Di ajak menikah? Cansan langsung menyetujui lamaran Darren, seseorang yang baru dia kenal tiga Minggu yang lalu.
Mengingat usia Cansan yang di sebut-sebut usia dengan ambang terlambat untuk menikah. Dia telah menginjak usia 29 tahun, dan tahun depan dia telah mencapai usia kepala tiga. Mendapatkan lamaran, tentu saja dia langsung menyetujui dengan senang hati.
Apalagi Darren menyebut dirinya sebagai seorang pengusaha importir telepon seluler dari negeri bambu, dan pria itu menyanggupi biaya pernikahan mereka.
Cansan dan Darren segera menghubungi Event Organizer untuk menangani pernikahan mereka, yang akan di laksanakan tanggal 7 bulan Juli. Mereka mempercayai sepenuhnya pada Belia Wedding Organizer.
Setelah selesai berbincang dengan Belia Wedding Organizer. Darren mengantar pulang Cansan. Setelah berbincang sesaat di teras rumah. Darren pamit pulang.
Setelah kepergian Darren. Cansan segera memasuki rumahnya. Dia dengan senang hati berbagi kabar pada ibunya, jika Darren telah melamarnya dan mereka telah menyepakati tanggal pernikahan dan telah menyerahkan segala hal pada Belia Wedding Organizer.
"Apa kau yakin akan menikah dengan pria yang baru kau kenal?"
"Dia baik bu, dan dia juga sudah mapan."
"Tetapi, kalian belum mengenal lebih dari satu bulan." Ibu Cansan tetap merasa khawatir.
"Ibu, perkenalan bisa setelah menikah. Asalkan dia lajang. Tidak ada hal yang perlu di kahwatirkan. Lagipula, dia sudah bekerja, dia cukup memiliki materi untuk menjadi seorang suami dan ayah kelak."
Ibu Cansan mengehela napas. Raut wajahnya masih terlihat menimang-nimang keputusan puterinya yang terkesan sangat mendadak, dan terburu-buru ingin menikah, "Nak, lebih baik lambat menikah daripada salah menikah dengan orang yang tidak tepat."
"Ibu, yakinlah padaku." Cansan mengulurkan tangannya, menggengam salah satu tangan ibunya, berusaha menyakinkan ibunya.
"Aku sudah dewasa, bu. Berani melangkah, berani menanggung resiko," lanjut Cansan dengan perasaan yang sangat yakin akan calon mempelai prianya.
"Bagaimana dengan biayanya?"
"Jangan mengkhawatirkan hal itu. Darren pria yang mapan, dia telah menyanggupi semua hal itu."
Ibu Cansan hanya menghela napasnya. Dia tetap merasa khawatir akan keputusan mendadak dan terburu-buru oleh Cansan.
"Sebelum terlambat, mari batalkan saja. Ibu khawatir kau salah memilih."
"Ibu!" Cansan mengeryitkan keningnya, jantungnya berhenti sebentar. Lalu, dia mulai menyakinkan lagi, "Aku tidak akan salah memilih. Lagipula, Darren itu lajang. Tidak ada yang salah dari dirinya, bu."
Ibu Cansan tersenyum terpaksa. Entahlah, hati kecilnya tetap merasa tidak nyaman akan keputusan Cansan. Dia membujuk Cansan lagi, "Jangan karena usia yang makin bertambah, kau berburu memilih pasangan acak."
Cansan terbahak.
"Aku tidak takut jadi perawan tua, Bu. Hanya saja, takut pria seperti Darren, akan di ambil wanita lain. Jika, aku menolak lamarannya hari ini," gurau Cansan seraya berusaha membujuk. Karena, banyak bujukan Cansan, akhirnya ibunya menyetujui pernikahan Cansan. Wali hati kecilnya, merasa tidak nyaman akan rencana pernikahan yang mendadak seperti ini.
***
Satu Minggu Kemudian ....
Pernikahan Akbar dan Cansan telah berlangsung dengan sangat meriah. Bahkan banyak tamu undangan berbisik akan pernikahan megahnya, dan tidak hentinya memuji-muji mempelai wanita yang terlihat sangat cantik dan anggun. Tentu sangat mudah mendapatkan mempelai pria yang terlihat gagah dan sangat mapan yang mampu membiayai pernikahan yang terlihat mewah.
Malam resepsi Raja dan Ratu berakhir. Di saat selesai seluruh para tamu undangan berakhir dengan berjabat tangan. Darren dengan raut tidak sabar untuk malam pertamanya, segera memberi istirahat agar Cansan mengikutinya masuk ke kamar hotel, yang telah di sediakan untuk pasangan mempelai malam ini.
