---
Nazeallyn benci hujan. Bukan karena basah, tapi karena tiap hujan turun, Zayn pasti telat jemput. Motornya suka mogok kalau kena air.
"Lu kan tau motor gua gampang masuk angin," kata Zayn waktu itu, sambil nyengir kedinginan di depan gerbang SMA. Jaketnya basah setengah.
"Ya udah, besok-besok aku yang jemput kakak aja," Nazeallyn ngomel sambil nyodorin tisu.
Mereka bukan saudara. Beda 3 tahun, beda rumah, beda marga. Tapi dari Nazeallyn umur 5 tahun, Zayn 8 tahun, mereka udah nempel terus. Gara-garanya Nazeallyn nyasar di pasar Kiaracondong, nangis kejer. Zayn yang nemu, yang beliin es goyobod, yang anterin pulang sambil digandeng takut lepas lagi. Sejak itu Mama Nazeallyn bilang, "Itu abang jaga kamu, Nazeal."
Zayn kelas 12, mau masuk Arsitektur ITB. Nazeallyn kelas 9, baru mau masuk SMA, cita-citanya jadi komikus. Dua-duanya nggak punya banyak uang. Tapi punya satu mimpi yang sama: punya rumah kaca di Lembang. Isinya studio gambar sama ruang kerja arsitek.
"Kalau udah jadi, atapnya harus kaca, Kak. Biar kita bisa liat bintang sambil kerja," kata Nazeallyn suatu sore. Mereka lagi di atap ruko kosong, ngeliatin Bandung dari atas.
"Deal. Lo yang desain interior, gua yang itung kolomnya. Jangan sampai ambruk," Zayn nyoret-nyoret denah di buku gambar Nazeallyn.
"Kalau ambruk kan salah kakak," Nazeallyn ketawa.
Zayn juga ketawa. Tawa Zayn tuh rendah, ngebass, bikin dada Nazeallyn tenang. Kalau denger Zayn ketawa, Nazeallyn ngerasa semua tugas, semua les, semua marah Mama bisa dilupain.
Hari kelulusan Zayn tiba. Juni 2025. Nazeallyn maksa dateng pakai seragam SMP, bawa buket bunga kertas yang dia bikin seminggu.
"Kak! Selamat! Satu langkah lagi ke ITB!" Nazeallyn nyeruduk Zayn yang lagi foto sama temen-temennya.
Zayn kaget, terus rangkul kepala Nazeallyn gemes. "Berisik. Malu-maluin. Ini adek gua, bro," katanya ke temennya.
kalo ini termasuk apa
Malamnya mereka ngerayain di warung surabi depan sekolah. Zayn janji, "Tunggu gua 4 tahun, Nazeal. Gua lulus, kerja, kita bangun rumah kaca itu. Lo tahan dulu komik lo. Nanti kita launching bareng."
Nazeallyn ngangguk. Sumpah demi surabi oncom, dia bakal tunggu.
Tapi tiga bulan setelah itu, Zayn dapet beasiswa ke Jerman. Arsitektur di TU Munich. Gratis, plus uang saku. Kesempatan yang nggak datang dua kali.
Waktu denger kabar itu, Nazeallyn diem di kamar seharian. Zayn ngechat.
*Zayn*
Nazeal. Gua keterima. Berangkat Oktober.
*Nazeallyn*
...
Kakak bohong kan?
*Zayn*
Gua nggak mau bohong sama lo.
Ini mimpi gua dari dulu. Lo tau sendiri.
*Nazeallyn*
Terus rumah kaca kita?
*Zayn*
Kita tunda, bukan batal.
Gua ke sana 4 tahun. Balik, kita mulai.
Lo sekolah yang bener. Gambar yang banyak.
Nanti gua yang jadi klien pertama lo.
*Nazeallyn*
4 tahun itu lama, Kak.
Gimana kalau kakak betah di sana?
Gimana kalau kakak lupa sama aku?
*Zayn*
Gua nggak akan lupa sama adek paling berisik sedunia.
Tiap minggu gua bakal VC.
Tiap ulang tahun lo gua kirim sketsa.
Janji kakak.
Nazeallyn nangis tapi tetep ketik "Oke".
Oktober datang. Di Bandara Soetta, Nazeallyn nggak ikut nganter. Katanya takut nangis di depan orang. Padahal dia nangis di kamar mandi sekolah. Zayn cuma dapet voice note.
"Nazeal... gua berangkat ya. Jaga kesehatan. Jangan begadang gambar terus. Makan. Kalau kangen, liat bintang. Kita liat langit yang sama kok."
