Matahari baru saja merangkak naik, membiaskan cahaya keemasan yang menembus jendela kamar Alya. Kamar itu adalah representasi sempurna dari seorang siswi teladan: dinding bernuansa pastel, rak buku yang tersusun rapi berdasarkan kategori, piagam penghargaan yang berjejer rapi dalam bingkai kaca, dan sebuah meja belajar kayu tempat sebuah laptop bersanding dengan tumpukan buku kalkulus.
Alya berdiri di depan cermin panjang. Ia merapikan kerah kemeja putihnya, mengikat dasi abu-abu dengan simpul yang simetris, lalu menyisir rambut hitam panjangnya hingga jatuh dengan lembut di bahu. Ketika ia mengenakan kacamata berbingkai tipis—yang sebenarnya hanya lensa biasa tanpa minus—wajahnya langsung berubah. Ia kelihatan polos, rapuh, dan sangat terpelajar.
Ia tersenyum ke arah cermin. Senyum yang ramah, tulus, dan mampu melelehkan hati siapa pun yang melihatnya. Itu adalah senyum yang telah ia latih selama bertahun-tahun. Senyum milik Alya si Juara Umum.
Namun, jika seseorang memeriksa bagian bawah tempat tidur Alya, menekan tombol rahasia di balik lemari bajunya, mereka akan menemukan ruangan bawah tanah yang dipenuhi oleh monitor pemantau, brankas baja berisi tumpukan uang tunai dari berbagai mata uang asing, dan deretan senjata api ringan yang dirawat dengan sangat baik.
Di dunia itu, di bawah bayang-bayang malam kota yang kejam, senyum ramah itu lenyap. Di sana, ia dikenal dengan nama kode *The Viper*, pemimpin muda dari sindikat *Vipera*, kelompok mafia yang bergerak dalam bayangan, mengendalikan arus informasi, logistik gelap, dan keamanan bawah tanah.
*Drrrtt… Drrrtt…*
Ponsel pintar di atas meja belajar bergetar. Alya mengambilnya. Sebuah pesan terenkripsi muncul di layar.
> **Dinda:** *Van sudah siap di depan gerbang komplekmu. Sila sudah menyelesaikan analisis rute untuk malam ini. Jangan lupa bawa bekal rotimu, Al. Ibumu tadi menitipkannya lewat pelayan.*
>
Alya terkekeh pelan. Ia mengetik balasan singkat, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku rok abu-abunya. Ia menyandang tas ranselnya yang terasa berat—bukan karena senjata, melainkan karena buku paket Fisika dan Kimia yang tebal.
Saat Alya keluar dari rumah bak istana peninggalan almarhum ayahnya, sebuah mobil van hitam polos sudah menunggu di sudut jalan yang sepi. Pintu geser terbuka, menampilkan Dinda yang sudah mengenakan seragam sekolah yang sama, namun dengan laptop alienware yang menyala di pangkuannya. Di kursi belakang, Sila sedang asyik membaca jurnal matematika internasional sambil mengunyah permen karet.
"Pagi, Ketua," sapa Dinda tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang menampilkan grafik pergerakan saham dan lalu lintas CCTV kota.
"Pagi. Bagaimana situasi sekolah?" tanya Alya sambil mendudukkan diri di kursi tengah.
"Aman. Guru-guru masih menganggap kita murid teladan yang tidak punya kehidupan malam," sahut Sila dari belakang. Ia menutup jurnalnya, lalu menatap Alya dengan serius. "Tapi, ada rumor di jaringan bawah tanah. Kelompok *Black Wolf* dari wilayah barat mulai menggeser jalur distribusi mereka ke wilayah kita. Mereka sangat agresif belakangan ini."
Alya melepaskan kacamatanya sejenak, membersihkan lensanya dengan ujung dasi. "Kita tidak akan bergerak kecuali mereka mengusik batas kita. Tugas kita hari ini adalah lulus ujian harian sejarah dengan nilai sempurna, paham?"
Dinda dan Sila serempak tertawa. "Siap, Bos."
SMA Garuda Jaya adalah sekolah swasta elit tempat anak-anak pejabat, pengusaha kaya, dan selebritas menuntut ilmu. Di sekolah ini, status sosial adalah segalanya. Namun, di puncak hierarki sosial sekolah itu, bukan anak pemilik saham terbesar yang berkuasa, melainkan trio Alya, Dinda, dan Sila.
Begitu mereka bertiga melangkah turun dari mobil (yang sengaja diparkir dua blok sebelum sekolah agar terlihat seperti naik angkutan umum), perhatian koridor langsung tersedot pada mereka.
"Lihat, itu Kak Alya. Cantik banget ya, denger-denger dia mau ikut olimpiade internasional lagi."
"Kak Dinda tegas banget waktu rapat OSIS kemarin, tapi tetap ramah."
"Kak Sila kemarin dapet nilai seratus lagi di ujian matematika peminatan."
Bisikan-bisikan kagum itu terdengar di sepanjang koridor. Alya berjalan dengan langkah anggun, sesekali mengangguk dan tersenyum pada adik kelas yang menyapanya. Dinda berjalan di sampingnya dengan dokumen OSIS di pelukan, memancarkan aura kepemimpinan yang bersih dan berwibawa. Sila, dengan wajah cuek namun ramah, berjalan sambil mendengarkan musik lewat earphone.
Mereka adalah definisi "Gadis-Gadis Sempurna".
"Alya!" Panggil sebuah suara dari arah belakang.
Alya berbalik dan mendapati Pak Bambang, kepala sekolah mereka, berjalan tergesa-gesa dengan senyum lebar.
"Selamat pagi, Pak Bambang," sapa Alya dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat santun.
"Pagi, Alya, Dinda, Sila. Bapak hanya ingin mengingatkan, proposal untuk festival budaya sekolah harus segera difinalisasi ya. Bapak sangat mengandalkan OSIS tahun ini," kata Pak Bambang sambil menepuk pundak Dinda.
"Sudah selesai delapan puluh persen, Pak. Sore ini akan saya serahkan ke ruang Anda setelah jam pelajaran usai," jawab Dinda dengan senyum profesional yang biasa ia gunakan saat bernegosiasi dengan vendor.
"Luar biasa! Kalian memang aset terbaik sekolah ini. Ya sudah, silakan masuk ke kelas," ujar Pak Bambang dengan wajah puas.
Setelah kepala sekolah menjauh, Sila berbisik sangat pelan, hampir tidak menggerakkan bibirnya. "Pak Bambang baru saja menerima suap sebesar dua ratus juta dari proyek pembangunan laboratorium baru. Aku melihat mutasi rekeningnya subuh tadi."
