Rintik gerimis tipis masih menyisa di atas daun-daun teh yang membentang hijau bagai karpet raksasa di kawasan perkebunan Rancabali, Ciwidey. Udara dingin membeku, mencapai dua belas derajat celsius, menusuk hingga ke balik jaket gunung tebal yang dikenakan Aldebaran Airlangga.
Enam bulan telah berlalu sejak malam kelam di bukit observatorium itu—malam ketika Stella berjalan pergi meninggalkan luka bernanah di dada Al, malam ketika seluruh impian pernikahan dan pengorbanan tiga tahun runtuh menjadi abu. Sejak hari itu, Al hidup seperti rakit tanpa dayung. Pekerjaannya sebagai data scientist tetap berjalan otomatis, namun jiwanya kekeh, hampa, dan dingin. Untuk menyembuhkan batinnya yang babak belur, Al memutuskan mengasingkan diri ke daerah pegunungan Bandung Selatan, membawa serta kamera DSLR dan teleskop portable-nya, berharap sepi pegunungan bisa menambal celah hatinya yang bolong.
Pagi itu, fog tebal membungkus perkebunan teh. Al berjalan menyusuri pematang tanah basah, menikmati aroma tanah lembab dan wangi pucuk teh yang menyegarkan. Kamera mengantung di lehernya.
Lalu, sebuah suara melengking jernih memecah keheningan kabut.
"Aduh, Ambuuu! Ieu manuk teh naha bet gaya pisan, dina sirah urang saeutik gak permisi!"
Al terhenti. Langkah kakinya terpaku.
Di antara deretan semak teh yang sejajar, berdiri seorang gadis. Wajahnya kemerahan alami digigit udara dingin, pipinya yang mulus tanpa sapuan foundation tampak merona pink seperti buah persik segar. Ia mengenakan caping bambu agak miring, sweater rajut warna kuning kunyit yang agak kebesaran, serta sarung motif batik yang dililitkan rapi di pinggangnya. Tangan gadis itu sedang sibuk mengibas-ibas topi bambunya dengan ekspresi wajah yang sangat drama namun polos luar biasa.
"Naha atuh Manuk, mani teu sopan pisan ka geulis..." gerutu gadis itu lagi pada seekor burung gereja yang santai bertengger di ranting pohon kayu manis tak jauh darinya.
Al terpana. Di balik lensa kameranya, secara refleks jemari Al menekan tombol shutter.
Clek.
Cahaya pagi yang menerobos kabut menangkap kilau mata gadis itu—mata yang begitu jernih, bebas dari segala kepalsuan, manipulasi, atau kerumitan gaya hidup perkotaan yang selama ini mencekik Al. Tidak ada sisa kecemasan, tidak ada topeng kebohongan. Hanya kepolosan murni yang meluap-luap.
Gadis itu mendengar bunyi kamera. Ia menoleh kaget. Matanya membelalak lebar, lalu dengan sigap ia bersembunyi di balik semak teh, hanya menyisakan caping dan matanya yang mengintip takut-takut.
"Saha eta?! Ulah macam-macam ya, urang jerit ieu! Pangarit di dieu loba, siah!" serunya dengan logat Sunda Ciwidey yang sangat kental, cepat, dan renyah.
Al tertawa pelan—sebuah tawa jujur pertama yang keluar dari tenggorokannya setelah enam bulan tenggelam dalam depresi. Gaya melankolis Al yang biasanya puitis dan tegang, mendadak mencair oleh ketakutan konyol gadis di hadapannya.
Al mengangkat kedua tangannya ke atas, mencoba bersikap sesantun mungkin. "Punten... maaf, Neng. Saya bukan orang jahat. Saya cuma turis... eh, juru foto. Maaf tadi terpesona, maksudnya terkejut lihat Neng."
Gadis itu perlahan keluar dari balik semak teh, memegang tangkai pemetik teh seperti memegang pedang samurai. Ia mengamati Al dari ujung kepala sampai ujung kaki—menatap jaket tebal Al, sepatu hiking-nya, dan ketampanan wajah Al yang tegas namun teduh khas pria kota.
"Juru foto? Ngarannya saha, A? Lain penculik anak perawan, kan? Soalnya kata Ambu di kampung, jaman ayeuna loba penjahat gaya kota nu sukanya nyulik budak polos," katanya polos tanpa disaring sama sekali.
Al tersenyum makin lebar. Rasa geli melingkupi dadanya. "Nama saya Aldebaran. Panggil saja Al. Saya bukan penculik, Neng. Sungguh. Saya cuma mau jalan-jalan cari udara segar."