Malam pertama telah berakhir dengan memuaskan bagi kedua mempelai. Bahkan, Darren tidak berhenti-henti memuja kemolekan tubuh istrinya dan merasa bersyukur akan keutuhan diri Cansan yang menjaga kesuciannya di usia yang sudah mencapai 29 tahun.
"Aku pikir, aku hanya akan mendapat bekas orang lain, padahal usiamu seharusnya ...," goda Darren usai malam pertamanya.
Cansan tertawa menutup tubuhnya yang terlihat polos, tanpa sehelai benangpun. Dia menggigit sedikit bibirnya, dan berpura-pura merajuk, "Mas, tanpa sengaja langsung menyebut diriku, si perawan tua yah."
Darren tertawa, dan mencium kening istrinya. Karena, lelah sepanjang malam yang telah mereka lewati. Darren segera mengakhiri topik, "Ayo, kita tidur. Besok, kita akan hal yang sama lagi."
Cansan tersipu kembali. Namun, melihat Darren telah memejamkan matanya. Dia pun segera memejamkan matanya, dan terlelap bersama.
***
Dua Bulan Kemudian ....
Cansan baru saja menatap layar monitor. Harus kembali lagi ke kamar mandi. Kepalanya pusing, dan bawah perut sangat sakit. Setiap kali, dia selalu terasa mual dan ingin muntah.
"Cansan, wajahmu pucat," utara Asri, teman serekan kerjanya.
Cansan membasuh wajahnya dengan air. Lalu, dia mematikan keran air. Dia menatap bayangan dirinya yang terpantul dalam cermin. Dia terlihat seputih kertas.
"Beberapa hari ini, aku sedang sakit, As. Aku sepertinya maag. Tiap hari, setiap pagi akan mual."
Asri tertawa kecil. "Kau bukan maag. Apa kau sudah testpack. Bisa saja, kau hamil."
Cansan termenung akan satu kata. Hamil? bisa jadi.
Sepulang dari kantornya. Tepat pukul tujuh malam, Cansan langsung mengajak Darren untuk memeriksakan isi dalam perutnya pada dokter kandungan.
Setelah hampir satu jam menunggu. Akhirnya Darren dan Cansan, dipersilahkan masuk. Setelah melakukan pemeriksaan USG, dokter pun tersenyum dan menunjukkan gambar pada monitor.
"Selamat Ny.Cansan, telah menjadi ibu."
Cansan dan Darren terlihat berbahagia mendapat kabar tersebut, dan mulai meminta petunjuk agar senantiasa dapat merawat kandungan Cansan.
Sepulang dari pemeriksaan kandungan. Darren dan Cansan mulai membeli perlengkapan gizi untuk anak dalam kandungan, vitamin, susu, dan pakaian yang nyaman dan longgar untuk Cansan.
Sesampai Di Rumah
Cansan tiba-tiba saja mendapatkan kejutan perubahan sikap Darren. Baru saja menginjak teras rumah. Darren sudah menggendong Cansan ala bridal, masuk ke rumah dan langsung menuju kamar tidur, dan membaringkan perlahan di atas tempat tidur yang nyaman.
"Aku akan membuat susu untukmu."
Cansan tersipu malu akan keromantisan suaminya.
Tidak menunggu lama. Darren membawa secangkir gelas susu hangat untuk Cansan.
Selagi Cansan meminum susunya. Darren datang memeluk istrinya dari belakang, dan mengelus-ngelus perut istrinya.
"Sayang," sebut Darren.
"Iya." Cansan meletakkan gelas susu pada nakas.
"Usaha importir tercekat oleh bea cukai. Aku butuh uang untuk menebusnya di bea cukai. Saat ini modal ponselku, sedang berputar. Aku butuh uang cepat. Kaupun tahu biaya pernikahan kita, aku yang membayar seluruhnya. Aku sudah tidak memiliki tabungan," keluh Dareen.
Cansan mengeryitkan keningnya, "Mas, butuh berapa?"
"Barangnya sangat banyak, sayang. Bea cukai barang elektronik, totalnya hanya Tujuh puluh lima juta rupiah."
Cansan mengerutkan keningnya dalam. Tujuh puluh lima juta, banyak sekali. Cansan menggelengkan kepala, karena dia tidak memiliki uang sebanyak itu.
"Mas, aku tidak punya sebanyak itu."
"Pinjam dengan ibumu. Setelah terjual, aku akan segera mengembalikan pinjaman beserta bunganya."Darren memohon.