"Biarkan saja untuk sekarang," balas Alya dengan nada yang sama rendahnya, matanya tetap menatap lurus ke depan dengan senyum yang tak pudar. "Selama dia tidak mengganggu operasional kita di wilayah ini, dia boleh menikmati uang haramnya. Fokus pada kelas kita dulu."
Di dalam kelas XII-A, ketiganya duduk di barisan depan. Sepanjang pelajaran sejarah, Alya mencatat setiap detail dengan rapi. Pikirannya tampak seratus persen berada di ruang kelas, mendengarkan penjelasan guru tentang Perang Dunia II. Namun, di balik buku catatannya, terdapat selembar kertas kecil berisi denah tata letak gudang di Sektor 7—tempat transaksi ilegal yang akan mereka sabotase malam nanti.
Alya menandai beberapa titik dengan pulpen merah. Titik masuk, titik keluar, dan posisi penembak jitu jika situasi memburuk. Bagi Alya, menyusun strategi pertempuran tidak ada bedanya dengan memecahkan soal matematika rumit: semuanya membutuhkan presisi, ketenangan, dan ketiadaan emosi.
Malam harinya, kota Jakarta diguyur hujan deras. Petir menyambar bergantian, menciptakan kilatan cahaya yang sesaat menerangi sudut-sudut gelap Sektor 7—sebuah kawasan industri tua yang terbengkalai di pinggiran kota.
Di dalam sebuah gudang kontainer yang berkarat, suasana sangat sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air yang bocor dari atap seng.
Sebuah van hitam berhenti di kegelapan, tersembunyi di balik tumpukan kontainer kosong. Di dalam van, lampu indikator dari perangkat komputer Dinda memancarkan cahaya biru yang redup. Dinda kini tidak lagi memakai rok abu-abu; ia mengenakan pakaian taktis hitam ketat dengan rambut yang dikuncir kuda.
"Sistem keamanan gudang sudah kutembus," kata Dinda, jemarinya bergerak secepat kilat di atas keyboard. "Kamera pengawas di koridor utama sudah kubuat *looping*. Kalian punya waktu lima belas menit sebelum sistem mereka melakukan *reboot* otomatis."
"Diterima," sahut Alya dari balik interkom.
Alya berdiri di atas atap gudang, membiarkan air hujan membasahi jaket kulit hitamnya. Di wajahnya kini terpasang sebuah masker kain hitam yang menutupi hidung hingga dagu, menyisakan matanya yang tajam dan dingin. Di pinggangnya terselip sepasang pistol semi-otomatis berperedam suara, dan di pergelangan tangan kanannya melingkar sebuah gelang perak berbentuk naga—simbol kepemimpinan *Vipera*.
Di sampingnya, Sila memegang sebuah senapan runduk (sniper) dengan laras panjang, mengintip melalui kekerem optik ke arah dalam gudang melalui celah ventilasi.
"Ada pergerakan di dalam, Al. Tapi tunggu..." Sila menghentikan kalimatnya. Fokus matanya menajam. "Ada yang tidak beres. Jumlah penjaga di bawah terlalu sedikit untuk transaksi sebesar ini. Dan... aku mendeteksi adanya tanda-tanda kehadiran pihak ketiga."
Alya mengernyitkan dahi. "Pihak ketiga? Siapa?"
"Belum jelas. Tapi frekuensi radio mereka terenkripsi dengan tingkat militer. Aku tidak bisa menyadapnya tanpa bantuan Dinda," jawab Sila.
"Dinda, periksa frekuensi sekunder," perintah Alya.
*"Sedang kucoba, Al... tapi terlambat! Seseorang baru saja memotong kabel serat optik utama gudang ini dari luar! Aku kehilangan akses kamera!"* suara Dinda terdengar panik di *earpiece*.
Alya tidak menunggu lebih lama lagi. "Sila, tetap di posisi atas. Cover aku."
Dengan gerakan yang sangat terlatih, Alya melompat turun dari langit-langit menggunakan tali sling, mendarat tanpa suara di atas tumpukan palet kayu di dalam gudang. Suasana di dalam sangat gelap, hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang berputar lambat, menandakan bahwa sistem utama telah mati.
Bau mesiu dan darah segar langsung menyengat hidung Alya. Ia melangkah perlahan, senjatanya sudah terkokang. Di lantai gudang, beberapa penjaga dari sindikat penyelundup senjata yang menjadi target mereka sudah tergeletak tak bernyawa. Luka-luka mereka sangat rapi—satu tembakan tepat di jantung atau tenggorokan. Ini bukan pekerjaan polisi. Ini adalah pekerjaan profesional.
Alya berjalan mendekati meja utama tempat koper berisi sampel senjata seharusnya berada. Namun, koper itu sudah terbuka dan kosong.
*Klik.*
Suara dingin dari sebuah senjata yang dikokang terdengar tepat di belakang tengkuk Alya. Sentuhan logam dingin yang menempel di kulit lehernya membuat bulu kuduknya berdiri, namun ekspresi wajahnya tetap sedingin es.
"Jangan bergerak," sebuah suara bariton yang berat, rendah, dan sangat tenang berbisik tepat di telinganya. Suara itu terdengar sangat muda, namun memiliki otoritas yang mutlak. "Satu langkah salah, dan peluru ini akan menembus otakmu."
Alya tidak panik. Ia mengukur jarak, merasakan embusan napas pria di belakangnya, dan menghitung waktu putaran lampu darurat merah. Tepat saat lampu darurat berputar membelakangi mereka dan menciptakan kegelapan total selama satu detik, Alya bertindak.
Ia merunduk dengan cepat, membiarkan peluru pertama melesat di atas kepalanya dengan suara *wush* yang pelan karena peredam. Menggunakan momentum itu, Alya memutar tubuhnya, melepaskan tendangan menyapu ke arah kaki pria itu. Pria itu dengan sigap melompat mundur, menghindari tendangan Alya dengan kelenturan yang luar biasa.
Alya bangkit berdiri dalam sekejap, meluncurkan pukulan bertubi-tubi yang dikombinasikan dengan tusukan pisau lipat perak yang baru saja ia cabut dari sakunya. Pria itu menangkis setiap serangan dengan lengan bajunya yang dilapisi pelindung kevlar. Gerakan mereka begitu cepat, seperti tarian mematikan di bawah temaram lampu merah yang berputar.