Setahun pertama lancar. VC tiap Minggu. Zayn kirim foto salju pertama, sketsa gedung-gedung Eropa, cerita tentang roti pretzel. Nazeallyn kirim gambar karakter baru, nilai rapornya, curhat soal temen sebangku yang nyebelin.
Tahun kedua, Zayn mulai sibuk. Tugas studio numpuk. Beda waktu 6 jam bikin jadwal berantakan. VC jadi sebulan sekali. Chat cuma "Gua sehat. Lo gimana?"
Tahun ketiga, Zayn dapet project sama profesornya. Ke Norwegia 6 bulan. Sinyal susah. Nazeallyn masuk SMA, ikut lomba komik nasional, juara 2. Dia pengen cerita, tapi chat-nya cuma centang satu.
Tanggal 4 Juni 2028, Nazeallyn ulang tahun ke-17. Biasanya Zayn paling heboh. Kirim video ucapan, kirim sketsa. Tapi hari itu HP Nazeallyn sepi. Sampai jam 12 malam, nggak ada apa-apa.
Nazeallyn ketik, "Kakak lupa ya?" Tapi nggak dikirim. Gengsi.
Besoknya, ada telepon dari nomor Jerman. Suara perempuan. Bahasa Inggris. Nazeallyn cuma nangkap kata "accident", "site", "collapsed", "sorry".
Zayn ketimpa reruntuhan bangunan tua yang lagi dia survei buat tugas. Koma dua hari, terus nggak bangun lagi.
Nazeallyn nggak percaya. Gimana bisa? Katanya mau balik. Katanya mau bangun rumah kaca. Katanya mau jadi klien pertama.
Jenazah Zayn dipulangin seminggu kemudian. Nazeallyn nggak mau liat. Dia cuma duduk di atap ruko, tempat mereka pertama gambar denah. Buket bunga kertas dari kelulusan Zayn masih dia simpen. Udah debuan.
---
Tahun 2032. Nazeallyn umur 21, kuliah DKV semester 6. Studionya udah jadi. Di Lembang. Kecil, atapnya kaca. Namanya "Z&N Studio". Di dinding paling gede, ada mural: cowok tinggi lagi gambar denah, cewek kecil di sebelahnya lagi bikin sketsa bintang.
Tiap tanggal 4 Juni, Nazeallyn tutup studio. Dia naik ke atap, bawa dua kaleng kopi. Satu dia minum, satu dia taruh di sebelahnya.
"Happy birthday ke aku, Kak," katanya ke langit. "Kakak nggak ngucapin 4 tahun. Jadi aku ucapin sendiri."
Dia buka buku sketsa lama. Di halaman terakhir ada denah rumah kaca, tulisan tangan Zayn: _Buat Nazeal. Jangan nangis kalau gagal. Gagal itu pondasi._
Nazeallyn ketawa kecil. "Aku nggak gagal, Kak. Rumahnya jadi. Cuma kakak aja yang nggak sempet liat."
Dia lepas kaleng kopi kedua, biarin isinya tumpah ke atap kaca. "Kakak suka kopi pahit kan. Nih aku bagiin."
Angin Lembang dingin. Bintang malam ini banyak.
"In another life," bisik Nazeallyn, "kita nggak usah pisah 6 jam ya. Kita kuliah di kota yang sama. Kita berantem karena rebutan penggaris, bukan karena beda benua."
"Di hidup ini, kakak cuma punya aku 12 tahun. Aku cuma punya kakak 12 tahun. Kurang banget buat semua mimpi kita."
"Tapi makasih, Kak. Makasih udah jadi abang aku. Makasih udah ngajarin aku liat bintang walau hujan."
Nazeallyn senderan ke kaca. Di pantulan, dia liat dirinya sendiri, udah gede, tapi matanya masih mata anak 5 tahun yang nyasar di pasar.
"Sampai ketemu, Kak. Janji kita masih. Rumah kaca udah ada. Tinggal kakak yang pulang."
Dia tutup buku sketsanya. Langit Lembang cerah. Dan untuk pertama kalinya setelah 4 tahun, Nazeallyn ngerasa Zayn duduk di sebelahnya, ngitung kolom, sambil bilang, "Tuh kan, jadi. Gua bilang juga apa."
Kali ini, nggak ada beasiswa yang misahin. Nggak ada reruntuhan yang jatuh.
Cuma ada dua orang, di rumah kaca, ngeliatin bintang yang sama.
Selamanya.