Cerpen Horor Untuk mu! Khididi!
Dingin kota London di akhir Oktober selalu memiliki cara sendiri untuk menusuk hingga ke sumsum tulang, seolah-olah kota kuno ini sengaja dirancang untuk merayakan kematian. Langit di atas Westminster menggantung kelabu, pekat oleh sisa kabut musim gugur yang bercampur dengan uap napas ribuan manusia yang memadati trotoar. Malam itu adalah malam Halloween. Bagi sebagian besar penduduk lokal dan turis, ini adalah waktu yang tepat untuk menenggak bir hitam di pub, mengenakan topeng monster karet buatan pabrik, dan tertawa lepas di bawah temaram lampu jalanan Victoria.
Namun bagi Samara, malam ini adalah sebuah kompromi yang sangat melelahkan dan menguras sisa-sisa kewarasannya.
"Gua bilang juga apa, Sam. Sekali-kali lepas dari laptop. Kalau lu mati muda gara-gara mikirin Group Project itu, dosen botak kita si Profesor Higgins gak bakal nangis di kuburan lu! Paling dia cuma nyari tumbal mahasiswa beasiswa baru buat gantiin lu!" Rapen berteriak, suaranya harus bersaing ketat dengan bising klakson taksi hitam yang merayap membelah jalanan yang padat. Rapen malam itu mengenakan kostum drakula murahan yang jubahnya terus-menerus tersangkut di resleting tas punggungnya, membuat penampilannya lebih mirip kelelawar sekarat daripada raja vampir.
Di sebelah Rapen, Islil berjalan sambil sibuk memegangi kamera saku digitalnya. Sesekali dia tertawa cekikikan melihat reaksi orang-orang London asli yang memandangi mereka dengan dahi berkerut heran.
"Tapi serius, Sam. Kostum lu ini... agak terlalu totalitas dan menembus batas kultur untuk standar Eropa. Lu gak takut ditangkap Metropolitan Police dikira bawa paket selundupan atau bom bunuh diri dalam karung?" Islil menyenggol bahu Samara, membuat pria yang dibungkus kain itu hampir kehilangan keseimbangan.
Samara tidak langsung menjawab. Dia hanya bisa menghela napas panjang dan berat, membuat kain katun putih kasar yang menutupi sebagian besar wajahnya bergerak kempis-kempis secara ritmis. Tubuh Samara malam itu dibungkus rapat dari ujung kepala hingga ujung kaki oleh kain kafan asli—putih bersih, diikat erat di tiga titik sakral: di atas kepala, di leher, dan di pergelangan kaki.
Ya, itu adalah kostum Pocong. Bukan tiruan berbahan spandeks yang ramah lingkungan, melainkan kain blacu tebal yang sengaja dia bawa dari Indonesia tiga bulan lalu. Awalnya kain itu diniatkan sebagai properti cadangan untuk pameran budaya mahasiswa internasional. Namun malam ini, karena kalah taruhan telak saat menyusun draf metodologi penelitian kelompok, Samara terpaksa menelan harga dirinya bulat-bulat dan memakainya di pusat kota London.
Untuk berjalan, Samara tidak memiliki banyak pilihan mekanis. Dia terpaksa melompat-lompat kecil dengan canggung atau menggeser kedua tumit kakinya yang terikat rapat dengan ritme yang luar biasa lambat, mirip seperti mainan bertenaga baterai yang sudah mau habis.
"Gua cuma mau parade konyol ini cepat selesai," gumam Samara dari balik kain yang menutupi mulutnya. Suaranya terdengar sengau, teredam, dan penuh dengan aura kepasrahan seorang ketua kelompok tugas akhir. "Revisi Bab 3 kita tentang Cross-Cultural Urban Sustainability belum disentuh sama sekali oleh kalian berdua. Kalau kita gagal mempertahankan standar nilai beasiswa ini, gua gak punya muka buat balik ke Jakarta. Jadi tolong, setelah kita ambil beberapa foto di depan Big Ben sebagai bukti taruhan, kita langsung balik ke flat. Setuju?"
"Iya, iya, Ketua Kelompok yang terhormat," Islil mencibir, meski matanya tetap berbinar menatap hiasan labu benderang di sepanjang jalan. "Lagian, pacar lu si Rema kan lagi sibuk KKN di pelosok Lombok. Dia gak bakal tahu kalau malam ini lu menjelma jadi bungkusan lontong raksasa di Inggris."
Mendengar nama Rema disebut, sudut bibir Samara yang tersembunyi di balik kain kafan sedikit terangkat. Rema adalah kekasihnya, satu-satunya jangkar emosi yang menahannya agar tidak gila di tengah tekanan kuliah luar negeri yang kejam. Di tengah kesendiriannya sebagai seorang anak yatim piatu yang harus berjuang mandiri sejak remaja, Rema adalah alasan mengapa Samara rela tidur hanya tiga jam sehari demi memastikan masa depan mereka berdua terjamin. Samara menarik napas dalam-dalam, mengabaikan rasa gatal di hidungnya yang tidak bisa digaruk, lalu kembali melompat membelah kabut malam Westminster.
Mereka bertiga terus berjalan menembus kerumunan yang makin menyemut di dekat Parliament Square. Beberapa remaja lokal berambut pirang dengan dandanan punk sempat berhenti, menunjuk-nunjuk Samara sambil tertawa terpingkal-pingkal dan meneriakkan kata-kata dalam aksen Cockney yang kental.
"Look at that giant marshmallow!" tergah salah satu dari mereka.
"Is that a mummy from Egypt? Mate, your costume is expired!" timpal yang lain sambil melempar beberapa butir popcorn karamel ke arah Samara.
Samara hanya bisa mendengus kesal di dalam kafannya. Mereka tidak tahu betapa sakral dan mengerikannya wujud ini jika berada di bawah naungan pohon kamboja pemakaman Jawa pada malam Jumat Kliwon, bukannya di bawah temaram lampu neon London yang mewah dan modern. Di Indonesia, melihat wujud seperti ini akan membuat orang lari tunggang-langgang sambil membaca ayat suci, bukannya dijadikan objek swafoto oleh turis asing.
Namun, di antara ratusan pasang mata yang memandang dengan tawa geli dan penasaran, ada satu pasang mata yang menatap Samara dengan tatapan yang sepenuhnya berbeda. Dingin, tajam, dan sarat akan kebencian yang mendidih.
Niken berdiri di dekat pilar bangunan tua di seberang jalan, setengah bersembunyi di balik mantel wol tebalnya yang berwarna marun. Sebagai kakak kelas satu daerah asal yang juga sedang menempuh program master di London dengan biaya sendiri, kehadiran Niken malam itu seolah tidak disadari oleh siapa pun. Niken menatap Samara dengan rahang yang mengeras hingga guratan otot di lehernya terlihat jelas.
Di dalam kepalanya, memori tentang penolakan menyakitkan dari Rema beberapa bulan lalu di Indonesia kembali berputar seperti kaset rusak yang merusak kewarasannya.
"Maaf, Niken. Gua cuma sayang sama Samara. Dia segalanya buat gua. Lu gak usah kejar-kejar gua lagi," kata-kata Rema waktu itu adalah racun yang merusak seluruh sistem saraf logis Niken.
Melihat Samara di sini, hidup dengan beasiswa penuh yang dibayari pemerintah, dikelilingi teman-teman yang setia, dan tetap dicintai oleh Rema dari jarak jauh, membuat rasa cemburu di dada Niken bermutasi menjadi dorongan destruktif yang sangat berbahaya. Niken merasa dunia ini tidak adil. Mengapa gadis yatim piatu miskin seperti Samara bisa mendapatkan semua kelancaran ini, sementara dia yang kaya harus terus-menerus merangkak mencari pengakuan?
"Samara..." bisik Niken, suaranya parau dan langsung tertelan oleh embusan angin malam yang membawa aroma sosis panggang dari kedai pinggir jalan. "Lu gak pantas mendapatkan apa pun yang lu punya sekarang. Lu harusnya hilang."
