TELAMBAT PULANG
Seperti biasa dipagi hari anak anak datang memasuki lingkungan sekolah. Niat mereka ingin menimbah ilmu, namun ada juga yang berniat lain seperti bertemu dengan teman atau hanya sekedar bermain. Segelintir dari mereka, yaitu tiga lelaki tampan yang masih duduk dikelas 12 datang memasuki gerbang. Dua dari mereka asyik mengobrol, namun salah satunya malah sibuk sendiri. Apa yang ia lakukan? Matanya melirik ke sana-ke mari menikmati pemandangan yang biasa mereka lihat, gadis gadis kelas 11 yang baru masuk sekolah seminggu yang lalu.
"Ya ampun, manis sekali~" gumam Jimin tanpa ia sadari. senyum tergores jelas di bibirnya.
"hanya karena perempuan, kau sampai tak menganggap kami ada!"kesel Jungkook menatap Jimin jengkel.
Perkataan temannya saja seperti tidak masuk ke telinga. Pikiran dan matanya terus terfokus pada adik adik kelas yang berada di sana sini. Tanpa berkata apapun Taehyung melakukan aksinya. Sekeras mungkin Taehyung menarik rambut Jimin alias menjambaknya.
"Percepat jalanmu atau kita akan terlambat masuk ke kelas!"perintah Taehyung yang tidak ada hentinnya menarik rambut Jimin.
"Hey! Hey! Hentikan!"teriak Jimin kesakitan.
Rambutnya terus ditarik sampai tiba di kelas.
________________________________
Waktu berjalan cepat hari ini. langit berwarna jingga dihiasi awan awan yang bertaburan disana sini. Bel pulang sudah berbunyi sekitar sejam yang lalu. Ruangan ruangan sepi tak berpenghuni. hanya ada ruangan yang terisi. Taehyung, Jimin dan Jungkook masih berkutat dengan buku di perpustakan. Sebenarnya yang berkutat dengan buku hanya satu ekor saja, yang lainnya punya kegiatan lain yang menurut mereka asyik.
Yang masih rajin menggeluti buku adalah Jungkook. kalau Taehyung malah tidur diatas buku yang sebelumnya sedang ia baca. sedangkan jimin sibuk memainkan telepon genggamnya. Lama kelamaan Jimin mulai bosan. Dipukullah meja dengan lumayan keras olehnya.
"Sampai kapan aku harus berada disini dengan semua buku yang membosankan ini!?"murka Jimin
"Sampai aku menyelesaikan tugas rumit ini" jawab Jungkook dengan mata terus terpaku pada buku.
Nadanya begitu santai dan tenang, berbanding tebalik dengan Jimin. Kepintaran Jungkook melebihi para siswa lain. Akibat kepintaran yang sangat super, ia sering diberi tugas tambahan oleh gurunya. bukan tugas biasa, melainkan tugas spesial yang luar biasa rumit. Jika Jimin yang mengerjakan mungkin hanya dalam hitungan detik otaknya akan meledak berkeping keping. Jimin kembali hening memainkan ponselnya lagi juga meredam kekesalan yang sempat memuncak.
Jarum jam terus berputar. Warna hitam pekat menggantikan warna jingga yang sebelumnya memenuhi seluruh permukaan langit. Satu bintang pun tak menampilkan diri malam ini. Jumlah warna hitam di langit tak terhitung jari, Suara bergemuruh terdengar dimana mana, memengkinkah terjadinya hujan lebat disertai petir atau lebih parahnya badai. Tugas spesial milik Jungkook sudah selesai. Tapi apa yang membuat mereka masih berada di sekolah?
Bosen menunggu, Jimin dilanda rasa kantuk yang berat tadi sehingga tertidur begitu saja dengan pulas. Lalu seusai mengerjakan tugas, Jungkook keasyikan membaca buku sampai lupa waktu. Tengah tengah membaca, bunyi aneh muncul. Konsentrasi Jungkook pada buku pun buyar. Penasaran dengan penyebab bunyi, ia berkeliling perpustakaan melihat ke sana sini dengan jeli. Telinganya berkata asal bunyi berasal dari perpustakaan. Meski sudah berkeliling lebih dari sekali, tak ada hal aneh satupun yang tertangkap mata.
Kini ia kembali ke tempat semula. Sesuatu menarik perhatian matanya. Buku yang ada disamping Jimin sudah berada di bawah. Sebelum itu ada di atas meja. Mungkin tanpa sadar Jimin menyenggol bukunya sampai akhirnya terjatuh. Rasa penasannya terbalas sudah. Menyadari hari sudah gelap, ia segera membereskan barang barangnya. Semua barang sudah masuk kedalam tas. Bunyi lain datang lagi. Pertama ia melihat di sekitar tempatnya berada, mungkin saja itu karna ulah mereka berdua.