*Srett!*
Pisau Alya berhasil menyayat ujung kerah jaket pria itu. Pada saat yang sama, pria itu berhasil mencengkeram pergelangan tangan Alya yang memegang pisau, lalu memutarnya ke belakang punggung Alya, mengunci tubuh gadis itu ke dinding beton gudang.
Kini, posisi mereka sangat dekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Lampu darurat merah kembali berputar, menerangi wajah pria itu.
Alya terpaku sesaat. Di balik masker hitam yang sedikit melonggar, pria itu memiliki paras yang sangat tampan—rahang yang tegas dan terstruktur sempurna, hidung mancung, dan sepasang mata sehitam elang yang menatapnya dengan pandangan tajam, dingin, namun penuh dengan kilat kecerdasan. Rambut hitamnya sedikit basah oleh air hujan, jatuh berantakan di dahinya, menambah kesan liar sekaligus menawan.
Namun, yang membuat Alya paling terkejut bukanlah ketampanannya, melainkan usia pria itu. Dari guratan wajah dan postur tubuhnya, pria ini jelas masih remaja. Dia seumuran dengannya.
Pria itu menatap gelang perak naga di pergelangan tangan Alya yang terikat. Sebuah senyuman miring yang meremehkan muncul di bibirnya.
"Viper? Jadi rumor itu benar. Pemimpin sindikat legendaris yang menguasai jalur timur ternyata hanya seorang gadis kecil," bisik pria itu dengan nada mengejek.
Alya mendengus, matanya berkilat marah. "Dan kau hanyalah seorang pria tampan yang salah memilih tempat bermain. Lepaskan aku, atau temanku di atas akan melubangi kepalamu dalam hitungan ketiga."
Tepat setelah kata-kata itu diucapkan, sebuah titik merah dari laser sniper Sila muncul tepat di dahi pria tampan itu.
Namun, bukannya takut, pria itu justru terkekeh pelan. "Oh ya? Coba lihat ke sekelilingmu."
Dari balik bayang-bayang kontainer di dalam gudang, dua orang pemuda lain muncul. Yang satu memegang senapan serbu laras panjang dengan santai, sementara yang lain berdiri bersandar pada dinding sambil memainkan pisau lempar dengan bosan. Dan di atap gudang, dekat posisi Sila, sebuah bayangan lain tampak mengarahkan senjata ke arah Sila.
"Sial," batin Alya. Mereka telah dikepung.
"Aku **Revan**," kata pria tampan itu, memperkenalkan diri dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Pemimpin dari *Black Wolf*. Kami datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami di wilayah barat ini. Tapi sepertinya kita mengalami tabrakan jadwal, *Viper*."
Sebelum situasi semakin memanas dan berujung pada baku tembak yang saling menghancurkan, suara raungan sirine polisi yang sangat banyak mendadak terdengar dari kejauhan, membelah suara derasnya hujan. Lampu biru-merah dari mobil polisi mulai terlihat memantul pada jendela-jendela gudang yang tinggi.
Dinda berteriak histeris melalui *earpiece* Alya, *"Gerebekan polisi skala besar, Al! Pasukan Brimob! Mereka mengepung seluruh sektor! Cabut sekarang juga!"*
Revan mendengar suara sirine itu juga. Ia melepaskan cengkeramannya pada tangan Alya, lalu mundur beberapa langkah dengan gerakan yang sangat anggun. Teman-temannya langsung berkumpul di belakangnya.
"Tampaknya pesta kita harus ditunda, Gadis Sempurna," ujar Revan dengan senyum miringnya yang khas. Ia mengenakan kembali masker hitamnya dengan rapi. "Kita urus masalah wilayah ini lain kali, Serigala."
Alya mengambil pisaunya yang sempat terjatuh, menatap Revan dengan pandangan penuh dendam sekaligus rasa penasaran yang mendalam. "Lain kali, aku tidak akan segan-segan, Revan."
Dengan gerakan cepat, kedua kelompok itu memisahkan diri ke arah pintu keluar darurat yang berbeda, menghilang ke dalam kegelapan malam sebelum pasukan polisi berhasil menjebol pintu utama gudang.
Keesokan paginya, suasana di SMA Garuda Jaya terasa sedikit berbeda. Berita tentang baku tembak dan gerebekan besar-besaran di Sektor 7 menjadi topik hangat di kalangan siswa, meskipun mereka hanya mengetahuinya dari berita televisi tanpa tahu bahwa dua aktor utamanya berada di sekolah yang sama dengan mereka.
Alya duduk di bangkunya di kelas XII-A. Wajahnya tampak tenang seperti biasa, namun di bawah meja, jemarinya bergerak gelisah. Ia kurang tidur semalam. Setelah melarikan diri dari kejaran polisi, ia harus memproses laporan kerugian dan memastikan tidak ada jejak digital yang tertinggal.
Dinda masuk ke kelas dengan wajah yang sedikit tegang, langsung duduk di sebelah Alya. "Al, peretas kita mendeteksi ada pergerakan aneh di database sekolah subuh tadi. Ada enkripsi data tingkat tinggi yang mencoba mengakses profil kita bertiga."
Alya menurunkan buku novel fiksi yang sedang dibacanya. "Dari siapa? *Black Wolf*?"
"Kemungkinan besar iya. Tapi yang aneh, IP dasarnya berasal dari area sekitar sekolah ini," bisik Dinda dengan dahi berkerut.
Sebelum Alya sempat menanggapi, bel masuk berbunyi dengan nyaring. Pak Bambang, sang kepala sekolah, masuk ke dalam kelas bersama dengan Bu Ratna, wali kelas XII-A. Wajah Pak Bambang tampak sangat berseri-seri.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Bambang dengan suara lantang. "Hari ini kelas kita kedatangan kehormatan besar. Kita kedatangan tiga murid pindahan baru dari sebuah sekolah elit di wilayah barat. Bapak harap kalian bisa menyambut mereka dengan baik dan membantu mereka beradaptasi."
Pak Bambang menoleh ke arah pintu. "Silakan masuk, Nak."
Pintu kelas terbuka lambat. Tiga orang siswa laki-laki melangkah masuk. Begitu mereka melewati ambang pintu, seluruh siswi di kelas XII-A langsung menahan napas serentak, sebelum kemudian koridor kelas dipenuhi oleh bisikan-bisikan histeris yang tertahan.