Kerumunan mendadak menjadi jauh lebih padat dan bising saat jarum jam di Big Ben mendekati pukul sebelas malam. Rapen dan Islil yang berjalan di depan sempat terpisah beberapa langkah, terdorong oleh rombongan turis asal Italia yang bergerak agresif ke arah jembatan untuk mengambil posisi foto terbaik.
"Rapen! Islil! Tunggu gua, sialan!" Samara berteriak panik. Kakinya yang terikat erat oleh simpul tali blacu membuatnya kesulitan bermanuver di antara lautan manusia yang bergerak dinamis. Dia terhuyung ke kanan dan ke kiri, mencoba melompat lebih tinggi untuk melihat posisi kedua temannya, namun keseimbangan tubuhnya perlahan mulai goyah akibat lantai trotoar yang licin tersiram sisa gerimis.
Di tengah kepanikan dan kegaduhan malam Halloween itu, sebuah bayangan manusia bergerak mendekat dengan kecepatan yang tidak wajar dari arah belakang Samara. Tanpa ada satu orang pun yang menyadari, Niken menyelinap di antara celah-celah kecil kerumunan turis. Gerakannya cepat, terukur, seolah disetir oleh sebuah impuls kegilaan sesaat yang sudah lama dia pendam di dasar alam bawah sadarnya.
Tepat saat Samara berada di posisi paling tepi dari trotoar jalan raya utama—yang hanya dibatasi oleh besi rendah berjarak beberapa senti dari aspal jalur cepat—Niken mengambil langkah lebar. Wajahnya menggelap, diselimuti oleh kepuasan batin yang aneh. Sebelum Samara sempat melompat maju untuk menyusul Rapen, Niken mengulurkan kedua tangannya dengan kuat ke depan, memberikan hantaman fisik penuh tenaga tepat di punggung atas Samara.
"Eh—anjing!" Samara memekik spontan, latah khas Indonesianya keluar seketika di tengah riuhnya kota London.
Karena seluruh tubuhnya dibungkus rapat dari pundak hingga kaki, Samara sama sekali tidak memiliki lengan bebas untuk menahan keseimbangan, meraih tiang lampu, atau sekadar berpegangan pada mantel orang di sekitarnya. Dia terlempar ke depan dengan posisi horizontal, melewati batas aman trotoar. Sialnya, simpul kain kafan di pergelangan kakinya tersangkut pada ornamen besi pembatas jalan yang rendah itu.
Tubuh Samara jatuh berdebam dengan sangat keras ke atas aspal jalan raya Westminster yang dingin dan berbatu kasar. Wajahnya yang dilapisi kain kafan menghantam tanah terlebih dahulu, memunculkan suara hantaman tulang yang mengerikan.
"Samara!" Rapen yang mendengarkan teriakan latah yang sangat familiar itu langsung menoleh ke belakang. Wajah drakulanya seketika memucat, mengalahkan warna bedak putih yang dia pakai.
Di saat yang bersamaan, dari arah tikungan tajam Whitehall, sebuah mobil sedan hitam tua melaju dengan kecepatan yang sepenuhnya tidak masuk akal untuk area padat turis seperti itu. Mobil itu berjalan zig-zag dengan liar, knalpotnya meraung keras, mencoba melarikan diri dari kejaran dua mobil polisi Metropolitan yang sirinenya mulai terdengar meraung-raung dari jarak tiga blok di belakang.
Di dalam mobil sedan itu, empat preman lokal bertato dengan hoodie hitam pekat sedang panik luar biasa. Mereka berteriak satu sama lain dalam bahasa slang London yang kotor dan kasar, tubuh mereka setengah mabuk oleh alkohol murah dan pengaruh obat-obatan terlarang yang baru saja mereka konsumsi di sebuah pesta ilegal.
"Rem, bodoh! Injak remnya! Ada bungkusan putih di depan jalan!" teriak preman yang duduk di kursi penumpang depan sambil mencengkeram dasbor dengan kuku-kukunya yang hitam.
Namun, semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki. Pengemudi yang berada di bawah pengaruh panik dan obat justru salah menginjak pedal. Bukannya rem, dia justru menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil sedan tua itu menderu, melesat maju seperti peluru logam yang haus darah.
Samara yang terkapar tak berdaya di atas aspal mencoba mendongak dengan sisa kekuatannya. Melalui celah kain kafan yang robek di bagian mata kanan akibat hantaman pertama dengan aspal, dia melihat dua lampu sorot mobil besar yang membutakan melaju lurus, membesar dengan kecepatan mengerikan ke arahnya.
Detik itu, waktu di sekitar Westminster seolah berjalan dalam mode slow-motion yang menyiksa. Samara bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang seperti genderang perang, bayangan visual wajah Rema yang sedang tersenyum manis di bawah pohon kelapa Lombok melintas cepat, lalu tumpukan lembar dokumen tugas akhir kelompok mereka yang belum diberi nomor halaman menari-nari di pelupuk matanya.
*Gua... belum mau mati di negeri orang... Tugas gua belum selesai...*
*BUM!!!*
Suara hantaman logam dan tubuh manusia itu terdengar begitu solid, berat, dan mengerikan. Tubuh Samara yang terbungkus kain kafan erat itu langsung hancur di bagian dada, terlempar, lalu terseret sejauh hampir lima meter di atas permukaan aspal dingin London. Kain kafan putih bersih itu meninggalkan jejak seretan darah kental yang melebar, kontras dengan warna putih kain dan hitamnya jalanan kota.
Mobil sedan hitam itu sempat berguncang hebat saat melindas tubuh Samara, namun sang pengemudi sama sekali tidak berniat menghentikan kendaraannya. Mereka justru memutar setir dengan liar ke arah kiri, melompati pembatas jalan yang sepi, dan menghilang di kegelapan malam, melakukan aksi tabrak lari yang sempurna tepat di jantung ibu kota Inggris.
"SAMARA!!!" Islil menjerit histeris hingga suaranya melengking memecah langit malam. Kamera saku digital yang dipegangnya jatuh ke aspal, terlindas oleh kerumunan orang yang panik, dan hancur berantakan menjadi serpihan plastik.
Kerumunan turis yang tadinya tertawa-tawa menikmati atmosfer Halloween mendadak hening total selama dua detik, sebelum akhirnya berubah menjadi jeritan histeris massal yang kacau. Orang-orang berlarian menjauh dari ceceran darah. Rapen dan Islil berlari sekuat tenaga menembus barisan manusia yang panik, mengabaikan segala hal, dan langsung berlutut di samping tubuh sahabat terbaik mereka yang kini tergeletak kaku di tengah jalan raya.
Kain kafan yang tadinya melambangkan kesucian itu kini telah koyak di berbagai tempat, menyerap darah segar yang terus mengalir tanpa henti dari kepala dan rongga dada Samara yang melesak ke dalam. Napas pria muda itu terdengar pendek-pendek, putus-putus, satu demi satu, sebelum akhirnya sepasang matanya yang menatap kosong ke arah langit malam London perlahan-lahan kehilangan binar energinya.
Cahaya kehidupan di dalam diri Samara padam sepenuhnya tepat saat jam Big Ben berdentang satu kali. Di atas aspal Westminster yang asing, Samara mengembuskan napas terakhirnya dalam wujud yang paling tragis, ironis, sekaligus menggenaskan.
Tiga hari kemudian, atmosfer di dalam ruang bawah tanah sebuah bangunan bata merah tua di pinggiran London timur terasa begitu mencekam, lembap, sekaligus aneh.
Rapen dan Islil berdiri dengan tubuh yang tidak berhenti gemetar di sudut ruangan yang diterangi oleh satu lampu pijar kekuningan. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu panjang menopang tubuh Samara yang sudah dibersihkan dan dijahit oleh pihak rumah sakit, namun kini harus menjalani prosesi pemakaman secara adat dan tata cara agama Islam atas permintaan sisa keluarganya di Indonesia yang diwakili oleh kedua sahabatnya ini.
