1.Cafe☕🍩
Saat suasana hati lagi rasanya panas sangat terik ini, enaknya ngadem di sebuah cafe, ku masuk sebuah cafe.
Ternyata ada seorang temanku Arif, dia menyapa:
"Hai Dwi apa kabar"
"kabar baik"
"sendirian?"
"iya"
Arif melirik jam tangannya, saat ini masih pukul 10 pagi, maka dia bertanya
"tumben gak kerja"
"ijin"
"kenapa ijin"
"lelah"
"kalau lelah ya dirumah"
"lelah hati, lelah pikiran, jadi perlu dijalan"
"perlu teman ngobrol?"
"gak"
"kenapa, dibagi loh daripada pendam sendiri nanti gila"
"biar gila, daripada bocor mulut, sudah deh kalau kamu ada urusan lain sana pergi, ku lagi ingin sendiri"
ku pilih duduk di sudut cafe.
Kring kring 📲 telepon masuk, ku lihat
no hp kakakku:
ku malas angkat, bagiku untuk masa ini harus bunuh diri?.
Arif tetap datang dan mendekatiku, "hai, Gak boleh melamun sendirian di tempat umum, bahaya kena hipnotis nanti"
"Rif, bawa kabur gua dong..."
"what"
"iya bawa pergi aja gua,, kita kabur dua atau tiga hari, atau sehari aja, supaya gua relax"
"sehari...." sembari jemarinya mengetuk-ngetuk meja.
"boleh, tidurnya di mobil aja ya, yuk jalan"
"ok, cabutt.."
2. Kabur💃🕺
Setelah sekian lama kenal Arif, baru ini kali gua ikut numpang di mobilnya, kami cuma teman sekolah.
Untuk ketertarikan sebagai lawan jenis untuk lebih dari sekedar teman, sepertinya gak, karena kami gak pernah sengaja memberi ruang dan waktu untuk saling kenal. Agak aneh juga si... hari ini dia, mau aja gua ajak gila 😂😂.
Dia melirik gua "loe gak bawa baju ganti?, masakh mau kabur pake baju rapi gitu"
"gua bilang ya singgah dulu aja ke toko murah , gua beli sepasang"
"sabarrr"
di depan jalan agak sepi jalanan, dia berhentikan mobil, dibuka bagasi mobil dan di ambil satu kaos, "Dwi, cukupkan untuk loe?"
"pas"
ditutupnya bagasi, dia bawa mobil ke samping mall, dia bilang ganti baju dulu gi, gua keluar dari mobil.
Setelah ku berganti baju, ku buka jendela dan ku bilang " Rif udah", dia kembali ke mobil, dia bilang "Dwi temani gua ke Bandung ya"
"ok"
"kamu ada tujuan"
"Pantai Pangandaran"
3. Daun Layu 🍂
" Sebenarnya kenapa si Dwi, gua liat loe kalut banget, gua gak pernah liat loe kayak gini"
"gua lelah banget, lelah mikir pekerjaan, lelah hati dengan orang 🏡 rumah"
"lelah gimana?"
"Kerjaan dah berat, di rumah Gak ada ketenangan, gua sebenarnya bukan orang yang tukang ribut, tapi gua lelah dituduh gak jelas, gua lelah berdebat, gua lelah setiap saat di perhadapkan untuk bersitegang, seperti gak ada pengertian"
"Dwi, hidup itu memang begitu, coba loe berusaha pikir sejenak, jika loe larut dalam lelah, apa aja yang loe akan dapat? jika loe larut dalam lelah , seperti daun layu yang telah lelah bergelantungan di 🌲 pohon, lalu akhirnya melepaskan dirinya mengikuti angin, terbang namun akhirnya jatuh terjauh dari pohonnya, dan terinjak orang, ...... loe mau seperti itu?"
4.Burung🕊️
"Lalu Rif, gua harus seperti apa?"
"Burung"
"maksud loe, berkicau di medsos? berkicau di orang?"