"Ooh, A Al..." Gadis itu menurunkan pemetik tehnya, lalu mengelap tangannya ke sarungnya sebelum mengulurkan tangan dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putih yang rapi. "Nami urang Virginia. Tapi tong panggil Virginia, ribet. Panggil wae Nia. Urang asli budak sini, perkebunan teh Rancabali."
"Nia..." Al menjabat tangan hangat gadis itu. Tangannya agak kasar khas pekerja keras, tapi terasa sangat jujur.
Sejak detik pertemuan konyol itu, dunia Al yang tadinya abu-abu dan sepi mendadak berubah warna menjadi warna-warni yang riuh.
Ternyata, Nia adalah penyegar jiwa yang selama ini dibutuhkan Al tanpa ia sadari. Gadis perawan berusia dua puluh satu tahun itu adalah anak seorang petani teh lokal. Polosnya Nia bukan dibuat-buat; ia benar-benar gadis desa yang jarang tersentuh kepalsuan kota. Ia tidak punya akun media sosial yang merumitkan hidup, tidak peduli merk pakaian, dan pemikirannya sangat sederhana: jika hari ini ada nasi, sambal terasi, dan teh hangat, maka dunia sedang baik-baik saja.
Selama seminggu bermalam di sebuah homestay kecil dekat perkebunan, Al selalu menyempatkan diri bertemu Nia setiap sore setelah gadis itu selesai memetik teh. Al yang biasanya irit bicara dan tenggelam dalam kalkulasi data, tiba-tiba rela belajar bahasa Sunda hanya demi bisa mengimbangi obrolan kocak bersama Nia.
"Nia, kalau saya mau bilang 'kamu cantik banget hari ini' pakai bahasa Sunda, gimana?" tanya Al suatu sore saat mereka duduk di atas bukit batu memandangi hamparan kebun teh yang berkabut.
Nia yang sedang mengunyah bala-bala hangat langsung tersedak. Ia memandangi Al dengan mata membelalak konyol.
"Aduh A Al, ulah sembarangan gombal! Bahaya eta teh!" seru Nia sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik. "Lmun rek ngomong kitu, ngomongna begini: Neng Nia mani geulis pisan harita. Tapi ulah dikomongkeun ka urang! Urang mah gampang baper, engke teu bisa sare!"
Al tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit. "Kenapa kalau gak bisa tidur?"
"Pan engke mikiran A Al terus! Ambu pan ultimatim, cenah Nia ulah bobogohan heula mun lalakinga can jelas. A Al kan orang kota, engke mun Nia diajak ka Jakarta, Nia bingung naik mobilna, sieun utah!" racot Nia polos, membuat angin dingin Ciwidey terasa hangat seketika.
"Saya gak akan bikin Nia muntah di mobil," bisik Al pelan, matanya menatap dalam pada manik mata hitam Nia. "Kalau Nia ke Jakarta sama saya, saya jagain."
Pipi Nia langsung merona merah padam, kalah merah dibanding buah stroberi Ciwidey yang siap panen. Gadis itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berpura-pura batuk. "Aduh, A Al... ulah kitu atuh. Urang mah pusing mun dipandangin kitu teh. Asa aya kupu-kupu ngarumpul dina weteng!" (Serasa ada kupu-kupu kumpul di perut!)
Bagi Al, Nia adalah obat. Dulu, bersama Stella, setiap obrolan adalah negosiasi ego, ekspektasi karier, dan gengsi sosial. Tapi bersama Nia, obrolan tentang hal sekonyol burung gereja atau rasa bala-bala yang terlalu asin bisa menjadi sumber kebahagiaan yang meluap-luap. Nia mengajarkan Al cara tertawa tanpa beban, cara mencintai kesederhanaan, dan cara melihat dunia tanpa prasangka.
Namun, luka masa lalu Al tidak serta-merta hilang. Ada malam-malam di mana Al terbangun dari tidurnya, tersergap bayang-bayang pengkhianatan Stella yang masih merayap pelan. Rasa takut akan dikhianati lagi, rasa ragu apakah pria kota usia 30-an seperti dirinya layak mendapatkan kepolosan murni seperti Nia, kerap membuat Al termenung di teras homestay-nya, memandangi bintang-bintang dengan teleskopnya.
Hari terakhir Al di Ciwidey pun tiba.
