Adipati Sagara, akhirnya setelah empat tahun menjalani pendidikan di Akademi Militer dia dinyatakan lulus. Satu pencapaian sudah dia raih, yaitu memenuhi amanat mendiang sang Ayah. Melanjutkan perjuangannya menjadi seorang Tentara.
"Alhamdulillah Sagara lulus, Pak!"
Walaupun hanya di hadiri oleh Ibu dan Paman nya, Sagara tak kecewa. Karena dia tau, dia telah kehilangan teman dan seorang gadis yang dia cintai.
Ya, dia kehilangan semua itu. Dan semua itu salahnya, karena Sagara pergi tanpa pamit. Dia menghilang begitu saja, tepat setelah kelulusan SMA itu di umumkan.
"Maafin aku, Ay.. Aku janji akan kembali dengan Sagara versi terbaik.."
Sagara terlalu jumawa, dia tidak tau takdir yang ada didepan seperti apa. Dia tidak tau, keputusan sepihak itu akan menghancurkan seseorang.
Surabaya. Sagara ditempatkan di Kota itu, tempat dinas pertamanya. Selama berada di Akmil, Sagara tak pernah pulang. Dia takut pertahanan yang selama ini dia bangun, goyah begitu saja. Baru setelah dinas ini, Sagara memutuskan untuk mengambil cuti dan pulang ke Kota asalnya.
"Tunggu aku ya, Ay.. Aku pulang.."
Rasanya tak sabar, selama ini Sagara hanya berhubungan dengan satu teman baiknya saja, Damar Bagaskara.
Kota Bandung, cuaca nya sejuk dan menenangkan hati. Kediaman Sagara kini penuh oleh kerabat yang sangat merindukannya. Sagara pun tak memungkiri, dia rindu rumah. Rumah yang empat tahun lamanya dia tinggalkan.
"Kamu mau kemana, Gara?" tanya sang Ibu, karena Sagara sudah berpenampilan rapi.
"Mau ketemu Damar, Bu. Kangen juga udah lama ga ketemu," jawab Sagara.
Usai berpamitan pada sang Ibu, Sagara pun menyalakan motor vespa peninggalan sang Ayah. Vespa tua yang penuh dengan kenangan masa sekolah.
Warkop Saung Jati. Tempat nongkrong Sagara dan teman-temannya dulu. Damar sudah datang lebih dulu, lelaki itu tak banyak berubah. Hanya saja sekarang, mereka jauh lebih rapi.
"Mar!" panggil Sagara dan keduanya pun saling menyapa.
Banyak sekali hal yang mereka bicarakan, hingga Sagara tak sabar untuk menanyakan satu hal itu.
"Kamu masih ada kontak sama Risa?" tanya Sagara.
Risa adalah sahabat baik Kanaya, dan melalu Damar dan Risa mereka bisa berkenalan.
"Gila! Ya udah lama enggak lah, Gar! Kita udah lama putus juga, pokoknya abis aku keterima kuliah di Jogja ya udah ending aja." jawab Damar.
"Aku kira masih," Sagara terkekeh.
"Terakhir aku ketemu dia di Saparua, dua bulan yang lalu itu pun gak sengaja pas lagi lari sore. Aku sapa dia sih, cuman ya gitu canggung aja jadinya anjir!"
"Saparua? Sore ini lari yuk disana! Udah lama juga gak kesana, sambil sekalian jajan!" ajak Sagara dan Damar menyetujuinya.
Entah takdir atau memang kebetulan, Sagara dan Damar bertemu dengan Risa. Perempuan itu sempat berdiri kaku tak percaya.
"Apa kabar, Risa?" tanya Sagara dan Risa hanya diam saja.
Bukan apa-apa, sore ini Risa sudah berjanji akan bertemu dengan Kanaya disana. Dan jika Kanaya bertemu dengan Sagara, bisa tambah hancur dunianya.
"A-aku baik! Long time no see ya, Gara, Damar!" sebisa mungkin Risa menyembunyikan kegugupannya.
"Sendirian, Ris?" tanya Damar, dia menatap perempuan yang pernah mengisi hari-harinya itu.
"Aku sama temen kantor, kebetulan kita janjian disana!" tunjuk Risa pada sebuah Cafe. "Aku duluan, ya! Takutnya temenku udah nunggu!"
Tanpa mendengar jawaban kedua lelaki itu, Risa pergi terburu-buru. Dia langsung menghubungi Kanaya agar bertemu di tempat lain. Sayangnya Kanaya tidak mengangkat teleponnya.
"Dimana sih Lo, Ayyaaa!!" kesal Risa.