Karena keterbatasan biaya yang mencekik dan birokrasi internasional yang rumit, mereka tidak bisa memulangkan jenazah Samara dalam waktu dekat. Ditambah lagi, masa tinggal visa kunjungan akademis Rapen dan Islil hanya tersisa satu minggu lagi, dengan tambahan beberapa hari dispensasi dari pihak kepolisian untuk keperluan penyelidikan kasus tabrak lari tersebut.
"Kita harus buru-buru, Pen. Gua gak kuat lama-lama di ruangan ini. Bau formalinnya bikin gua mau muntah," bisik Islil dengan suara yang sudah habis. Air matanya sudah mengering, menyisakan lingkaran hitam besar yang cekung di bawah matanya karena tidak tidur selama tiga hari berturut-turut.
"Lu pikir gua kuat? Tapi kita harus urus dia dengan benar sampai masuk tanah. Ini tanggung jawab kita sebagai sahabatnya," balas Rapen dengan suara serak yang berat.
Mereka berdua malam itu dibantu oleh seorang Ustazah lokal paruh baya asal Indonesia, Bu Maryam, yang sudah menetap di London selama lebih dari dua puluh tahun. Namun sialnya, Bu Maryam malam itu juga sedang dalam kondisi kesehatan yang menurun drastis; dia terus batuk-batuk kecil, wajahnya pucat, dan tampak sangat tergesa-gesa karena harus mengejar jadwal kereta terakhir (*last train*) menuju Manchester untuk menjenguk anaknya yang melahirkan.
"Anak-anakku, kain kafan barunya sudah siap. Mari kita bungkus nak Samara dengan layak sebelum ambulans jenazah membawanya ke pemakaman khusus muslim besok pagi," kata Bu Maryam dengan suara lemah sambil membagikan tali-tali pengikat.
Proses pembungkusan berjalan dengan khidmat, namun tingkat kepanikan yang menggantung di udara merusak seluruh fokus mekanis mereka. Ketika kain kafan baru mulai dililitkan ke tubuh Samara, suara sirine mobil polisi kembali terdengar meraung-raung keras di jalanan depan bangunan, membuat Rapen dan Islil terlonjak kaget setengah mati. Pikiran paranoid mereka langsung dipenuhi ketakutan bahwa penyelidikan kasus ini akan mempersulit kepulangan mereka ke Indonesia atau menyeret mereka ke dalam masalah hukum Inggris yang rumit.
"Pen, cepat ikat tali bagian atas kepalanya! Ambulansnya udah mau datang itu!" perintah Islil panik, tangannya gemetar hebat saat memegang ujung kain di bagian kepala Samara.
"Ini udah gua ikat kuat-kuat! Lehernya juga udah gua tali!" Rapen membalas dengan napas yang memburu cepat.
"Bagian kaki jangan sampai lolos, Nak! Biar rapi dan tidak lepas saat diangkat besok!" Bu Maryam mengingatkan dari meja seberang sambil sibuk merapikan berkas administrasi kematian ke dalam tasnya.
Karena kepanikan yang berada di titik puncak, ditambah bayangan ketakutan akan kegagalan akademis dan masa depan kelompok mereka yang hancur berantakan tanpa sang ketua, fokus kedua mahasiswa ini pecah berkeping-keping menjadi serpihan bodoh. Rapen menarik ujung tali di bagian pergelangan kaki Samara dengan kekuatan penuh, lalu memutarnya dua kali dan menguncinya dengan sebuah **simpul mati yang sangat kencang**—jenis simpul yang hampir mustahil dilepas tanpa bantuan gunting atau pisau tajam.
"Udah? Udah semua diikat?" Islil bertanya, matanya melotot cemas ke arah pintu keluar ruang bawah tanah.
"Udah, udah selesai semua. Ayo kita keluar, Bu Maryam bilang biar pihak petugas makam yang urus sisanya nanti subuh," kata Rapen sambil menyeka keringat dingin yang mengucur deras di dahinya.
Mereka melangkah mundur tergesa-gesa, mematikan saklar lampu ruang bawah tanah itu, dan meninggalkan tubuh kaku Samara dalam kegelapan total yang sedingin es. Namun, dalam kebodohan massal dan kepanikan yang hakiki malam itu, baik Rapen maupun Islil **sama sekali lupa untuk melonggarkan atau mengubah simpul tali pengikat tersebut menjadi simpul pita**.
Di dalam semesta mistis tanah kelahiran mereka, membiarkan tali kafan terikat mati saat malam tiba adalah sebuah kesalahan teologis yang paling fatal—sebuah undangan terbuka, valid, dan sah bagi jiwa yang penasaran untuk tetap tinggal, terkunci di dalam sangkar dagingnya yang sudah dingin. Dan malam itu, di pinggiran kota London, kegelapan mulai bernapas.
Kantor Pusat Kepolisian Metropolitan London di New Scotland Yard biasanya beroperasi seperti jam dinding Swiss yang mahal: presisi, dingin, dan sepenuhnya diatur oleh logika rasional sains modern. Namun, pada Selasa pagi yang diguyur hujan gerimis berangin itu, Detektif Inspektur Chief (DCI) Arthur Pendelton merasa seolah-olah kewarasan profesionalnya sedang dipreteli satu demi satu oleh berkas laporan di atas mejanya.
Arthur memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, mengabaikan cangkir teh Earl Grey-nya yang sudah mendingin hingga memunculkan lapisan tipis di permukaannya. Di hadapannya, tiga monitor flat besar menampilkan rekaman CCTV dari Stasiun Underground Piccadilly Circus yang diambil beberapa jam lalu, tepat pada pukul dua dini hari.
"Coba putar ulang bagian terowongan timur itu, Miller. Naikkan kontrasnya sepuluh persen," perintah Arthur dengan suara serak, khas pria paruh baya yang kekurangan tidur dan terlalu banyak mengonsumsi kafein selama puluhan tahun berkarier.
Sersan Miller, asistennya yang masih muda dan berambut klimis, menekan serangkaian tombol di keyboard. Video bergerak mundur, lalu berputar kembali dalam mode normal. Di layar digital berkualitas tinggi itu, terlihat empat pemuda lokal—yang belakangan diidentifikasi oleh tim intelijen jalanan sebagai kelompok kriminal pencuri mobil pimpinan Thomas "The Viper"—berlari tunggang-langgang menembus peron stasiun yang sepi. Wajah-wajah sangar mereka terdistorsi oleh ketakutan yang begitu murni, sejenis ketakutan primitif yang biasanya hanya ditemukan pada korban selamat dari terkaman binatang buas di hutan liar Afrika.
Lalu, sosok itu muncul dari kegelapan terowongan rel yang pekat.
Sosok putih, panjang, bergerak dengan cara melompat tinggi secara vertikal. Setiap kali makhluk itu mendarat di atas beton peron, kamera CCTV bergoyang sedikit akibat getaran frekuensi rendah yang tidak dapat dijelaskan secara mekanis oleh tim teknisi. Hal yang paling membuat bulu kuduk Arthur meremang bukan hanya cara bergerak makhluk itu yang menantang hukum fisika Inggris, melainkan apa yang terjadi setelahnya.
Kamera menangkap momen mengerikan ketika makhluk berkain putih itu melompat melewati kepala Thomas, mendarat tepat di depannya, dan dalam satu gerakan patah-patah yang sangat cepat, mencengkeram leher salah satu anak buah Thomas dengan apa yang tampak seperti lipatan ujung kain.
Pria besar bertato seberat sembilan puluh kilogram itu terangkat ke udara seolah bobot tubuhnya tidak lebih berat dari sehelai bulu ayam, sebelum akhirnya dilemparkan ke dinding beton hingga tewas seketika akibat patah tulang leher total. Tiga lainnya ditemukan beberapa jam kemudian oleh petugas kebersihan stasiun dalam kondisi katatonik—gila total karena syok berat—dengan mulut tersumpat tanah basah yang setelah diuji di laboratorium forensik, dinyatakan sebagai tanah humus vulkanis tropis yang segar. Tanah yang tidak seharusnya ada di kedalaman lima belas meter di bawah aspal kota London.
