Salju tipis mulai turun membalut jalanan berbatu di Altstadt Zurich, menyelimuti deretan bangunan berarsitektur Gotik dengan lapisan putih yang dingin. Di balik jendela kaca sebuah kafe kecil di tepi Danau Zurich, aroma kopi hitam dan kayu manis menyeruak hangat. Namun, hangatnya ruangan itu tak mampu menyentuh sepasang insan yang duduk saling berhadapan dalam keheningan yang mencekam.
Samuel—yang di paspor resminya bernama Samuel von Grafenried—menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin. Jemarinya yang berotot dan terlatih memegang senjata kini gemetar tipis. Di hadapannya, Danielle Paramita duduk tegak. Wajah cantiknya kaku, tatapan matanya yang biasa hangat bagai sinar matahari musim panas di Pegunungan Alps, kini sedingin badai salju di puncak Matterhorn.
"Kau hanya diam, Samuel?" suara Danielle terdengar halus, namun ketajamannya mampu mengiris udara. "Setelah semua yang kita lalui di Zurich, di Jenewa, di antara ancaman bernyawa dan laras senjata... kau hanya bisa diam?"
Samuel mengangkat wajahnya. Di balik manik matanya yang kelam, tersimpan keletihan yang luar biasa. Beban yang selama ini ia pikul seorang diri seolah meremukkan tulang-tulangnya.
Orang-orang yang melihat dari luar—termasuk Danielle saat ini—mungkin menganggap Samuel pria yang bingung, plin-plan, atau ragu-ragu. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah berjalan semenit pun di dalam sepatu boot-nya yang penuh debu dan darah misi.
---
Samuel tidak pernah meminta dilahirkan sebagai bagian dari keluarga Von Grafenried, salah satu dinasti bangsawan dan pebisnis paling berpengaruh di Swiss. Jika boleh memilih, ia hanya ingin menjadi Samuel Pradipta, seorang pria biasa yang bekerja sebagai pengajar atau arsitek di pinggiran Lucerne, mencintai wanita yang ia pilih, dan hidup tenang tanpa bayang-bayang intrik politik keluarga.
Namun, takdirnya ditandai oleh tragedi.
Tujuan utamanya masuk dalam kepolisian federal Swiss (Fedpol) bukanlah demi karir atau kehormatan. Semuanya bermula dari permohonan terakhir ibunya yang histeris dan hancur secara mental demi menyelidiki hilangnya Julian Rahardian, adik kandung Samuel yang lenyap tanpa jejak lima tahun lalu. Target utama penyelidikan pribadi Samuel adalah keluarga Kusuma—konglomerat misterius yang dicurigai terlibat dalam jaringan perdagangan gelap internasional dan korupsi di Eropa Tengah.
Namun, tugas sebagai agen Fedpol tidak sesederhana itu. Tepat ketika Samuel hendak melacak jejak Kusuma di Basel, perintah langsung turun dari Komandan Divisi Khusus. Samuel diperintahkan menyusup dan menyelidiki Dominik Danendra, seorang tokoh elit berpengaruh yang diduga menjadi dalang pencucian uang. Misi negara harus didahulukan di atas misi pribadi. Samuel terpaksa menunda pencarian adiknya demi menjalankan perintah penyelidikan terhadap Dominik Danendra terlebih dahulu.
Dan di tengah-tengah jaring laba-laba itulah, ia bertemu Danielle.
Awalnya, Samuel mendekati Danielle dengan niat memanfaatkan kedekatan wanita itu dengan lingkungan Dominik dan keluarga Kusuma. Danielle adalah kunci. Tapi nasib mempermainkan Samuel. Di antara kejar-kejaran mobil di jalanan terjal Interlaken, tembakan jarak dekat di dermaga Lugano, dan malam-malam mencekam saat memblokir serangan musuh, Samuel jatuh cinta. Ia terjebak oleh perasaannya sendiri.
"Samuel," panggil Danielle lagi, memutus lamunan panjang Samuel. Danielle menyilangkan tangan di dada, mantel bulunya membingkai bahunya yang tegap. "Aku butuh kejelasan. Jika kau memang mencintaiku, kenapa kau selalu menahanku di ambang pintu? Kenapa kau selalu berjarak?"