Tak ada yang aneh disini. ia mencoba menelusuri seisi perpustakan. Tak ada hasil yang ia dapatkan. Bola matanya bergerak melihat sekitar. Rupanya bunyi itu berasal dari luar. Angin tertiup sangat kencang di luar membuat pohon bergerak. Salah satu pohon terdekat jendela perpustakan bergerak sehingga rentingnya mengenai kaca jendela seolah olah ada yang mengetuk kaca jendela.
Tas ia ambil. tidak lupa sahabatnya sahabatnya dia bangunkan.
"Kalian berdua, bangun!"seru Jungkook menepuk nepuk pundak Taehyung dan Jimin.
Lama waktu untuk membangunkan Taehyung tak perlu banyak.Tiga kali tepukan ia sudah sadar dari dari mimpi. Puluhan kali ditepuk masih saja ia damai dalam mimpinya. Jengkel dengan kebiasan jimin yang sulit dibangunkan, mereka hendak pergi meninggalkannya. Niat mereka terhalang seketika. Masuklah seseorang gadis cantik berseragam sama, yang membedakan bawahnya saja. Gadis tersebut nampak resah.
"Ada apa?Apa kau melupakan sesuatu di sini?"tanya Jungkook
"Ponsel ku tertinggal disini"jawab gadis itu mencari ponselnya setiap di meja.
Setelah suara gadis itu keluar, Jimin langsung bangkit dari tidur.
"Biar aku yang carikan"semangat Jimin yang bergegas mencari ke sana ke mari
Melihat keresahan gadis cantik itu, Taehyung dan Jungkook tak tinggal diam.Taehyung mencari dibawah meja, sedangkan Jungkook ia mencari di rak rak buku. Seingatnya Jungkook ia menemukan sesuatu tadi di salah satu rak buku. Beberapa lama kemudian salah satu dari mereka menemukan sesuatu.
"Aku menemukanya!"teriak Taehyung riang.
Di lantai ia menemukan ponsel gadis itu. berkat Taehyung telah menemukanya, gadis tersebut sangat berterima kasih kepada Taehyung. Itu membuat Jimin kesel. Semuanya siap untuk pulang. Keluar dari perpustakan, mereka berjalan sejajar. Begitu asyik mereka mengobrol.
DING~ DONG~ DENG~
Bunyi bel sekolah terdengar...
"Kenapa bel sekolah berbunyi dimalam hari?
Bukannya kelas sudah bubar dari tadi?"heran Taehyung menengok ke speker terdekat yang dipasang di beberapa sudut langit langit lorong.
"Mungkin ada kesalahan mengatur waktu berbunyinya"pendapat Jungkook tak ambil pusing.
"Yang penting sekarang kita segera pulang, hari sudah malam... ini semua salahmu, Jungkook!"tatapan tajam Jimin daratkan pada Jungkook.
"Aku lupa waktu! Lagipula kau juga sulit dibangunkan sehingga membuat ini semakin lama!"Jungkook tak mau kalah.
"Tapi kau membuatnya lebih lama. Mungkin aku hanya membuat kita terlambat pulang beberapa menit, tapi kau berjam jam!"lawan Jimin yang amarahnya tak tertahan lagi.
Keduanya terselimuti gejolak amarah.adu mulut tak tertelakkan. Taehyung dan gadis manis itu binggung melihat mereka yang tak ada hentinya bertengkar. Untung saja itu tidak berlangsung selamanya, bel sekolah berbunyi lagi membuat semuanya terdiam.
"Diam kau bel bodoh!"bentak Jimin pada speker.
"Tunggu pukul berapa sekarang?"tanya Jungkook pada semua.
"Sekitar pukul 9..."jawab Taehyung melihat jam tanganya.
"Kalian masih akan bertengkar?"tanya gadis itu kepada Jimin dan Jungkook.
Belum sempat ada yang menjawab, bunyi bel mendahului mulut mereka.
"Sampai kapan bel kacau ini akan terus berbunyi?"kesal Jungkook
"Sesampai kau mengakui kesalahanmu!"Jimin memulai peperangan lagi.
Jungkook pun akan menyerang balik.
"Berhenti bertengkar!"jengkel si gadis berteriak di hadapan mereka berdua.
Peperangan tak jadi berkelangsungan. Si gadis berhasil menggagalkan perang. kedua bocah itu diam tak berkutik memandang gadis itu dengan tatapan terkejut. Lagi lagi bel berbunyi. Kali ini mereka coba tak hiraukan bel tersebut. Langkah maju mereka ambil setiap langkahan yang mereka ambil diatur dengan sengaja. Tanpa sebab yang jelas Jungkook mengerakan kakinya lebih cepat, diikuti yang lainnya. Semakin mereka bergerak cepat, bel semakin sering berbunyi.
Keganjilan semakin mereka rasakan. Entah apa alasanya rasa takut mulai muncul. Kaki mereka kini berlari mengurungi koridor. Kecepatan lari terus mereka tingkatkan. Pintu berada didepan sana. Tenaga mereka kerahkan total. akhirnya pintu berhasil mereka dilewati. Para lelaki langsung menutup pintu dan bersandar di pintu agar tak dapat dibuka.