"Apa analisis dari tim forensik visual mengenai kostumnya, Miller? Jangan katakan mereka masih mengira ini adalah aksi prank YouTuber," Arthur bertanya, matanya masih terpaku pada layar monitor yang berkedip.
"Mereka awalnya mengira itu adalah aksi publisitas teatrikal yang kebablasan dari komunitas punk, Sir. Atau mungkin kostum mumi Mesir yang dimodifikasi untuk pesta Halloween yang terlambat," Miller berdeham, tampak sangat tidak nyaman dengan penjelasannya sendiri. "Namun, setelah berkonsultasi dengan ahli antropologi budaya dari British Museum pagi ini, simpul di atas kepala dan cara kain itu mengikat seluruh persendian... mereka mengatakan ini identik dengan ritme penguburan tradisional dari wilayah Asia Tenggara. Khususnya, pedalaman Indonesia. Mereka menyebutnya... Pocking? Bukan, maaf, Sir. Pelafalan lokalnya adalah Pocong."
Arthur mengembuskan napas berat, bersandar pada kursi kulitnya yang berdecit. "Indonesia. Bukankah kita baru saja menerima laporan kasus tabrak lari tiga hari lalu di Westminster yang korbannya adalah mahasiswa beasiswa dari negara yang sama?"
"Benar, Sir. Korban bernama Samara. Tewas di tempat karena ditabrak oleh mobil sedan hitam yang... setelah kami selidiki melalui nomor rangka yang tertinggal di lokasi, ternyata adalah mobil curian yang digunakan oleh kelompok Thomas malam itu." Miller menyerahkan satu map berkas lagi yang masih bersih. "Dua saksi mata yang merupakan teman satu flat korban, Rapen dan Islil, saat ini masih berada di London di bawah pengawasan kita untuk keperluan investigasi administratif."
Arthur terdiam sejenak. Sebagai detektif senior, dia selalu percaya bahwa setiap kejahatan meninggalkan jejak yang bisa dijelaskan oleh sains forensik. Namun, melihat rekaman mayat membungkus diri yang membantai pembunuhnya sendiri di bawah tanah London membuat perutnya terasa mual. "Panggil kedua mahasiswa itu ke sini sekarang juga. Kita perlu bicara dengan seseorang yang memahami anatomi dari... hantu melompat ini sebelum media London mengendus berita gila ini."
Sementara itu, di sudut sebuah flat kecil yang lembap dan berbau apak di wilayah Whitechapel, suasana tidak kalah mencekam, namun dengan spektrum energi yang sepenuhnya berbeda.
Rapen duduk di tepi tempat tidur dengan laptop Asus tua terbuka di pangkuannya, sementara Islil mondar-mandir di depan jendela kaca yang berembun, menggigiti kuku jarinya hingga hampir berdarah. Di dalam kamar berukuran empat kali empat meter itu, bau kapur barus samar-samar mulai tercium sejak jam dua dini hari tadi—bersamaan dengan waktu pembantaian di Piccadilly Circus yang belum mereka ketahui beritanya dari televisi.
"Pen, lu ngerasa gak kalau kamar ini makin dingin dari satu jam lalu?" Islil berbisik, suaranya gemetar menahan tangis. Dia merapatkan mantel wolnya yang tebal hingga menutupi dagu. "Ini bukan dingin angin London, Pen. Ini dingin yang bikin ulu hati gua mendadak linu dan perut gua mules."
"Lu bisa diam dulu gak, Sil? Gua lagi coba fokus selesaikan ini draf," gertak Rapen, meski tangannya yang memegang mouseboard bergetar hebat hingga kursor di layar melompat-lompat liar. "Lu tahu gak, email dari Profesor Higgins baru masuk sejam lalu lewat portal kampus. Dia gak mau tahu kalau kita lagi berduka atas kematian tragis Samara. Dia bilang, kalau Bab 3 kita tentang Cross-Cultural Urban Sustainability tidak dikumpul ke sistem besok pagi sebelum jam sembilan, grup kita otomatis dapat nilai E alias Fail. Kita dideportasi minggu depan, Sil! Beasiswa kita dicabut dan kita harus ganti rugi ratusan juta ke kementerian!"
"Gimana kita bisa mikirin metodologi penelitian dan analisis data SPSS kalau ketua kelompok kita baru aja dikubur tiga hari lalu?!" Islil berteriak frustrasi, air matanya mulai menggenang lagi di pelupuk mata. "Lagian, seluruh data kuantitatif dan kuesioner yang sudah disebar itu semuanya ada di dalam laptop Macbook-nya Samara yang sekarang disita polisi Scotland Yard sebagai barang bukti! Kita mau ngarang data dari mana? Pake pesugihan?!"
*Bzzzt... bzzzt...*
Lampu bohlam kuning di langit-langit kamar tiba-tiba meredup secara ekstrem, mengeluarkan suara mendengung tegangan tinggi yang sangat mengganggu telinga. Detik berikutnya, laptop Rapen mendadak membeku (*freeze*). Layar Microsoft Word-nya yang tadinya menampilkan dokumen kosong putih bersih tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat secara keseluruhan, sebelum akhirnya memunculkan teks baris demi baris dengan warna font putih kaku yang berkedip-kedip cepat.
*D U G .*
Rapen membeku di tempat, napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya seolah merosot jatuh ke lantai beton flat. "Sil... lu... lu liat layar laptop gua sekarang gak? Tolong katakan kalau ini cuma virus."
Islil menghentikan langkah kakinya, perlahan menoleh ke arah kasur tempat Rapen duduk. Matanya melebar sempurna hingga pupilnya mengecil karena syok.
Di layar komputer itu, sebuah kalimat baru saja terketik dengan sendirinya, huruf demi huruf, diiringi suara ketukan keyboard mekanis yang sangat nyaring dan cepat, padahal tidak ada satu pun jari yang menyentuh tombol plastik tersebut:
**"REVISI... METODOLOGI... PENELITIAN... HALAMAN... 45... ANALISIS... KORELASI... LU... SALAH... GOBLOK... MAU... GUA... CEKIK...?"**
"P-Pen... itu... itu ketikan gaya Samara kalau lagi ngamuk di grup WhatsApp..." Islil mundur selangkah dengan tubuh lemas, punggungnya menabrak pintu lemari pakaian kayu dengan keras hingga menimbulkan suara berdebam.
Sebelum Rapen sempat mengumpulkan keberanian untuk menutup paksa layar laptopnya atau mencabut kabel daya dari dinding, dari arah sudut kamar yang paling gelap—tepat di samping gantungan baju mantel—terdengar suara kain katun kasar yang saling bergesekan dengan intensitas tinggi. *Srek... srek... srek...*
Bau tanah kuburan yang basah terkena hujan, sisa kapur barus yang menyengat, dan anyir darah segar langsung menyeruak memenuhi seluruh ruangan flat, mengalahkan bau pengharum ruangan rasa lavender yang sengaja mereka pasang kemarin. Suhu di dalam kamar anjlok drastis hingga menyentuh angka di bawah nol derajat, membuat uap napas Rapen dan Islil keluar dengan tebal setiap kali mereka mencoba bernapas.
Dari kegelapan sudut kamar itu, sesosok tubuh tinggi yang dibungkus kain kafan putih bernoda tanah hitam dan darah berdiri tegak dengan kaku. Ikatan di atas kepalanya tampak miring ke arah kiri, persis seperti simpul mati yang dibuat oleh Rapen dengan tangan gemetar di ruang bawah tanah empat hari lalu. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan kelabu yang pekat, namun sepasang mata putih total tanpa pupil memancarkan aura dingin yang menembus kegelapan, menatap lurus ke arah laptop Rapen.
"SA-SAMARA?!" Rapen berteriak dengan suara melengking yang pecah. Tubuhnya terjungkal ke belakang dari atas kursi, membuat laptopnya jatuh telentang di atas kasur busa.