Samuel mengepalkan tangannya di bawah meja. Bagaimana bisa aku menjelaskan semuanya padamu, Danielle? batinnya menjerit.
Bagaimana Samuel bisa melangkah bebas, sementara ia tahu Danielle dulunya adalah kekasih Julian? Samuel tidak mungkin berasumsi bahwa adiknya sudah meninggal dunia. Selama jasad Julian belum ditemukan di dasar danau atau di bawah tumpukan salju abadi, Julian masih hidup di pikiran Samuel. Perasaan bersalah karena mencintai wanita yang pernah dicintai adiknya sendiri membakar jiwa Samuel setiap malam.
Belum lagi janji yang diucapkannya saat menjenguk Julian di rumah sakit beberapa tahun lalu sebelum adiknya hilang—janji untuk selalu melindunginya dan tidak merebut bahagianya. Coba dalami janji itu!
Coba dalami juga janji Samuel kepada ibunya saat mereka bertemu secara sembunyi-sembunyi di Singapura beberapa bulan lalu. Ibunya, dengan mata sembap dan tubuh makin menggerogoti sakit, memegang erat tangan Samuel sambil menangis: "Bawa Julian kembali, Samuel. Jangan pikirkan bahagiamu sebelum adikmu pulang. Keluarga Von Grafenried tak boleh hancur!"
Betapa besarnya beban yang dipikul Samuel seorang diri!
Desakan dari ayahnya yang menuntutnya menjaga martabat nama Von Grafenried, perintah tegas dari atasannya di Fedpol yang tak boleh dilanggar sedikit pun, beban untuk memastikan keselamatan seluruh anggota tim operasionalnya di lapangan, dan... keselamatan Danielle. Ya, Danielle. Samuel sengaja menjaga jarak justru untuk menyembunyikan Danielle dari jangkauan musuh-musuhnya. Jika keluarga Kusuma atau kelompok Dominik tahu betapa berharganya Danielle bagi Samuel, wanita itu akan menjadi sasaran empuk.
"Andai aku tidak terlahir sebagai seorang Von Grafenried..." suara Samuel akhirnya keluar, parau dan berat. Ia menatap mata Danielle dengan seluruh kejujuran yang tersisa. "...mungkin perjalanan hubungan kita akan jauh lebih mudah, Danielle."
---
Danielle terkekeh sinis. Senyum dingin terukir di bibirnya. Perkataan Samuel tidak menyentuh hatinya yang sudah telanjur dipenuhi rasa kecewa.
Sebagai seorang wanita karir yang cerdas, sukses memimpin perusahaan konsultan keuangan di Geneva, Danielle terbiasa dengan kepastian dan logika angka. Namun dalam urusan hati, kecerdasan itu seolah tertutup oleh rasa egois dan harga diri yang terluka.
Danielle melupakan begitu saja seribu kebaikan dan pertolongan Samuel selama ini. Dia lupa bagaimana Samuel membuang tubuhnya ke tanah untuk melindungi Danielle dari ledakan bom mobil di Zurich. Dia lupa bagaimana Samuel bertaruh nyawa menembus badai salju di Zermatt demi membawakannya obat saat ia kritis terkena racun musuh. Dia lupa bahwa setiap helai napas aman yang dihirupnya saat ini adalah hasil dari keringat dan darah Samuel yang bekerja di balik layar.
Di hadapan Samuel saat ini, Danielle memilih bersikap dingin. Tanpa mengedepankan kecerdasannya sebagai wanita terdidik dalam memutuskan perkataannya, Danielle memotong percakapan itu dengan nada melepaskan.
"Aku tidak bisa lagi mengharapkan apa-apa darimu, Samuel," kata Danielle datar. "Aku lelah berada di dalam bayang-bayang ketidakpastianmu. Kau selalu punya alasan, selalu punya rahasia. Aku butuh pria yang nyata, yang bisa memberiku status dan kepastian di depan dunia."
Samuel menatapnya tak percaya. Status?
Begitu mudahnya Danielle menghapus seluruh perjuangan hidup dan mati Samuel hanya karena sebuah status pernikahan formal? Danielle memang sering berkata bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, tapi perilakunya saat ini justru menunjukkan betapa ia tergesa-gesa memaksakan kehendak hanya karena usia dan desakan sosial.