Ketiga murid baru itu memiliki penampilan yang sangat mencolok. Mereka mengenakan seragam SMA Garuda Jaya, namun dengan gaya yang jauh dari kata rapi. Kemeja mereka tidak dimasukkan ke dalam rok celana dengan benar, kancing teratas sengaja dibuka, dan mereka tidak mengenakan dasi sekolah. Namun, ketidakrapian itu justru membuat mereka terlihat sangat menawan di mata para siswi.
Di barisan paling depan, berjalan seorang cowok jangkung dengan postur tubuh atletis. Wajahnya luar biasa tampan—ketampanan yang tajam, aristokrat, namun memiliki aura pemberontak yang kental. Rahang tegasnya, hidung mancungnya, dan terutama sepasang mata sehitam elang yang dingin itu...
Pulpen di tangan Alya mendadak terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara tak terdengar.
Mata Alya melebar di balik kacamatanya. Jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut yang luar biasa. Pria di depan kelas itu... adalah pria yang semalam menguncinya di dinding gudang dengan pisau di leher. Itu adalah Revan. Pemimpin *Black Wolf*.
Di belakang Revan, berjalan dua cowok lain yang tak kalah tegap. Yang satu memiliki senyum ramah yang menawan—dia adalah cowok yang semalam memegang senapan serbu. Sementara yang satu lagi berwajah cuek dan dingin—dia adalah si pelempar pisau.
"Silakan perkenalkan diri kalian masing-masing," kata Bu Ratna dengan senyum ramah.
Cowok di tengah maju satu langkah. Ia menatap ke sekeliling kelas dengan pandangan malas, hingga akhirnya matanya tertuju tepat pada barisan depan—pada Alya yang sedang menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
Sebuah senyuman miring yang sangat familiar muncul di sudut bibir cowok itu. Tatapannya mengunci mata Alya dengan intensitas yang membuat atmosfer kelas terasa mendadak menegang bagi mereka berdua.
"Perkenalkan, nama saya **Revan Adhitama**," ucapnya dengan suara bariton yang berat dan tenang—suara yang sama persis dengan suara yang berbisik di telinga Alya semalam. "Saya pindah ke sini karena urusan keluarga. Mohon bantuannya... terutama dari para pengurus kelas dan OSIS."
Di belakangnya, cowok dengan senyum ramah maju. "Nama saya **Leo**, salam kenal semuanya." Ia memberikan kedipan mata yang sengaja diarahkan ke tempat duduk Dinda, membuat Dinda yang biasanya tegas langsung membelalakkan mata karena geram.
Cowok ketiga maju dengan malas. "Saya **Rian**." Singkat, padat, dan dingin. Matanya melirik ke arah Sila yang sedang pura-pura sibuk menghitung rumus di buku coret-coretannya, namun pulpen Sila sebenarnya bergetar.
"Baiklah, Revan, Leo, dan Rian. Kebetulan ada tiga kursi kosong di barisan belakang. Silakan menempati tempat duduk kalian," kata Bu Ratna.
Revan berjalan melewati meja Alya. Saat ia berada tepat di samping meja gadis itu, ia sengaja memperlambat langkahnya. Tanpa menoleh, ia menjatuhkan sebuah kertas kecil yang dilipat rapi tepat di atas buku novel Alya, lalu melanjutkan langkahnya ke belakang kelas dengan santai.
Alya dengan cepat menutupi kertas itu dengan tangannya sebelum guru melihatnya. Dengan jantung yang masih berdebar karena kombinasi rasa terkejut dan marah, ia membuka lipatan kertas itu di bawah kolong meja.
Tulisan tangan di kertas itu sangat rapi dan tegas:
> *Seragam ini sangat cocok untukmu, The Viper. Sampai jumpa di atap sekolah saat jam istirahat. Jangan terlambat, atau aku akan melaporkan pada kepala sekolah kalau sang juara umum suka bermain dengan pisau di malam hari.*
>
Alya meremas kertas itu dalam genggamannya hingga hancur. Di balik punggungnya, ia bisa merasakan tatapan mata Revan yang sedang memperhatikannya dari barisan belakang dengan senyum kemenangan.
Bel istirahat berbunyi bagaikan lonceng peperangan bagi Alya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia bangkit dari bangkunya, memberikan kode mata yang sangat jelas kepada Dinda dan Sila, lalu melangkah keluar kelas dengan tergesa-gesa menuju tangga darurat yang menuju ke atap sekolah.
Dinda dan Sila mengikuti dari belakang dengan langkah cepat. Wajah mereka bertiga tidak lagi menampilkan keramahan siswi teladan; aura mereka telah berubah menjadi dingin dan waspada.
Pintu besi menuju atap sekolah terbuka dengan suara derit yang nyaring. Angin siang yang cukup kencang langsung menerpa wajah Alya, menerbangkan rambut panjangnya.
Di sana, di dekat pagar pembatas atap yang menghadap langsung ke pemandangan kota, Revan sudah berdiri bersandar pada tiang beton sambil mengunyah sebatang permen lolipop. Leo duduk di atas tangki air sambil mengayun-ayunkan kakinya dengan santai, sementara Rian berdiri di dekat pintu masuk dengan tangan terbenam di saku celananya, bertindak sebagai penjaga.
"Kau tepat waktu, Juara Umum," sapa Revan tanpa mengubah posisinya. Ia melepaskan permen lolipop dari mulutnya, menatap Alya dengan pandangan menilai dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Harus kuakui, citra murid teladan ini benar-benar menipu. Jika aku tidak bertemu denganmu semalam, aku akan mengira kau hanyalah gadis kutu buku yang takut pada kecoak."
Alya berjalan mendekat, berhenti tepat tiga langkah di depan Revan. Jarak yang cukup dekat untuk menyerang, namun cukup aman untuk mengantisipasi gerakan musuh. Dinda dan Sila berjaga di sisi kiri dan kanannya.
"Apa maumu, Revan?" tanya Alya dengan nada suara yang sangat dingin, melepaskan kacamata palsunya dan memasukkannya ke saku kemeja. "Kenapa kelompok *Black Wolf* sampai repot-repot menyusup ke SMA Garuda Jaya? Ini adalah wilayah kekuasaan *Vipera*. Kau melanggar batas teritorial."
Revan terkekeh, suara tawanya terdengar renyah namun tetap memiliki nada mengintimidasi. "Menyusup? Oh, ayolah, Al. Jangan terlalu percaya diri. Kami ke sini murni karena perintah dari orang tua dan organisasi kami untuk membersihkan nama dan mendapatkan ijazah resmi. Siapa yang menyangka kalau rival bisnis terbesarku di jalur timur ternyata adalah siswi yang dicalonkan untuk mendapat beasiswa penuh ke universitas ternama?"