Dia tidak ingin sahabatnya itu bertemu dengan Sagara, karena kini kondisi mental Kanaya sedang tidak baik-baik saja. Risa mengajaknya untuk olahraga sore, agar Kanaya bisa sedikit melupakan luka yang sedang menerpa nya.
"Kanaya.."
Sagara melihatnya, Kanaya masih sama seperti dulu. Hanya saja, kini tubuhnya sedikit lebih berisi.
"Hah?!" Damar celingkukan. "Kamu ngomong apa, Gar?"
"Ah enggak! Yaudah yuk lari!" ajak Sagara.
Namun dia masih belum bisa melupakan, sengaja Sagara mengajak Damar berlari di area luar. Siapa tau semesta berpihak padanya.
Dan benar saja, dia melihat Kanaya dan Risa bersama. Entah apa alasan Risa berbohong padanya, tapi Sagara semakin penasaran. Rasa rindu membuncah dalam dadanya. Dia sangat merindukan Kanaya.
* * *
Sagara tak memaksakan diri hari itu, namun besoknya dia membulatkan tekad untuk datang ke rumah Kanaya.
Sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Walaupun rumah nya tampak sangat terawat.
"Mungkin lagi pada pergi," gumam Sagara.
Dia memutuskan untuk menunggu disana, disalah satu angkringan yang berjarak dua rumah dari rumah Kanaya. Dan tidak ada yang sia-sia. Satu mobil berhenti, Kanaya turun dari mobil itu dengan kondisi yang kurang baik.
Saat akan menghampiri, langkah Sagara terhenti. Dia melihat seorang lelaki turun dari mobil yang sama dan memapah tubuh Kanaya.
"Dia.. Siapa?" batin Sagara bertanya-tanya.
"Sagara!" suara Risa membuat Sagara menoleh. Risa baru saja datang menggunakan motor.
"Kamu ngapain disini, Gar?!" panik Risa.
"Aku mau ketemu Kanaya, Ris!" jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Gak bisa Sagara! Kamu gak akan bisa temuin dia lagi!" Risa jelas saja panik, bagaimana bisa Sagara berada disana.
"Kenapa, Ris? Aku mau ketemu dia.. Aku mau minta maaf, Ris!"
"Percuma, Gar! Percuma kamu dateng sekarang! Kamu udah sangat terlambat!"
Karena tak ingin terlihat Kanaya ataupun keluarganya, Risa mengajak Sagara pergi dari sana dan berjanji untuk menceritakan segalanya. Kini mereka duduk didepan salah satu minimarket yang tak jauh dari komplek perumahan Kanaya.
"Kanaya sudah menikah, tepat satu tahun setelah kita lulus sekolah!"
Bagaikan disambar petir, Sagara terdiam. Hatinya teramat sakit mendengar itu semua. Sagara salah, dirinya terlalu jumawa dan percaya diri.
"K-kok bisa, Ris?" Sagara masih sulit mencerna semua itu."Dia punya cita-cita buat jadi penulis, dia bilang mau kuliah sampe S2."
"Dunia terlalu jahat sama Kanaya, Gar! Dia butuh sosok pelindung, dia butuh seseorang disampingnya, Gar! Dan saat itu, kamu menghilang gitu aja!"
Sagara diam. Karena dia salah, sangat bersalah.
"Kehidupan Kanaya berat, Sagara. Setelah menikah, Kanaya kehilangan banyak hal. Dia kehilangan impiannya, dia kehilangan calon bayinya, dan sekarang dia kehilangan dirinya sendiri, Sagara."
Rasa sesak menumpuk dalam dadanya. Tak bisa Sagara bayangkan, bagaimana kondisi Kanaya saat ini. Karena dulu pun, Kanaya mengalami hal yang tak biasa dan Sagara tau itu. Karena dia mendampingi Kanaya di masa sulit itu.
"Kalo kamu dateng sekarang, kamu temui dia sekarang, apa gak makin hancur dunianya, Sagara?"
"Dan apa alasan kamu kembali?"
Ucapan Risa sungguh sangat menohok, Sagara sadar tindakannya ini mungkin bisa menyakiti Kanaya. Walaupun dalam pikirannya, Kanaya masih sendiri.
"Sekalipun Kanaya belum nikah, aku yakin dia ga akan menerima kedatangan kamu begitu aja."
Sagara hanya diam, dia tidak menjawab satu pun pertanyaan Risa. Lidahnya terasa sangat kelu. Sagara menerima luka ini, luka yang dia sebabkan sendiri.
Risa berpamitan, karena langit sudah sangat mendung. Kanaya menunggunya, Risa janji untuk menemani Kanaya hari ini.