"Ibu, sudah tua. Kita tidak akan meminjam. Kasihan."
"Hanya sebentar, sayang." Darren penuh dengan wajah ekspresi memohon.
Cansan berpikir keras. Akhirnya menganggukkan kepala, dan menajawab, "Aku bisa meminjam uang di kantor dengan menggadai gajihku, mas."
Darren tersenyum, dan memeluk lebih ketat. "Terimakasih, istriku cantik," pujinya dengan sinar mata terlihat bahagia, karena bujukanya berhasil.
***
Hanya butuh proses satu minggu. Dana pinjaman yang di ajukan oleh Cansan, di setujui kantor. Darren sangat senang. Lalu, memberitahukan rencana keberangkatannya.
"Sayang, aku akan ke Surabaya. Untuk memasokkan barang di sana. Setelah mendapatkan penjualan, aku segera memberikan semuanya untukmu dan anak kita."
Cansan menaggukan kepala. Karena, yang dia tahu Darren memang seorang importir. Walau dalam dua bulan pernikahan, Darren tidak pernah memberikan sejumlah uang untuk rumah tangga. Cansan tidak pernah menaruh curiga.
Selama kepergian Darren ke Surabaya. Cansan dan Darren menghabiskan komunikasi via video call ataupun chat media social.
***
Pukul 19.00 Wib
Karena kehamilanya. Selama kepergian Darren. Ibunya Cansan dengan senantiasa menemani Cansan di rumah. Namun, saat ini wajah ibunya terlihat sangat murung.
"Ada apa sih Bu?"
Ibu Cansan terlihat ragu berkata. Dia masih menyimpan satu teka-teki dalam hatinya. Namun, dia sulit mengungkapkan hal tersebut. Harus mulai dari mana? jadi, dia memutuskan untuk menyimpannya sendiri, apalagi Cansan sedang hamil. Tidak pantas, dia berbincang hal negatif tentang suaminya.
Tidak lama, terdengar ketokan pintu sangat keras.
Tok.Tok.Tok.
Cansan segera membuka pintu.
"Ibu Rani." Rani adalah pemilik Belia Event Organizer. Wajahnya terlihat suram, tangannya terlipat di depan dada. Dia segera masuk, bahunya menyenggol sengaja bahu Cansan dengan sangat keras. Lalu, dia duduk dengan menyilangkan kaki.
"Bayar utang kalian!" ketus Rani.
Cansan mengerutkan alisnya. Dia tidak mengerti apa yang di maksud Rani. Utang? utang apa? Cansan dan ibu Cansan saling bertukar pandangan mata, dan perlahan mengambil sikap duduk yang manis berhadapan dengan Rani yang terlihat akan meludah.
"Biaya pernikahan kalian belum lunas!" ketus Rani dalam satu kalimat yang mengejutkan Cansan dan ibunya. Bagai, petir terbit di atas kepala. Cansan dan ibunya, kehilangan setiap katanya. Seingat mereka, Darren sudah berkata jika telah melunasi biaya pernikahan. Bagaimana bisa hal ini terjadi, bukankah Darren memberikan selembar cek kepada Rani, saat itu.
"Bu-bukankah ... Darren su-sudah-"
"Inih! ambil kembali. Cek kosong!" Rani melempar selembar cek. Cek terbang di udara, dan jatuh ke ujung kaki Cansan.
Cansan menatap selembar cek di bawah kakinya. Dulu, dia begitu bangga memiliki calon suami yang terlihat selalu merobek sebuah cek untuk setiap transaksinya. Tetapi, malam ini ... sekejap raga dan hatinya merasa di pukul, di koyak, dan di remukkan. Sakit. Perih. Menemukan fakta yang mengejutkan seluruh rongga dadanya.
"Mak-maksud ba-bagaimana sih, Bu!" Ibu Cansan berusaha tenang. Namun, tetap saja setiap katanya terdengar melengking. Baiklah, dia marah pada Darren yang telah berkata omong kosong. Namun, dia juga marah pada Rani. Menagih utang pada puterinya.
Rani memandang pada ibu Cansan. Dia mulai sedikit melunak, ketika berhadapan dengan wanita paruh baya itu. Apalagi, wanita paruh baya itu terlihat tidak kalah shock dengan wajah Cansan, yang telah terlihat sangat putih dan tampak nelangsa, dia tidak yakin jika Darren telah menipunya.
"Baik, Bu! Awal mula, dia hanya memberikan 10 juta untuk uang muka. Lalu, setelah pernikahan selesai, dia memberikan selembar cek pelunasan. Karena, saat itu saya ada di Eropa. Jadi pencairan cek, saya lakukan dua Minggu setelah kepulangan saya dari Eropa. Ternyata kosong. Saya segera menghubungi Pak Darren, untuk sisanya."