"Jangan main-main dengan kami, Revan," potong Dinda dengan suara tegas, melangkah maju satu langkah. "Kami tahu siapa kalian. Kami punya data lengkap tentang operasi *Black Wolf* di wilayah barat. Satu gerakan salah darimu di sekolah ini, dan aku pastikan seluruh data itu akan berada di meja divisi kejahatan terorganisir Mabes Polri dalam hitungan menit."
Leo yang berada di atas tangki air langsung bersiul. "Wow, galak sekali Bu Ketua OSIS kita ini. Tenang saja, Manis. Kami tidak tertarik untuk menghancurkan reputasi atau kedok kalian di sekolah ini. Lagipula, jika kami hancur, kami pastikan kalian juga ikut terseret ke dasar neraka."
Rian menambahkan dengan suara datar dari dekat pintu. "Kami hanya ingin sekolah dengan tenang. Setidaknya sampai ujian akhir nasional selesai."
Sila menatap Rian dengan pandangan menyelidik. "Mafia yang peduli pada ujian akhir nasional? Lelucon macam apa ini?"
Revan melangkah maju, mendekati Alya hingga jarak mereka kini hanya tersisa beberapa jengkal. Postur tubuh Revan yang tinggi membuat Alya harus sedikit mendongak untuk menatap matanya. Bau parfum maskulin yang bercampur dengan aroma mint dari permen lolipopnya tercium samar oleh Alya.
"Mari kita buat kesepakatan, *Viper*," kata Revan, suaranya merendah menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh kelompok mereka. "Gencatan senjata total selama kita berada di lingkungan sekolah. Di dalam pagar SMA Garuda Jaya, kita hanyalah murid SMA biasa. Aku tidak akan mengganggu proyek OSIS-mu, dan kau tidak akan mencampuri urusanku. Kita tidak saling kenal di koridor. Bagaimana?"
Alya menatap mata elang Revan dengan sangat dalam. Ia mencari tanda-tanda kebohongan, kelicikan, atau jebakan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kilat keseriusan dan... seberkas ketertarikan yang aneh.
"Dan bagaimana dengan urusan di luar sekolah?" tanya Alya menantang. "Bagaimana dengan transaksi di Sektor 7 yang kau rusak semalam?"
Revan tersenyum miring, senyuman yang entah mengapa membuat jantung Alya memberikan reaksi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Di luar sekolah, urusan bisnis tetap bisnis," jawab Revan pelan. "Jika kita bertemu lagi di malam hari dengan senjata di tangan, aku tidak akan segan-segan menguncimu lagi di dinding, Gadis Sempurna. Tapi untuk sekarang..."
Revan mengulurkan tangan kanannya yang bersih tanpa sarung tangan kulit. "Bagaimana? Apakah kita sepakat?"
Alya menatap tangan Revan sejenak. Ia tahu ini adalah keputusan yang berisiko, namun ini adalah pilihan paling logis untuk menjaga kedok mereka tetap aman demi kelangsungan organisasi *Vipera*.
"Oke," kata Alya akhirnya. Ia menyambut uluran tangan Revan.
Ketika telapak tangan mereka saling bersentuhan, sebuah sengatan hangat yang aneh seolah menjalar melalui kulit mereka. Tangan Revan terasa hangat dan kuat, sangat kontras dengan dinginnya logam pistol yang mereka pegang masing-masing beberapa jam yang lalu.
Revan menggenggam tangan Alya sedikit lebih erat dari yang diperlukan, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Alya. "Kesepakatan tercapai. Sampai jumpa di kelas, Alya si Juara Umum," bisiknya sebelum melepaskan genggamannya.
Revan berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh Leo yang memberikan lambaian tangan jenaka pada Dinda, dan Rian yang mengangguk tipis pada Sila.
Alya berdiri terpaku di atap sekolah, menatap pintu besi yang baru saja tertutup. Ia menyentuh telapak tangannya yang masih terasa hangat. Di atas gedung sekolah ini, di bawah langit siang yang cerah, ia sadar bahwa kehidupan sekolahnya yang damai dan sempurna telah berakhir. Babak baru yang penuh dengan bahaya, intrik, dan mungkin... sesuatu yang lebih rumit dari sekadar bisnis mafia, baru saja dimulai.
Kehidupan setelah kesepakatan di atap sekolah ternyata tidak berjalan semulus yang Alya bayangkan. Meskipun ada perjanjian gencatan senjata, kehadiran geng *Black Wolf* di kelas XII-A seperti memasang bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Setiap hari adalah latihan menahan diri. Di dalam kelas, Revan duduk di barisan belakang dengan kaki yang sering kali ditumpangkan ke atas meja saat guru tidak melihat, sementara Alya duduk di barisan depan, mendengarkan pelajaran dengan punggung tegak dan konsentrasi penuh. Kontras di antara mereka berdua sangat terlihat jelas oleh satu kelas.
"Alya, bisa tolong kumpulkan tugas matematika dari barisan belakang?" pinta Bu Ratna pada suatu siang yang terik.
Alya bangkit dari kursinya dengan tumpukan buku di tangan. Ia berjalan baris demi baris, mengumpulkan buku tugas teman-temannya hingga akhirnya ia sampai di barisan paling belakang—meja Revan.
Revan sedang berpura-pura tidur dengan melipat kedua tangannya di atas meja sebagai bantal. Buku tugas manuskripnya tergeletak di samping kepalanya, namun belum diisi sama sekali.
Alya mengetuk meja Revan dengan ujung pulpennya. "Revan. Buku tugasmu."
Revan membuka satu matanya, menatap Alya dari bawah dengan pandangan malas yang menggoda. "Ah, Sang Juara Umum. Aku tidak paham soal nomor lima sampai sepuluh. Bagaimana kalau kau mengajariku nanti malam? Di tempat biasa?" ucapnya dengan volume suara yang cukup pelan agar tidak terdengar guru, namun penuh dengan penekanan pada kata 'tempat biasa'.
Alya menatapnya datar dari balik kacamatanya. "Jika kau tidak mengumpulkannya sekarang, nilaimu akan kosong, Revan. Dan itu akan memengaruhi absensimu."
"Biarkan saja," sahut Revan sambil menutup matanya kembali. "Nilai akademis tidak terlalu berguna untuk menembak target dari jarak seratus meter, kan?"