"bukan, loe harus belajar untuk terbang, terbang setinggi-tingginya, gak sah lihat ke bawah, ingat bahwa wilayah kerja loe di atas, maka loe harus selalu lihat ke atas, saat sayap loe patah, saat lelah, pasti loe akan istirahat, tapi istirahatnya kan gak di bawah, tapi di atas 🌲 pohon supaya gak diserang musuh, posisi loe tetap di atas"
5.Gunung Merapi 🌋
"Rif, saat ini hati gua ini, bergejolak banget, gua diam, gua tahan, gua usaha gak ngelawan, gua usaha gak nangis, tapi jadinya gua eneg banget sama orang-orang yang buat gua kesel, di dada ni rasanya panasssss bangetttttt seperti gunung berapi, dulu gua pernah keluarkan semua larva 🔥 api ini, walau akhirnya gua sampe hanguskan semua disekeliling gua, dan hanguskan diri gua sendiri, apa musti gua hancurkan diri gua sendiri lagi? supaya gua rasa puasssss banget?"
"bakar diri sendiri tu rasanya sakit banget Rif"
"kita makan siang dulu yuk, dia berhenti di sebuah warung, kami turun dan makan siang. sambil makan, kami hanya terdiam. Selesai makan, Arif belikan beberapa botol air mineral, kami kembali ke mobil "Dwi, minum dulu gih, biar api 🔥 di dalam hati loe padam, setidaknya loe masih ada bedanya dari gunung berapi, masih ada yang bisa padamkan api di hatimu, gunung berapi, siapa bisa padamkan?"
"keris..." kami berdua tertawa 🤣🤣🤣.
6. Angin ☄️
"Dwi, buka aja jendela, biar loe rasa angin bentar, Dwi anggap mereka seperti angin ☄️, orang-orang atau masalah, masih ingat gak definisi dari angin waktu SD kita belajar IPA?"
"udara yang bergerak"
"bener, bayangkan jika gak ada angin, gimana kita bisa bernafas, jadi intinya adanya mereka, adanya hal-hal yang buat kita rempong , malah membuat kita semakin bingung"
"kalau anginnya dikit gak apa apa, kalau sepoi-sepoi mah adem, tapi jika angin taufan 🌪️ sama aja bisa buat gua terbang jauh "
"Tadi kan gua suruh loe terbang 🤗"
Tatapan mata hangatnya membuatku legah banget, dan indah sekali sore ini, kita sudah memasuki Jawa Barat 🛣️.
"Kita ke pom bensin dulu ya " aku mengangguk.
7 Tidur 💤
Sesampainya di pom bensin⛽, bensin diisi full. Ntah bagaimana akhirnya ku bisa tertidur dengan sangat nyenyak. Hingga ku terbangun di Pukul 20.00.
langsung ku bilang " Rif gantian gua yang nyetir" , "ok", gantian ku yang nyetir, dan dia tidur.
8. Perjalanan 🛣️
Ketika diriku yang menyetir, disaat itulah ku sadar, bahwa sebenarnya, akulah yang membawa diriku, bisa aja ku kabur seterusnya mulai hari ini, tapi gimana soal kerjaan gua, gimana tentang sebuah nama baik? bukan hanya kabur, bisa aja gua bunuh diri, tapi benarkah bunuh diri satu- satunya jalan?. Di jalan raya ku dapati banyak hal , dari lampu merah 🚦🚥, ada lampu merah, kuning, hijau.
Apa hidup kita juga di atur tiga warna itu? enaknya tanya sama Arif. Belum lagi banyak banget rambu- rambu lalu lintas.
9.Tengah Malam 🕛
Ku usahakan serius ke jalanan, semua pertanyaanku ku simpan. "dah jam berapa wi?"
"Pukul 12.00 malam". "masih kuat?" " masih ". "laper wi, cari makan yuk", kiri kanan jalan masih banyak warung emperan, kami berhenti, kami pesan nasi goreng, lalu kami makan.
