Aroma kayu jati tua yang lembap selalu punya cara tersendiri untuk memanggil ingatan. Setiap kali angin malam berhembus membawa bau tanah basah dan jelaga dupa yang samar, ingatan saya terlempar jauh ke sebuah rumah joglo bermaterialkan kayu jati hitam di pinggiran sebuah kota kecil. Rumah milik Eyang Buyut.
Di rumah itu, ada satu pintu yang tak pernah benar-benar terbuka lebar. Pintu itu terletak di sudut paling gelap dari lorong tengah, terbuat dari papan kayu tebal yang telah melengkung dimakan usia. Gagang pintunya terbuat dari kuningan kusam yang selalu dingin bila disentuh. Bagi saya yang kala itu baru berusia delapan tahun, pintu itu bukan sekadar pembatas ruangan; ia adalah sebuah teka-teki yang berhembus pelan, berbisik setiap kali malam mencapai puncaknya.
"Ada apa dengannya, Mah?" tanya saya pada suatu sore, ketika melihat Eyang Buyut Kakung berjalan terbungkus sarung tenun gelap menuju kamar itu. Langkah kakinya lambat, terseret, seolah-olah ada beban seberat gunung yang mengikat kedua pergelangan kakinya.
Ibu yang sedang memotong daun pisang di dapur mendadak menghentikan pisau. Bunyi sruk yang konstan itu terputus seketika. Ibu menatap saya dengan mata yang melebar—bukan mata seorang ibu yang marah karena anaknya nakal, melainkan mata seorang penakut yang memergoki bahaya sedang mendekat.
"Jangan pernah tanyakan kamar itu lagi, Nawa!" suara Ibu bergetar, setengah berbisik, setengah membentak. Tangannya yang memegang pisau gemetar tipis. "Jangan pernah melirik ke sana, jangan pernah mendekat. Kalau kamu lihat Eyang masuk, kamu palingkan muka. Mengerti?"
Rasa takut anak kecil biasanya dikalahkan oleh rasa penasaran yang jauh lebih raksasa. Bentakan Ibu bukannya memadamkan api ingin tahu dalam dada saya, melainkan menyiramnya dengan minyak. Mengapa kamar itu terlarang? Mengapa setiap kali jam dinding kayu di ruang depan berdenting tiga kali di tengah malam, ada aroma asap manis yang menyelusup lewat celah bawah pintu itu?
Kesempatan itu datang di suatu sore yang muram. Hujan deras turun membasahi genteng tanah liat, menciptakan irama monoton yang meredam semua bunyi di dalam rumah. Eyang Buyut Putri sedang menumbuk sirih di teras depan, sementara Ibu pergi ke pasar desa. Eyang Buyut Kakung, seperti biasa, baru saja menyelinap masuk ke dalam kamar rahasia itu.
Dengan langkah setipis angin, saya merayap menyusuri lorong kayu yang dingin. Setiap pijakan lantai papan berderit halus, membuat jantung saya berdegup kepingan-kepingan ketakutan. Namun, saya tidak berhenti. Saya menahan napas persis di depan pintu bermotif ukiran kawung yang separuh lapuk itu.
Lubang kuncinya besar, khas buatan zaman kolonial. Seukuran ibu jari anak-anak.
Saya berlutut di atas lantai kayu yang berdebu. Hidung saya langsung dihantam aroma yang melekat amat kuat: paduan antara melati busuk, minyak cendana, dan keasaman darah kental. Bau yang membuat perut mual, tetapi ada kehangatan aneh yang menyengat saraf hidung.
Saya mendekatkan mata kanan ke lubang kunci kuningan itu.
Penglihatan saya terbatas pada lingkaran kecil penuh cahaya remang. Di dalam sana, tidak ada kasur empuk atau lemari pakaian seperti kamar normal. Ruangan itu hampir kosong, kecuali sebuah meja kayu rendah di tengah-tengahnya.
Di atas meja itu, tampak sebuah nampan kuningan berisi sesajen lengkap: kembang setaman yang kelopaknya kehitaman, beras kuning, telur ayam kampung yang pecah dan mengalirkan kuningnya ke permukaan kayu, serta dua batang dupa yang asapnya meliuk-liuk kaku—bukan membubung ke atas, melainkan membelit sebuah benda di tengah meja.
Benda itu berupa cawan minyak berbahan perunggu kusam dengan cerat panjang dan gagang melengkung. Bentuknya persis seperti lampu minyak kuno dalam dongeng-dongeng Timur Tengah—lampu Aladin yang sering saya lihat di buku cerita. Namun, tak ada keajaiban yang indah dari lampu itu. Cahaya lidah api yang keluar dari ceratnya berwarna merah pekat, menyinari kepulan asap yang seolah-olah memiliki jemari sendiri, meraba-raba udara ruangan.