Alya menarik napas dalam-dalam, menahan diri untuk tidak menancapkan pulpen di tangannya ke meja cowok itu. Ia mengambil buku tugas kosong Revan dengan sentakan kasar, lalu berbalik pergi. Dari belakang, ia bisa mendengar suara kekehan pelan Revan yang terdengar sangat menyebalkan sekaligus... renyah.
Sementara itu, di sudut lain sekolah, Dinda juga harus menghadapi ujian kesabarannya sendiri. Sebagai ketua OSIS, ia bertanggung jawab atas ketertiban sekolah, dan Leo adalah definisi dari gangguan ketertiban.
"Leo! Kancing bajumu!" tegur Dinda dengan suara tegas saat berpapasan di koridor dekat mading sekolah.
Leo, yang sedang berjalan bersama beberapa siswa lain yang langsung bubar saat melihat Dinda, menghentikan langkahnya. Ia menatap Dinda dengan senyum lebarnya yang khas, lalu sengaja membuka satu kancing bajunya lagi, memperlihatkan kaus dalam hitamnya.
"Kenapa, Bu Ketua? Kancing bajuku mengganggu konsentrasimu ya?" goda Leo sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding mading.
Dinda mengepalkan tangannya yang memegang papan jalan OSIS. "Ini sekolah, Leo! Patuhi aturan atau aku akan memberikanmu surat peringatan pertama!"
Leo maju selangkah, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Dinda yang mulai memerah karena marah. "Surat peringatan? Silakan saja. Asal kau sendiri yang mengantarkannya ke markas... maksudku, ke rumahku." Ia mengedipkan matanya, lalu berjalan pergi sambil bersiul santai.
Dinda menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Sialan! Cowok itu benar-benar menguji iman profesiku!" omelnya pada Sila yang baru saja keluar dari perpustakaan.
Sila hanya menggelengkan kepala sambil membolak-balik halaman buku fisikanya. Namun langkah Sila mendadak terhenti saat ia melihat Rian sedang berdiri di dekat loker olahraga, sedang membersihkan sesuatu yang tampak seperti pisau kecil yang sangat tipis dengan saputangan sekolahnya.
Sila berjalan mendekati Rian tanpa rasa takut. "Di sekolah tidak boleh membawa senjata tajam, Rian."
Rian tidak mendongak, jemarinya yang lincah tetap membersihkan pisau lempar taktis miliknya yang berukuran saku. "Ini hanya pembuka surat."
"Pembuka surat tidak memiliki keseimbangan aerodinamis yang sempurna untuk menembus arteri karotis dari jarak lima meter," sahut Sila dingin, menganalisis bentuk pisau itu dengan presisi matematikanya.
Rian menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap Sila dengan tatapan mata yang sedikit terkejut namun langsung berubah menjadi dingin kembali. Sebuah kilat apresiasi muncul di matanya. "Kau pintar juga untuk ukuran cewek olimpiade."
"Aku tidak hanya pintar, aku juga tahu kalau sudut lemparanmu semalam kurang dua derajat ke kiri, itulah kenapa pisaumu meleset dari pundak temanku," balas Sila datar sebelum berjalan melewati Rian dengan dagu terangkat.
Rian menatap punggung Sila yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia memasukkan pisau kecilnya ke dalam saku celana dengan senyuman tipis yang jarang sekali muncul di wajahnya.
Dua minggu berlalu sejak gencatan senjata dimulai. SMA Garuda Jaya mengadakan acara tahunan yang sangat megah: *Annual Charity Gala and Dance*. Acara ini diadakan di aula utama sekolah yang telah disulap menjadi ruang dansa mewah bergaya klasik Eropa, lengkap dengan lampu kristal gantung yang besar dan alunan musik orkestra langsung.
Semua siswa diwajibkan hadir dengan pakaian formal. Para siswi mengenakan gaun malam yang indah, sementara para siswa mengenakan setelan jas atau tuksedo.
Sebagai ketua panitia, Dinda sibuk memastikan seluruh acara berjalan lancar dengan alat komunikasi nirkabel yang terpasang di telinganya. Sila berada di dekat meja operator suara, mengawasi jalannya sistem kelistrikan dan pencahayaan dengan cermat.
Dan Alya... malam itu ia terlihat sangat luar biasa. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna biru dongker yang elegan tanpa banyak payet, menonjolkan bentuk tubuhnya yang proporsional dan kulitnya yang putih bersih. Rambut panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai rambut yang membingkai wajah cantiknya. Ia tidak lagi mengenakan kacamata palsunya. Malam itu, ia adalah pusat perhatian dari seluruh ruangan.
"Al, kau cantik sekali malam ini," puji Dinda lewat interkom saat mereka berpapasan di dekat meja hidangan.
"Terima kasih, Din. Tapi tetap fokus. Aku merasakan firasat buruk sejak sore tadi," jawab Alya sambil mengambil segelas jus jeruk, matanya memindai sekeliling ruangan dengan waspada.
Firasat Alya terbukti ketika pintu besar aula terbuka. Tiga orang pemuda melangkah masuk, dan seketika itu juga perhatian sebagian besar orang di ruangan itu teralihkan.
Revan, Leo, dan Rian datang dengan mengenakan tuksedo hitam yang disesuaikan dengan sempurna dengan tubuh atletis mereka. Revan terlihat luar biasa tampan; rambut hitamnya disisir rapi ke belakang dengan gaya *pomade*, memperlihakan dahinya yang bersih dan alisnya yang tebal. Jas tuksedonya melekat pas di bahunya yang tegap, membuatnya terlihat seperti seorang pangeran dari keluarga bangsawan sejati—bukan seorang pemimpin mafia muda yang kejam.
Mata Revan langsung memindai ruangan, mencari satu orang yang sejak tadi ingin ia lihat. Dan ketika matanya menemukan Alya yang berdiri di dekat meja hidangan dengan gaun biru dongker, langkah kaki Revan langsung terarah menuju ke sana tanpa ragu.
Beberapa siswi yang mencoba mendekati Revan langsung mundur karena aura dingin yang dipancarkannya, namun aura itu mendadak melunak saat ia berdiri di depan Alya.
Revan membungkuk sedikit dengan gaya yang sangat formal dan sopan, lalu mengulurkan tangannya di depan Alya. "Bolehkah saya mendapatkan kehormatan untuk berdansa dengan Sang Juara Umum malam ini?" ucapnya dengan suara bariton yang terdengar sangat merdu di tengah alunan musik waltz.
Alya menatap tangan Revan sejenak. Ia tahu banyak pasang mata yang sedang melihat mereka, termasuk Pak Bambang yang tersenyum lebar dari sudut ruangan, mengira ini adalah bentuk keharmonisan antar murid baru dan murid lama.
