Aku ini anak penakut. Karena saking takutnya aku hampir tidak memiliki permainan. Yah, aku juga phobia terhadap boneka. Pernah saat ulang tahun, seseorang memberikan boneka kepadaku. Wajah boneka itu seram, maka kubakar saja bonekanya.
pada suatu malam, tempat pembakaran di ruang tamu itu mulai berisik. Sepertinya ada sesuatu yang keluar dari situ.
Ah, boneka itu! Boneka yang sudah kubakar keluar dari sana. Mukanya sudah rusak, meleleh. Matanya hampir copot keluar. Bonekanya benar-benar makin seram. Saking takut, aku lari ke kamar mama.
Di sana nggak ada orang, sepi dan mencekam. Aku bersembunyi di lemari.
KRETAK KRETAK KRETAK!!
Boneka itu berjalan sendiri masuk ke kamar dan...
HAI SAYANG? MENGAPA MEMBAKARKU?
Dia membuka lemari dan menangkap aku. Bonekanya bicara dan mata yang hampir copot itu keluar dan jatuh di kedua tanganku. Uwawawaaa aku lari ketakutan. Kubuang benda itu!
Mama?Papa? Di manakah kalian?
Kucari setiap sudut rumah, tetapi mereka tidak bisa kutemukan. Apakah mereka sudah lari meninggalkan aku di sini...
Aku menangis menjerit-jerit. Mengapa ini terjadi, mama tega... Papa tega, semua tega padaku meninggalkan aku sendirian di sini.
"Fania, bangun. Udah siang, loh! Kamu ngga sekolah?" Mama menggoyang tubuhku.
"AAHHH BONEKA ITU!" Aku berteriak, mama pun kaget dengan teriakanku. Dia menjewer kupingku.
"Makanya kalau mau tidur berdoalah dulu. Kamu mimpi apa sih ayo, cepatlah mandi sana!"
Cuma mimpi toh... kukira ini sungguhan.
"Ma, apa ini?" Aku melihat ada sebuah kotak kardus di meja. Itu kotak apaan, ya...
"Oh, kamu lupa ya sekarang hari apa? Ini adalah hari ulang tahunmu sayang, cepatlah sebelum terlambat!" Mama menunjuk kotak kardus itu.
Aku, berulang tahun hari ini?
Sehabis mandi, aku mendekati kotak itu.
"Bukalah, sayang itu kado ulang tahun dari mama dan papa."
Dengan tangan gemetar aku membuka kado itu. Astagaaa...!!
"Bo-Boneka itu!"
"Sayang, kamu suka nggak dengan hadiahnya?"tanya Mama padaku dengan senyuman manisnya. Aku gugup. Rasa takut, pusing, mau muntah dan sangat depresi membuatku kacau hari itu.
"Sayang, kau kenapa diam saja?"
"Mam, boleh nggak aku menyimpan boneka ini?" tanyaku. Mama mengangguk. Kemudian, boneka itu ku bawa ke belakang rumah secara diam-diam. Di sana aku membakar boneka itu di dalam drum besar. Biar mampus!
Tetapi hatiku was-was, seolah ada sesuatu yang sedang mengawasiku.
Kalian tahu, siapa yang sedang mengawasiku?