Pocong Samara tidak mengeluarkan suara dari celah mulutnya yang hitam, namun frekuensi kemarahan dan ambisi akademisnya bergema langsung di dalam kepala Rapen dan Islil, seperti gelombang radio rusak yang berisik dan menusuk gendang telinga.
*"...Kenapa... data... kuantitatif... dari... wilayah... Greenwich... belum... dimasukkan... ke... dalam... lampiran...?"*
"Sam! Demi Allah, Sam! Kami minta maaf sebesar-besarnya! Kami lupa buka tali pocong lu kemarin karena panik dikejar waktu dan takut ditangkap polisi, maafin kami, Sam!" Islil langsung jatuh berlutut di lantai, menangkupkan kedua tangannya di atas kepala sambil menangis histeris, tidak berani mendongak sedikit pun. "Jangan teror kami, Sam! Kami janji bakal balik ke makam lu buat buka talinya besok pagi-pagi sekali!"
Sosok Pocong itu melompat satu langkah besar ke depan dengan sangat cepat. *DUG!*
Guncangan dari pendaratan makhluk itu begitu kuat hingga membuat gelas kopi berisi sisa cairan hitam di atas meja belajar bergeser, kehilangan keseimbangan, dan jatuh pecah berantakan di atas lantai flat, mengotori karpet.
*"...Tali... kafan... bisa... menunggu... sampai... gua... tenang..."* suara gaib itu kembali berdengung keras di dalam jaringan otak mereka, kali ini dengan nada yang jauh lebih tegas, perfeksionis, dan penuh dengan tekanan standar nilai IPK tinggi. *"...Tapi... deadline... Profesor... Higgins... tidak... bisa... menunggu... satu... menit... pun... Buka... Bab 3... sekarang... atau... kita... semua... hancur..."*
Rapen, yang ketakutannya kini telah melampaui batas kewarasan manusia normal hingga menyentuh level kepasrahan yang absurd, perlahan-lahan merangkak naik kembali ke atas kasur dengan lutut gemetar. Dengan tangan yang bergerak kaku seperti robot kekurangan oli, dia meraih laptopnya yang terbalik, menghadapkannya ke arah sudut, dan mendapati dokumen Microsoft Word-nya telah pulih secara ajaib.
Bahkan, di dalam file tersebut sudah ada tambahan tiga halaman penuh berisi analisis data dalam bahasa Inggris akademis tingkat tinggi (*advanced academic English*) yang ditulis dengan struktur sintaksis yang sangat sempurna, jauh melampaui kemampuan tata bahasa Rapen yang biasanya berantakan.
"I-Ini... lu yang ngetik semua dari alam kubur, Sam?" Rapen bertanya dengan suara mencicit pelan, menatap hantu sahabatnya yang berdiri kaku di ujung kasur, terus melototinya tanpa berkedip.
Pocong Samara hanya menganggukkan kepalanya yang terikat patah satu kali ke bawah. Gerakan kainnya terdengar canggung namun sarat akan otoritas seorang asisten dosen.
*"...Gua... tidak... mau... gentayangan... di... Inggris... sebagai... hantu... mahasiswa... yang... gagal... lulus... Cepat... ketik... paragraf... berikutnya... gua... dikte... sekarang..."*
Maka, di tengah keheningan malam London yang dingin dan berkabut, sebuah pemandangan paling surealis dalam sejarah dunia pendidikan tinggi terjadi: seorang mahasiswa Indonesia mengetik tesis dengan kecepatan penuh di bawah tekanan psikologis yang ekstrem, didikte langsung oleh hantu pocong ketuanya yang berdiri tegak di ujung kasur sambil sesekali melompat kecil jika temannya itu salah mengetik tanda baca atau keliru memasukkan rumus korelasi. Sementara itu, Islil duduk meringkuk di pojok kamar, memeluk lututnya erat-erat sambil membaca ayat kursi dengan pelafalan yang bolak-balik tertukar karena otak logisnya sudah tidak berfungsi lagi.
Esok paginya, tepat pada pukul tujuh, ketukan keras dan berirama di pintu kayu flat memecah konsentrasi absurd yang telah berlangsung selama berjam-jam di dalam kamar tersebut.
Rapen, yang matanya kini merah menyala seperti hantu akibat begadang mengetik di bawah tekanan metafisika, berjalan gontai untuk membuka pintu. Ketika grendel digeser, di luar flat sudah berdiri dua petugas Kepolisian Metropolitan London berseragam lengkap, didampingi oleh Sersan Miller yang mengenakan mantel parit berwarna krem.
"Mister Rapen? Mister Islil? Anda berdua diminta untuk segera ikut kami ke Markas New Scotland Yard sekarang juga. DCI Arthur Pendelton ingin mendengar kesaksian tambahan dari Anda berdua mengenai latar belakang budaya dan ritual kematian korban," kata Miller dengan wajah formal Inggris yang datar tanpa ekspresi emosi sedikit pun.
Saat mereka berdua digiring masuk ke dalam kabin mobil polisi Volvo yang hangat dan nyaman, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di seberang jalan raya, di balik tirai jendela sebuah kafe tua bergaya Italia, Niken sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dengan pandangan mata yang dipenuhi kecemasan.
Niken telah membaca berita utama di surat kabar pagi *The Evening Standard* mengenai insiden pembantaian tragis kelompok preman Thomas di stasiun bawah tanah Piccadilly Circus. Berita itu menyebutkan adanya penyerangan oleh "sosok misterius berkain putih panjang" yang meninggalkan jejak tanah misterius di lokasi kejadian.
Kepanikan yang sangat hebat mulai merayap di dada Niken, membuat tangannya yang menggenggam cangkir kopi keramik bergetar hingga cairannya tumpah sedikit mengotori meja. Dia tahu apa artinya itu. Dia sangat tahu tentang mitos-mitos urban dari tanah air yang sering dia dengar dari pengasuhnya saat kecil di Jawa.
*Gak mungkin... itu gak masuk akal,* batin Niken, mencoba menenangkan detak jantungnya yang makin liar berdegup. *Ini London. Ini pusat peradaban modern dunia. Hantu dari kampung halaman gak mungkin punya paspor atau yurisdiksi mistis untuk menyeberang lautan sampai ke Inggris!*
Namun, tepat saat dia melangkah keluar dari pintu kafe untuk kembali ke apartemennya, sebaris embusan angin musim gugur yang dingin tiba-tiba berembus kencang, membawa aroma kapur barus yang sangat menyengat dan pekat langsung ke indra penciumannya. Aroma itu begitu nyata, membuat langkah kaki Niken mendadak terkunci di atas trotoar beton yang dingin, sementara bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak dengan kaku.
Di dalam ruang interogasi New Scotland Yard yang kedap suara dan berbau cat baru, atmosfer ruangan terasa sangat canggung sekaligus aneh. DCI Arthur Pendelton memutar kembali video rekaman CCTV Piccadilly Circus di layar monitor besar tepat di hadapan Rapen dan Islil yang duduk berdampingan.
"Jadi," Arthur memulai interogasi, mengetuk-ngetuk pulpen bolpoin bodi logamnya di atas meja kayu oak yang mengilat. "Bisa Anda berdua jelaskan kepada saya, sebagai rekan dekat dan orang yang mengurus jenazah korban, mengapa makhluk yang membantai empat pelaku tabrak lari ini memiliki struktur visual yang persis dengan kostum yang dikenakan mendiang Samara di malam kematiannya?"
Rapen dan Islil saling berpandangan selama beberapa detik. Islil menelan ludahnya dengan susah payah hingga memunculkan suara tegukan yang nyaring di ruangan sepi itu, sementara Rapen mencoba menyusun struktur kalimat dalam bahasa Inggris yang tidak akan membuat mereka berdua langsung dipindahkan ke dalam sel rumah sakit jiwa terdekat.