Di depan meja itu, Eyang Buyut Kakung duduk bersilatututup. Punggungnya yang bungkuk tampak bertelanjang dada. Dan yang membuat darah saya mendadak membeku adalah apa yang ada di punggungnya: serat-serat hitam seperti akar pohon mati seolah menyembul dari bawah kulitnya, bergerak-gerak secara halus seiring dengan helaan napasnya yang berat.
Eyang Buyut Kakung sedang bergumam, menderaskan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang bernada rendah, serak, dan pecah. Tiba-tiba, kepalanya terangkat. Bukan menatap meja, melainkan berputar hampir seratus delapan puluh derajat ke arah pintu.
Ke arah lubang kunci. Ke arah mata saya.
Mata Eyang Buyut Kakung tidak memiliki bagian putih. Semuanya hitam, sejelaga minyak yang terbakar di dalam cawan perunggu itu.
Saya menjerit, tetapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokan saya yang mendadak kering. Saya mundur ketakutan hingga punggung membentur dinding lorong. Pada saat yang bersamaan, sebuah tangan dingin dan gemetar merenggut bahu saya dengan kasar.
Ibu sudah berdiri di sana. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap oleh air mata yang siap tumpah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ibu menyeret saya menjauh dari lorong itu, mengunci saya di dalam kamar tidur utama, dan merangkul saya sangat erat hingga tulang rusuk saya terasa sakit.
"Jangan pernah cerita pada siapa pun," bisik Ibu malam itu di telinga saya, tangisnya pecah dalam diam. "Jangan pernah, Nawa... kalau kamu mau keluarga kita tetap bernapas."
Saya tidak pernah menceritakannya. Saya menyimpan rahasia tentang lampu perunggu, asap bercabang jemari, dan mata hitam Eyang Buyut Kakung di dasar ingatan terkunci rapat-rapat.
Tak sampai satu bulan sejak sore naas itu, Eyang Buyut Kakung meninggal dunia.
Proses kematiannya bukanlah sebuah kepulangan yang tenang. Selama tujuh hari tujuh malam, beliau terbaring di ruang tengah, meraung-raung seperti binatang liar yang terperangkap dalam jaring. Dari tenggorokannya keluar bunyi derik dahak yang aneh, dan setiap kali dokter atau kiai desa datang membesuk, ruangan itu mendadak berbau bangkai kamboja yang membusuk di bawah terik matahari.
Pada malam ketujuh, tatkala napas terakhirnya lepas, tubuh Eyang Buyut Kakung mengering dengan sangat cepat—seperti spons yang diperas habis airnya.
Namun, duka itu tidak berlangsung lama. Keretakan dalam keluarga kami baru saja dimulai.
Beban yang ditinggalkan Eyang Buyut Kakung tidak menguap bersama asap mayatnya. Beban itu berpindah. Seperti hukum alam yang tak terelakkan, energi gelap yang mendiami kamar berlubang kunci kuningan itu membutuhkan wadah baru.
Eyang Buyut Putri yang semula hanya seorang wanita tua pemdiam dan rapuh, berubah drastis dalam hitungan minggu. Langkah kakinya yang dulu diseret, kini menjadi cepat dan ringan. Setiap jam tiga pagi, pintu kamar rahasia itu kembali menghembuskan bau dupa dan minyak cendana. Eyang Buyut Putri mengambil alih peran itu, menjadi penjaga cawan perunggu dan penjamu bagi sosok yang tak pernah tersentuh cahaya matahari.
Dua tahun kemudian, Eyang Buyut Putri pun menyerah. Tubuhnya digerogoti penyakit misterius yang membuat kulitnya melepuh seperti terkena siraman minyak panas dari dalam.
Malam sebelum Eyang Buyut Putri menghembuskan napas terakhir, seluruh keluarga berkumpul. Rumah tua itu terasa sangat dingin, meski semua jendela tertutup rapat. Di tengah remang lampu minyak, beberapa sesepuh desa yang berwajah samar dan tidak pernah saya kenal sebelumnya hadir di ruang tengah.
Mereka membawa sebuah wadah kayu berukir. Di dalamnya, terbaring gulung kain putih—kain kafan polos yang baunya amat menyengat, seperti campuran kapur barus dan melati kering.
"Ibumu anak perempuan tertua," paman saya, Adik dari Ibu, berbisik kaku di sudut ruangan saat itu. Matanya merah, kantung matanya menghitam parah. "Pilihan ada di tangannya."