Rani jeda sesaat, menarik napas, seraya matanya menatap bergantian dua wanita di depannya. Baiklah, mereka terlihat tidak mengetahui permasalahannya. Terlihat menyedihkan dan sangat terkejut. Bahkan, Cansan terlihat kehilangan hidupnya. Seakan, dia sudah menduga-duga apa yang telah terjadi. Dia telah di tipu oleh suaminya sendiri.
"Pak Darren memiliki banyak alasan, dia mengatakan jika dia tanpa sengaja menggunakan uang giro untuk usahanya. Lalu, dia berjanji akan mengembalikan dalam dua Minggu, beserta bunganya. Tepat dua Minggu yang lalu, dia hanya membayar bunganya pada saya. Hanya 10 juta. Sampai hari ini, dia belum melunasi biaya tersebut. Sudah, genap dua bulan."
Cansan menyadarkan punggungnya pada sofa. Dia tidak bisa berkata apapun. Hanya sepasang matanya yang terlihat berkaca-kaca, dan seluruh raganya bergetar, jantungnya seakan berhenti memompa. Rasanya sangat sesak di dadanya.
Ibu Cansan menelan pahit apa yang dia dengar. Dia pun, sebenarnya telah mendapatkan fakta negatif tentang menantunya. Namun, tidak menyangka, jika fakta negatif yang baru, kembali terkuak lebih dulu di hadapan Cansan yang tengah mengandung anak dari seorang pria yang telah menipunya.
"Berapa sisanya?" tanya Ibu Cansan terlihat tidak kalah biru dan sedih menatap Rani.
Rani menghela napas, dia mengatur napasnya. Diapun terbit kasihan, ketika melihat tangan halus Cansan terus mengelus perutnya. Dia menduga, jika Cansan pastilah telah mengandung. Cansan, terlihat sangat kasihan.
"Sisanya 200 juta. Namun, aku memandang nasib buruk dan anak yang di kandung Cansan, aku meminta modal saja. Pembayaran catering dan honor pengisi acara, dan karyawanku. Aku meminta setengah harga, kembalikan kepadaku 100 juta."
100 juta. Bibir Cansan bergetar. Air matanya deras jatuh, masuk ke dalam celah bibirnya. Ibu Cansan memejamkan matanya, memukul keningnya, dan ikut menangis.
"Cansan, maaf! aku menunggu niat baik kalian!" Tidak ingin berlama, Rani segera pamit pulang.
Blam! Daun pintu menyatu dengan kusen. Cansan menatap pada ibunya. Ibunya hanya menatap ujung jemari tiap kakinya yang sedang menginjak lantai.
"Ibu ...," seru Cansan dengan serak, dan menangis kemudian dalam pelukan ibunya.
"Darren tidak mungkin begitu. Pasti Darren akan melunasi. Dia hanya sedang kesulitan uang," hibur Cansan berusaha tetap mempercayai Darren.
Ibu Cansan mengangkat kepalanya. Senyumnya terlihat getir sekaligus palu yang menancapkan paku pada jantung Cansan. Dia tidak pernah menyangka, jika pernikahannya akan membuat kesedihan yang dalam untuk ibunya.
"Ibu, percaya Darren!"
Ibu Cansan menggelengkan kepala. Dia mengambil tasnya, dan merogoh ponselnya dari dalam tasnya. Dia menelan pahit dan tangisnya lebih dulu. Barulah, tangannya membuka pesan.
"Seorang teman ibu, yang kebetulan mengenal Darren. Memberi tahu satu rahasia, jika ...." Ibu Cansan tidak melanjutkan kalimatnya, menyerahkan ponselnya pada Cansan. Membiarkan Cansan membaca sendiri percakapan Ibu Cansan dengan temannya.
Cansan dengan sepasang mata yang berderai, menguatkan hatinya menatap layar ponsel. Mambaca pesan tersebut.
Deg! Petir seakan menyambar kepalanya untuk kedua kalinya.
"Jadi, Darren sudah memiliki istri sah sebelumnya ... dan, aku hanya kedua."
Ibu Cansan menganggukan kepala. Cansan merasakan seluruh ruh dalam dirinya, ingin melepas dari raganya. Fakta ini membuat hidupnya, tidak bearti.
"Kau telah di tipu. Dia tidak lajang!"
Cansan menghapus air matanya yang terus banjir, dengan punggung tangannya. Sakit di dadanya, perlahan mendorong seluruh pandangan menjadi gelap. Dia pun jatuh pingsan.