"Danielle, ini bukan soal aku tidak mau membawamu ke altar," bisik Samuel, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Ini soal keselamatanmu. Soal janji dan tugas yang belum selesai—"
"Cukup, Samuel," potong Danielle sambil berdiri. Ia merapikan mantelnya. "Aku tak ingin mendengar alasan Von Grafenried lagi."
Tepat saat itu, sebuah mobil sedan hitam berkilat berhenti di depan kafe. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berpenampilan rapi keluar membawa payung. Dia adalah Rafi, seorang rekan kerja Danielle di Jenewa.
Rafi berjalan mendekat ke pintu kafe. Ketika Danielle melangkah keluar, wajah Danielle yang tadi begitu dingin dan kaku di depan Samuel, mendadak berubah. Danielle memasang wajah ceria, tersenyum manis, dan menyapa Rafi dengan nada hangat yang begitu renyah.
Samuel memperhatikan dari balik kaca jendela kafe. Hatinya serasa dihantam palu godam.
Rafi—pria yang secuil pun belum pernah berjasa dalam hidup Danielle, pria yang tidak pernah berdarah-darah melindunginya, pria yang hanya hadir di saat-saat nyaman sebagai rekan kerja biasa—kini disambut dengan senyuman terbaik Danielle. Sementara Samuel, pria yang mempertaruhkan nyawanya berulang kali demi wanita itu, hanya mendapatkan tatapan dingin dan kata-kata penolakan.
Bahkan jika hanya dianggap sebagai teman, perasaan seseorang yang pernah menolong kita seharusnya dijaga. Apalagi perasaan Samuel, seseorang yang selama ini membentengi nyawa Danielle dari maut. Sungguh berdosa tindakan Danielle yang sengaja memamerkan keceriaan di depan pria lain tepat di hadapan Samuel yang sedang hancur.
Samuel mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tidak heran banyak orang yang ngebet nikah hanya karena sudah berusia, bukan karena cinta yang murni, batin Samuel pahit. Mereka mengejar status demi menutupi ketakutan akan usia, lalu membuang cinta tulus yang penuh dengan pengorbanan rumit.
---
Mobil yang membawa Danielle dan Rafi perlahan melaju menghilang di balik tirai salju yang kian lebat. Samuel tetap duduk di sudut kafe, menatap jalanan yang kini kosong.
Seorang rekan agen Fedpol yang menyamar sebagai pelayan mendekati meja Samuel dan meletakkan sebuah berkas rahasia. "Samuel, rahasia keluarga Kusuma dan jaringan Dominik Danendra sudah terbongkar. Dan... kami menemukan jejak Julian di sebuah fasilitas tersembunyi di perbatasan Austria. Dia masih hidup."
Samuel memejamkan mata rapat-rapat. Air mata hangat akhirnya menetes di pipinya yang dingin. Adiknya masih hidup. Misi ibunya, janji adiknya, dan tugas negaranya kini menemukan titik terang. Pengorbanannya, penderitaannya, dan kesendiriannya selama ini tidak sia-sia.
Ia tahu, Danielle mungkin tidak akan pernah mengerti. Danielle mungkin akan melangkah pergi, mencari kenyamanan instan bersama orang lain seperti Rafi, atau siapapun yang menawarkan status tanpa memahami kedalaman pengorbanan.
Namun bagi Samuel, perasaannya tidak akan pernah berubah.
Samuel berdiri, mengenakan topi fedora dan mantel panjangnya. Sebelum melangkah keluar menembus badai salju Zurich untuk menyelesaikan misi terakhirnya, ia menatap ke arah danau yang membeku.
Cinta yang tulus tidak diukur dari seberapa cepat seseorang mendapatkan status di depan hukum atau manusia. Cinta yang tulus adalah kesetiaan jiwa yang melampaui logika dan kepentingan pribadi. Jika cinta itu benar-benar murni, maka ketika takdir tidak menyatukannya dengan orang yang dicintai, hatinya tidak akan pernah berpaling kepada siapapun lagi. Jiwanya akan tetap terkunci, setia pada satu nama dalam keabadian.
Samuel melangkah keluar. Langkah kakinya menembus salju tebal, meninggalkan jejak-jejak tajam di atas bumi Swiss. Hatinya mungkin terluka dan berdarah, namun jiwanya tetap teguh—sebab sampai kapan pun, ia adalah pria yang selamanya Terikat Cinta.