"Hanya satu lagu, Revan," bisik Alya sangat pelan sebelum meletakkan tangannya di atas telapak tangan Revan.
Revan menuntun Alya ke tengah lantai dansa. Musik waltz yang lambat dan elegan mulai mengalun. Revan meletakkan tangan kanannya di pinggang Alya yang ramping dengan lembut namun pasti, sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Alya. Alya meletakkan tangan kirinya di bahu tegap Revan.
Mereka mulai bergerak mengikuti irama musik. Gerakan dansa Revan sangat halus dan terlatih, menunjukkan bahwa ia dibesarkan dalam lingkungan kelas atas yang sangat ketat.
"Kau terlihat sangat cantik malam ini, Alya," bisik Revan, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Alya dengan intensitas yang membuat napas Alya sedikit tercekat. "Gaun ini... jauh lebih cocok untukmu daripada jaket kulit penuh noda darah semalam."
Alya mencoba mempertahankan wajah dinginnya meskipun jantungnya berdegup tidak karuan karena kedekatan posisi mereka. "Simpan pujianmu untuk urusan lain, Revan. Apa yang kau lakukan di sini? Kau tahu kesepakatan kita."
"Aku hanya menikmati acara sekolah, seperti murid biasa," sahut Revan dengan senyum miringnya. Ia memutar tubuh Alya dengan anggun mengikuti ketukan musik. "Tapi selain itu... aku juga di sini untuk melindungimu."
Alya mengernyitkan dahi. "Melindungiku? Dari apa?"
Sebelum Revan sempat menjawab, suara Dinda mendadak terdengar panik di *earpiece* Alya. *"Al! Ada masalah besar! Sistem pemindai wajah di gerbang depan mendeteksi ada lima anggota sindikat 'Red Scorpion' menyusup masuk dengan menyamar sebagai kru katering! Mereka membawa senjata api tersembunyi!"*
Sila juga masuk ke dalam frekuensi. *"Al, jalur listrik utama aula baru saja disabotase dari luar! Lampu akan mati dalam hitungan lima... empat..."*
Alya menatap Revan dengan pandangan terkejut. Revan tidak tampak terkejut sama sekali; genggamannya di pinggang Alya justru semakin mengencang.
"Tiga..."
"Dua..."
"Tetap dekat denganku, *Viper*," bisik Revan tepat di telinga Alya saat hitungan mencapai satu.
*BZZZT!*
Seluruh lampu di aula utama mendadak mati total. Kegelapan pekat langsung melanda ruangan besar itu. Jeritan panik dari ratusan siswa dan guru langsung pecah, menciptakan situasi kaos yang luar biasa.
Di tengah kegelapan dan kekacauan itu, suara letusan senjata api berperedam suara terdengar beberapa kali dari arah pintu masuk aula. *Puff! Puff!*
"Tiarap semuanya!" teriak Dinda dari arah panggung dengan mikrofon yang bergaung, mencoba mengarahkan massa untuk evakuasi melalui pintu darurat belakang.
Di lantai dansa yang gelap, Revan dengan cepat menarik Alya ke balik sebuah pilar beton besar. Dalam sekejap, aura Revan berubah total menjadi sosok *Black Wolf* yang mematikan. Dari balik jas tuksedonya yang mewah, ia mencabut sebuah pistol glock hitam yang telah dilengkapi peredam suara.
"Kau membawa senjata ke pesta sekolah?!" tanya Alya setengah berbisik sambil meraba paha kanannya di balik belahan gaunnya—tempat ia menyembunyikan pisau lipat taktisnya.
"Aku selalu siap untuk segala situasi, Sayang," sahut Revan dingin, matanya mengamati kegelapan dengan bantuan penglihatan malam yang terlatih. "Ada tiga orang bergerak dari arah kanan. Mereka mencari dirimu, Al. Kepala *Vipera* bernilai tinggi di pasar gelap."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri," balas Alya keras kepala. Ia bersiap untuk melompat keluar dari balik pilar, namun tangan Revan menahannya dengan kuat.
"Jangan bodoh! Kau mengenakan gaun panjang dan tidak membawa senjata api! Tetap di belakangku!" perintah Revan dengan nada mutlak yang tidak membantah.
Dari arah kegelapan, seorang pria bertubuh besar dengan seragam pelayan katering muncul dengan pistol terarah ke arah mereka. Sebelum pria itu sempat menarik pelatuknya, Revan telah melangkah maju di depan Alya, melepaskan dua tembakan cepat yang tepat mengenai dada pria itu. Pria itu ambruk tanpa suara ke lantai.
Sementara itu, Leo dan Rian juga telah bergerak. Leo menggunakan kursi aula sebagai senjata improvisasi untuk menjatuhkan salah satu penyusup, sebelum kemudian merebut senjatanya dan melumpuhkan penyusup lainnya. Rian, dengan kegelapan sebagai sekutunya, bergerak seperti hantu, menjatuhkan musuh satu per satu dengan tusukan pisau lipatnya yang presisi di titik-titik saraf non-lethal, sesuai dengan janji gencatan senjata sekolah agar tidak meninggalkan mayat di lingkungan akademi jika memungkinkan.
Sila berhasil menyalakan lampu darurat aula dari meja operator menggunakan cadangan daya baterai yang telah ia siapkan sebelumnya untuk antisipasi. Cahaya kemerahan yang redup kembali menerangi ruangan, memperlihatkan bahwa seluruh penyusup dari sindikat *Red Scorpion* telah dilumpuhkan dan diikat rapi di dekat pintu oleh Leo dan Rian.
Para siswa dan guru sebagian besar telah berhasil dievakuasi keluar melalui pintu darurat oleh Dinda dan tim OSIS-nya sebelum lampu darurat menyala.
Revan menurunkan senjatanya, memasukkannya kembali ke balik jas tuksedonya yang sedikit berantakan. Ia berbalik menatap Alya yang masih berdiri di balik pilar. Gaun biru dongker Alya sedikit kotor karena debu semen pilar, namun ia tidak terluka sedikit pun.
Revan berjalan mendekati Alya, merapikan sehelai rambut Alya yang terlepas dari sanggulnya dengan jemarinya yang lembut. "Kau tidak apa-apa?" tanya Revan dengan suara yang mendadak melunak, penuh dengan kekhawatiran yang tulus yang tidak bisa ia sembunyikan.
