itu, kenapa bapak masih tenang?"
Haji Salman menatap Mira dengan mata yang dalam—mata yang sudah melihat banyak malam dan banyak doa yang tak terjawab. "Karena aku sudah belajar, Nak. Selama tiga puluh tahun aku menunggu, aku membaca Al-Qur'an bukan lagi untuk hafalan, tapi untuk mencari satu ayat. Dan aku menemukannya di Surah Al-Baqarah ayat 216: '...Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.'"
Mira diam. Haji Salman melanjutkan, suaranya lirih.
"Aku membenci kepergian Raka, tapi ternyata kepergian itu mengajariku mencintai Allah dengan cara yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku mencintai Al-Qur'an sebagai hafalan dulu, tapi sekarang aku mencintainya sebagai obrolan tengah malam dengan Allah. Aku kehilangan Raka, tapi aku menemukan bahwa Allah tidak pernah kehilangan aku. Bahkan ketika Raka memanggilku mesin shalat, Allah masih memanggilku hamba."
Mira menangis tersedu. Dia memeluk Haji Salman dengan lembut, merasakan tulang-tulangnya yang menusuk. Dan di pelukan itu, Haji Salman berbisik, "Sekarang, tolong hubungi Raka. Biarkan kami berpisah dengan cara yang Allah ajarkan—dengan doa, bukan dengan dendam."
Mira mengangguk sambil terisak. Dia keluar ruangan, mencari sinyal, dan menekan nomor yang sudah lama dia simpan. Saat sambungan terangkat, suara Raka terdengar parau—sama lelahnya dengan Haji Salman.
"Ada apa?" suara Raka dingin, tapi ada getar di ujungnya.
Mira berusaha tenang. "Ini Mira, suster di rumah sakit di Indonesia. Ayahmu... Haji Salman... dia sudah sekarat. Dia minta bicara denganmu."
Keheningan panjang. Mira bisa mendengar Raka menahan napas. Lalu suara Raka pecah. Bukan tangis, tapi isak yang tertahan—isak orang yang sudah terlalu kuat terlalu lama.
"Aku juga sakit, suster. Leukemia. Dokter bilang dua minggu lagi."
Mira tertahan. Haji Salman benar. Segalanya benar.
"Ayahmu sudah tahu," bisik Mira. "Dia tahu kamu sakit. Dia minta maaf. Dia bilang dia mencintaimu."
Raka terisak. Bukan lagi tertahan. Jatuh. "Aku... aku belum bisa bicara dengannya, suster. Aku masih marah. Tiga puluh tahun, dia membiarkanku sendiri. Dia lebih memilih Al-Qur'an daripada aku. Bagaimana aku bisa...?" Suaranya hilang.
Mira mengambil napas dalam. "Raka, aku bisa mengirimkan video panggilan. Tapi kau harus tahu—ayahmu sudah tidak berbentuk seperti dulu. Dia kurus, lemah, tapi hatinya... hatinya begitu besar. Dia menangis tiap malam menyebut namamu. Dia sudah menyesal seribu kali. Dan Raka, dia tahu kau sakit tanpa ada yang bilang. Dia tahu dari mimpinya. Dia bilang, malaikat malam membisikkannya. Aku tidak tahu apa itu, tapi... tapi mungkin itulah cinta yang sudah berubah menjadi doa."
Raka diam lama. Lalu dia berkata, "Baik. Video call. Sekarang."
Mira berlari kembali ke ruangan. Dia mengarahkan ponsel pada Haji Salman. Wajah Haji Salman kuyu, tapi saat layar menampilkan Raka, matanya tiba-tiba hidup—bercahaya seperti bulan purnama. Dan Raka, dari jarak ribuan kilometer, terlihat kuyu dengan kepala botak, pipi cekung, tapi matanya sama—mata Haji Salman yang dulu.
"Raka..." suara Haji Salman parau, pecah.
"Yah..." suara Raka sama parau, sama pecah.
Dan mereka menangis bersama. Bukan tangis histeris, tapi tangis yang dalam—tangis orang yang kehilangan tiga puluh tahun, dan baru menyadari bahwa waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.
"Ayah minta maaf, Nak," Haji Salman merintih. "Ayah hafal Al-Qur'an, tapi ayah lupa satu ayat: bahwa kasih sayang kepada anak juga ibadah. Ayah sibuk menjadi imam di masjid, tapi lupa menjadi imam di rumah. Ayah terlalu sibuk dengan surga, sampai lupa bahwa surga ada di bawah telapak kakimu, Nak. Maaf... maaf... ayah tidak pantas jadi ayah."
Raka menutup wajahnya. Bahunya bergetar. "Aku juga minta maaf, Yah. Aku terlalu muda, terlalu bodoh. Aku tidak pernah mencoba mengerti kesibukan ayah. Aku menganggap agama ayah munafik. Padahal... padahal ayah hanya manusia yang juga berusaha. Aku pergi tiga puluh tahun, dan aku tidak pernah mendoakan ayah sekali pun. Tiga puluh tahun aku membenci, dan aku lupa bahwa ayah juga berhak bahagia."
Mira menangis di sudut ruangan. Dia tidak pernah melihat pemandangan seharat ini—dua jiwa yang terluka, saling mengakui kesalahan di ambang kematian.