Malam itu, Ibu dipanggil masuk ke dalam kamar rahasia bersama para sesepuh dan jasad Eyang Buyut Putri yang masih hangat. Saya menyelinap di balik tirai pembatas ruang tengah, menyaksikan segalanya dari kegelapan.
Di dalam kamar, lampu perunggu itu menyala sangat terang. Cahaya merahnya memantul pada kain putih yang diangkat oleh salah satu sesepuh.
"Ambil kain ini, Sri," kata suara serak yang seolah datang bukan dari tenggorokan manusia, melainkan dari dasar sumur tua. "Teruskan perjanjian darah ini. Anak-cucumu akan dipelihara, rezekimu tak akan putus, tanahmu akan meluas. Cukup beri kamar ini bagiannya setiap selasa kliwon."
Ibu berdiri kaku di depan meja. Tubuhnya bergetar hebat. Saya bisa melihat jemari Ibu mengepal sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tidak," jawab Ibu. Suaranya pelan, tetapi membelah kesunyian kamar yang mencekam.
"Sri... kalau kamu menolak, tumbalnya adalah keselamatan darah dagingmu sendiri!" seru salah seorang sesepuh dengan nada mengancam.
"Saya tidak mau!" suara Ibu naik satu oktaf, berubah menjadi jeritan keputusasaan. "Saya tidak akan menjual jiwa anak saya untuk lampu terkutuk ini! Saya tidak sanggup ritualnya! Saya tidak sudi makan dari uang hasil darah!"
Ibu membalikkan badan dan berlari keluar dari kamar itu, menabrak tirai hingga saya hampir terjatuh. Malam itu juga, Ibu memboyong saya dan membawa kami pergi hanya dengan dua tas pakaian, meninggalkan rumah joglo tua, meninggalkan Eyang Buyut Putri yang belum sempat dimakamkan, meninggalkan segalanya.
Tahun-tahun berlalu bagai arus sungai yang tenang namun menghanyutkan. Saya tumbuh dewasa, menikah, dan kini telah memiliki anak sendiri—Gaven. Kami hidup sederhana di sebuah rumah kecil yang terang, far from the shadows of that old joglo house.
Namun, ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya bersembunyi di sudut memori, menunggu momen yang tepat untuk mencuat kembali.
Hari ini, Ibu berkunjung ke rumah saya. Usia telah melukis garis-garis keriput yang dalam di wajahnya, tetapi mata Ibu selalu menyimpan kelelahan yang sama—kelelahan dari seorang wanita yang pernah berlari melintasi neraka untuk menyelamatkan keturunannya.
Sambil menyeduh teh hangat di dapur, saya memperhatikan Ibu yang sedang memangku Gaven. Jemari Ibu yang gemetar mengelus kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. Namun, tiba-tiba bau itu tercium lagi. Hanya selintas, tetapi sangat jelas: bau kapur barus dan cendana yang terbakar.
Jantung saya berdegup kencang. Penglihatan masa kecil itu meledak kembali di dalam kepala saya. Lampu perunggu berwujud cawan Aladin, mata hitam tanpa putih, dan gulungan kain putih.
Saya duduk di hadapan Ibu, meletakkan dua cangkir teh yang asapnya membubung tipis.
"Mah..." panggil saya pelan.
Ibu mendongak, menatap saya dengan pandangan lembut. "Kenapa, Nawa?"
Saya menelan ludah, mencoba menata kata-kata yang telah tertahan di tenggorokan saya selama puluhan tahun. "Aku mau tanya sesuatu. Dan tolong... jangan marah lagi seperti dulu."
Ibu mengernyitkan dahi. "Tanya apa?"
"Waktu aku masih kecil... waktu kita masih tinggal di rumah Eyang Buyut," kata saya dengan suara bergetar. "Aku pernah ngintip lewat lubang kunci kamar belakang. Aku lihat ada sesajen, dupa, dan... cawan lampu minyak kuno yang mirip lampu Aladin. Waktu itu aku tanya sama Mamah, tapi Mamah marahin aku habis-habisan."
Jari-jemari Ibu yang sedang membelai rambut Gaven mendadak berhenti. Wajahnya yang hangat perlahan-lahan kehilangan warnanya. Keheningan merayap masuk ke dalam ruang tamu kami, begitu berat hingga bunyi detak jarum jam dinding terasa menembus gendang telinga.
"Berarti... yang dulu aku lihat itu beneran ya, Mah?" tanya saya lagi, menatap lurus ke dalam manik mata Ibu. "Ada perjanjian di kamar itu, kan?"
Ibu menarik napas panjang. Helaan napasnya terdengar sangat berat, seolah membakar oksigen di sekitarnya. Dia mengangguk sangat pelan.