Hujan pun turun dengan derasnya, seolah mengejek Sagara atas duka dan luka yang diterimanya hari ini. Bukan kembali ke rumah, dia malah melajukan motornya ke arah rumah Kanaya. Walaupun dari jauh, Sagara ingin melihat Kanaya.
Mobil yang tadi datang, sudah tak ada disana. Sagara bisa melihat motor Risa terparkir di halaman rumah Kanaya.
"Ayya! Lo mau ngapain sih?!" teriak Risa saat Kanaya lari begitu saja ke halaman rumahnya.
"Gue mau menikmati hujan,Risa!"
Kanaya berdiri disana, merasakan setiap tetesan hujan yang mengguyur tubuhnya. Sagara tahu, Kanaya menangis. Itu kebiasaan Kanaya sejak dulu, menangis ditengah hujan agar tak ada yang menyadarinya.
"Maafin aku, Ay.. Semua ini salah aku.."
Sagara pergi, dia pulang ke Surabaya dengan seluruh rasa sesalnya. Dia menerima semua luka itu, karena memang pantas ia dapatkan.
Dua tahun menjalani masa dinas, Sagara pun mengikuti pendidikan lagi untuk menjadi anggota Pasukan Khusus. Sagara anggap latihan keras itu hukuman untuk dirinya sendiri, dan penghargaan atas luka yang dia torehkan sendiri.
* * *
Surabaya cukup terik sore itu, Sagara tengah menikmati secangkir kopi dingin sambil membuka sosial media.
Satu unggahan masuk, Risa memposting satu karya yang dia promosikan di story sosial medianya.
Tanpa berpikir panjang, Sagara menginstal aplikasi biru itu. Dia cari dan satu karya itu muncul. Satu novel yang Kanaya tulis. Sagara baca semuanya, airmata tak dapat lagi dia tahan. Ternyata sesulit itu hidup Kanaya selama dia tinggalkan.
"Maafin aku, Ay.."
Tanpa pikir panjang, akun fans abadi itu mengetik satu komentar.
"Akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpi mu untuk jadi penulis ya, Ayya. Aku bangga ❤️"
Klik, terkirim.
Sagara tidak tau, satu komentar itu membuat dunia Kanaya yang mulai tenang kini terguncang kembali.
Tak ada hari absen untuk membaca novel terbaru Kanaya. Setiap episode dia like, dia tinggalkan komentar dan meninggalkan vote yang banyak, hingga karya Kanaya menjadi karya populer, setidaknya bagi Kanaya sendiri.
"Aku mau titip hadiah untuk Kanaya, Ris!"
Sagara mengirim pesan pada Risa, dan tak Sagara sangka Risa mendukungnya. Risa mau membantunya untuk memberikan hadiah pada Kanaya.
Satu laptop terbaru, dari brand apel tergigit. Sagara pikir, Kanaya pasti akan membutuhkannya.
Lima hari kemudian..
"Kamu gila?!"
Pesan yang Risa kirimkan saat dia sudah menerima hadiah untuk Kanaya.
"Kanaya butuh itu, Ris!"
"Tapi ya gak barang yang semahal ini, Sagara! Kamu pikir Kanaya mau terima?!"
"Dicoba aja dulu, kalo gak diterima, ya sudah buang saja!"
Gendeng! Risa tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.
"Aku gak peduli apapun lagi, Risa. Aku cuman mau liat Kanaya bahagia. Apapun statusnya, aku gak peduli. Yang penting Kanaya harus selalu bahagia.."
Mau tak mau, akhirnya Risa membawa paket hadiah yang baru saja tiba ditangannya itu. Hari ini, dia akan menemani Kanaya lagi. Hidupnya dipenuhi dengan Kanaya, karena perihal jodoh, Risa belum menemukannya.
Kanaya mengerenyitkan dahinya, saat melihat Risa datang membawa Satu paperbag besar. Sebuah laptop mahal tiba-tiba saja sampai di tangan Kanaya. Bersamaan dengan sebuah surat yang di akhiri dengan tanda hati. Kanaya bingung, karena pengirim nya hanyalah bertuliskan fans abadi.
"Ini dari siapa, Risaaa?"
Sahabat baiknya itu hanya tersenyum,"Dari fans abadi nya Kanaya."
"Serius ya, Ris! Aku gak mau terima barang yang gak jelas asal usulnya itu" tolak Kanaya.
Akhirnya Risa pun mengatakannya, "Itu hadiah dari Sagara."
"Sejak kapan lo kontekan sama Sagara, Risa?"
"Dari dulu, Sagara cari Lo. Dan saat dia tau Lo udah nikah, dia ancur Ayya!"
