Rian melemparkan kunci mobilnya ke atas meja kaca, menimbulkan dentang nyaring yang bergema di ruang tamu megah berpenerangan temaram. Rumah ini selalu seperti ini: luas, mewah, namun mati. Dari arah dapur, tidak ada aroma masakan. Dari ruang keluarga, tidak ada suara tawa. Ibu yang selalu sibuk dengan arisan pejabat dan bisnis butiknya serta Ayah yang hampir tinggal di kantor, hanya menganggap rumah ini sebagai tempat transit.
"Rian, wanita mana lagi yang kamu bawa ke cafe tadi sore?" suara dingin Ayah terdengar dari balik koridor.
Rian terkekeh sinis tanpa menoleh. "Bukan siapa-siapa. Cuma teman."
"Teman yang berganti setiap minggu? Kamu membuat nama keluarga kita tercoreng!" bentak Ayah.
Rian mengepalkan tangannya. Mereka tidak pernah tahu. Mereka tidak pernah mau tahu bahwa Rian pernah menghabiskan malam-malamnya memeluk adiknya, Leo, yang menangis ketakutan saat demam tinggi sementara kedua orang tua mereka berada di gala dinner luar negeri. Rian tidak pernah menyentuh perempuan-perempuan itu secara fisik lebih dari sekadar menggandeng tangan atau duduk bersama. Gonta-ganti pasangan adalah satu-satunya cara membuat namanya muncul di meja makan, meski hanya dalam bentuk caci maki. Itulah satu-satunya cara Rian mendapatkan perhatian.
"Terserah," gumam Rian dingin.
"Kamu tidak bisa terus-terusan begini," suara Ibu menimpalinya, muncul dengan gaun malam yang anggun. "Bulan depan kamu akan menikah."
Langkah Rian terhenti. Ia berbalik, menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. "Apa?"
"Pernikahan bisnis dengan keluarga Wijaya. Kamu akan dijodohkan dengan Sheila," tegas Ibu. "Hanya pernikahan siri atau hukum yang dirahasiakan dulu. Tidak ada resepsi sampai kalian berdua lulus kuliah. Ini demi kestabilan saham perusahaan."
Nama itu membuat dada Rian makin sesak. *Sheila.* Gadis centil, berisik, dan selalu tebar pesona setiap kali keluarga mereka bertemu. Gadis yang tampak dangkal dan hanya peduli pada riasan wajah serta pakaian mahal.
---
Bulan berganti, dan pernikahan tanpa pesta itu benar-benar terjadi di sebuah ruangan sempit kantor catatan sipil, hanya dihadiri saksi inti. Tidak ada gaun putih megah, tidak ada cincin mahal yang dipamerkan. Sheila dan Rian kini resmi menjadi suami istri di mata hukum dan agama, namun hidup mereka berjalan bak dua asing yang terpaksa berbagi atap apartemen yang dibelikan orang tua mereka.
Di sekolah, status mereka sepenuhnya rahasia. Rian masih berstatus sebagai kekasih Katya, gadis populer yang garang dan impulsif. Rian belum memutuskan Katya—bukan karena cinta, tetapi karena ia terbiasa menggunakan Katya sebagai benteng pertahanan dari realitas rumah tangganya yang kacau.
Suatu sore di lorong belakang sekolah yang sepi, Rian mendengar keributan.
"Punya hak apa kamu mendekati Rian di kantin tadi?" suara Katya terdengar melengking, penuh dorongan intimidasi.
Rian menghentikan langkahnya di balik pilar. Di sana, Sheila berdiri tersudut. Seragam sekolahnya agak kusut, dan bahunya didorong kasar oleh Katya serta dua temannya. Sheila, yang biasanya selalu bersikap genit dan penuh percaya diri di depan umum, kini hanya menunduk, menggigit bibirnya erat-erat agar tidak menangis.
"Aku cuma minta tolong catatannya..." cicit Sheila pelan.
"Jangan pura-pura polos! Kamu pikir aku nggak tahu kamu sering tebar pesona ke Rian? Kamu itu cuma gatal!" dorong Katya sekali lagi hingga tubuh Sheila membentur dinding.