"Cansan!" Ibu Cansan histeris.
***
Keesokanya harinya ...
Cansan berusaha menghubungi Dareen. Tidak aktif.
"Apa sudah bisa di hubungi?" tanya ibu Cansan.
Cansan menggelengkan kepalanya. Teringat akan biaya pernikahan yang masih membutuhkan pelunasan 100 juta. Cansan berniat akan menggadai sertifikat rumahnya.
"Ibu, jangan khawatir soal Rani. Aku akan menjual rumah ini untuk membayarnya."
Ibu Cansan mengerutkan alis, rumah ini adalah hasil tabungan puterinya selama Tujuh tahun bekerja. Sangat sayang, jika di jual. Oleh itu dia mengusulkan hak lain, "Mengapa tidak gadai gajimu saja. Kau kan seorang Karyawan tetap. Kantor pasti percaya padamu."
Cansan menggigit bibirnya, dan menyadari kebodohannya. Lalu, menatap ibunya dengan sepasang mata yang berkaca. Lari, mendekati kaki ibunya.
"Ada apa ini?"
"Ampun, Bu! A-aku ...."
Ibu Cansan segera berjongkok memeluk puterinya, "Kau tidak salah, nak. Pria itu saja yang telah manfaatkan kebaikan dan keluguan dirimu."
"A-aku bodoh bu. A--ku telah menggadai gajiku. Semua gajiku habis, tidak tersisa hanya untuk membayar cicilan berjalan, uang yang di bawa Darren."
Ibu Cansan membuka bibirnya lebar, dia ingin segera berteriak dan mengumpat mengapa kesialan puterinya, begitu banyak. Menantu sialan.
"Sudahlah. Yang berlalu, biarkan berlalu. Sekarang, kau akan melakukan apa?"
Cansan melepas diri dari pelukan ibunya. Dia pun segera beranjak bangun, dan menuju lemari. Membuka laci brankas yang tersimpan dalam lemari, mencari sertikat rumah. Tidak di temukan.
Deg! Cansan menjadi lebih gelisah, dan dia menemukan secarik kertas tulisan tangan Darren. Perlahan, dia membacanya dalam hatinya, "Sayang , sertikat bisa kau tebus dengan rentenir Felie. Aku telah menggadainya, karena sangat butuh uang waktu itu. Maaf, sayang! Aku mencintaimu."
Cansan terkejut. Ibu Cansan jatuh ke atas kasur, mendengar apa yang telah di baca Cansan.
"Menantu, tidak tahu di untung!" umpat Ibu Cansan geram.
Cansan membuka lembar selanjutnya, yang merupakan kwitansi peminjaman uang.
"Dia meminjam 100 juta dengan bunga 20 persen." Cansan ingin segera mengubur dirinya, mengetahui utangnya makin bertambah tanpa sebab. Lalu, dia membaca surat perjanjian.
"Dalam tiga bulan, tidak membayar 120 juta. Rumah ini berpindah tangan ke bu Felie."
Jantung Cansan berhenti berdetak. Air matanya jatuh lagi, dan seluruh kakinya serasa tulang telah di remukkan, dia pun jatuh merosot ke lantai. Tidak sadarkan diri lagi.
***
Satu Minggu Kemudian ....
Ibu Cansan menerima uang pinjaman sebanyak 100 juta dari bank, dengan menjamin statusnya sebagai pensiuan pegawai pemerintahan. Uang itu, di serahkan untuk pelunasan biaya pernikahan Megah Cansan dulu, kepada Rani.
"Terimakasih yah, Bu." Rani pamit pergi setelah mengucapkan terimakasih.
Cansan menatap ibunya. sepasang matanya nanar. Dia tidak menyangka jika kesusahannya, akan menyeret ibunya untuk membereskannya. Karena rumahnya sendiri, telah di serahkan kepada rentenir. Maka, semenjak itu Cansan kembali ke rumah orangtuanya.
Cansan pun pernah mengubungi Darren. Mereka hanya bersepakat cerai, setelah pernikahan tiga bulan mereka.
Tamat.
***
Pesan Ibu Cansan untuk pembaca, "Berhati-hatilah memilih seseorang. Yang terlihat baik dan banyak uang. Kulit asli seseorang, tidak bisa kau kenali hanya dalam waktu yang singkat. Pilihlah seseorang yang baik dan berjuang untukmu, dan itu perlu waktu untuk menilainya. Lebih baik lambat menikah, daripada salah menikah."
Salam Perawan Tua 🤣