"Sebenarnya ada apa ini? Aku binggung...tanpa sebab yang jelas aku ingin berlari sekencang mungkin..."binggung Jungkook dengan nafas terengah engah.
"Aku juga binggung kenapa aku melakukan hal yang sama..."respon jimin yang juga lelah berlari
Mereka tahu tak akan ada yang membuka pintu, tapi mereka tetap berdiam disana. Sunyi menyelimuti seisi ruangan. Speker terdapat di ruangan ini tapi tak bersuara sama sekali. Dari ruangan lain pun tak terdengar bunyinya.
"Benar benar ada yang tidak beres.."gumam Taehyung.
"Biar aku melihat!"ucap gadis mendekati pintu
"Jangan!"lantang mereka bertiga serentak.
Seolah larangan ketiga bocah ini tak dihiraukan olehnya, ia tetap berusaha membuka pintu untuk menegok kelorong tadi. Mau tidak mau mereka mengalah. Pintu ia buka membuat celah kecil, namun bel berbunyi kembali.
"Berhenti!"secepat mungkin jimin menutup pintu kembali. "Jangan buka lebih lebar atau hal yang tak diinginkan mungkin terjadi.."sambung jimin seolah tahu akan terjadi sesuatu.
"Kita harus segera keluar, takutnya keanehan semakin gila..."usul Jungkook mulai bergerak maju.
"Tapi bagaimna jika ada sesuatu dari lorong ini jika pintu tak terjaga"ragu Taehyung
"Lebih baik kita bergerak cepat agar bisa menjauh dari lorongan ini juga dari keanehan ini.."pemikiran
Jungkook tak sedikit pun berubah karena keraguan
Satu persatu mereka mulai berjalan mengikuti Jungkook, hanya Taehyung yang masih diam ditempat.
"Taehyung mau sampai kapan kau diam disana menjaga pintu?"tanya Jimin menengok kearah Taehyung.
Pasrah dengan apa yang terjadi, Taehyung meninggalkan pintu dengan dipenuhi rasa takut. Gerakan mereka kali ini lebih santai, disebut berlari bukan, disebut berjalan juga bukan. Ditengah tengah waktu tegang seperti ini jimin masih sempat sempatnya mengajak gadis itu mengobrol.
"Ngomong ngomong nama mu siapa"tanya Jimin menampilkan aura keren.
"Nama ku ceaye"jawab gadis itu memberikan senyum.
"kau kelas 11kan? sebab aku belum pernah sebelum
melihat sebelumnya.."Jimin terus bertanya. anggukan ceaye beri.
"Berarti kau adik kelas ku, hahaha..."tawa Jimin
"Jimin jangan bermain main!"tegur Jungkook kesal
Mendapatkan teguran, Jimin memutar matanya tanda tak terima teguran Jungkook tersebut. Suasana menjadi serius kembali. Mata mereka semua memantau situasi sekitar siapa tahu ada sesuatu, jadi mereka bisa saling memberitahu. Walapun mereka bisa menggunakan indera penglihatan mereka untuk melihat situasi. Tapi bagaimana jika lampu tiba tiba mati?
"Siapa yang mematikan lampu?"heran Jungkook dengan mata bulat.
"Bukan aku..."sahut Jimin. Taehyung dan Ceaye juga tak mengaku.
Kemungkinan memang dimalam hari lampu di sekolah dimatikan secara otomatis, atau juga ada pemadaman listrik mendadak. kilat cahaya tiba tiba muncul dalam kegelapan sehingga membuat mereka bisa melihat walau hanya dalam waktu satu detik namun berkali kali. Cahaya tersebut berasal dari petir yang muncul diluar sana. pendengaran mereka teramaikan dengan suara hujan yang membasahi seluruh lingkungan di luar bangunan sekolah.
"Ayo kita bergerak maju lagi! Walau dalam gelap tapi kita masih bisa melihat dengan bantuan cahaya petir dari luar!"perintah Jungkook pemimpin pasukan.
Tanpa ada penolakan, semuanya mengikuti jin dari belakang. baru beberapa langkah kaki mereka maju kedepan, suara bel berbunyi. Sontak itu membuat Taehyung menjerit ketakutan.
"Taehyung kau memalukan sekali! Ceaye saja tak menjerit! Benarkan, Ceaye?"tanya Jimin yang menunjukan senyum keren.
Tak ada sahutan dari Ceaye.
"Kenapa kau tidak menjawabku, Ceaye?"heran Jimin mengkerutkan alisnya.
Yang menjawab pertanyaan Jimin malah bel sekolah yang berbunyi untuk kesekian kali. Lampu menyala kembali bel berhenti berbunyi. Perasaan mereka lega. Tapi tidak sepenuhnya lega.
"Di mana Ceaye?"binggung Jimin yang masih menengok ketempat Ceaye berada sebelumnya.
"Ceaye?"panggil Jungkook melihat kesegala arah.
"Kyaaaaa!!!"jeritan perempuan terdengar dari speker.
END💜
_____________________________