"Bener, Nawa," bisik Ibu. Suaranya begitu parau, membawa kebenaran yang selama ini tersimpan rapat. "Kamu tidak salah lihat. Apa yang kamu intip hari itu... adalah neraka yang mengikat keluarga kita selama tiga generasi."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ibu.
"Eyang buyutmu menjual keselamatan garis keturunan kita demi kelangsungan hidup dan kekayaan. Lampu minyak kuno itu... itu wadah penampungnya. Setiap malam, tempat itu minta diberi makan. Bukan cuma bunga dan telur, Nawa... tapi jiwa."
"Waktu Eyang Putri meninggal," lanjut Ibu, tangannya meremas taplak meja hingga kusut, "Mamah ditunjuk untuk jadi penerusnya. Mereka menyodorkan kain putih itu ke tangan Mamah. Kain putih itu syarat kesepakatan baru. Kalau Mamah terima, Mamah harus melanjutkan semua ritual gila di kamar itu. Mamah harus memberi makan lampu itu setiap selasa kliwon..."
Ibu menatap saya dengan mata yang dipenuhi penderitaan mendalam. "Tapi Mamah lihat kamu, Nawa. Kamu masih kecil. Mamah tahu, kalau Mamah ambil kain itu, suatu hari nanti, giliran kamu yang akan disodori kain kafan itu. Mamah tidak sanggup. Mamah lebih baik hidup miskin dan dikejar-kejar bayangan daripada harus menumbalkan kamu."
Saya memegang tangan Ibu yang dingin. "Makasih ya, Mah... Makasih sudah nolak..."
Namun, Ibu tidak tersenyum. Air matanya menetes jatuh ke pangkuannya. Gelengan kepalanya membuat dada saya mendadak sesak.
"Kamu tidak mengerti, Nawa..." kata Ibu, suaranya kini berubah menjadi bisikan yang paling mengerikan yang pernah saya dengar dalam hidup saya. "Perjanjian itu tidak pernah benar-benar batal. Perjanjian darah tidak bisa dihentikan begitu saja hanya karena satu orang menolak."
"Maksud Mamah apa?" tanya saya, darah saya rasanya mendadak berhenti mengalir.
Ibu menatap ke arah jendela luar rumah yang mulai digelip kegelapan malam.
"Kalau anak perempuan tertua menolak..." kata Ibu kaku, "kain putih itu akan dicari oleh wadah berikutnya yang memiliki pertalian darah. Lampu itu tidak boleh membiarkan apinya padam."
"Lalu... siapa?" tanya saya gagap. "Siapa yang mengambil kain putih itu, Mah?"
Ibu berpaling menatap saya. Dalam matanya, tidak ada lagi rasa takut, melainkan kepasrahan yang teramat kelam.
"Adik laki-laki Mamah," jawab Ibu pelan. "Pamanmu. Dia yang datang malam itu setelah kita pergi. Dia yang mengambil kain putih dari wadah kayu. Dia yang sekarang tinggal di rumah tua itu, meneruskan ritual di kamar belakang..."
Bulu kuduk saya berdiri tegak secara serentak. Paman saya—pria yang jarang sekali berkumpul dalam acara keluarga, pria yang selalu terlihat pucat dengan kantung mata menghitam dan rumahnya yang selalu tertutup rapat di desa sebelah.
"Sekarang pamanmu yang nerusin," bisik Ibu, menggenggam tangan saya begitu erat hingga kuku-kukunya menekan kulit saya. "Dia yang memelihara lampu itu sekarang, Nawa. Dan kamu tahu apa yang paling membuat Mamah takut?"
Saya tidak sanggup menjawab. Saya hanya bisa menggeleng lemah.
Ibu mendekatkan wajahnya ke telinga saya. Bau kapur barus dan melati busuk itu mendadak menguat, menyengat parat, seolah-olah berhembus langsung dari celah lubang kunci kayu tua puluhan tahun lalu.
"Pamanmu tidak punya anak laki-laki," bisik Ibu dengan napas yang terengah-engah. "Dia cuma punya anak perempuan... dan anak laki-laki satu-satunya di garis keturunan keluarga kita sekarang... adalah Gaven."
Seketika itu juga, angin malam menghempas jendela ruang tamu saya hingga berderit keras. Di dalam pangkuan Ibu, Gaven yang tadinya tertidur lelap, mendadak terbangun dan menjerit menangis ketakutan.
Dari luar pintu rumah saya yang terkunci rapat, samar-samar tercium bau cendana terbakar dan kepulan asap manis yang perlahan merayap masuk lewat celah bawah pintu.