Langit Cikampek sore itu mendung. Rintik hujan mengetuk jendela kelas 5B.
Bu Aisyah, guru TK yang sudah 20 tahun mengajar, sedang membereskan meja sebelum pulang. Sudah 3 hari ini beliau cuti karena sakit. Hari ini beliau masuk lagi, meski wajahnya masih pucat.
Di sudut laci meja, ada amplop coklat lusuh. Tidak ada nama pengirim. Hanya tulisan tangan kecil:
_"Untuk Bu Aisyah. Tolong buka kalau sudah sembuh."_
Tangan Bu Aisyah gemetar saat membuka. Di dalamnya ada selembar kertas origami berbentuk burung, dan surat.
> _Bu,
> Ini aku, Dafa. Murid Bu 10 tahun lalu.
> Dulu aku anak paling nakal di TK. Suka rebutan mainan, suka coret tembok, suka bikin Bu nangis.
> Tapi Bu nggak pernah marah. Bu cuma bilang: "Dafa anak hebat. Nanti pasti jadi orang baik."
>
> Aku nggak percaya waktu itu.
> Sampai 2 tahun lalu Mama aku sakit. Aku nggak punya siapa-siapa. Ingat kata Bu, aku coba kerja. Dari cuci piring, jadi kasir, sekarang alhamdulillah aku buka usaha kecil.
>
> Hari ini aku bawa anakku daftar TK. Aku bilang ke dia: "Nak, cari guru yang seperti Nenek Aisyah ya. Yang sabar, yang percaya kamu hebat, walau kamu masih suka jatuh."
>
> Maaf baru berani nulis surat. Maaf baru berani bilang:
> Terimakasih Bu. Karena Bu, aku percaya aku bisa jadi kuat.
>
> Murid Bu yang dulu nakal,
> Dafa_
Air mata Bu Aisyah jatuh ke kertas origami itu. 20 tahun mengajar, beliau sering bertanya: "Apa yang aku tanam, akan tumbuh nggak ya?"
Hari ini, jawabannya terbang seperti burung origami di tangannya.
Malamnya, Bu Aisyah posting foto burung origami itu di grup wali murid. Captionnya singkat:
_"Kegiatan hari ini: menerima bukti bahwa menjadi guru itu tidak pernah sia-sia. Terimakasih ya Allah sudah menguatkan saya 20 tahun ini."_
Besok paginya, 30 anak TK datang bawa gambar burung. Katanya: "Bu, kami mau jadi anak hebat juga. Seperti Kak Dafa."
15 tahun berlalu.
TK Melati sekarang punya gedung baru. Catnya warna kuning cerah. Di gerbangnya ada tulisan:
_"Yayasan Pendidikan Aisyah - Didirikan oleh Dafa & Aisyah"_
Di ruang guru, ada satu meja paling pojok. Di atasnya ada vas bunga segar tiap hari. Dan di laci mejanya... masih ada burung origami pertama dari Dafa. Sudah menguning, tapi tetap disayang.
Hari ini hari pertama Aisyah mengajar.
Aisyah, anaknya Dafa. Umur 19 tahun. Baru lulus kuliah PG-PAUD. Rambut dikuncir, pakai baju guru warna putih. Tangannya gemetar megang absen.
"Bu... aku takut," bisik Aisyah ke Ayahnya pagi tadi.
Dafa cuma jawab: "Nak, Nenek Aisyah dulu juga takut. Tapi lihat, 30 burungnya sekarang udah terbang kemana-mana."
Bel masuk berbunyi. 20 anak TK lari masuk kelas. Rame. Berisik. Ada yang nangis, ada yang rebutan kursi.
Aisyah menarik napas. Ingat pesan Ayah: _"Kalau lelah, buka laci itu."_
Dia buka. Di dalamnya ada surat baru. Tulisan tangan Ayah:
> _Untuk Aisyah,
> Selamat mengajar anak.
> Dulu Nenekmu pernah bilang: "Guru itu bukan nyetak anak pintar. Guru itu nyetak anak yang berani percaya diri."
> Kalau ada murid nakal, ingat Ayah dulu ya. Kalau ada yang bilang capek, ingat Nenek ya.
> Kuat ya Nak. Karena kamu juga keturunan wanita kuat.
> Ayah bangga._
> _— Dafa_
Aisyah senyum sambil lap air mata. Dia berdiri.
"Selamat pagi anak-anak hebat!"
"Selamat pagi Bu Guru!" jawab kompak.
"Hari ini kita mau main apa?"
"Main burung!" teriak mereka.
Aisyah kaget. "Kok tau burung?"
Seorang anak maju. "Ibu kepala sekolah bilang. Dulu ada Nenek Guru yang ajarin kita semua buat jadi burung. Yang berani terbang."
Mata Aisyah panas.
Seharian itu dia ngajarin "Kepala Pundak Lutut Kaki". Ngajarin mewarnai keluar garis. Ngajarin bilang "terimakasih".
Sama persis seperti yang dulu Nenek Aisyah lakukan ke Ayahnya.
Pulang sekolah, ada satu anak yang diam di pojok. Namanya Raka. 5 tahun. Bajunya lusuh, matanya sembab.
"Kenapa Nak?" tanya Aisyah pelan.
"Aku... aku sering dipukul Om. Aku nggak pinter Bu."
Aisyah jongkok. Memeluk.
"Raka, denger ya. Bu dulu juga pernah denger cerita. Ada anak nakal banget. Tapi ada gurunya yang bilang dia hebat. Dan beneran, dia jadi hebat.
Jadi kamu juga hebat. Mulai hari ini ya."
Dia selipin burung origami kecil ke tangan Raka. "Ini jimat. Kalau sedih, pegang ini. Ingat ada Bu Guru yang percaya kamu."
*5 Tahun Kemudian*
Berita di TV: _"Pemuda 20 tahun asal Cikampek, Raka Pratama, raih juara 1 Olimpiade Sains Nasional. Anak dari keluarga tidak mampu ini bilang, gurunya di TK yang pertama kali bilang dia 'hebat'."_
Di layar, Raka pegang medali. Dan di tangannya... burung origami yang sudah pudar.
Cut ke TK Melati.
Aisyah sekarang Kepala Sekolah. Di dinding ruangannya penuh foto: foto Nenek Aisyah, foto Ayah Dafa wisuda guru, foto dia dan anak-anak.
Di lacinya sekarang bukan cuma 1 surat. Ada ratusan. Dari mantan murid.
Isinya semua sama:
_"Bu, terimakasih sudah percaya aku hebat, saat aku sendiri nggak percaya."_
Malam itu Aisyah nulis surat juga. Dia masukkan ke laci.
> _Untuk muridku nanti,
> Kalau kamu baca ini, berarti kamu sudah jadi guru juga.
> Ingat ya. Kuat itu bukan nggak nangis.
> Kuat itu nangis di kamar mandi, wudhu, sholat, terus besok masuk kelas lagi dengan senyum.
> Karena ada Allah yang menguatkan. Dan ada anak-anak yang nunggu kita.
> Terbanglah Nak. Seperti Nenek, seperti Ayah, seperti kamu._
> _— Bu Aisyah_
Dia tutup laci. Di luar, angin menggerakkan gantungan burung origami di "Taman Burung Aisyah". Ratusan. Warna-warni.
Warisan seorang wanita kuat, terus mengepak.
*TAMAT - SELESAI*