Aku dan Yuni pulang dari liburan. Naik travel bareng Pak Yuyu, supir langganan.
Jam 9 pagi.
Matahari udah tinggi, tapi di dalam travel AC-nya dingin.
Di sebuah simpang, travel berhenti karena lampu merah.
Di sebelah kanan ada gedung besar. 4 lantai.
Temboknya hitam gosong sebagian. Jendela bolong-bolong.
Tapi anehnya, beberapa jendela masih ada gordennya. Hijau tua. Kusam. Kayak udah puluhan tahun gak diganti.
"Yun, itu apa?" tanyaku, penasaran.
"Hotel," jawab Yuni singkat, matanya masih di HP.
"Udah lama kosong."
Pak Yuyu dari depan nambahin, suaranya datar, "Pernah mau direnov. Gak jadi."
Aku manggut. Tapi mata gak lepas dari lantai paling atas. Gorden di jendela paling besar kebuka sedikit. Padahal di luar gak ada angin.
Lampu hijau, Travel jalan lagi.
Tapi aku masih noleh.
**
10 menit kemudian travel berhenti lagi. Di pinggir jalan ada bapak-bapak jual uang receh. Pak Yuyu turun.
"Nunggu bentar ya, Mbak," katanya.
Karena bosen, aku noleh ke belakang. Arah gedung tadi.
Darahku langsung dingin.
Dari awal kami berhenti di lampu merah... gorden hijau di jendela lantai paling atas itu *gak pernah nutup*.
Kebuka lebar.
Dan di baliknya... ada dia.
Perempuannya segede jendela itu. Raksasa.
Baju putih panjang sampai ke bawah. Rambut hitam panjang menjuntai nutupin wajah.
Tubuhnya memenuhi seluruh kaca.
Tangannya menempel di kaca. Telapaknya selebar pintu.
Dia diam. Tapi kepalanya miring sedikit. Menatap lurus ke arah travel kami. Ke arahku.
"Yu... Yuni..." suaraku tercekat.
"Apaan sih?" Yuni masih main HP.
"Itu... di atas... gordennya kebuka terus dari tadi. Dan dia masih di sana."
Yuni noleh cepat. "Mana? Gak ada apa-apa. Kosong."
Aku nunjuk. "Jendela paling atas!"
Tapi pas Yuni noleh, aku liat lagi. Dia masih di sana. Gak bergerak. Cuma natap.
Seolah cuma aku yg bisa liat.
Pak Yuyu masuk lagi ke mobil.
"Jalan ya."
Travel mulai jalan pelan.
Aku masih noleh. Terus noleh.
Sampai gedung itu udah kecil di kejauhan...
*gordennya tetap kebuka. Dan dia tetap di sana.* Mengawasi kami pergi.
Sejak detik itu kepalaku berdenyut. Pandangan kabur. Perut mual.
***
Perjalanan 2 jam itu neraka. Aku muntah 3 kali.
Sampai rumah langsung ambruk. Demam 39°C.
Malamnya penasaran. Aku search di internet: "hotel terbengkalai gorden hijau penampakan"
Hasil pertama: *HOTEL A*
Fotonya sama persis. Gosong. 4 lantai. Jendela paling atas paling besar.
Keterangannya: Kebakaran bertahun-tahun lalu. Beberapa orang meninggal di dalam. Setelah itu hotel ditutup. Beberapa kali mau direnov tapi gagal. Pekerjanya sering sakit, sering lihat penampakan.
Yang paling sering disebut di kolom komentar: perempuan baju putih di jendela lantai atas.
Aku kirim linknya ke Yuni.
Yuni cuma bales: "Udah. Jangan dicari-cari lagi."
**
Tiga malam kemudian.
Jam 2 pagi aku kebangun haus. Pas ke dapur, gorden jendela gerak sendiri.
Aku buka pelan. Di pantulan kaca... ada dia.
Berdiri di belakangku. Baju putih. Rambut basah. Wajahnya masih ketutup rambut.
Aku teriak. Lari ke kamar.
Yuni bangun. Kami cek dapur. Kosong.
Tapi di kaca ada bekas tapak tangan. Basah. 5 jari. Besarnya gak normal.
Sejak malam itu aku gak bisa tidur nyenyak. Tiap merem, kebayang gorden hijau itu dan tatapannya.
**
Kami akhirnya minta bantuan ke orang yang lebih paham.
Katanya: "Dia ikut karena kamu memperhatikannya. Kamu nanya, kamu noleh lama. Energi kamu ketarik sama dia."
"Lalu gimana cara lepasnya?" tanya Yuni.
"Stop mengingat. Stop mencari tau. Terangi rumah. Jangan sendirian."
Kami ikutin. Lampu rumah nyala semua seminggu penuh.
Malam ke-7, jam 12 pas, ada suara ketawa dari arah jendela. Pelan. 3 kali.
Habis itu hening. Gak pernah kejadian lagi.
Aku sembuh. Demamnya hilang. Tapi traumanya enggak.
**
Beberapa bulan kemudian aku dengar kabar. *Hotel A* mau digusur.
Katanya biar gak ada korban lagi.
Aku menghela napas. "Akhirnya."
Tapi minggu lalu aku mimpi.
Aku di dalam travel. Lampu merah.
Aku noleh ke kanan. Gedungnya udah rata tanah.
Tapi di tengah puing... masih ada 1 jendela raksasa.
Gorden hijaunya masih kebuka lebar.
Dan di baliknya, dia masih berdiri. Segede jendela itu. Tersenyum ke arahku sambil mengangkat tangannya.
Aku bangun dengan jeritan.
Sekarang kalau lihat warna hijau... atau jendela besar... aku langsung merinding.
*-TAMAT-*