Alya menatap mata Revan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok musuh atau saingan bisnis di sana. Ia melihat seorang pemuda yang tulus melindunginya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Aku tidak apa-apa, Revan," jawab Alya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Terima kasih."
Revan tersenyum tipis—kali ini bukan senyum miring yang menyebalkan, melainkan senyuman tulus yang sangat menawan. "Sama-sama, Juara Umum. Sekarang, sebaiknya kita bersihkan tempat ini sebelum polisi sekolah datang, atau kita berdua tidak akan lulus ujian sejarah besok pagi."
Alya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum mendengar gurauan Revan. Di tengah kekacauan dan bahaya yang baru saja lewat, di bawah temaram lampu darurat merah aula sekolah, sebuah ikatan baru yang aneh dan tak kasatmata telah terbentuk di antara dua pemimpin mafia muda ini. Sebuah ikatan yang melampaui batas wilayah, organisasi, dan rahasia besar yang mereka simpan di balik seragam putih-abu mereka.
## Bab 8: Rahasia yang Semakin Erat
Pasca insiden di pesta dansa, atmosfer di antara kelompok *Vipera* dan *Black Wolf* mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Meskipun di depan publik sekolah mereka tetap mempertahankan kedok sebagai murid teladan yang acuh tak acuh dan murid pindahan yang nakal, di balik layar, garis permusuhan di antara mereka mulai mengabur.
Sore itu, hujan rintik-rintik membasahi kota. Alya sedang duduk sendirian di sebuah kafe kecil yang sepi di dekat perpustakaan kota, tempat favoritnya untuk belajar tanpa gangguan. Di depannya tergeletak sebuah buku tebal tentang hukum internasional dan secangkir cokelat panas yang mengepul.
Pintu kafe berdenting, dan aroma mint yang sangat familiar langsung tercium oleh Alya bahkan sebelum ia mendongak.
Revan masuk dengan jaket denim hitam di atas seragam sekolahnya yang masih acak-acakan. Tanpa meminta izin, ia langsung duduk di kursi kosong tepat di depan Alya, meletakkan sebuah kantong plastik kecil berisi kue sus di atas meja.
"Kue sus dari toko seberang. Kudengar kau suka ini saat stres," kata Revan santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu.
Alya menutup bukunya perlahan, menatap Revan dengan pandangan menyelidik. "Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini? Dan bagaimana kau tahu aku suka kue sus?"
Revan terkekeh, suara tawanya berpadu dengan suara rintik hujan di luar jendela. "Aku punya jaringan intelijen terbaik di kota ini, Al. Mengetahui lokasi dan makanan favorit gadis yang kusukai bukanlah hal yang sulit."
Kata-kata 'gadis yang kusukai' meluncur begitu saja dari mulut Revan dengan nada yang sangat natural, membuat pipi Alya mendadak terasa hangat. Alya berdeham, mencoba mengalihkan perhatian dengan mengambil satu kue sus dan menggigitnya. Manis dan lembut.
"Kelompok *Red Scorpion* yang menyerang tempo hari... interogasi kami menunjukkan kalau mereka disewa oleh salah satu faksi di dalam organisasiku sendiri yang tidak puas dengan kepemimpinanku yang masih muda," kata Revan, wajahnya berubah menjadi serius dan dingin dalam sekejap. "Mereka ingin melenyapkanmu untuk memicu perang besar antara *Vipera* dan *Black Wolf*, sehingga mereka bisa mengambil alih kekuasaan di tengah kekacauan."
Alya mengangguk perlahan. "Dinda juga menemukan hal yang sama dari pelacakan aliran dana mereka. Ada pengkhianat di dalam lingkaran dalammu, Revan."
"Aku sudah mengurus mereka subuh tadi," kata Revan datar, namun ada nada kepastian yang mematikan di suaranya. Ia menatap Alya dengan pandangan yang sangat dalam. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakanmu sebagai alat untuk menjatuhkanku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Alya terdiam. Di dunia mafia yang penuh dengan pengkhianatan, kebohongan, dan kekejaman tempat ia dibesarkan sejak kecil setelah kematian ayahnya, ia belum pernah mendengar kata-kata perlindungan yang begitu mutlak dan tulus dari orang luar.
"Kenapa kau melakukan ini, Revan?" tanya Alya pelan, matanya menatap cangkir cokelat panasnya yang mulai mendingin. "Kita adalah saingan. Secara teori, jika aku mati, organisasimu bisa menguasai seluruh kota dengan mudah."
Revan memajukan tubuhnya, meraih tangan kanan Alya yang berada di atas meja, menggenggamnya dengan kehangatan yang langsung menjalar ke seluruh tubuh Alya.
"Karena menguasai kota ini tidak ada artinya jika aku tidak bisa bersaing denganmu setiap pagi di kelas, Alya," bisik Revan dengan tatapan mata yang sangat intens. "Di dunia luar yang kotor itu, kau adalah satu-satunya hal yang nyata dan bersih bagiku. Kau adalah musuh terbaikku, rekan terbaikku... dan mungkin, masa depanku."
Alya menatap tangan mereka yang saling bertautan. Kacamata palsunya yang berada di atas meja memantulkan cahaya lampu kafe yang temaram. Untuk pertama kalinya, Alya membiarkan topeng "Gadis Sempurna" dan kedok "The Viper" miliknya runtuh sepenuhnya di depan orang lain. Ia meremas balik tangan Revan dengan lembut, sebuah senyuman tulus yang sangat indah muncul di bibirnya.
"Kalau begitu, pastikan kau tidak kalah dalam ujian kelulusan bulan depan, Tuan Mafia tampan," sahut Alya dengan nada bercanda namun penuh dengan perasaan yang mendalam. "Karena aku tidak sudi memiliki masa depan dengan seseorang yang tidak lulus SMA."
Revan tertawa lepas, suara tawa yang begitu bebas dan bahagia yang jarang sekali terdengar dari seorang pemimpin *Black Wolf*. "Tentu saja, Nona Juara Umum. Aku akan memastikan namaku berada tepat di bawah namamu di papan pengumuman kelulusan nanti."
Di luar kafe, hujan mulai reda, menyisakan pelangi tipis yang membentang di langit kota. Di dalam kafe kecil itu, dua orang remaja yang memikul beban dunia bawah tanah yang begitu berat di pundak muda mereka, akhirnya menemukan tempat perlindungan yang paling aman: di dalam genggaman tangan satu sama lain, di balik seragam putih-abu yang menjadi saksi bisu kisah cinta rahasia mereka yang paling sempurna dan berbahaya.
~TAMAT~