Makan di tengah malam " Dwi, sudah pernah loe keluar kota sampai larut malam gini di jalanan?" " belum" "nikmatilah malam ini, walau tak seindah rembulan " 😉. ku hanya tersenyum ☺️.
Kembali kemudi Arif yang ambil alih, dan ku tertidur hingga pagi hari, kita sudah berada di pantai Pangandaran.
Arif sedang tertidur, ku tak tau kita sudah sampai sejak pukul berapa.
ku buka pintu mobil dan udara pantai yang sejuk mulai menerpa wajah, kulitku, ku hirup dalam-dalam aroma pantai yang khas....ku lihat sekeliling ku cari penjual nasi bungkus, ku beli 2 bungkus, namun tak ada niatku membangunkannya.
10. Pasir ⛱️
Tiba-tiba punggungku terkena timpukan pasir, ku balik wajah menyeringai 😁 muncul, "dah seger loe?", "udah", " ni nasi bungkus", kami berdua makan sambil menghadap pantai, bunyi deburan ombak yang indah menjadi musik yang indah.
"Dwi, loe perasaan dan pemikiran loe harus seperti pasir, banyak banget, dan bisa di bentuk" "siapa yang buat banyak? dan buat bentuknya? diri gua sendiri? atau orang?". "masalah".
"jika masalah loe bisa nyatu sama perasaan hingga loe seperti gunung berapi maka loe bisa bentuk masalah-masalah loe seperti loe membentuk pasir menjadi istana yang indah, atau mainan lain".
"lalu di hancurin atau disiram air kan?"
🤣🤣 ketawa lagi kita.
11. Awan 🌫️
"Masalah loe jangan seperti Awan, selalu menghalangi dan mengawan-awan di hidup loe"
"apalagi awan hitam"
"jika sudah hitam, tinggal tunggu hujan ⛈️, mau hujan biasa atau hujan petir, jika hujan biasa gak apa-apa, jika petir bisa nyambar orang, hujan deras bisa buat banjir, bisa buat celaka orang.
12. Rambu-Rambu 🚥🚦🚧
"Kalau bicara celaka, kan ada rambu-rambu lalu lintas"
"Nah Dwi, hidup juga seperti itu, hidup kita ada tiga warna, merah artinya sudah waktunya kita untuk diam, kuning, kita masih kuat berjalan, hijau kita masih sangat kuat untuk berjalan. Tanda di larang parkir, ya artinya bukan tempat kita disitu, dilarang stop, ya jalan aja, jalan satu arah, ya memang mungkin itu jalan yang di berikan yang Maha Kuasa bagi kita hanya satu arah, jika ada dua arah, artinya mungkin kita bisa berbalik sebentar jika ada yang kita lupa, atau ingin perbaiki, jika tidak patuhi kita akan celaka"
"ada gak rambu jika ingin bunuh diri?"
"gak ada Dwi, ada tanda jalan buntu, nah orang yang lihat gak akan maksa masuk sebab tau gak akan ada jalan keluarnya, semua manusia berusaha untuk cari jalan keluar, Dwi di jalanan kamu bisa bertemu dan melihat banyak jenis model orang, mereka juga punya banyak masalah, dengan porsi mereka masing-masing, tapi mereka juga tetap berjalan denganmu, walau mereka tak mengenalmu, tapi mereka berjalan bersisian denganmu"
13.Pulang 🚘
"Arif, thanks banget ya dah nemenin gua, berjalan bersama gua di jalan gua yang lelah ini, pemikiran loe sama seperti nama loe, ariff banget ...."
"Pulang yuk "
"Ayuk"
"janji, gak akan galau lagi..., hidup loe masih panjang, masih ada kebahagiaan menanti loe"
"masih ada gak yang menantikan kehadiran gua?"
"masih..."
"siapa?"
"gua" 😉
ku hanya tersenyum ☺️.
Kami berdua pulang kembali ke Jakarta, dengan harapan yang baru, kami buang semua kekalutan di pantai Pangandaran.