Sheila tidak membalas. Ia tahu betul janji rahasia yang mengikatnya: *tidak ada yang boleh tahu tentang pernikahan ini sampai lulus.* Jika ia melawan dan membongkar rahasia, perjanjian bisnis keluarganya bisa hancur. Sheila menahan rasa sakit dan hinaan itu sendirian.
Tiba-tiba rasa bersalah yang luar biasa menghantam dada Rian. Gadis yang selama ini ia anggap centil dan menyebalkan itu ternyata sedang menanggung beban berat akibat keegoisan orang tua mereka dan ketidaktegasan Rian sendiri.
Rian melangkah keluar dari balik pilar. "Katya, cukup."
Katya terkejut. "Rian? Kamu lihat kan, cewek ini—"
"Kita putus," potong Rian tegas. Suaranya datar namun tak tertahankan.
"Apa?! Kamu mutusin aku gara-gara cewek centil ini?!"
"Bukan gara-gara dia. Tapi karena aku sadar, aku nggak seharusnya memanfaatkamu untuk lari dari masalahku," kata Rian. Ia menggandeng tangan Sheila dengan erat, mengabaikan teriakan histeris Katya yang ditinggalkan di lorong.
---
Malam itu, di apartemen mereka, suasana sangat sunyi. Sheila duduk di tepi ranjang, mengompres lengannya yang memar akibat dorongan Katya. Rian masuk membawa kotak obat, lalu duduk di sampingnya tanpa kata.
Rian mengambil alih kain kompres itu. Tangannya bergerak lembut mengusap kulit Sheila.
"Kenapa kamu nggak membela diri?" tanya Rian pelan.
Sheila menatap Rian, matanya berkaca-kaca. Senyum centil yang biasa ia tampilkan kini menghilang, berganti dengan raut wajah yang sangat rapuh. "Kalau aku melawan dan bilang kita sudah menikah, Ibu dan Ayahku akan kecewa. Pernikahan ini penting buat mereka, Rian. Aku cuma nggak mau jadi anak yang gagal."
Rian terpaku. Kalimat itu menembus dadanya. Ternyata mereka sama: dua anak yang terabaikan, yang mengorbankan diri demi mendapatkan sedikit pengakuan dari orang tua yang terlalu sibuk mengejar dunia. Sheila tidak tebar pesona karena genit; itu hanya caranya untuk menutup keesepian dan rasa tidak percaya dirinya.
"Maafkan aku," bisik Rian tulus. "Aku yang bikin kamu kena masalah."
Sheila menggeleng pelan, air matanya akhirnya menetes. Rian mengusap pipi Sheila dengan ibu jarinya, lalu merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, tidak ada jarak di antara mereka. Kehangatan tubuh mereka menyatu dalam simpati dan pemahaman yang mendalam.
Di dalam kamar yang temaram itu, dinding pertahanan yang mereka bangun masing-masing akhirnya runtuh. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang sarat akan emosi. Dalam dekapan hangat dan kecupan lembut yang penuh dengan kerinduan akan rasa dicintai, mereka menyatukan rasa sakit, kesepian, dan harapan baru. Malam itu menjadi titik balik: mereka bukan lagi dua asing yang dipaksa bersatu, melainkan sepasang suami istri yang saling menemukan perlindungan di tengah dinginnya dunia.
---
Sejak malam itu, segalanya berubah.
Apartemen yang tadinya sepi kini dipenuhi gelak tawa. Rian tidak pernah lagi terlihat berjalan dengan wanita lain di luar. Fokusnya kini tertuju sepenuhnya pada Sheila dan adiknya, Leo, yang sering Rian ajak menginap di apartemen mereka. Sheila dengan penuh kasih sayang merawat Leo, memasakkan makanan hangat setiap malam, dan memberikan kehangatan keluarga yang selama ini tidak pernah dirasakan oleh kedua bersaudara tersebut.
Ketika di sekolah, Rian dan Sheila tetap menjaga rahasia pernikahan mereka sesuai kesepakatan, namun ada pandangan mata yang kini saling menguatkan di antara kerumunan siswa. Rian bukan lagi anak nakal yang mencari perhatian lewat drama, dan Sheila bukan lagi gadis yang kesepian. Mereka menjadi tim yang kompak, saling mendukung dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari, siap menghadapi masa depan dan hari resepsi mereka kelak sebagai pasangan yang benar-benar utuh.