"Dia yang ngilang, jangan salahin gue atas semuanya. Kalo aja dulu dia bilang, kalo aja dulu dia pamit, hidup gue juga ga akan sehancur ini Risa!"
"Sampe kapan Ayya? Sampe kapan lo mau bertahan diatas luka-luka lo itu? Kalo lo udah gak sanggup, lepasin, Ayya.."
"Perceraian bukan hal mudah, Risa! Gue mau menikah sekali seumur hidup!"
"Terus lo mau bertahan sampe kapan? Sampe suami lo itu punya istri empat?!"
"Sagara masih nungguin lo, dia gak peduli apa status lo nantinya, dan dia cuman mau liat Lo bahagia, Kanaya.."
Kanaya hanya terdiam, dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Kali ini, dia hanya ingin berfokus pada novelnya, pada dunia barunya.
"Pokoknya gue gak mau tau, Lo balikin ini semua!" Kanaya jelas menolaknya.
Bagaimana keras nya Risa memohon, Kanaya tetap tidak menerimanya. Dan akhirnya Risa menyimpan hadiah itu atas permintaan Sagara.
* * *
Sagara segera mencari tiket untuk pulang ke Bandung, usai menerima kabar sang Ibu sakit. Sagara jarang mengambil jatah cuti, hingga akhirnya sang komandan mengizinkannya.
Stasiun Bandung, suara riuh ramai sudah terdengar. Kereta Sagara baru saja tiba, dia lantas langsung menuju Rumah Sakit tempat dimana Ibunya di rawat. Untung saja rumah sakit nya berada tepat disamping Stasiun kereta itu.
"Maafin Gara, Bu. Gara banyak dosa sama Ibu.." lirih Sagara.
Tubuh Ibunya begitu lurus. Sagara sibuk dengan luka nya sendiri, tanpa disadari, dia menyiksa Ibu nya dengan kerinduan.
"Jangan pernah lupa pulang, Gara. Ibu butuh kamu, Nak."
"Gara janji, Gara gak akan pernah tinggalin Ibu.."
Sagara sepertinya memutuskan untuk memboyong sang Ibu ke Surabaya saja. Apalagi kondisi kesehatannya yang tidak menentu.
Setelah menyuapi sang Ibu, Sagara berpamitan untuk pulang sebentar untuk menyimpan barang dan mengganti pakaian. Langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang di halte bis.
Kanaya. Perempuan itu berdiri disana, hujan sudah mulai turun, namun bis yang akan dinaikinya penuh.
"Kanaya.."
Entah keberanian dari mana, Sagara memanggil Kanaya begitu saja.
"Sagara.." suara itu, suara panggilan yang Sagara rindukan.
Entah apa yang semesta inginkan, entah apa skenario yang Tuhan berikan. Sagara harus bertemu kembali dengan cinta pertamanya.
"Apa kabar, Ayya?"
Air mata tiba-tiba lolos begitu saja, Kanaya menghapusnya perlahan. Sedangkan Sagara cukup terkejut, dan spontan menghampiri cinta pertamanya itu.
"Ayya, kamu kenapa? Are you oke?" Sagara menyodorkan sapu tangan yang selalu ada dalam saku celana nya.
Sapu tangan buatan Kanaya. Sapu tangan yang tak pernah lupa ia bawa. Air mata Kanaya semakin deras, seperti air hujan yang turun sore itu. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dan sialnya, bis berikutnya sudah tiba.
"Maaf, Sagara.. Aku pulang duluan.. Terima kasih sapu tangannya.."
Sagara terdiam, saat Kanaya mengembalikan sapu tangan itu. Dia terlambat, sangat terlambat. Bis itu sudah melenggang pergi meninggalkannya. Seperti dirinya yang dulu meninggalkan Kanaya begitu saja.
"Aku masih sayang kamu, Kanaya.."
Sagara menyesal, waktu yang datang padanya tak ia gunakan dengan baik. Dan Sagara tau, semua ini salah. Dia tak boleh jatuh cinta pada istri orang, walaupun Kanaya adalah cinta pertamanya.
"Arrghhhhhh!!" Sagara frustasi dengan hidupnya sendiri.
"Bagaimana caranya untuk memperbaiki semua yang telah rusak ini, Kanaya.."
Penyesalan memang selalu datang belakangan, namun akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Baik Sagara maupun Kanaya, mereka hanyalah satu jalan Tuhan yang mungkin tidak bisa di satukan.
Sagara dan Kanaya sama-sama menerima luka. Luka yang siapa tau, di masa depan akan menjadi jalan keduanya menemukan sebuah kebahagiaan.