"Begini, Chief Inspektur..." Rapen berdeham, memajukan posisi duduknya agar lebih dekat dengan meja. "In our country, Indonesia... there is a mystical concept called Pocong. It is not a monster or a mutant, Sir. It is literally a dead body wrapped in a white burial shroud."
"Maksudmu, mayat yang bangkit kembali secara biologis dari dalam kubur?" Arthur menaikkan sebelah alis tebalnya, memandang Rapen dengan tatapan penuh skeptisisme khas detektif rasional.
"Yes, but actually no, Sir," Islil ikut menjelaskan dengan gestur tangan yang panik, memperagakan bentuk lilitan kain di tubuhnya sendiri. "Dia bangkit bukan karena lapar dan mau memakan otak manusia seperti hantu zombie di film-film Hollywood Anda, Sir. Dia bangkit karena... the knot... tali pengikat kain di atas kepala dan kakinya... forgot to be opened during the funeral process oleh kami berdua karena kami panik. Jadi, jiwanya macet, terjebak di dalam kain kafan seperti orang yang mau buang air besar tapi resleting celananya tersangkut dan tidak bisa dibuka, Sir! Dia frustrasi tingkat tinggi!"
Sersan Miller yang berdiri tegap di dekat pintu masuk langsung batuk-batuk kecil, mencoba sekuat tenaga menahan tawa yang hampir meledak atau rasa ngeri yang campur aduk di dalam dadanya.
"Dan mengapa makhluk 'frustrasi' ini memutuskan untuk mengakhiri nyawa empat kriminal jalanan di bawah tanah stasiun kita dengan cara yang begitu brutal?" Arthur bertanya lagi, matanya menyipit tajam menembus bola mata Rapen.
"Karena keempat preman itu yang menabraknya sampai mati di jalanan, Sir! Itu adalah hukum balas dendam karamik! Eh, maksud saya karma!" kata Islil dengan nada suara yang bersemangat karena merasa teorinya benar.
"Dan ada satu hal penting lagi yang perlu Anda ketahui, Chief..." Rapen menambahkan dengan nada suara yang mendadak turun drastis, berubah menjadi sangat serius dan penuh tekanan emosional. "Samara itu... semasa hidupnya adalah ketua kelompok yang sangat berkomitmen dan perfeksionis pada tugas akademis. Jika Anda tidak percaya pada hal mistis, silakan Anda periksa portal sistem kampus kami. File Bab 3 draf tesis kelompok kami baru saja berhasil diunggah lima belas menit lalu dari jaringan Wi-Fi lobi kantor Anda. Struktur bahasa dan analisis datanya terlalu rumit dan sempurna untuk ukuran kapasitas otak saya yang pas-pasan ini. Itu ketikan dia, Sir."
Arthur menatap mata Rapen selama hampir setengah menit yang terasa sangat panjang dan hening, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan, manipulasi, atau kegilaan klinis di mata pemuda itu. Namun yang dia temukan hanyalah kejujuran yang murni, kepasrahan yang mendalam, dan lingkaran hitam besar di bawah mata akibat teror revisi tesis dari alam kubur yang nyata.
Sebelum Arthur sempat membalas argumen absurd itu, telepon kabel internal di atas meja interogasi berdering nyaring sebanyak tiga kali. Arthur mengangkat gagang telepon, mendengarkan laporan dari seberang talian selama beberapa saat dengan wajah yang perlahan-lahan kehilangan warna darahnya, berubah menjadi putih pucat.
"Baik. Blokade jalanannya. Amankan areanya sekarang juga. Kami segera meluncur ke lokasi," kata Arthur pendek, lalu membanting gagang telepon kembali ke tempatnya. Dia berdiri dengan tergesa-gesa, menatap Rapen dan Islil dengan pandangan mata yang sulit diartikan oleh logika.
"Ada perkembangan baru, Sir?" Miller bertanya sambil merapikan sabuk senjatanya.
"Baru saja ditemukan mayat salah satu informan jalanan kita di dekat taman Russell Square," Arthur memakai mantel panjang tebalnya dengan gerakan cepat. "Kondisi mayatnya sama persis: tulang leher patah total, dan seluruh rongga mulutnya dipenuhi tanah kuburan vulkanis. Dan beberapa saksi mata di sekitar lokasi melaporkan melihat sosok putih panjang melompat-lompat dengan kecepatan tinggi ke arah kompleks apartemen mahasiswa internasional di wilayah Bloomsbury."
Rapen dan Islil langsung tersentak berdiri dari kursi mereka hingga kursi besi itu bergeser keras. "Bloomsbury?! Itu kan komplek arah menuju flatnya Kak Niken!" Islil berteriak spontan tanpa bisa ditahan.
Arthur langsung menolehkan kepalanya dengan tajam ke arah Islil, matanya berkilat penuh selidik. "Siapa Niken?"
Rapen menelan ludah dengan susah payah, memori otaknya mendadak menyatukan potongan teka-teki yang selama ini terlewatkan. Di malam Halloween itu, sesaat sebelum Samara terdorong ke aspal jalan raya, kamera saku Islil yang sempat mengambil beberapa foto acak di kerumunan memperlihatkan siluet seorang wanita dengan mantel wol marun tebal yang sangat mereka kenal, berdiri tepat di belakang posisi berdiri Samara dengan posisi kedua tangan menjulur lurus ke depan—posisi mendorong.
"Chief..." Rapen berbisik dengan bibir yang mendadak kering, keringat dingin kembali bercucuran di lehernya meskipun pendingin ruangan ruang interogasi sangat dingin. "Kasus tabrak lari ini... sepertinya bukan kecelakaan biasa akibat preman mabuk. Ada seseorang yang sengaja mendorong Samara ke jalur mobil. Dan hantu Pocong Samara... dia tidak cuma mengincar para preman penabraknya. Dia tahu persis siapa otak intelektual di balik kematiannya. Dia sedang menjemputnya sekarang."
Badai musim gugur yang datang terlambat malam itu benar-benar mengamuk di atas langit wilayah Bloomsbury. Hujan deras yang bercampur dengan butiran es kecil menghantam kaca-kaca jendela apartemen lantai tiga milik Niken dengan ritme yang memekakkan telinga. Di dalam ruang tamunya yang tertata rapi dengan furnitur minimalis khas Eropa, Niken berdiri membeku di tengah ruangan, memegang sebuah pisau dapur bergagang kayu dengan kedua tangan yang bergetar hebat hingga ujung pisaunya bergoyang liar.
Lampu gantung kristal di langit-langit flatnya mulai berkedip dengan irama yang tidak beraturan dan berisik. *Bzzzt... bzzzt... bzzzt...*
Di luar jendela kaca besarnya yang menghadap langsung ke arah taman Russell Square yang gelap dan berkabut, suara benturan berat di atas tanah berumput dan trotoar beton terdengar makin dekat, makin berirama, menembus deru suara angin badai.
*Dug... Dug... Dug...*
"Nggak... nggak mungkin! Itu cuma halusinasiku saja! Samara sudah mati! Dia sudah dikubur di tanah!" Niken berteriak histeris pada dirinya sendiri, suaranya pecah berbaur dengan suara petir yang menggelegar di langit London.
Niken berjalan mundur hingga betisnya menabrak pinggiran sofa kain. Pikirannya melayang pada kejadian empat hari lalu. Dorongan itu. Sentuhan kain kafan kasar pada telapak tangannya saat dia mendorong tubuh Samara ke jalan raya masih terasa begitu nyata, seolah-olah kulit tangannya telah terbakar oleh rasa bersalah yang terlambat. Dia melakukan itu karena cemburu. Karena dia merasa Samara telah mengambil Rema—pria yang dia puja sejak masa kuliah di Jakarta—dan mengambil semua kelancaran hidup yang harusnya menjadi miliknya.
Namun, hukuman dari tindakan kriminalnya tidak datang dalam bentuk ketukan pintu dari petugas kepolisian bermantel parit, melainkan dalam bentuk aroma kapur barus yang tiba-tiba menyeruak masuk menembus celah ventilasi udara flatnya. Bau itu begitu pekat, begitu anyir, bercampur dengan bau tanah makam yang basah oleh air hujan.