Haji Salman mengulurkan tangannya yang lemah ke layar, seolah ingin menyentuh Raka. "Nak, ayah sudah memaafkanmu sejak pertama kau pergi. Bukan karena ayah suci, tapi karena ayah tahu, Allah tidak akan memaafkan ayah kalau ayah tidak memaafkan anaknya sendiri. Sekarang... sekarang ayah hanya ingin kau tahu, ayah mencintaimu. Bukan karena kau anak ayah, tapi karena kau amanah Allah yang ayah gagal jaga. Tapi cinta ayah, Nak, cinta ayah tidak pernah gagal. Cinta ayah tetap hidup, meski ayah tidak bisa menunjukkan."
Raka terisak keras. "Aku juga cinta ayah, Yah. Aku pergi karena aku kecewa, tapi aku tidak pernah berhenti mencintai. Setiap foto yang aku ambil di Afrika, di Himalaya, di Antartika... aku selalu berdoa, semoga ayah melihatnya dan bangga padaku. Tapi aku tidak tahu cara bilang."
"Allah sudah mempertemukan kita, Nak," Haji Salman berbisik. "Di akhir seperti ini. Bukan kebetulan. Ini rahmat. Awan-awan yang selama ini menangis di antara kita, sekarang mereka menangis untuk terakhir kalinya. Karena setelah ini, tidak ada air mata lagi. Hanya pertemuan di sisi-Nya."
Malam itu, panggilan berlangsung berjam-jam. Mereka berbicara tentang kenangan, tentang maaf, tentang doa. Raka menceritakan kehidupannya sebagai fotografer, dan Haji Salman mendengarkan dengan mata berbinar—bangga sebenarnya, tapi tidak pernah sempat mengucapkan. Dan Haji Salman membacakan surat Ar-Rahman untuk Raka, ayat demi ayat, dengan suara parau tapi penuh cinta.
"Fabi ayyi ala'i rabbikuma tukadziban? Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan, Nak? Aku mendustakan cinta Allah padaku, dan aku mendustakan cintaku padamu. Tapi Allah Maha Pengampun."
Tiga hari kemudian, Haji Salman meninggal. Mira yang menemukannya, dengan senyum di wajahnya yang keriput, dan buku Al-Qur'an terbuka di Surat Al-Fajr. Tangannya menggenggam foto Raka yang sudah lusuh. Di sampingnya, ponsel masih menyala—ada pesan terakhir dari Raka yang dikirim subuh itu:
"Yah, aku melihat awan dari jendela rumah sakit di Nairobi. Berwarna emas. Dan aku tiba-tiba teringat, dulu ayah pernah mengajariku tentang Surat Ar-Rahman. Aku tidak menghafalnya, tapi aku ingat satu ayat: ar-Rahmanu 'alal 'arsyistawa. Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas 'Arsy. Yah, apakah 'Arsy itu di atas awan emas? Kalau iya, aku ingin kau ada di sana, Yah, dan aku menyusul. Aku sudah memaafkan ayah. Aku sayang ayah. Sampai jumpa di awan emas itu, Yah."
Mira menutup ponsel dan menangis di samping jasad Haji Salman. Dia tidak tahu bagaimana menceritakan ini pada Raka. Tapi dia yakin, Raka sudah tahu. Karena Raka juga menerima kabar dari malaikat malam.
Tujuh hari kemudian, Raka meninggal di Nairobi. Dalam obituari yang ditulis majalah fotografi, mereka menyebut Raka sebagai fotografer yang mengajarkan dunia melihat keindahan alam. Tapi Mira tahu lebih dari itu. Raka adalah anak yang mengajarkan dunia bahwa maaf tidak pernah terlambat, selama napas masih ada.
Dan Mira, suster muda yang menjadi saksi bisu dari pertemuan dua jiwa di ujung waktu, menulis surat untuk mereka berdua dan menaruhnya di bawah pohon di halaman rumah sakit—tempat Haji Salman dulu sering duduk melihat awan.
Surat itu berbunyi:
"Untuk Haji Salman dan Raka. Kalian adalah bukti bahwa cinta bisa sakit, tapi cinta juga bisa menyembuhkan jika kita mau menengadah. Awan-awan yang menangis di antara kalian selama tiga puluh tahun, akhirnya berhenti menangis di hari perpisahan. Dan dalam diamku, aku belajar bahwa Allah tidak pernah menutup pintu maaf. Dia hanya menunggu kita membukanya sendiri. Aku akan selalu melihat awan emas dan mengirimkan doa untuk kalian berdua. Sampai jumpa di sana, di atas awan yang sama. - Mira."
TAMAT
Pesan Moral:
· Penyesalan dan maaf tidak pernah terlambat, selama hayat masih dikandung badan.
· Cinta kepada Allah tidak boleh membuat kita lupa mencintai manusia di sekitar kita, terutama keluarga.
· Setiap derita dan perpisahan adalah cara Allah mengajarkan kita untuk lebih rendah hati dan lebih dekat kepada-Nya.
· Kematian bukanlah akhir, melainkan pertemuan dengan Cinta yang Sejati.
Karya: ACENG THOYYIB AN-NAWAWY