Sore itu, hujan turun agak deras. Suasana Ciwidey persis seperti adegan-adegan puitis dan dramatis dalam film Heart—di mana setiap tetes air yang jatuh membawa gema kerinduan, kepasrahan, dan keberanian hati yang sedang diuji.
Al berdiri di saung kayu di tengah perkebunan teh, memegang payung hitam. Di depannya, Nia berdiri bersedekap, menatap Al dengan mata yang berkaca-kaca. Kepolosan konyol yang biasanya menghiasi wajah gadis itu kini berganti menjadi rasa sedih yang mendalam.
"A Al mau pulang ke Jakarta hari ini?" tanya Nia, suaranya agak bergetar ditelan deru hujan yang menimpa atap saung.
"Iya, Nia. Liburan saya sudah selesai. Tugas-tugas di kota sudah menumpuk," jawab Al pelan. Tangannya meremas gagang payung.
Nia menunduk, memainkan ujung sarungnya. "Ooh... gitu. Ya wis atuh. Nanti A Al pasti lupa sama Nia. Di Jakarta kan loba cewek geulis, nu bajunya bagus, nu pinter ngomong bahasa Inggris. Nia mah cuma budak pemetik teh nu baunya bau daun basah."
Al melangkah mendekat. Ia meletakkan payungnya di sudut saung, lalu memegang kedua bahu Nia. Rasa hangat merayap di antara dinginnya udara gunung.
"Nia, dengarkan saya," suara Al melunak, begitu romantis dan dalam, membawa seluruh getaran jiwa seorang pria yang pernah hancur namun kini telah menemukan penyembuhnya. "Sebelum saya datang ke Ciwidey, hati saya ini seperti bintang yang mati. Hancur, gelap, dan gak ada harganya. Saya pernah mengorbankan segalanya untuk orang yang salah, sampai saya lupa gimana caranya tersenyum."
Nia mendongak, menatap mata Al yang jernih.
"Tapi lalu saya ketemu gadis konyol yang marah-marah sama burung gereja di tengah kebun teh," lanjut Al dengan senyum tipis yang amat tulus. "Gadis yang bikin saya ketawa lagi. Gadis yang mengajarkan saya bahwa kebahagiaan itu ternyata sangat sederhana. Nia... kamu itu obat buat saya. Kamu cahaya yang bikin bintang mati di dada saya menyala lagi."
Nia terpaku. Air matanya menetes satu per satu di pipinya yang kemerahan. "A Al..."
Al menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia menatap wajah jelita asli Sunda di hadapannya itu dengan kepenuhan rasa cinta yang tak lagi bisa ditahan.
"Nia, urang bogoh ka anjeun," ucap Al dengan bahasa Sunda patah-patah namun diucapkan dari kedalaman hatinya yang paling murni. "Saya menyukai Nia. Bukan cuma suka, tapi saya mau jaga Nia. Saya gak mau hilang kepolosan dan kebaikan di mata ini. Mau kan... tunggu saya balik lagi ke Ciwidey untuk ketemu Ambu dan Bapa kamu?"
Hujan di luar semakin deras, membungkus saung kayu itu dalam kedap aura romansa yang magis.
Nia terpana. Ia mengusip air matanya dengan lengan sweater kuningnya, lalu tiba-tiba terkekeh pelan di tengah isaknya—sebuah respons konyol khas Nia yang membuat Al makin jatuh cinta.
"Aduh A Al..." bisik Nia sambil menutupi wajahnya yang makin merah. "Ngaromantisna mani jago pisan kaya dina sinetron! Tapi... ngomongna urang bogoh ka anjeun teh agak kaku, A. Nu bener mah: A Al bogoh ka Nia!"
Al tertawa pelan, lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Nia tidak menolak. Gadis polos itu menyandarkan kepalanya di dada Al, mendengarkan detak jantung pria 30-an itu yang berpacu cepat.
"Iya, Nia. A Al bogoh ka Nia. Sangat," bisik Al di samping telinga Nia, menghirup aroma alami pucuk teh dan hujan dari rambut gadis itu.
Di tengah deru hujan Ciwidey yang menyejukkan, Aldebaran Airlangga tahu bahwa luka masa lalunya telah benar-benar sembuh. Di pelukan gadis polos dari perkebunan teh ini, ia tidak hanya menemukan cinta yang baru, tetapi juga menemukan kembali dirinya sendiri yang telah lama hilang. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Al tidak lagi takut akan masa depan—karena ia tahu, ke mana pun ia melangkah, cahaya paling indah telah menunggu untuk menyambutnya pulang.