*DUG!*
Sebuah benturan luar biasa keras menghantam pintu kayu depan flat Niken, membuat seluruh dinding ruangan bergetar hebat hingga beberapa bingkai foto estetik yang tergantung di dinding jatuh dan kacanya pecah berantakan di atas lantai kayu.
Niken memekik ketakutan, menjatuhkan pisau dapurnya. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana engsel pintu besi flatnya yang kokoh perlahan-lahan melengkung ke dalam, seolah-olah ada tekanan beban ratusan kilogram yang menghantamnya secara periodik dari luar.
*DUG!*
Hantaman ketiga membuat kayu pintu itu retak menjadi dua bagian. Dari celah retakan itu, kabut hitam pekat yang sedingin es mengalir masuk, membawa serta sejumput tanah hitam yang berserakan di atas karpet mahal milik Niken. Di balik kabut itu, berdiri tegak sesosok makhluk berkain kafan putih yang kotor dan robek-robek. Jambul ikatannya bergoyang ditiup angin badai, dan sepasang mata putih tanpa pupilnya langsung terkunci pada wajah Niken yang sudah pucat pasi bagai mayat.
"Samara... maafin aku, Samara..." Niken merangkak mundur dengan histeris saat sosok Pocong itu melompat masuk menembus sisa pintu yang hancur. setiap kali makhluk itu mendarat, lantai kayu flat mengeluarkan suara derit yang mengerikan, seolah fondasi bangunan tua itu tidak sanggup menahan beban metafisika yang dibawa oleh sang arwah dari tanah Jawa.
Mobil polisi Volvo yang membawa DCI Arthur Pendelton, Sersan Miller, Rapen, dan Islil melakukan pengereman ekstrem hingga bannya mencicit keras di atas aspal basah di depan kompleks apartemen Bloomsbury. Mereka berempat langsung keluar dari mobil, mengabaikan hantaman air hujan deras yang langsung membasahi pakaian mereka dalam hitungan detik.
"Miller! Panggil tim taktis bantuan sekarang juga! Evakuasi seluruh penghuni gedung!" Arthur berteriak melalui radionya sambil menarik pistol Glock miliknya dari dalam sarung kulit.
"Chief! Lihat ke atas!" Rapen berteriak sambil menunjuk ke arah koridor terbuka di lantai tiga gedung apartemen.
Di bawah temaram lampu luar gedung yang berkedip-kedip kaku, mereka melihat Niken berlari keluar dengan pakaian berlumuran darah di bagian lengan, wajahnya dipenuhi air mata dan ekspresi ketakutan yang mutlak. Di belakangnya, dengan jarak yang makin mengikis, sosok Pocong Samara melompat-lompat dengan kecepatan yang mengerikan, melompati anak tangga luar beton satu demi satu dengan satu gerakan vertikal yang elastis namun kokoh.
"Oh, tuhan yang agung... makhluk itu nyata," Miller bergumam lirih, tangannya yang memegang senter bertenaga tinggi gemetar hingga sorot lampunya bergoyang liar di udara.
Niken yang sudah kehabisan arah dan dikepung oleh rasa panik luar biasa tidak berlari ke arah jalan raya bawah, melainkan memilih menaiki tangga darurat besi yang menuju ke arah atap (*rooftop*) gedung apartemen, tempat menara komunikasi dan tangki air besar berada. Dia berpikir bahwa di tempat terbuka yang tinggi, makhluk itu tidak akan bisa mengejarnya. Sebuah kekeliruan logika yang harus dia bayar mahal.
"Niken! Berhenti! Jangan ke atas!" Rapen berteriak sekuat tenaga, mencoba mengejar dari bawah bersama Arthur dan Islil, namun langkah kaki manusia mereka yang terhalang oleh licinnya anak tangga besi tidak sebanding dengan lompatan gaib Samara.
Tepat saat Niken sampai di permukaan atap gedung yang berlantai semen datar, angin badai menghantam tubuhnya hingga dia tersungkur di dekat tiang menara komunikasi logam yang menjulang tinggi ke langit kelabu. Saat dia membalikkan badannya sambil merangkak, sosok Pocong Samara sudah berdiri tegak di depan satu-satunya pintu keluar atap, menghalangi jalan pulangnya. Hujan deras yang mengguyur tubuh Pocong itu tidak membuat warna kain kafannya memudar, justru membuat bercak darah di dadanya tampak makin merah menyala di bawah kilatan petir yang menyambar-nyambar di langit London.
DCI Arthur Pendelton memimpin di depan, mendobrak pintu atap dengan bahunya, diikuti oleh Rapen dan Islil yang napasnya sudah terengah-engah. Arthur langsung mengarahkan senjatanya ke arah makhluk berkain kafan putih itu dengan kedua tangan yang dikunci kokoh.
"Kepolisian Metropolitan London! Letakkan korbannya dan jangan bergerak!" Arthur berteriak dengan suara baritonnya, mencoba menerapkan prosedur standar kepolisian Inggris pada makhluk yang bahkan tidak memiliki catatan sipil di benua Eropa.
Pocong Samara tidak mengabaikan teriakan Arthur, namun dia perlahan-lahan memutar posisi tubuhnya yang kaku menghadap ke arah Rapen dan Islil. Ketika wajah kelabu hantu itu terkena sorot lampu senter polisi, Islil kembali menangis sejadi-jadinya, sementara Rapen melangkah satu langkah ke depan, mencoba menekan rasa takutnya demi menyelamatkan apa yang tersisa dari kemanusiaan sahabatnya.
"Sam... ini gua, Rapen. Ini Islil, Sam. Kita udah selesaikan Bab 3 kita, Sam! Gua bersumpah drafnya udah masuk ke sistem Profesor Higgins dan nilainya pasti bagus! Lu bisa tenang sekarang, Sam! Lu jangan bikin dosa baru di sini!" Rapen berteriak menembus bisingnya suara angin badai.
Mendengar kata "Bab 3" dan "Higgins", tubuh kaku Pocong Samara mendadak bergetar hebat. Frekuensi gaib yang keluar dari dirinya membuat menara komunikasi logam di belakang Niken mengeluarkan suara mendengung tegangan tinggi yang memunculkan percikan listrik biru di udara. Suara Samara kembali menggema di dalam tempurung kepala Rapen dan Islil, namun kali ini suaranya terdengar lebih jernih, sarat akan kesedihan seorang anak yatim piatu yang impian masa depannya dihancurkan dalam satu malam.
*"...Kenapa... dia... melakukan... ini... pada... gua... Pen...? Gua... cuma... mau... kuliah... dengan... tenang... Gua... mau... lulus... buat... masa... depan... gua... sama... Rema..."*
Niken yang mendengar suara gaib itu bergema di sekitarnya langsung berlutut sambil memegangi kepalanya yang sakit akibat tekanan mental. "Aku yang dorong kamu, Samara! Aku yang cemburu karena Rema cuma lihat kamu! Aku yang buat kamu ditabrak preman-preman itu! Tangkap aku, Pak Polisi! Tolong tangkap aku sekarang juga! Jangan biarkan makhluk ini mendekatiku!" Niken menjerit kencang ke arah Arthur, memohon dengan sangat hina agar diborgol dan dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah yang paling gelap sekalipun, asal jauh dari kain kafan Samara.
Arthur menatap Niken, lalu beralih menatap Pocong Samara. Sebagai penegak hukum, dia kini paham bahwa keadilan di dunia manusia telah gagal mendeteksi kejahatan Niken, dan makhluk di hadapannya ini adalah bentuk dari hukum alam yang menuntut keseimbangan. Namun, Arthur tidak bisa membiarkan pembunuhan terjadi di depan matanya sendiri.
"Mister Rapen... katakan pada sahabatmu... hukum Inggris akan mengadili wanita ini atas pembunuhan berencana. Dia akan membusuk di penjara seumur hidupnya. Katakan pada makhluk itu untuk melepaskannya," Arthur berkata dengan nada suara yang bergetar, matanya tidak lepas dari sosok gaib itu.
"Sam, lu dengar sendiri kan? Kak Niken udah ngaku! Dia bakal dihukum mati atau dipenjara seumur hidup di sini! Polisi London saksinya, Sam!" Rapen melangkah dua langkah lagi ke depan, kini jaraknya hanya terpaut dua meter dari kain kafan Samara yang berbau kapur barus. "Lu jangan kotori jiwa lu yang bersih dengan nyawa nenek sihir ini, Sam. Rema di Indonesia lagi nungguin kabar lu dengan doa. Dia bakal hancur kalau tahu lu berubah jadi monster pembalas dendam di Inggris."
Mendengar nama Rema kembali disebut untuk kedua kalinya, aura merah kemarahan yang tadinya memancar dari mata putih Pocong Samara perlahan-lahan mulai meredup, digantikan oleh cairan bening menyerupai air mata darah yang mengalir keluar dari celah robekan kain penutup wajahnya. Makhluk itu memandang kedua sahabatnya dengan tatapan yang sangat melankolis.
*"...Pen... Sil... tolong... buka... ikatan... kaki... gua... Gua... capek... melompat... di... atas... aspal... dingin... kota... ini... Gua... mau... pulang... ke... Jakarta..."* suara batin Samara melemah, terdengar bergetar menahan kelelahan eksistensial yang luar biasa dari alam pasca-kematian.
Rapen menoleh ke arah Islil dengan cepat. "Sil! Ambil pisau dapur yang tadi lu bawa dari flat atau gunting apa aja di tas lu! Cepat!"
Islil dengan tangan gemetar meraba-raba kantong mantelnya, mengeluarkan sebuah gunting kecil pemotong kuku dan pisau lipat kecil yang biasa dia gunakan untuk membuka paket kiriman. Dengan tubuh yang gemetar menantang dingin dan ketakutan, Islil merangkak mendekati bagian bawah tubuh Pocong Samara yang berdiri kaku di atas lantai semen atap yang basah.
Setiap senti pergerakan Islil terasa seperti berjalan di atas jembatan tali di atas jurang neraka. Ketika tangannya menyentuh kain kafan blacu yang basah dan dingin di bagian pergelangan kaki Samara, Islil merasakan sensasi dingin ekstrem yang hampir membuat jari-jarinya mati rasa. Dia melihat simpul mati yang dibuat Rapen beberapa hari lalu telah mengeras akibat cairan tanah dan darah kering.
"Pen, bantu gua pegangin kainnya! Ini keras banget!" Islil berteriak di tengah derasnya hujan.
Rapen langsung ikut berlutut, memegangi tubuh bagian bawah Pocong Samara agar tidak goyah. Dengan sisa tenaga yang ada, Islil menusukkan ujung pisau lipatnya ke tengah-tengah simpul mati tersebut, lalu memotong jalinan benang kain blacu tebal itu dengan satu tarikan kuat.
*KRETEK.*
Tali pengikat pergelangan kaki Samara putus total. Begitu ikatan terbawah itu terlepas, suara dengungan frekuensi tinggi dari menara komunikasi langsung berhenti seketika. Angin badai yang tadinya mengamuk hebat di atas atap apartemen mendadak mereda menjadi embusan angin malam yang tenang dan sejuk, menyisakan suara tetesan air hujan biasa yang jatuh di atas semen.
Begitu simpul mati di bagian kaki terlepas, transformasi metafisika yang menakjubkan terjadi di depan mata mereka berempat. Kain kafan putih kotor yang membungkus rapat tubuh Samara perlahan-lahan mulai terurai dengan sendirinya, helai demi helai, tertiup oleh angin malam London yang kini terasa hangat.
Wujud Pocong yang menyeramkan itu perlahan memudar, digantikan oleh siluet proyeksi astral dari wujud manusia asli Samara semasa hidup: seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun dengan kemeja flanel kotak-kotak, wajah yang bersih, tampan, dan sepasang mata hitam yang memancarkan kedamaian yang murni. Tidak ada lagi darah, tidak ada lagi tanah kuburan, tidak ada lagi dendam.
Samara berdiri tegak dengan kedua kaki manusianya yang bebas, menatap Rapen dan Islil dengan sebuah senyuman tulus yang sangat lega. Dia lalu menoleh ke arah DCI Arthur Pendelton dan memberikan sebuah anggukan hormat kecil khas mahasiswa terdidik, yang dibalas oleh Arthur dengan gestur meletakkan tangan di ujung topi kepolisiannya—sebuah penghormatan terakhir dari hukum Inggris untuk korban kejahatan internasional.
"Terima kasih, Pen. Terima kasih, Sil. Kalian berdua adalah tim Group Project terbaik yang pernah gua punya dalam hidup gua," suara astral Samara terdengar sangat jernih dan bergema lembut di udara malam, bukan lagi berupa bisikan berisik di dalam kepala. "Sampaikan maaf gua buat Rema di Lombok. Katakan sama dia, gua lulus duluan dengan predikat yang paling hakiki."
Proyeksi astral Samara perlahan-lahan mulai mengangkasa, berubah menjadi ribuan butiran cahaya keemasan yang indah, terbang membelah kegelapan langit malam London, bergerak ke arah timur—arah menuju tanah air, tempat jiwanya yang suci akhirnya bisa beristirahat dengan tenang di bawah naungan doa orang-orang yang mencintainya.
Dua minggu setelah malam yang luar biasa di atap apartemen Bloomsbury tersebut, suasana di Bandara Internasional Heathrow terlihat sangat cerah di musim gugur yang mulai hangat.
Rapen dan Islil berdiri di lobi keberangkatan dengan tas ransel besar dan koper mereka, siap untuk naik ke pesawat Garuda Indonesia yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta. Di tangan Rapen, sebuah surat resmi dari pihak sekretariat akademik King's College London menyatakan bahwa hasil draf Bab 3 mereka yang diunggah di malam teror itu tidak hanya mendapatkan nilai *Distinction* (Nilai Tertinggi), melainkan juga memenangkan penghargaan sebagai analisis keberlanjutan kota terbaik tahun itu atas nama Samara, Rapen, dan Islil.
Niken sendiri saat ini telah mendekam di dalam sel isolasi penjara dengan keamanan tinggi di wilayah pinggiran London, menunggu persidangan kasus pembunuhan berencana tingkat pertama dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup tanpa remisi. Berita lokal menyebutkan bahwa Niken menderita paranoia akut; dia selalu berteriak histeris setiap kali melihat pelayan penjara membawa bungkusan roti linen putih atau sosis panjang untuk menu sarapan paginya.
"Pen..." Islil menyenggol bahu Rapen saat mereka berjalan melewati gerbang pemeriksaan paspor imigrasi. "Lu yakin seluruh file tugas akhir kita udah aman di dalam flashdisk?"
"Udah, Sil. Semuanya udah gua cadangkan di tiga Google Drive berbeda," Rapen tersenyum tipis, matanya menatap ke luar jendela kaca besar bandara, memandangi langit London yang kini tampak biru bersih tanpa kabut kelabu. "Lagian, gua gak mau ambil risiko lagi. Kalau sampai ada satu tanda baca saja yang salah di draf final nanti, gua takut ada bungkusan kain putih yang mendadak muncul di bagasi pesawat dan ngetok pundak gua sepanjang penerbangan belasan jam ke Jakarta."
Islil tertawa lepas, sebuah tawa sehat yang sudah lama tidak keluar dari mulutnya. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam garbarata pesawat dengan hati yang sepenuhnya ringan, membawa pulang lembar kelulusan berdarah yang diperjuangkan secara totalitas melampaui batas ruang, waktu, dan bahkan batas antara kematian dan kehidupan.
Selesai sudah petualangan mistis internasional mereka. London akan selalu mengingat bahwa di atas aspal dinginnya, pernah ada keadilan dari tanah Jawa yang melompat menuntut haknya dengan sangat elegan.
- TAMAT -